
"Meera, Mas mau bicara," ucap Farhan.
"Ya, Mas?"
"Besok pagi-pagi sekali, Mas harus pergi. Ada pekerjaan yang terkendala dan memaksa Mas sendiri yang harus turun tangan, kamu-"
"Ameera tidak apa-apa, Mas. Jangan khawatirkan Ameera, Ameera akan baik-baik saja di sini," sela Ameera.
"Tidak, Meera. Bukan begitu maksud Mas," pungkas Farhan.
"Lalu?"
"Kamu mau ikut tidak? Kita bisa sekalian bulan madu di sana, kan?" ucap Farhan yang sudah menyusun rencana matang di dalam kepalanya.
"Ikut?"
"Ya, tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Kita bisa merencanakan bulan madu lain kali." Begitulah Farhan, tak mau membuat wanitanya kecewa karena paksaan darinya.
Ameera menggelengkan kepalanya cepat, sebagai tanda bantahan ucapan Farhan, "Meera mau Mas. Memangnya kita akan berangkat ke mana?"
"Skotlandia," jawaban Farhan membuat Ameera tercengang.
"Skotlandia?" Ameera kembali bertanya, ingin kembali memastikan. Takut kalau pendengarannya salah.
Farhan hanya menjawab pertanyaan Istrinya dengan anggukan. Dan itu sudah merupakan sebuah jawaban yang pasti untuk Ameera.
"Kalau begitu, Meera bersiap sekarang ya Mas? Mulai mengemasi barang-barang keperluan kita di sana," ucap Ameera yang terlihat sangat bersemangat.
Lagi-lagi Farhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Tapi kali ini ditambah dengan senyuman manisnya. Membuat semangat Ameera tambah berapi-api.
"Cukup bawa pakaian kamu saja. Untuk perlengkapan yang lainnya, kita belanja di sana saja."
"Ya, Mas," sahut Ameera sambil menganggukkan kepalanya setuju.
"Ya sudah, Mas keluar dulu mau menemui Ayah. Sekalian mau minta izin karena besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali. Biar tidak kaget," ucapnya.
"Ya, Mas," jawab Ameera sambil menyusun pakaiannya ke dalam koper kecil milik Farhan.
Ameera mulai memasukan pakaian-pakaiannya ke dalam koper Farhan. Saat dia hendak menutup koper itu, terjatuh sebuah foto anak kecil yang tertawa bahagia sambil menampakan sederet giginya.
Ameera melihat foto itu dengan mengulas senyum, dia sangat tahu siapa kedua anak yang berada dalam foto itu. Tentu saja dirinya dan Farhan saat masih berumur sepuluh tahun.
"Ternyata kamu masih menyimpannya. Aku tidak menyangka, kamu bisa jadi suamiku sekarang," gumam Ameera yang terus memperhatikan foto itu.
Ameera meletakan kembali foto itu ke tempat asalnya. Dia keluar mengambil wudhu dan memutuskan untuk shalat duluan, karena rasa kantuk sudah menyerangnya.
*******
Setelah berbincang-bincang dengan Pak Arman, yang kini telah menjadi Ayah mertuanya. Farhan masuk ke kamar, dia melihat Ameera sudah terlelap dengan bibir yang sedikit terbuka.
Farhan tersenyum melihat Istrinya terlelap dengan nyenyak.
__ADS_1
Dia pun mulai mengantuk, namun dia harus menuntaskan kewajibannya pada Rab-Nya terlebih dahulu sebelum menyusul istrinya ke alam mimpi.
Farhan membaringkan tubuhnya di samping Ameera. Dengan senang hati dia menatap wajah wanita yang selama ini selalu ia ingini untuk menjadi kekasih halalnya, dan kini telah terpenuhi.
Namun, ada sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya sejak tadi. Ucapan Dion pagi tadi selalu terngiang-ngiang di pikirannya.
Farhan hanya menatap wajah Ameera, tidak berani menyentuhnya. Takut wanita itu akan merasa geli dan terbangun.
Ucapan itu memang sungguh mengganggu akal pikirannya, hingga dia bergumam sendiri. "Meera, apakah kelak kamu bisa mencintaiku? Apakah kelak kamu akan lebih memilih bertahan denganku?"
Dia terdiam sebentar, kembali menatap lekat wajah Ameera. "Tapi, apa pun keputusanmu pada akhirnya, aku akan tetap menerimanya dengan lapang dada. Tidak akan memaksamu untuk terus bersamaku. Karena, itu sudah hakmu untuk memilih, pada siapa kamu akan melabuhkan hatimu."
Farhan mengatupkan kedua tangannya dan menopang wajahnya. Lama-lama matanya semakin terasa berat dan terpejam. Pada akhirnya, mereka tidur dengan posisi saling berhadapan.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Hari masih gelap, namun karena sudah terbiasa bangun di jam segitu, Ameera membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah Suaminya.
Ameera duduk, meraih jam weker di atas meja kayu di samping ranjangnya dan mematikan alarm yang belum sempat berbunyi. Meskipun bangun lebih awal, dia juga sudah terbiasa untuk menyetel alarm. Takut kalau tidurnya terlalu pulas dan tidak terbangun lalu melewatkan waktu subuh. Sungguh hal yang sangat tidak diinginkannya.
Ameera meraih jilbab berbahan Jersey yang biasa dia kenakan di rumah, dan tujuannya adalah kamar mandi. Dia membersihkan dirinya.
Setelah selesai, dia kembali masuk ke kamar dan membangunkan suaminya yang masih terlelap sangat pulas.
"Mas Farhan, ayo bangun dulu!" Ameera menggoyangkan lengan Farhan.
Karena Farhan bukanlah tipe orang yang susah bangun, dia langsung terjaga saat ada orang yang membuat sedikit keributan saja.
"Iya, ini Mas sudah bangun," gerutunya karena masih terserang kantuk.
Setelah Farhan keluar, Ameera membereskan tempat tidur mereka. Sesudah Farhan mandi, gantian Ameera yang mengambil wudhu dan mereka shalat berjamaah.
Maklum, kamar mandi di rumah Ameera hanya ada satu.
********
"Mas, Meera keluar ya, buatkan sarapan," izin Ameera pada Farhan yang sibuk mengecek sesuatu di ponselnya.
"Iya."
Ameera menuju dapur, terlihat Alisa sudah mulai membuat sarapan untuk mereka.
"Menu apa hari ini?" tanya Ameera yang masih berdiri di dekat Alisa dan hanya memperhatikan adiknya itu.
"Lisa hari ini mau buat goreng seafood kesukaan kakak. anggota yang makan sudah bertambah, jadi tambah semangat," seloroh Lisa.
"Sini Kakak bantu." Ameera sudah mulai mengambil udang dan akan membersihkannya, tapi tangannya di halangi oleh Alisa.
"Jangan, Kak. Pengantin baru itu, tugasnya hanya duduk santai saja. Sana, Kakak duduk di sana." Alisa menunjuk salah satu kursi yang berada di dapur.
"Lisa, pengantin baru itu kan juga manusia bukan bidadari. Kakak juga mau bantu masak untuk Mas Farhan," tutur Ameera.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo bantu Lisa." akhirnya Lisa mengalah. Mereka pun membuat nasi goreng dan teh bersama-sama.
"Kak, kata Ayah Kakak mau pergi ke Skotlandia sama Mas Farhan?" tanya Alisa di tengah kesibukan memasaknya.
"Iya," jawabnya.
"Jauh sekali, Kak. Memang ada apa di sana?"
"Pekerjaan Mas Farhan ada yang terkendala. Dan harus Mas Farhan sendiri yang mengurusi. Jadi, Mas Farhan harus berangkat hari ini juga," sahut Ameera.
"Oh. Jangan lupa bawa oleh-oleh khas sana ya, Kak." Ameera hanya tersenyum mengangguk.
"Ya sudah, sajikan makanannya. Kakak mau cari Ayah dan Mas Farhan dulu."
Ameera kembali ke kamarnya, berniat untuk mencari suaminya tapi tidak ada disudut kamar mana pun. Dia berniat mencari Ayahnya, yang sudah pastinya berada di taman depan. Tapi, dia juga mendapati Suaminya yang sedang bercengkrama bersama Ayahnya dengan sangat akrab.
"Mas Farhan di sini juga?" tanya Ameera.
"Iya, Mas bosan di kamar," jawabnya.
"Ayo kita sarapan. Sarapannya sudah siap!" ujar Ameera.
Mereka sarapan bersama sambil diselingi canda tawa sebagai bumbu. Setelah menyelesaikan sarapannya, Farhan dan Ameera bergegas kembali ke kamar untuk bersiap.
"Kalian mau pergi sekarang?" tanya Farhan saat melihat Farhan sudah menenteng koper kecil di tangannya.
"Iya, Yah. Kami harus berangkat sekarang."
"Maaf karena kami tidak bisa mengantar kalian ke bandara," ujar Arman. "Ayah percayakan Ameera padamu, Farhan. Jaga dia baik-baik. Dia belum pernah pergi ke negeri orang."
"Pasti, Yah," jawab Farhan meyakinkan.
Ameera memeluk Ayahnya dan Alisa. Wajahnya terlihat sedih seperti akan berpisah sangat lama. Kenyataannya, mereka hanya akan pergi selama seminggu.
"Berapa lama kalian akan pergi, Kak? Aku pasti akan sangat merindukanmu."
"Hanya seminggu saja," jawab Farhan.
Selepas menguraikan pelukan mereka, Ameera dan Farhan berangkat ke bandara menggunakan sebuah taxi yang dipesan secara online.
"Kita benar-benar seminggu di sana, Mas?" tanya Ameera setelah mereka berada di dalam taxi.
"Ya. Dua atau tiga hari Mas harus sibuk dengan urusan pekerjaan. Pulang malam dan meninggalkan kamu, tidak apa-apa kan kalau kamu Mas tinggal di hotel seorang diri?" raut wajah Farhan terlihat cemas, mungkin dia khawatir karena harus meninggalkan Ameera sendirian nanti. Apa lagi, setelah mendapat petuah dari Ayah mertuanya. Hatinya semakin digerogoti rasa kekhawatiran.
"Tidak masalah, Mas. Kamu tidak perlu memikirkan Meera. Pikirkan saja pekerjaannya dulu. Setelah itu, kita bisa meluangkan waktu bersama, kan?" ucap Ameera menyemangati.
Farhan mengiyakan ucapan Istrinya. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu yang sangat penting.
"Meera, setelah pulang dari Skotlandia, kita pindah rumah ya? Mas sudah menyiapkan rumah sederhana untuk kita," tutur Farhan.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Mumpung Senin, ada vote mingguan loh!
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berharga untuk karya ini.
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️