Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
BAYANGAN MASA KELAM


__ADS_3

Ya Allah, kenapa hatiku begitu sakit saat melihat Risa. Aku memang masih mencintai Mas Dion, aku juga harus belajar melupakannya.


Tapi, dari mana Ibu tahu aku akan menikah, apakah Mas Dion yang memberitahu Ibu, dan apakah Mas Dion juga memberitahukan kalau Mas Farhan adalah suami Muhallil?


Angkutan umum yang ditumpangi Ameera berhenti di terminal pasar. Setelah membayarkan ongkosnya, dia turun dan mulai menyusuri pasar itu untuk mencari apa saja yang dia perlukan.


Setelah mendapatkan semuanya, dia pun pulang. Hari sudah hampir siang. Ameera langsung membereskan belanjaannya dan masak untuk mereka semua. Karena Alisa kebetulan sedang pergi, jadi dia yang memasak.


"Yah, apa yang kita masak hari ini?" tanya Ameera begitu bersemangat. Dia seperti telah melupakan kejadian-kejadian hari ini yang begitu menyesakan dadanya.


"Apa saja Ayah mau. Yang penting, rasanya harus enak." jawab Arman sambil tertawa.


"Tentu saja enak, Yah. Kan Ameera yang masak." sahutnya ikut-ikutan tertawa.


Setelah selesai masak, Ameera menyediakan makan untuk Ayahnya. Karena kebiasaan mereka selalu makan bersama. Karena kebetulan Alisa belum pulang, jadi dia hanya berdua dengan Ayahnya.


"Yah, Meera bingung, apa yang harus Meera bawa sebagai bingkisan untuk orang tua Farhan?" Ameera bertanya pendapat Ayahnya.


"Kamu buatkan cake saja. Dulu kan mereka sangat suka dengan cake buatanmu." usul Ayahnya.


"Hem. Iya, nanti Meera buat cake saja." jawabnya setuju.


Setelah menunaikan shalat Dzuhur, Ameera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Tapi, matanya tak bisa terpejam. Dia membalik-balikkan tubuhnya, mencari posisi ternyaman agar bisa langsung terlelap. Tapi, percuma saja, matanya menolak untuk istirahat walaupun dari tadi dia selalu menguap.


"Aku sangat resah. Selalu memikirkan hari esok. Aku takut dengan wajah keluarga Farhan yang mungkin tak bisa menerimaku," gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Apakah orang tua Mas Farhan akan sama seperti Bu Wenda? Aku sangat takut. Bagaimana kalau mereka malah terang-terangan mengusirku seperti Bu Wenda?" ucapnya lirih sambil menutup wajahnya menggunakan tangannya.


FLASHBACK ON


"Ameera, hilangkan kegugupanmu, Ibuku pasti akan sangat menyukaimu." Dion berusaha menenangkan Ameera yang dilanda kegusaran.


"Mas, aku pulang saja ya? Aku takut." cicitnya pelan.


"Kalau kamu pulang, kasihan Ibuku dong. Ibu sudah menunggumu di dalam." sahut Dion cepat.


Ameera lagi-lagi menatap rumah mewah yang berada di hadapannya. Sejak Dion mengatakan kalau Ibunya ingin bertemu dengannya, Ameera tidak bisa tidur siang dan malam.


Perasaannya campur aduk, antara senang, karena dia akan bertemu dengan Ibu Dion. Rasa takut, kalau Ibu Dion tak suka dengannya, rasa gundah, dan banyak perasaan-perasaan lain yang hinggap di hatinya.

__ADS_1


"Ya sudah, Ayo kita masuk sekarang." Ameera memantapkan langkahnya. Semua perasaan-perasaan gundah yang melandanya dihilangkan dalam sekejap.


Dia melangkahkan kaki dan masuk ke dalam rumah minimalis yang tampak mewah itu.


"Assalamu'alaikum." ucapnya.


"Waalaikumsalam. Mana menantu Ibu?" Wenda membalikan badan dengan tersenyum sumringah. Namun, saat dia melihat penampilan Ameera, senyumannya sirna dan langsung berganti tatapan sak suka.


Wenda menatap Ameera dari atas turun ke bawah. Ameera merasa risih dengan tatapan itu, namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu Ameera Zahra?" tanya Wenda dengan tatapan menyelidik.


"Iya, Bu. Saya Ameera." jawab Ameera yang dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Wenda. Tapi, bukan menerima uluran tangan Ameera, Wenda malah merendahkan Ameera dengan kata-kata menohok.


"Kamu datang kesini, dengan penampilan seperti ini, ingin menemuiku untuk menjadi menantu, atau mendaftar sebagai pembantu?" ketusnya.


Ameera tahu, Wenda tidak menyukainya sama sekali. Terlihat dari tatapan matanya dan cara bicaranya.


Ucapan-ucapan Wenda yang begitu merendahkannya, membuat hati Ameera ngilu.


"Maaf, Bu. Saya memang seperti ini...."


"Langsung saya katakan saja, saya tidak merestui hubungan kalian. Karena Dion adalah seorang manager di perusahaan ternama. Dia bisa mendapatkan yang lebih baik." sela Wenda tanpa mau mendengarkan pembelaan Ameera.


"Mas, jangan bertengkar dengan Ibumu hanya karena aku, tidak baik." sanggah Ameera.


"Halah! Tidak usah sok baik kamu. Memang ini yang kamu mau, bukan?" hardiknya pada Ameera. Sekarang, Wenda mengalihkan tatapannya pada Dion. "Dion, lebih baik cepat keluarkan dia dari rumah ini, Ibu tidak akan pernah merestui kalian. Ibu akan mencari kandidat yang lebih baik."


"Bu...."


"Dion!" bentak Wenda dengan menajamkan tatapannya.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa pulang sendiri. Assalamu'alaikum." Ameera berbalik dan meninggalkan rumah yang tadi sempat ia kagumi.


Hati Ameera bergemuruh. Ketakutan-ketakutan yang sempat menghantuinya, memang benar-benar terjadi. Bagaikan air laut pasang, ombak yang semakin meninggi dan awan yang mulai menggelap seperti siap menurunkan hujan badai, begitulah perasaan Ameera kini.


TESS


Air mata lolos dari sudut mata indahnya.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


"Ah, kenapa aku harus mengingat kenangan kelam itu lagi." sesal Ameera, karena itulah dia masih takut jika dihadapka dengan situasi bertemu dengan calon mertua.


"Tapi, bagaimana jika perlakuan mereka sama? Terlebih aku janda. Aku dan Farhan juga menikah dengan cara seperti itu, pasti Nyonya Safa akan mengira kalau aku mempermainkan Anaknya. Padahal, tidak sedikitpun aku punya niat seperti itu. Aku dan Farhan menikah secara suka sama suka. Bukan karena agar aku bisa menikah dengan Mas Dion kembali." ucapnya lirih.


"Ya Allah, maafkan hamba-Mu karena telah berburuk sangka. Semoga itu hanya ketakutan-ketakutanku yang tak berarti.


Setelah menenangkan hati dan pikirannya dengan berwudhu, Ameera bisa langsung terlelap dengan nyaman.


Tidak lama dia terlelap, setelah Ameera bangun, pikirannya menjadi lebih tenang karena tubuh dan otaknya sudah diistirahatkan.


"Kak, besok kita jadi pergi bertemu dengan Nyonya Safa?" tanya Alisa yang sedang duduk sambil nonton Tivi.


"Insya Allah, kalau Mas Farhan tidak ada kendala." jawab Ameera sambil ikut duduk lesehan di samping Adiknya.


"Kakak tidak beli baju baru untuk bertemu dengan calon mertua?" goda Alisa sambil mengunyah keripik pisang.


"Tidak." tolaknya tegas.


"Kenapa?" tanya Alisa heran.


"Karena baju Kakak masih banyak yang bagus. masih nyaman untuk dikenakan." sahutnya tersenyum.


"Hem, begitu." Alisa menganggukkan kepalanya mengerti.


Aku mau bertemu dengan mereka sebagai Ameera, diriku sendiri. Mereka juga sudah tahu bagaimana kehidupan kami. Jadi, terlepas mereka menyetujui pernikahan ini, semua aku kembalikan pada Allah.


"Alisa, hari ini kamu ke mana? Sampai melewatkan waktu makan siang."


"Alisa mencari pekerjaan, Kak. Alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaan, menjaga butik di kota." jawabnya bersyukur.


"Kapan kamu mulai bekerja?" tanya Ameera menatap Adiknya yang merasa sangat senang.


"Satu Minggu lagi, Kak. Kebetulan butik itu sedang direnovasi. Dan besok, aku harus menemani Kakak."


"Selamat bekerja. Utamakan kejujuran dan kedisiplinan. Harus rajin, dan tetap jaga ibadahmu tepat waktu." ucap Ameera menasehati Adiknya.


"Insya Allah, Kak. Allah telah memudahkan segala urusanku. Tidak mungkin aku melupakan Tuhan ku." jawabnya dan memeluk Kakaknya senang

__ADS_1


MARI MENDUKUNG KARYA BARU PENULIS. JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, COMMENT, GIFT DAN VOTE. IKUTI JUGA AKUN AUTHOR ❤️❤️❤️


TERIMA KASIH


__ADS_2