
"Ameera, pasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Semua ujian dari Allah, dan akan kembali pada-Nya pula. Berdoa pada-Nya, semoga kita dikuatkan dalam menjalani cobaan ini. Berdoa agar Dia memberikan yang terbaik untuk kita, dan menjauhkan segala hal yang buruk." tutur Amran agar khawatir di hati anaknya bisa sedikit berkurang.
Amran melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ameera, Ayah ada janji dengan Pak RT, dan harus pergi sekarang," ucap Amran.
"Ayah pergi sama siapa? Ameera antarkan ya, Yah?" pinta Ameera yang sudah berdiri karena mau mengantarkan Ayahnya.
"Tidak usah, Nak," tolak Amran sambil tersenyum. "Ayah di jemput menggunakan mobil. Jadi kami tidak perlu khawatir, ya. Kamu antarkan Ayah ke teras saja. Ayah menunggu di sana," ucap Amran dan dibalas senyuman oleh Ameera.
"Kamu masuk saja, Ameera." Amran mendongak dan melihat wajah Anaknya. Mengelus tangan anaknya menyalurkan kehangatan.
"Ayah yakin mau menunggu sendirian di sini?" tanya Ameera, dari wajahnya dia terlihat cemas kalau harus meninggalkan Ayahnya sendirian.
"Tidak apa-apa. Ini rumah kita. Apa yang harus Ayah takutkan?"
"Tapi kan sudah malam, yah?"
"Tidak apa-apa. Kamu masuk saja ya. Sebentar lagi Alisa pulang, kamu masuk saja." Amran tersenyum melihat tingkah Ameera. Bukan hanya Ameera yang seperti itu, Alisa juga akan melakukan hal yang sama padanya. Dia mengerti, anak-anaknya seperti itu bukan karena terlalu posesif padanya, tapi karena menyayanginya.
"Kalau begitu, tunggu sebentar, Yah. Ameera ambilkan jaket untuk Ayah." tanpa menunggu persetujuanku Ayahnya, Ameera langsung masuk ke kamar Ayahnya dan mengambilkan jaket yang biasa digunakan oleh Ayahnya.
Saat Ameera tiba di depan, terlihat sebuah mobil Avanza berwarna hitam. Dia yakin, itu pasti mobil yang mau menjemput Ayahnya. Dengan langkah cepat, Ameera menuju pada Ayahnya dan memakaikan jaket kulit berwarna cokelat ke tubuh sang Ayah.
"Ayah pergi ya, Meera. Kamu hati-hati di rumah." Ayahnya mengingatkan.
"Iya, Ayah tidak perlu khawatir. Sebentar lagi Lisa juga pulang. Ayah jangan pulang terlalu malam ya." Ameera menyalimi tangan Ayahnya dan dia pun segera masuk setelah mobil yang membawa Ayahnya hilang dari pandangan mata.
Ameera memilih menonton Tivi. Meski remote ada di tangannya, Tivi yang sudah hidup, tak bisa mencuri perhatian Ameera untuk menontonnya. Dia berada di depan Tivi, tapi lagi-lagi pikirannya melayang jauh entah ke mana.
"Benar kata Ayah, aku harus menyerahkan semua ini pada Allah SWT. Aku juga harus mulai dari mencintai suamiku kelak, yaitu Mas Farhan," gumamnya sambil termenung.
Kita tidak bisa menghindar dari sebuah perpisahan. Meskipun berat, saat kita masih mencintainya dan selalu memikirkannya, tapi ternyata dia bukan lagi milik kita.
Tuhan sudah menakdirkan, kalau dia memang bukan jodohmu.
__ADS_1
Ameera kembali memfokuskan dirinya untuk menonton Tivi, dan tak berselang lama, Alisa pulang dengan menenteng kantong plastik berlogokan Ind*m*r*t.
"Kak, Alisa bawakan jajanan untuk Kakak. Ini, semuanya untuk Kakak." Alisa menyerahkan kantong plastik yang berukuran lumayan besar pada Ameera.
Ameera melihat, banyak sekali jajanan yang dibawakan Alisa untuknya.
"Ini semua untuk Kakak? Untuk kamu mana?" Ameera melihat tangan adiknya kosong, tidak memegang apa-apa.
"Bagikan saja untuk anak-anak di TPA, Kak. Mereka pasti senang." Alisa membuka hijabnya karena kegerahan. "Kak, Alisa mandi dulu ya. Setelah itu kita makan malam bersama." Dia langsung masuk ke kamarnya, tidak lama barulah dia masuk ke kamar mandi mereka yang terletak di dapur.
Karena Ameera pun sudah mulai keroncongan sedari tadi, dia langsung menyiapkan semua makanan di atas meja untuk di santap bersama. Dia sengaja menunggu Alisa, adiknya. Karena makan sendirian tidak kan enak, untuk orang yang telah terbiasa makan bersama sepertinya.
Saat di rumah Dion, Ameera selalu makan sendiri. Dia yang biasanya makan dengan keluarganya, sangat merasa kesepian saat itu. Namun, semua makanan harus ditelannya agar tak merasa lapar. Dion jarang sekali pulang ke rumah. Dan bila tiba waktu makan, Dion tidak pernah ada di rumah. Dan Wenda, selalu makan sendiri, tidak mau mengajak Ameera. Setelah Ibu mertuanya itu makan, barulah Ameera diperbolehkan untuk makan.
Ameera menjalani semuanya dengan ikhlas, tanpa mengeluh kepada siapapun. Dia juga enggan untuk bercerita pada Adiknya, takut Alisa akan memberitahukan itu semua pada Ayahnya.
*Flashback*
"Ngapain kamu di situ? Minggir! Saya mau makan." Wenda berjalan sengaja menabrakkan sedikit tubuhnya dengan Ameera, sampai wanita itu terhuyung.
"Diam di situ!" Wenda menunjuk Ameera yang hampir mendaratkan bokongnya di kursi kayu.
"Ke-kenapa, Bu?" tanya Ameera yang dipaksa berdiri lagi.
"Saya tidak terbiasa makan dengan orang lain! Apa lagi orang seperti kamu," tunjuknya pada Ameera. "Tunggu saya selesai makan, baru kamu boleh makan!" imbuhnya lagi.
"Ta-tapi, Bu?"
"Jangan banyak bicara, pergi ke dapur sana. Bereskan rumah ini dulu, baru boleh makan. Jangan jadi pemalas, saya sengaja memecat semua pembantu agar kamu yang mengerjakannya," pungkas Wenda, yang memang membenci Ameera secara terang-terangan.
Pantas saja suasana rumah ini terlihat berbeda. Pertama kali aku kemari, ada beberapa ART yang mengurus rumah ini. Tapi sekarang, satu pun tak terlihat. Ini baru hari pertamaku di sini, semoga aku kuat menjalani hari-hariku ke depannya di sini.
"Mas Dion, ke mana, Bu? Apa ibu tahu?" tanya Ameera sebelum benar-benar pergi dari hadapan Wenda.
"Kau kan istrinya! Kenapa malah bertanya padaku. Baru menikah, sudah terlihat tidak becus. menjadi istri." ketus Wenda sambil mengunyah makanannya. Tapi, apa yang dikatakan Wenda, masih terdengar jelas oleh Ameera.
__ADS_1
"Saya sudah menghubunginya, tapi tidak dijawab."
"Tentu saja. Karena aku sudah mengatakan padanya, agar tidak perlu memperdulikanmu. Kau berharap apa? Dia harus bekerja, untuk memenuhi kebutuhanku. Jangan manja!" sungut Wenda tak berperasaan.
Kemarin kami baru menikah, tapi dari tadi malam sampai sekarang, aku belum lagi melihat wajah Mas Dion. Apakah seperti ini yang dinamakan pengantin baru yang diceritakan oleh orang-orang?
"Nanti setelah ini, kau pindahkan barang-barang mu ke kamar tamu. Jangan di kamar Dion!" celetuknya lagi.
"Tidak. Itu kamar suamiku, Bu. Jadi aku juga berhak tidur di kamar itu." tolak Ameera.
"Dasar wanita keras kepala!" Wenda meninggalkan meja makan, karena dia memang sudah selesai makan.
Setelah hari pernikahan mereka, Dion hanya tiga kali pulang ke rumah itu. Setiap kali Dion pulang, Dion akan tidur di kamar tamu.
*Flashback off*
"Kak, kenapa termenung di depan makanan? Ayo kita makan," ajak Alisa yang sudah duduk di samping Kakaknya.
"Ayo."
"Di mana Ayah, Kak? Kenapa tidak makan bersama kita?" tanya Alisa, matanya berpusing ke mana-mana mencari keberadaan Ayahnya.
"Ayah sedang pergi," jawab Meera.
Setelah makan, mereka sama-sama mencuci semua peralatan makan sambil diselingi dengan candaan-candaan ala mereka. Alisa juga sangat semangat berceloteh tentang pekerjaannya.
Setelah selesai, Ameera mengambil wudhu. Tapi di dalam kamar mandi, setelah buang air kecil dia malah tersenyum saat melihat tamu bulanannya telah datang.
"Ternyata tamu bulananku sudah datang. Selalu seperti ini, tak terasa bila datang. Dan siklusnya selalu tidak menentu. Kadang lebih cepat, kadang lebih lama," gumamnya.
"Sepertinya, sudah waktunya, aku menerima kedatangan keluarga Mas Farhan kapanpun. Tapi, apa aku perlu mengabarinya?" Ameera dilanda kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di dalam kepalanya.
Dukung terus karya ini ya...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak👣👣😍
__ADS_1