
"Kakak tidak percaya sama Alisa?" gurau Alisa namun ditanggapi serius oleh Ameera.
"Bukan begitu, Lisa. Kakak hanya merasa sedih karena harus berjauhan dengan kalian," jawabnya dengan kepala tertunduk.
...******...
Setelah selesai membuat sarapan, Ameera masuk ke dalam kamar dan melihat Farhan masih tertidur sambil mendengkur halus. Dia duduk di samping Suaminya dan menatap wajah damai Farhan yang masih tertidur lelap. Ameera duduk di samping Farhan dan menatap setiap inci wajah sahabatnya yang kini telah berubah status menjadi suaminya.
"Sebenarnya apa yang mendasarimu mau menikahiku, Mas? Apakah sikap manis yang kamu tunjukkan selama ini dapat aku artikan sebagai cinta? Atau hanya kebaikan semata karena kamu masih menganggapku sebagai sahabat baikmu?" gumam Ameera. Matanya masih lekat menatap wajah Farhan yang terlihat tampan meskipun matanya masih terpejam.
"Jika kamu memang mencintaiku, aku pasti akan sangat merasa bersalah padamu, sebab aku belum bisa membalas cintamu. Bahkan, sampai sekarang aku masih memikirkan mantan suamiku, memikirkan pria lain yang bukan mahramku. Aku takut, menyakiti hati suamiku namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa mengendalikan hatiku untuk mengarah padamu," ucapnya lirih dengan tatapan sendu.
Saat Ameera masih sibuk dengan berbagai macam dengan pemikirannya, dia dibuat terkejut dengan Farhan yang tiba-tiba bangun dan duduk di sampingnya.
"Meera, kamu kenapa tidak membangunkan Mas? Sarapannya belum selesai?" tanyanya sambil mengucek matanya seperti anak kecil.
"Su-sudah, Mas."
"Lalu, kenapa kamu hanya termenung di sini?" tanya Farhan.
Ameera tersenyum kikuk, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Kalau sudah bangun, ayo kita bergegas sarapan, Mas. Kan hari ini mau langsung pindah," ujar Ameera dan berlalu keluar kamar.
Farhan menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang dari pandangan mata.
"Aku mendengar semuanya, Ameera. Entah merasa beruntung karena belum menyatakan perasaanku padamu, atau merasa bodoh dan terlalu pengecut. Aku hanya tidak ingin kau merasa terbebani. Tapi, apakah aku harus menjalani cinta dalam diam ini selamanya?" Farhan menghembuskan nafas kasar.
"Bahkan, alasanku ingin segera memboyongmu ikut denganku ke tempat yang jauh adalah agar Dion tak bisa menemuimu setiap hari dan sesuka hatinya. Maafkan aku yang terlalu egois ini, tapi aku juga cemburu bila melihatmu bertemu dengan orang yang kamu cintai," keluhnya.
Namun sayangnya, keluhan itu hanya bisa diucapkan sendiri dan di dengarkan sendiri. Orang yang harusnya mendengar setiap ucapan itu tak bisa mendengarnya. Bukan karena dia tunarungu, tapi karena Farhan tak pernah mengatakannya langsung pada yang bersangkutan.
Farhan keluar kamar, mendapati Ameera, Alisa dan Arman telah berkumpul di meja makan dan sedang menunggunya.
"Maaf, Yah. Karena aku kalian jadi telat sarapan," ucapnya sambil tersenyum dan mendudukan bokongnya.
"Tidak apa-apa. Ayo kita mulai makan."
Selepas sarapan, Farhan menemui Arman yang sedang duduk di depan Tivi.
"Yah, Farhan mau bicara," ucapnya.
__ADS_1
"Katakanlah, Nak."
"Yah, Farhan berencana membawa Ameera pindah ke rumah sederhana kami," ujarnya.
Arman mengangguk sambil tersenyum.
"Ameera sudah mengatakannya tempo hari. Tapi Ayah tidak menyangka kalau kalian pindah akan secepat ini. Tapi, Ayah sudah mengizinkannya," jawabnya membuat Farhan merasa lega. Karena dia sempat berpikir kalau akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Arman padanya.
...******...
"Mas, serius kita tidak perlu bawa banyak barang-barang kebutuhan di sana?" tanya Ameera kembali memastikan.
"Serius Meera. Kamu tidak perlu repot, kita hanya pindah rumah. Bukan pindah alam, kan?" seloroh Farhan.
Ameera mengerucutkan bibirnya.
"Kalau pindah alam lebih tidak perlu membawa barang apapun, Mas. Hanya perlu membawa amal ibadah!" sahutnya ketus.
"Mas hanya becanda saja. Sesuai instruksi dari Mas tadi. Kamu hanya perlu membawa pakaian kita saja. Yang lain tidak perlu," ucapnya lagi. Tapi Ameera masih berdiri diam di tempatnya. Seperti masih menimbang-nimbang rasa ragunya yang merasa aneh dengan ucapan Farhan.
"Tapi, Mas. Setahu Meera, kalau orang pindah rumah itu pasti akan membawa banyak barang. Lemari, wajan, kompor, ini dan itu. Apalagi, kita masih belum beli apa-apa, pasti lebih banyak yang harus kita bawa. Mas tidak perlu khawatir kok, di dapur ada wajan dan kompor yang masih baru. Kita bawa saja, Ayah pasti mengizinkan," cecarnya panjang lebar menjelaskan apa yang biasa dilihatnya.
"Tapi Meera sering lihatnya seperti itu, Mas." Ameera tetap kekeh dengan pendapatnya, membuat Farhan tersenyum dengan tingkah Ameera yang tidak mau kalah.
Namun dia juga tidak kunjung mengatakan alasan mengapa dia menyuruh Ameera untuk hanya membawa pakaiannya saja. Biarlah itu menjadi kejutan yang akan langsung dilihat oleh Ameera nanti.
"Ameera, kamu tidak percaya dengan Mas?"
"Percaya sih, Mas. Tapi kan Meera hanya merasa aneh saja. Kalau kita tidak bawa wajan dan kompor, nanti kita masaknya di mana? Terus, pakaian kita mau di taruh di mana, Mas?" cecarnya lagi membuat perut Farhan lebih tergelitik.
Apakah rumah kita nanti sangat kecil, ya? Sampai lemari saja tidak muat di dalamnya. Mas Farhan pasti malu mengatakan itu semua.
"Ya sudah, sesuai dengan permintaan kamu saja. Ayo kita bergegas sekarang," ajak Ameera.
Farhan mengerutkan keningnya, heran kenapa Ameera tiba-tiba mengalah pada pendapatnya.
Farhan hanya mengangguk, kemudian mengikuti langkah Ameera yang sudah lebih dulu keluar kamar.
"Nak, maaf karena Ayah tidak bisa mengantar kalian. Nanti jika Alisa libur kerja, Ayah pasti akan mengunjungi kalian," ucap Arman.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Yah. Yang penting Ayah jaga diri, ya?"
Arman mengangguk, dia tersenyum agar gundah di hati Ameera memudar. Farhan tadi sudah mengajak Arman untuk ikut dengan mereka, tapi Arman langsung menolaknya. Dia hanya ingin Farhan dan Ameera saling membangun cinta di rumah baru mereka. Sebagai lelaki, Arman dapat merasakan kalau Farhan sudah lama menaruh hati pada Ameera.
Hanya saja, karena hati Ameera masih terpaut pada Dion, wanita itu belum bisa merasakan cinta Farhan padanya. Apalagi, selama mereka menjalin hubungan sebagai sahabat, Farhan selalu bersikap baik padanya, jadi dia menganggap kalau itu adalah sikap yang wajar, bukan cinta.
Melihat Farhan yang belum mengungkapkannya langsung, Arman pun tak berani mengatakan apapun. Tidak berani ikut campur dalam rumah tangga anaknya terlalu jauh. Biarkanlah itu menjadi urusan mereka, karena mereka yang menjalaninya.
Selama mereka tidak saling menyakiti, Arman hanya akan menjadi penonton setia, begitu pikirnya.
"Kalau begitu, kamu pamit Yah. Assalamualaikum," ucap mereka bersamaan dan bergantian mencium punggung tangan Arman.
"Waalaikumsalam, hati-hati."
Ameera dan Farhan masuk ke dalam mobil. Mobil mereka mulai melaju membelah jalanan menuju persinggahan baru yang akan mereka tinggali.
Cintaku masih untuk Mas Dion, namun saat berada di samping Mas Farhan, aku merasakan kenyamanan yang belum pernah aku dapatkan dari Mas Dion. Hingga aku masih ragu untuk memutuskan kepastian.
Salahkah jika aku bersikap egois sebentar? Aku hanya ingin menimbang rasa, apakah aku sudah jatuh cinta pada suami Muhallilku ini?
"Kenapa termenung? Sambil menatap wajah tampan ini pula?" tanya Farhan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Wajah tampan siapa?" tanya Ameera pura-pura tidak tahu.
"Wajah tampan suamimu. Lalu, memangnya ada laki-laki lain di dalam sini?"
"Mas, kenapa kamu memilih rumah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Ayah?" tanya Ameera. Bukankah jika jaraknya dekat akan memudahkannya untuk menyambangi sang Ayah? Lalu, apakah Farhan memiliki pemikiran yang berbeda?
Farhan terdiam sejenak, dia tampak ragu saat hendak menjawab pertanyaan Istrinya itu.
"Kalau alasan Mas adalah agar Dion tidak pernah menemui kamu lagi, bagaimana?"
Mampir juga yuk ke KISAH CINTA RENARA
Berikan dukungan like, komentar, gift, dan vote. Ini juga termasuk novel yang ga kalah keren, loh!
Seperti biasa, jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 agar Author tambah semangat
__ADS_1
Terima kasih untuk setiap dukungan yang telah kalian berikan ❤️❤️❤️❤️❤️❤️