Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Jalan-jalan


__ADS_3

"Tapi, menurut Mas makanan yang paling enak adalah kamu. Rasanya kok ketagihan ya?" goda Farhan membuat Ameera kembali menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Ameera terbangun karena jam wekernya telah berbunyi. Ameera duduk sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa ngilu. Ameera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah itu, tak lupa dia membangunkan suaminya untuk shalat subuh berjamaah.


******


"Mas, mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Meera sambil melipat mukena yang tadi ia gunakan.


"Terserah kamu saja, Meera."


Dia mengucir rambut panjangnya dan bersiap-siap untuk menyibukkan diri di dapur. Ameera hanya membuat sarapan sederhana yaitu nasi goreng udang kesukaannya. Entah kenapa, udang adalah makanan favorit wanita berdarah suku Aceh itu.


Saat Ameera masih sibuk mengaduk-aduk nasinya, Farhan turun dan duduk di meja makan sambil memperhatikan Ameera memasak.


"Sarapan sudah siap, Mas!" ucap Ameera sambil membawa dua piring yang berisi nasi goreng udang. Dia juga menuangkan segelas air putih untuk suaminya itu.


"Nanti kita jalan jalan-jalan ke mana? Mau berbelanja di mall, atau ke destinasi wisata?" tanya Farhan di sela-sela mengunyah.


"Wisata saja, Mas. Meera belum pernah kemari. Kalau berbelanja, di Indonesia juga bisa," sahutnya, wajahnya pun terlihat sumringah.


Farhan mengangguk, selanjutnya mereka melanjutkan makan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu kasih.


Kini Ameera dan Farhan sudah berada dalam mobil, tujuan awal mereka adalah Loch Earn.


Danau besar yang ada di desa lochernhead ini bakal membuatmu terkagum-kagum. Loch Earn populer di kalangan para penikmat olahraga air, mulai dari ski air hingga kano/kayak.


Setelah sampai di tujuan, Ameera benar-benar merasa kagum dengan tempat itu. Dia mengamati sekelilingnya dengan wajah yang berseri-seri.


"Masya Allah, Mas. Tempat ini sangat indah," puji Ameera membuat Farhan tersenyum senang.


"Kamu suka tempat ini?" tanya Farhan. Mereka masih berdiri di depan mobil sambil mengamati keadaan sekitar yang membuat mereka benar-benar takjub itu.


Buru-buru Ameera menganggukkan kepalanya. Dengan tangan yang saling menggenggam, Farhan menuntun Ameera berjalan mengelilingi danau besar itu.


Dia benar-benar terkesima dengan apa yang dilihatnya. Setiap inci dari danau itu, seakan menyuguhkan keindahan yang berbeda.


"Tidak terasa sudah sore, ya? Ayo kita ke tempat yang lain!" ajak Farhan.

__ADS_1


"Ke mana, Mas?" tanya Ameera dengan mata berbinar.


"Ayo ikut saja! Nanti kamu pasti akan merasa lebih takjub lagi," sahut Farhan. Ameera menarik tangan Farhan dan berjalan cepat menuju mobilnya. Seperti sudah tidak sabaran dengan apa yang sedang menantinya.


"Ini adalah Mercusuar neist point."


Mercusuar neist point terletak di atas tebing berbatu besar di atas laut, di pinggir pantai. Air laut yang menyerap sinar matahari menjadikan warnanya berubah menjadi biru, menambah keindahan tersendiri dan membuat orang betah lama-lama memandanginya.


Gelombang-gelombang besar yang bergantian menyerbu tebing tajam yang terlihat tetap kokoh itu, menambah lagi keindahan yang tak dapat terungkapkan. Sungguh, ciptaan Allah selalu tanpa celah.


Mercusuar neist point yang ada di isle of skye pertama kali beroperasi tahun 1909, dan masih berfungsi sampai sekarang. di kalangan para wisatawan, tempat ini dinilai sebagai tempat untuk menyaksikan sunset paling indah.


"Meera, sebentar lagi matahari akan terbenam. Ini adalah tempat yang sangat bagus untuk melihat sunset," ujar Farhan memberikan sedikit info pada istrinya itu.


"Benar, Mas. Kalau begitu, ayo kita duduk di sana saja Mas. Sepertinya itu tempat yang sangat cocok," tutur Ameera sambil menunjuk ke arah hamparan pasir yang terbentang luas.


"Ayo!"


"Mas, lihat itu!" Ameera menunjuk matahari yang mulai bergerak masuk dalam peraduannya. "Sebentar lagi kita akan melihat pemandangan indah," seru Ameera kegirangan.


Swastamita atau yang biasa dikenal banyak orang dengan nama matahari terbenam mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat.


Warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam menambah kesan keindahan yang tiada tara. Sejauh mata memandang, hanya ada keindahan yang disuguhkan.


"Masya Allah, memang sangat indah sekali. Tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan-Nya." lagi-lagi kalimat pujian terlontar dari bibir Ameera. Matanya pun belum berpindah dari matahari yang mulai terlihat tinggal sedikit.


Tapi sepertinya Farhan tak fokus dengan apa yang dilihat oleh Ameera, tidak memperhatikan apa yang Ameera ucapkan. Dia sibuk memperhatikan wajah kekasih halal yang duduk di sampingnya, yang kini telah menjadi candunya.


"Sama seperti dirimu, sangat indah!" ucap Farhan dengan mata yang masih sibuk mengukur setiap inci wajah istrinya itu.


"Seperti siapa Mas?" tanya Ameera bingung. Dia melihat ke arah suaminya, ternyata Farhan sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta, hehe.


"Tidak. Ayo, kita cari masjid terdekat dan shalat." Farhan langsung menarik tangan Ameera agar mengikutinya.


Ameera mengikuti langkah kaki Farhan. Setelah menemukan masjid terdekat, mereka pun menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


Setelah selesai, mereka kembali bertemu di dekat mobil.


"Sudah gelap, Mas. Bagaimana kalau kita makan di luar saja?" usul Ameera dan diangguki Farhan.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kita langsung cari restaurant terdekat ya."


Farhan dan Ameera sama-sama memasang seat belt mereka. Farhan melajukan mobilnya memecah keramaian kota, mereka juga melihat ke kiri dan kanan berusaha mencari tempat yang akan mereka singgahi untuk sekedar mengisi perut.


"Mas, sepertinya di sana ada tempatnya. Tapi, seperti restaurant bintang lima," ucap Ameera kecewa.


"Tidak apa-apa, kita makan disitu saja. Mas juga sudah sangat lapar." Farhan menambah kecepatan laju mobilnya agar lebih cepat sampai ke tempat yang ditunjuk oleh Ameera.


"Meera, kamu mau pesan apa?" tanya Farhan yang masih memegang sebuah notebook yang digunakan untuk memesan makanan di restaurant itu.


"Apa saja yang penting makanan halal, Mas."


Farhan langsung memesan makanan sesuai dengan yang diucapkan oleh Ameera.


DRRRT DRRT DRRRT


Ponsel Ameera yang diletakan di atas meja bergetar. Farhan kembali mengintip layar ponsel Ameera, ingin tahu siapa yang telah menghubungi istrinya itu.


Tertulis dengan jelas kalau Dion lah yang menghubungi istrinya. Namun Farhan pura-pura. Pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Dia hanya melanjutkan kegiatannya bermain gadget sambil sesekali tersenyum.


Padahal, dia sendiri tidak tahu apa yang sedang disenyumi olehnya. Yang ada, mungkin dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Yang terlalu pengecut untuk mencoba memiliki yang seharusnya memang menjadi miliknya.


Menertawakan nasibnya yang begitu menyedihkan. Tidak berani mengungkapkan cinta pada istri sendiri, sungguh miris.


Tapi, Farhan selalu merasa heran. Setiap kali Dion menghubungi Ameera, wanita itu tidak pernah menjawab panggilan dari mantan suaminya itu. Tak pula menolak, hanya mendiamkan sambil sesekali melihat ke arah ponselnya.


Apakah karena sedang ada dirinya? Lalu, kenapa?


Namun, Farhan tetap memilih bungkam dengan sejuta pertanyaan yang berkeliaran bebas di dalam pikirannya.


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Seperti biasa, dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya akak-akak.


Author mau promosikan novel temen Author, gak kalah keren dan kece yaw..


__ADS_1


Jangan lupa untuk singgah dan ikut memberikan dukungan ya...


Thank you ❤️❤️❤️


__ADS_2