Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Secangkir Kopi


__ADS_3

"Ayo, kita masuk ke kamar." dengan merangkul sang Istri, Farhan dan Ameera melangkah ke kamar dengan menggunakan lift.


Setelah masuk ke dalam kamar, Ameera kembali kagum dengan ukuran dan interior yang sangat berbeda dengan rumahnya dulu. Dia tidak menyangka, kalau Farhan akan sekaya itu.


Bukannya ingin membandingkan. Tapi, tempatnya sangat jauh berbeda dengan rumah Mas Dion.


"Kalau mau beristirahat, tidur saja. Mas mau ke ruang kerja. Besok ada meeting penting, jadi harus melihat beberapa laporan dokumen terlebih dahulu," ujar Farhan pada Ameera.


"Ya, Mas. Meera mau membereskan pakaian ini. Setelah selesai, Meera akan antarkan kopi untuk kamu," sahut Ameera.


Farhan mengangguk, dia keluar kamar dan menuju ruang kerjanya.


Ameera mengitari pandangannya ke segala sudut ruangan yang terdapat banyak foto-foto pernikahan dirinya dan Farhan dalam bingkai besar berwarna putih.


Tak sampai di situ, Ameera kembali mendapati fotonya dan Farhan dari saat mereka baru beranjak dewasa sampai saat menikah, semua fotonya tersusun rapi dalam satu bingkai besar dan terletak di dinding di atas kepala ranjang mereka.


Ameera dibuat geleng-geleng kepala. Merasa aneh dengan kebiasaan suaminya mengumpulkan foto-foto zaman mereka.


Sambil senyum-senyum, Ameera menuju walk-in closet yang berada di sebelah toilet. Dia mulai menyusun pakaiannya yang tidak terlalu banyak itu. Dia tersenyum saat melihat ada banyak baju syar'i yang pasti telah dipersiapkan untuk dirinya.


Ameera mengambil beberapa baju syar'i yang menarik di matanya dan mengetesnya tanpa memakai bajunya. Dia berlenggak-lenggok di depan cermin besar sambil menyunggingkan senyum.


"Ini sangat cantik sekali. Mas Farhan sangat tahu seleraku," ucapnya memuji.


Selepas membereskan semuanya, Ameera turun dan menuju dapur. Menepati janjinya pada sang suami untuk membuatkannya kopi.


"Ada yang bisa kami bantu Nyonya?" tanya sang ART yang berada di dapur saat melihat kehadiran Ameera.


"Hem. Saya ingin membuat kopi," jawabnya.


"Kopi apa, Nyonya? biar saya buatkan." sang ART mulai mengambil gelas namun tangannya terhenti saat Ameera menyentuh tangannya.


"Tidak usah, biar saya lakukan sendiri saja. Kamu lanjutkan pekerjaan yang lain saja," sanggah Ameera.


"Ta-tapi, Nyonya?" potong sang. ART ragu-ragu.


"Tidak apa-apa. Biar saja saya yang buatkan kopinya. Kamu tunjukan saja di mana letak bubuk kopi yang biasa di minum oleh Mas Farhan," ujarnya.


Ameera mulai memasukan bubuk kopi ke dalam Coffe Maker. Setelah menunggu beberapa saat, kopi yang dibuat Ameera pun tersedia secara instan.


"Bolehkah saya bertanya?" tanya Ameera pada ART yang sedari tadi masih berdiri di sampingnya. Takut kalau ada sesuatu yang dibutuhkan oleh sang Nyonya namun dia tidak mendengarnya.


"Tentu boleh, Nyonya. Anda tidak perlu sungkan," jawab sang ART dengan kikuk.

__ADS_1


"Di mana ruang kerja Mas Farhan?" tanya Ameera.


"Di sana, Nya." ART itu menunjuk ruangan yang terletak di dekat ruang Tivi.


Ameera mengikuti arah telunjuk sang ART dan mengangguk.


"Terima kasih," ucap Ameera.


"Sa-sama-sama," balas sang ART gugup.


Kemudian, dia membawa gelas berisi kopi itu ke ruangan kerja suaminya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" sahut Farhan dari dalam.


Ameera masuk, Farhan menyambut kehadiran istrinya itu dengan senyuman hangat.


"Mas, ini kopinya." Ameera meletakkan secangkir kopi buatannya di samping Farhan.


"Bukan, Mas. Kopi itu dibuat oleh mesin Coffe Maker. Meera hanya membantu memasukkan bubuk kopinya saja," jelasnya.


"Sama saja. Yang penting kamu yang mengerjakan semuanya, kan?" seru Farhan yang kembali memeriksa berkas-berkas pentingnya.


Ameera duduk di sofa yang terletak berhadapan dengan Farhan. Dia menyandarkan punggungnya dan menatap Farhan lekat.


Merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, Farhan langsung melihat ke arah Ameera.


"Kenapa?" tanya Farhan yang kembali mengalihkan perhatiannya pada setumpuk berkas.


"Terima kasih untuk pakaian syar'i yang indah itu, Mas."


Farhan terkekeh pelan. Masih tetap duduk di kursi kebesarannya, dia menatap ke arah Ameera.


"Kenapa harus berterima kasih? Bukankah sudah kewajiban Mas untuk menyediakan semua kebutuhan kamu? Sandang, pangan, nafkah lahir dan batin," jelas Farhan.


"Terima kasih, Mas. Karena sudah menjadi suami yang baik dengan memenuhi segala kewajiban itu," ucap Ameera.


"Ah, Mas lupa memberitahukan sesuatu, Meera." Farhan menepuk jidatnya sendiri karena merasa benar-benar lupa.

__ADS_1


"Apa, Mas? Sepertinya penting sekali!" cetus Ameera.


"Besok malam, perusaahan kami mengadakan acara tahunan. Semua rekan kantor diwajibkan untuk hadir. Boleh bawa pasangan atau keluarga," ujar Farhan.


"Biasanya kamu datang sama siapa, Mas?" tanya Ameera.


"Sendirian. Karena sekarang sudah ada kamu, kamu mau kan ikut hadir juga?" tanya Farhan meminta persetujuan istrinya.


"Tentu mau, Mas. Memangnya, kantor tempat mas Farhan bekerja di mana?" tanya Ameera yang ingin menuntaskan rasa penasarannya.


"FA Company," jawab Farhan.


Mendengar nama yang seolah tak asing baginya, Ameera terdiam sejenak sembari pikirannya berkelana berpikir di mana dia pernah mendengar nama itu. Pikirannya terus menerawang jauh, mencoba mengorek pikirannya sendiri agar bisa kembali mengingat memori ingatannya yang menyangkut FA Company yang dikatakan oleh Farhan.


"Kenapa diam, Meera?" tanya Farhan heran.


"Tidak apa-apa, Mas. Hanya saja ... seperti sering mendengar nama perusahaan itu. Tapi tidak tahu di mana dan kapan Meera mendengarnya," sahutnya.


Diam-diam Farhan tersenyum tipis. Senyuman itu setipis garis halus. Hanya bisa terlihat oleh dirinya sendiri. Tak ada satupun orang lain yang sadar kalau dia sedang tersenyum.


"Memangnya siapa yang bekerja di sana juga?" tanya Farhan memancing. Padahal dia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Entahlah, Mas. Meera sama sekali tak ingat lagi. Padahal, sepertinya itu adalah perusahaan terkenal. Tapi, bisa-bisanya Meera tidak ingat," jawabnya sambil terkekeh.


Apakah Mas Dion yang bekerja di sana? Ahhh ... aku sungguh lupa! teriak Ameera dalam hati.


"Sudah, sudah. Tidak usah dipikirkan lagi," ucap Farhan menyadarkan Ameera dari lamunannya. "Besok kamu langsung datang ke butik Srinta, ya? Mama sudah mengabari dia kalau besok kamu akan datang. Nanti, setelah kamu selesai, Mas jemput kamu di situ saja," tutur Farhan.


"Baik, Mas. Kalau begitu, Meera kembali ke kamar. Sudah Zuhur, Mas. Jangan lupa shalat baru lanjutkan pekerjaan kamu lagi. Jangan sampai melalaikan kewajiban yang seharusnya kita jalani," nasihat Ameera sambil berlalu.


"Iya, Meera." Farhan menjawab dengan nada yang lembut.


Setelah Ameera menghilang dari balik pintu, Farhan menatap kosong ke sembarang arah.


"Kamu pasti sedang sibuk memikirkan siapa yang sering menyebut nama FA Company, kan? Sehingga kamu merasa familiar dengan nama itu," gumam Farhan


Dan benar saja, sambil berjalan pikiran Ameera masih saja sibuk berkelana entah ke mana. Sampai sekarang pun dia masih menerka-nerka dan mengingat-ingat siapa seseorang itu yang juga bekerja di FA Company.


Untuk para author lain yang ingin mutualan dan feedback. Please, Don't BOMLIKE! Kenapa? Karena bomlike yang kalian lakukan dapat merusak popularitas karya, dan itu sangat merugikan! Jika ingin saling mendukung, mendukung lah secara sportif. Aku juga bakal mampir ke karya kalian kok, bakal baca jugak. Jadi, tolong hargai sesama penulis. Kita sama-sama usaha. Semangat 💪


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️


Terima kasih atas dukungan dari kalian ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2