Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Mengunjungi Ayah


__ADS_3

"Dion, kuharap kamu bisa lebih menjaga mulutmu untuk tidak mengucapkan hal tidak benar itu berulang kali. Kamu sendiri juga paling tahu aku sangat membenci setiap kali kamu mengatakan itu! Dan kamu selalu mengulangi hal yang sama! Aku jatuh cinta pada suamiku sendiri juga tidak ada urusannya denganmu!" kecam Ameera. Dia membayar tagihan untuk makanannya dan mengambil bungkusan makanan itu dan langsung pergi. Meninggalkan Dion yang diam tercengang di tempat.


Tadi dia memanggilku apa? Dion?


Wajah Dion memerah, namun dia menatap punggung Ameera sudah berjalan menjauhinya. Buru-buru Dion membayar tagihan makanannya dan langsung berlari mengejar Ameera yang baru saja ingin melangkah keluar dari pintu.


Dion ingin bertanya kenapa Ameera bisa memanggil namanya seperti itu, tidak ada kelembutan di setiap ucapan yang dilontarkan Ameera padanya membuatnya naik pitam dan ingin meruahkan semua isi hatinya yang merasa teramat kecewa pada Ameera.


Dion memegang lengan Ameera dan membalikkan badan Ameera menghadap ke arahnya. Tangan Dion langsung ditepis oleh Ameera. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memperhatikan mereka.


"Ameera, kenapa kamu me--" Dion langsung terdiam, kata-katanya tercekat di tenggorokan saat melihat wajah Ameera lebih merah padam dibandingkan dengannya.


"Apa?" tanya Ameera ketus. Membuat nyali Dion semakin menciut.


"Ti-tidak, a-aku hanya mau mengantarmu saja," dalih Dion sambil membuang arah pandangnya ke arah lain.


"Tidak perlu!" jawab Ameera ketus.


Dion menatap wajah Ameera, wanita itu masih berusaha menelan kemarahannya agar tak meledak-ledak.


"Tidak apa-apa. Tidak akan merepotkan aku. Ayo, aku antar!" ucap Dion memaksa, dia merasa Ameera menolak ajakannya hanya karena merasa sungkan.


Dion kembali memegang lengan Ameera. Dan lagi-lagi tangan Dion kembali ditepis, bahkan kali ini lebih kuat.


"Jangan menyentuhku!" kecam Ameera yang semakin menajamkan tatapannya.


"Ameera, kamu kenapa? Aku hanya ingin mengantarkan kamu pulang saja," ujar Dion membela diri.


"Kamu tidak dengar, tadi aku mengatakan tidak perlu. Sudah ada supir yang menungguku." Ameera kembali menolak.


"Supir ... taxi?" tanya Dion, pasalnya dia memang tidak tahu kalau Ameera diantar oleh supir pribadi.


"Terserah! Assalamualaikum," ucap Ameera dan langsung meninggalkan Dion.


Dion tak menjawab, dia hanya termangu di tempat sambil memperhatikan Ameera yang sedang berjalan meninggalkannya. Matanya membelikan kaget saat melihat seorang berpakaian supir membukakan pintu mobil mewah yang harganya fantastis untuk Ameera.


"Supir pribadi? Mobil siapa itu?" gumam Dion.


Dion berlari menuju mobil itu, ingin kembali bertanya siapa pemilik mobil itu. Namun dia kalah cepat, mobil itu sudah lebih dulu melesat jauh memecah kerumunan.


"Ahhh,sial, sial, sial!" pekik Dion sambil memukul angin.


"Tapi, tidak mungkin itu milik Farhan, kan? Tidak mungkin dia bisa melebihi aku. Kalau itu sampai terjadi, aku akan hancur, bahkan harapan untuk kembali memiliki Ameera juga akan lenyap!" Dion berdecak kesal.


...*****...

__ADS_1


Ameera sampai di rumah, dia berdiri di depan rumahnya sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.


"Tidak ada yang berubah," gumam Ameera.


Saat dia hendak masuk ke dalam, tiba-tiba ada tawa seorang pria dari arah belakang.


"Tentu saja tidak ada yang berubah. Kamu baru beberapa hari tidak pulang. Bukan bertahun-tahun," sahut Arman dari arah belakang.


"Ayah?" sapa Ameera dan menyalimi Ayahnya.


"Ayah dari mana saja?" tanya Ameera sambil membantu mendorong kursi roda Ayahnya.


"Dari kebun," jawab Arman.


"Yah, Ameera membawakan makanan kesukaan Ayah," ucap Ameera sambil menunjukkan beberapa kantong berisi makanan.


"Terima kasih, Nak. Kehadiran kamu saja sudah membuat Ayah sangat senang."


"Yah, kata Mas Farhan, akan ada baby sitter yang akan merawat Ayah. Tapi, Meera tidak melihat siapapun di sini," seru Ameera setelah puas celingak-celinguk.


"Ayah menolaknya," jawab Arman membuat Ameera menautkan alisnya.


"Kenapa, Yah? Ayah kan memang harus ada yang menjaga? Kalau tidak, Ayah tinggal bersama Ameera saja, ya? Mas Farhan pasti akan mengizinkan," bujuk Ameera.


"Yah...?"


"Tidak apa-apa, Nak. Jangan khawatir. Sesekali datang masak hanya menghabiskan waktu untuk mencemaskan keadaan Ayah yang sehat ini?" seloroh Arman.


Sebenarnya, alasan Arman menolak hanya satu, karena dia tidak ingin merepotkan siapapun karena keadaannya yang seperti itu. Meskipun kadang dia harus tertatih-tatih untuk menggapai sesuatu, namun selama tetap bisa ia raih, dia tidak mau merepotkan siapapun.


Ameera menghela nafas panjang, dia mengerti bagaimana keinginan Ayahnya. Tapi, jika Arman sudah berkata satu, maka dia tidak akan mengubah pendiriannya menjadi yang lain.


Karena saat Ameera datang sudah hampir waktunya makan siang, Ameera menyiapkan makan siang. Memanaskan makanan yang tadinya dimasak oleh Alisa.


"Tadinya Alisa ingin mengambil cuti. Tetapi, bossnya berkata hari ini ada orang penting yang akan melakukan fitting baju pengantin. Jadi, dia tidak diberikan cuti. Sebagai gantinya, saat diberikan cuti nanti dia akan berkunjung ke rumah kamu," ucap Arman.


"Tidak masalah, Yah. Jika diberi umur panjang, Ameera bisa kembali mengunjungi kalian kapan saja," jawab Ameera.


Tidak terasa, saking asiknya mereka bercengkrama melepaskan rindu yang dua Minggu belakangan ini menggelayuti hati dan pikiran.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan sebentar lagi waktunya Farhan pulang.


"Yah, Ameera harus pulang sekarang. Mas Farhan sebentar lagi pulang, jadi Ameera harus pulang sebelum dia tiba di rumah."


Arman mengulas senyum.

__ADS_1


"Ya sudah, hati-hati, Nak."


Ameera menyalimi Arman dan masuk ke dalam mobil. Baru sepuluh menit berlalu, Alisa terburu-buru berlari dan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, Kak Ameera?" panggil Alisa dengan wajah lelah namun sumringah.


"Waalaikumsalam." Arman menyahut.


"Ayah, di mana kak Ameera? Apa tidak jadi datang?" tanya Alisa sembari mencium punggung telapak tangan Ayahnya.


"Jadi, dan barusan saja dia pulang," jawab Arman lagi.


"Alah... Padahal Alisa sangat merindukannya. Malah pulang tanpa menunggu Lisa terlebih dahulu," ucap Lisa lemas, dia duduk di kursi dan menyandarkan punggungnya dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit rumah.


"Sebentar lagi suaminya pulang. Dari pada menunggu kamu, lebih penting menunggu suaminya," cakap Arman sambil tertawa.


"Tapi, Yah. Alisa sudah memendam lama perasaan rindu ini. Hari ini Kak Meera datang ke rumah malah tidak mau menunggu Alisa. Alisa sengaja mempercepat kerjaan Lisa agar terburu bertemu Kak Ameera!" ucapnya merajuk.


l


"Kamu kan bisa datang ke rumahnya, seperti dulu saat dia masih menikah dengan Dion," seru Arman.


Mendengar nama Arman disebut, tiba-tiba Alisa teringat sesuatu.


"Alisa, kamu mau ke mana?" tanya Arman saat melihat Alisa tiba-tiba lari ke dalam kamar.


"Mandi, Yah." Alisa menjawab dengan menaikkan tenor suaranya.


Setelah berada di dalam kamar, Alisa langsung menghubungi Ameera yang masih berada dalam perjalanan pulang.


"Assalamualaikum, Kak." ucap Alisa.


"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang kerja?" tanya Ameera.


"Iya, Lisa buru-buru menyiapkan semua pekerjaan, tapi taunya Kakak sudah pulang," ucapnya mendesah kecewa.


"Lain kali kita bertemu lagi, ya. Kakak harus segera pulang karena sebentar lagi Mas Farhan juga sudah waktunya pulang," ucap Ameera.


"Tidak apa-apa, Kak. Kak Meera, tadi Lisa bertemu dengan Mas Dion. Mas Dion bersama dengan seorang wanita melakukan fitting baju pengantin," jelas Alisa.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan rate 5 juga ya guys ❤️❤️❤️


Terima kasih❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2