Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
RISA


__ADS_3

Ameera hanya diam cemas. Dia menggenggam jari jemarinya sendiri. Rasa khawatirnya sekarang begitu besar. Orang tua Farhan memang baik padanya dan keluarganya. Tapi itu dulu, karena Farhan dan Ameera berteman.


Sekarang, Ameera berkunjung dengan maksud lain, apakah mereka masih mau menerimanya?


"Ameera?" panggil Arman karena melihat Anaknya termenung.


"Ya, Ayah?" jawab Ameera yang baru sadar dari lamunannya.


"Bagaimana, kamu mau menerima ajakan Farhan?"


"Ameera setuju saja. Kalau Ayah mengizinkan." jawabnya memasang senyum di wajah cantiknya, mengurangi kegelisahan dalam hatinya.


"Kalau begitu, saya pamit, Pak. Masih ada pekerjaan." pamit Farhan pada Arman.


"Kamu naik apa ke sini, Nak?" tanya Arman pada Farhan, calon menantunya.


"Naik taxi, Pak. Sekarang, taxi nya masih menunggu diujung gang. Jadi, saya harus segera pulang. Kasihan supirnya kelamaan menunggu." jawabnya sambil tersenyum.


"Oh ya, silahkan. Hati-hati."


Farhan mengangguk. Sebelum dia pulang, dia tersenyum pada Ameera dan dibalas senyum oleh wanita itu.


"Kak, lemahnya Mas Farhan kerja apa sih? Kok keliatannya sibuk banget." tanya Alisa yang sangat penasaran pada calon Kakak iparnya itu.


"Kakak juga tidak tahu, Lisa. Nanti kita akan tahu sendiri. Tidak baik jika langsung bertanya, takut dia tersinggung." jawabnya.


"Yah, Ameera ingin menemui ustadzah Nisa. Dia sudah menghubungi Meera untuk segera datang ke TPA." ucapnya memberitahu.


"Ya sudah, pergilah, Nak."


TOKK TOKK TOKK


"Assalamu'alaikum?" ucap orang dari kursi.


"Siapa?" tanya Ameera.


"Tidak tahu, Kak. Biar Alisa yang lihat ke depan."


Tidak lama setelah Alisa ke depan, dia masuk lagi diikuti dengan seorang laki-laki di belakangnya.


"Mas Dion?" sapa Ameera saat melihat kedatangan Dion.


"Pagi, Pak. Pagi, Ameera." sapanya yang juga menenteng sebuah paper bag di tangannya.


"Pagi, Dion." jawab Amran.


Ameera melihat jam di pergelangan tangannya, sepertinya waktunya sudah terdesak.


"Ayah, sepertinya Ameera harus pergi sekarang."


"Hati-hati, Nak." jawab Amran.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Ameera?" Dion juga melihat jam miliknya.


"Aku mau ke TPA, Mas. Mau kembali mengajar di sana, sebelum menikah dengan Mas Farhan." jawabnya apa adanya.


"Ayo, aku antarkan!" Dion memegang tangan Ameera, tapi langsung ditepis pelan oleh Ameera.


Ada rasa pedih di relung hati Dion saat Ameera menepis tangannya. Ada rasa sakit yang teramat, namun dia sendiri tak tahu, apakah dia harus marah karena rasa sakit yang diberikan oleh Ameera itu.


Namun, setelah dia menyelami masa-masa lalunya selama mereka menikah. Dia tahu, seharusnya Ameera lah yang marah akan semua sikapnya yang menyakitkan.


"Maaf, Mas. Kita bukan mahram." Ameera menjelaskan. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman atau buruk sangka pada dirinya.


"Maaf, aku lupa." jawab Dion melemah.


"Kalau begitu, aku permisi. Ustadzah Nisa sudah menunggu." Ameera sudah beranjak


"Ayo aku antarkan." ucapan itu mengehentikan langkah kaki Ameera.


"Jangan, Mas. Takut ada kesalahpahaman yang terjadi." tolak Ameera halus. Sebenarnya, melihat kedatangan Dion saja, itu sudah merupakan pukulan telak untuk hatinya. Apa lagi, jika Dion berusaha untuk kembali dekat dengannya, dia takut kalau cinta yang berusaha ia luruhkan, akan kembali menumpuk.


Dion terdiam, hatinya bagikan tersayat sembilu. Dia tak menyangka, perubahan Ameera akan sebesar ini padanya.


"Ameera, aku minta maaf."


"Sudahlah, Mas. Tidak perlu ingat lagi yang telah berlalu. Aku pamit, Assalamu'alaikum." Ameera langsung melangkah, ujung matanya terasa panas karena melihat Dion yang begitu tersakiti.


Hanya butuh waktu sepuluh menit Ameera berjalan kaki, kini dia sudah sampai ditujuannya.


"Waalaikumsalam. Ameera, ayo masuk." ajak ustadzah Nisa yang langsung menuntun Ameera masuk ke dalam ruangannya.


"Ameera, kami serius ingin mengajar di sini lagi, kan?" tanya ustadzah Nisa.


"Insya Allah, ustadzah." jawab Ameera.


"Kalau begitu, saya akan langsung memasukan nama kamu ke dalam anggota kepengurusan ya?"


"Tidak perlu, ustadzah. Saya hanya sebentar saja. Karena, Insya Allah saya akan menikah." jawabnya.


Ustadzah Nisa kaget, karena dia belum tahu tentang perceraian Ameera dan dia akan menikah lagi.


"Maaf sebelumnya, bukankah kamu sudah menikah?" tanya ustadzah Nisa ragu-ragu.


Ameera mengerti kenapa ustadzah Nisa menanyakan hal itu. Ameeera hanya tersenyum menanggapinya lalu dia pun berkata, "Kami sudah bercerai, ustadzah. Dan saya akan menikah kembali bulan depan dengan Mas Farhan."


"Farhan?" tanya ustadzah Nisa yang masih kaget.


"Iya." jawab Ameera mengangguk dan tersenyum.


"Semoga pernikahanmu kali ini diberkahi Allah SWT dan bisa sampai ke Jannahnya, ya."


"Terima kasih, ustadzah." jawab Ameera.

__ADS_1


"Jadi, apa kamu mau melakukan perkenalan sekarang?"


"Tidak usah. Besok saya akan melakukannya, sebelum mengajar. Hari ini, saya hanya mau mengabari ustadzah saja."


"Hem baiklah. Bagaimana menurut kamu saja."


"Kalau begitu, saya pamit dulu ya. Mau membeli perlengkapan dapur." pamitnya.


Ustadzah Nisa mengangguk. Ameera berjalan keluar dari TPA. Dia berencana ke pasar menggunakan angkutan umum.


Namun, saat dia menunggu di pinggir jalan, ada sebuah mobil yang sangat dikenalinya berhenti tepat di depannya.


"Ameera!" ucap Wenda berang. Dia turun dari mobil mewah miliknya.


"Ya, Bu?" sahut Ameera biasa saja.


"Apa yang kamu berikan pada Dion? Kalian sudah bercerai, tapi kenapa dia masih belum bisa melupakan kamu?" hardiknya. Seakan-akan Ameera menggunakan hal-hal licik untuk menarik Dion ke dalam pelukannya.


"Saya tidak memberikan apapun kepada Mas Dion, Bu. Mungkin, dia belum bisa melupakan saya, karena dia masih mencintai saya." jawab Ameera, mengatakan pendapatnya.


"Halah! Tinggi sekali kepercayaan dirimu." Wenda menunjuk-nunjuk dada sebelah kiri Ameera dengan jari telunjuknya.


"Kau lihat wanita di belakangku? Dia adalah Risa, calon istri Dion!" pekik Wenda memperkenalkan Risa, wanita yang akan menggantikan posisi Ameera.


Ameera melihat Risa. Wanita yang bernama Risa itu hanya diam sambil menatap Ameera. Menurut penglihatan Ameera, Risa memang cantik. Tapi, wanita itu tak berhijab seperti dirinya.


Ameera tersenyum pada Risa dan dibalas senyuman oleh Risa.


"Risa, jangan tersenyum padanya. Nanti kau akan bernasib sial!" ketus Wenda tak suka melihat calon menantunya dan mantan menantunya saling tersenyum ramah seperti itu.


"Tapi, Bu." sela Risa yang ingin mengutarakan pendapatnya.


"Sudahlah, Risa." Wenda menyeka ucapan Risa, kemudian dia kembali menatap Ameera.


"Dan aku peringatkan padamu, jangan lagi mendekati anakku. Sebentar lagi dia akan menikah, dan kau juga akan segera menikah, kan? Jadi, tolong jaga dirimu." hardik Wenda.


"Maaf, Bu. Sebaiknya, Ibu sendiri yang mengatakannya pada Mas Dion. Saya pamit, angkutan umumnya sudah tiba. Assalamu'alaikum." pamit Ameera kemudian pergi meninggalkan Wenda dan Risa yang masih termangu di tempatnya.


"Waalaikumsalam." jawab Risa.


"Kau lihat, Risa. Benarkan yang Ibu katakan. Dia memang tidak sopan pada Ibu. Bahkan meninggalkan kita sendiri di sini." padahal Risa telah melihat sendiri bagaimana perlakuan Wenda terhadap Ameera. Tetapi Wenda tetap saja berani menghasut Risa untuk membenci Ameera.


"Tapi, Bu. Dari yang Risa lihat, Ameera sepertinya tidak seperti itu. Dia sangat sopan dan bijaksana." sanggah Ameera yang tidak setuju dengan penilaian Wenda terhadap Ameera.


"Kamu hanya belum tahu bagaimana kurang ajarnya dia padaku. Nanti, lama-lama kamu juga akan tahu."


Di angkutan umum, Ameera berdesakan dengan orang lain. Untung saja, dia kebagian tempat duduk. Kalau tidak, mungkin dia harus berdiri atau harus menunggu angkutan umum lain yang lewat beberapa menit lagi.


Ya Allah, kenapa hatiku begitu sakit saat melihat Risa. Aku memang masih mencintai Mas Dion, aku juga harus belajar melupakannya.


Tapi, dari mana Ibu tahu aku akan menikah, apakah Mas Dion yang memberitahu Ibu, dan apakah Mas Dion juga memberitahukan kalau Mas Farhan adalah suami Muhallil?

__ADS_1


__ADS_2