Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Keresahan Farhan


__ADS_3

Sebelum mengangkat Istrinya ke kamar, Farhan minum terlebih dahulu. Saat dia di dapur, dia kembali melihat beberapa jenis makanan kesukaannya yang sudah dingin tanpa tertutup tudung saji.


"Sepertinya dia memang benar-benar menungguku," ucap Farhan lirih.


Farhan mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya ke kamar mereka. Dia juga melepaskan jilbab yang dikenakan oleh Ameera secara perlahan-lahan agar istrinya itu tidak terganggu dari tidurnya.


Melihat leher jenjang Ameera yang begitu menggoda, Farhan beberapa kali menelan saliva-nya.


Jari jemarinya menjalar mengelus bibir ranum itu, dan Ameera tidak terganggu.


Karena Ameera tak terganggu, Farhan kembali mengelus bibir ranum itu secara perlahan, dan itu berhasil membangkitkan sesuatu yang ada dibalik celananya.


"Meera, sebagai seorang suami aku sangat ingin menyentuh dan menggaulimu. Namun, ketakutanku akan kehilangan dirimu setelahnya membuat aku mengubur semua keinginan manusiawi itu."


"Aku takut, setelah kita berhubungan, kamu akan meminta cerai padaku. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" keluh Farhan sambil memindahkan anak-anak rambut Ameera dengan ibu jarinya.


Merasa tubuhnya sangat lelah dan matanya juga sangat mengantuk. Farhan merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan tertidur dengan sangat nyaman.


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Jam Alarm yang berasal dari ponsel milik Farhan membangunkan Ameera. Ameera mengucek matanya yang masih terasa berat. Namun sebenarnya bukan hanya matanya yang masih terasa berat, tubuhnya juga terasa sangat berat seperti tertimpa buldoser.


Ameera geleng-geleng kepala melihat kaki Farhan sedang menimpanya. "Jam berapa Mas Farhan semalam pulang?" gumamnya.


Perut Ameera terasa sangat perih akibat semalam dia tidak makan apapun. Ameera ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk suaminya. Perlahan-lahan dia memindahkan kaki suaminya yang tak kunjung berpindah semalaman.


Setelah selesai semuanya, Ameera kembali ke kamar dan membangunkan suaminya.


"Mas, bangun dulu," bisik Ameera sambil menepuk lengan Farhan dengan pelan.


"Iya, Meera. Ini Mas sudah bangun kok," sahut Farhan sambil menyesuaikan pandangannya karena merasa silau dengan cahaya mentari pagi yang telah menembus gorden mereka.


"Hari ini cuaca bagus sekali, ya?" ujar Farhan sambil melihat ke luar.


"Iya, Mas."


"Bagus untuk jalan-jalan. Tapi sayang, Mas belum bisa menemani kamu. Kamu sabar sebentar lagi ya?" ucap Farhan sambil mengelus pipi Ameera.


"Tidak apa-apa, Mas. Kan tujuan awal kamu kemari juga untuk bekerja," jawab Ameera memberikan rasa pengertiannya.


"Terima kasih." Farhan mengecup pipi Ameera dan langsung beranjak masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Ameera yang lagi-lagi terdiam akibat sentuhan Farhan.

__ADS_1


Ameera memegangi pipinya yang tadi dikecup oleh Farhan dan perasaannya haru biru.


Tanpa pikir panjang, Ameera beranjak menyiapkan pakaian suaminya. Mempersiapkan semua keperluan Farhan layaknya tugas seorang istri pada umumnya.


Farhan keluar sambil mengibaskan rambutnya, ingin mencari nilai lebih pada Ameera. Dia berpikir, siapa tahu dengan bergaya cool seperti itu, akan membuat cinta di hati Ameera tumbuh sedikit demi sedikit.


"Mas, rambut kamu masih basah banget. Jangan dikibaskan gitu dong, nanti becek. Kalau terpeleset gimana? Sini biar Meera keringin," dumel Ameera sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya yang masih kosong.


Dengan wajah memberenggut Farhan duduk di samping Ameera. Kadang-kadang harapan memang tak selalu jadi kenyataan, pikirnya.


"Itu kamu yang menyiapkannya, Meera?" tanya Farhan menunjuk ke arah pakaiannya yang sudah tersusun rapi.


"Iya, Mas. Kenapa? Kamu tidak suka dengan warna yang Meera pilihkan ya?" tanya Ameera, tangannya terus mengeringkan rambut suaminya menggunakan handuk putih kecil.


"Suka. Apa pun pilihan kamu Mas sangat suka. Mas akan menyukai semua pilihan kamu," sahutnya cepat tak ingin membuat perasaan Ameera kecewa.


Hanya satu yang Aku tidak suka, Meera. Aku tidak suka jika kamu memilih kembali bersama Dion dan kembali meninggalkan aku.


"Sudah selesai. Mas langsung siap-siap ya. Meera tunggu di bawah," tutur Ameera pada suaminya.


"Jadi, siapa yang pasangin dasi?" tanyanya, Farhan seperti sudah ketergantungan pada istrinya itu. Padahal baru kemarin Ameera memasagkan dasinya. Tapi Farhan seperti sudah lupa cara memasang dasinya sendiri.


"Bawa ke bawah saja, Mas," jawab Ameera sambil tersenyum simpul. "Meera tunggu di bawah ya."


******


"Meera, ini dasinya." Farhan menyerahkan sehelai dasi yang tadi dipilihkan oleh Ameera.


Ameera menerima dasi itu sambil tersenyum.


"Meera pikir kamu akan mengganti dasi ini karena tidak sesuai dengan selera kamu, Mas."


"Kan sudah Mas katakan, Mas akan...."


"Hehe iya Mas iya. Meera hanya becanda saja. Ya sudah, ayo kita sarapan sekarang," ajaknya.


Mereka duduk berhadap-hadapan di meja makan. Saat mereka mulai menyuapi makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba nada dering ponsel Ameera berbunyi.


Farhan mengintip sedikit dan mendapati nama Dion di layar ponsel istrinya.


"Untuk apa dia menghubungi Ameera pagi-pagi seperti ini?" kesalnya bergumam pelan.

__ADS_1


Farhan terus saja memperhatikan Ameera dan ponsel yang beberapa kali berdering itu dengan kening berkerut karena Ameera tak kunjung menjawab panggilan dari Dion.


"Meera, siapa yang menghubungimu?" tanya Farhan pura-pura tidak tahu.


"Mas Dion, Mas," sahut Ameera.


"Kenapa tidak menjawabnya? Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakannya.".


"Nanti saja, Mas. Kita sedang makan, mana bisa Meera menjawab panggilan," sahutnya.


Darah Farhan berdesir mendengar jawaban Ameera. Ada rasa senang karena dia merasa dihargai. Bukankah sah-sah saja kalau Ameera menjawab panggilan Dion di depan Farhan walaupun mereka sedang makan sekalipun? Itulah yang kini ada dipikiran Farhan.


Namun, sebuah ingatan kembali mematahkan kegirangannya tadi. Sebuah kenyataan yang tak bisa ditampik olehnya menelusup dan mengganggu rasa bahagianya.


Aku lupa, Ameera memang baik pada semua orang. Sikapnya sekarang adalah sebuah kewajaran. Denganku saja dia bersedia menjadi istri yang baik, padahal tidak ada cinta di hatinya. Dan dengan Dion, cinta masih bermekaran namun dia tidak menjawab panggilan pria itu.


"Meera, Mas sudah selesai."


"Ya, Mas. Meera ambilkan tas dan sepatu dulu ya."


"Akankah pernikahan ini akan indah pada waktunya, atau akan berakhir pada waktunya? Apakah akan sama seperti yang aku inginkan? Akankah Ameera bisa mencintaiku, bukan hanya menghargaiku karena aku Suaminya?" pikiran-pikiran yang Farhan sendiri tak tahu jawabannya itu selalu bergelayut dalam pikirannya. Membuatnya kadang bimbang dengan ikatan suci yang sedang dia jalani.


Ingin dia bertanya, namun keberaniannya menyurut tatkala merasa takut untuk mendengar jawaban Ameera yang pasti masih menyimpan rasa untuk mantan suaminya itu.


Karena keraguan selalu merundungnya, lagi-lagi Farhan menarik kembali niat itu.


Dia bukan tak mendamba kepada hubungannya dengan Ameera. Namun, semua perasaan yang tak pasti itu membuatnya harus menjalani semuanya dengan sabar dan mengikuti alur yang dia buat sendiri.


Karena, Farhan sendiri harusnya tahu, konsekuensi apa yang harus dihadapinya kala dia menjalin hubungan dengan orang yang tidak mencintainya.


"Mas?" panggilan Ameera mengagetkannya Farhan, menariknya secara paksa untuk keluar dari lamunannya.


"Ah iya?"


"Kenapa melamun? Mikirin apa, Mas?" tanya Ameera yang ikut mendudukan bokongnya di samping suaminya.


"Mikirin kamu, Meera. Memikirkan hubungan kita," jawab Farhan dengan wajah datar.


"Apa yang Mas Farhan pikirkan tentang hubungan kita?"


…*…*…*…*…*

__ADS_1


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote. Berikan juga rate 5 ya. Dukungan kalian sangat berharga untuk author.


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2