Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Bertambah Aneh


__ADS_3

"Farhan, reinkarnasi itu tidak ada dalam agama kita. Itu kepercayaan Hindu," tukas Safa.


"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Ameera, Ma?" Farhan bertanya frustasi.


"Apakah Ameera sedang hamil?" tutur Safa.


"Hamil?" Farhan mengulang pernyataan Safa dengan suara gemetar.


"Ya, mungkin Ameera sedang hamil, Farhan. Dulu saat Mama mengandung kamu, sifat Mama yang liar ini juga berubah jadi manja sampai Papa memanggil Mama kucing betina jinak," tutur Safa yang mulai masuk ke dalam memori masa lalunya.


"Benarkah begitu, Ma?" tanya Farhan gugup.


"Ya, tapi itu masih tebakan Mama saja. Kita belum tahu kejelasannya bagaimana," ujar Safa membuat harapan Farhan kembali patah.


"Apakah Farhan harus bertanya pada Ameera agar semuanya jelas, Ma?" usul Farhan.


"Tidak perlu. Mama tebak, Ameera juga tidak tahu dengan kondisinya. Namun, itu hanya prasangka awal Mama saja. Karena mood seorang wanita bisa naik turun dan berubah-ubah saat akan mendapatkan menstruasinya. Apa lagi kalian belum periksa, jadi kita harus datang ke Dokter obgyn terlebih dahulu untuk memastikannya," ucap Safa menjelaskan.


Harapan yang semula berada di puncak, seketika merosot jauh masuk ke dasar jurang. Mendengar pernyataan Mamanya membuat hati dan pikirannya menjadi kacau tak menentu.


Harapan terbesarnya hanyalah satu, ada ruh malaikat kecil yang ditiupkan oleh sang Pencipta ke rahim sang Istri.


Tujuannya agar dia bisa lebih lama bersama Ameera dan mempunyai waktu lebih banyak untuk membuat wanita itu jatuh hati padanya. Jika Ameera tak kunjung hamil, dia sangat takut jika sewaktu-waktu Ameera tiba-tiba datang dan ingin mengakhiri pernikahan mereka. Karena sekarang pun, tanda-tanda cinta tak kunjung terlihat dari wanita itu walaupun hanya secuil.


Suara Safa mengagetkan Farhan yang masih asik berada dalam lamunan.


"Biasanya kapan Ameera akan kedatangan tamu bulanannya?" tanya Safa.


"Ma-mana Farhan tahu, Ma! Kenapa pertanyaan Mama sangat aneh?" Farhan menjawab cepat pertanyaan Safa dengan cepat. Wajahnya sudah merona tak menentu. Jika saja sekarang Safa dapat melihatnya, mungkin Ibunya itu akan menjahilinya habis-habisan.


"Kamu tidak tahu? Biasanya suami pasti tahu jadwal tamu bulanan istrinya," celetuk Safa.


"Ma...!" pekik Farhan, wajahnya semakin Merina karena ucapan Safa mulai liar ke mana-mana.

__ADS_1


"Apa?" tanya Safa ketus, sama sekali tak merasa bersalah karena telah membuat Anaknya kikuk sebab mendengar kata-kata keramatnya.


"Lalu, apa yang harus Farhan lakukan sekarang? Farhan ingin segera memastikannya secara langsung agar...." ucapan Farhan terhenti, tak ada niatan untuknya melanjutkan ucapannya barusan.


Safa menghela nafasnya perlahan. Dia cukup mengerti dengan apa yang ingin diucapkan oleh sang anak.


"Farhan, kamu harus sabar," tukas Safa.


"Menurut Mama, lebih baik kita pastikan terlebih dahulu apa penyebab perubahan sikap Ameera selama ini. Apakah karena benar-benar gejala awal kehamilan atau hanya gejala menstruasi. Nanti, saat tanggal menstruasi Ameera tiba, kita akan tahu jawabannya," tutur Safa.


"Tapi, Ma. Bagaimana Farhan bisa tahu Ameera hanya sekedar menstruasi atau tidak? Ameera belum mencintai Farhan, Ma. Farhan tidak mau, ternyata Ameera hamil, diam-diam melarikan diri dan membawa calon anak kami," seru Farhan mengutarakan ketakutan anehnya.


Safa memutar bola matanya, merasa jengah dengan sifat Farhan yang mendadak berubah menjadi Over Thinking.


Apakah perubahan sikap Farhan ini berkaitan dengan kehamilan Ameera? Tidak! Aku tidak bisa terlalu berspekulasi tinggi. Kalau jatuh, kasihan Farhan. Lebih baik jangan memberitahunya dan tetap pada rencana awal.


"Mama punya rencana sendiri, kamu tenang saja. Yang terpenting, saat hari itu tiba, kita akan segera tahu jawaban yang sebenarnya," pungkas Safa.


"Baiklah, Ma. Sebentar lagi Farhan ada meeting, Farhan tutup, ya, Ma?" izinnya.


"Terima kasih, assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab Safa dan berakhir pula sambungan telepon mereka.


Safa meletakkan ponselnya di atas nakas, menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Mama hanya bisa berdo'a agar semua harapan besarmu untuk membina keluarga kecil dengan Ameera segera terwujud, Nak. Hanya saja, semua tetap Allah SWT yang memberikan keputusannya," gumamnya.


Safa sangat menyayangkan, sudah hampir dua bulan Ameera dan Farhan menjalani biduk rumah tangga bersama. Tapi, apakah tidak ada rasa cinta barang sedikitpun untuk Farhan di hati Ameera? Sekukuh itu kah rasa yang Ameera punya untuk mantan suaminya?


Mereka semua hanya tidak tahu, tingkah laku Ameera selama ini karena benih-benih cinta tengah tumbuh di hati wanita itu. Hanya saja, Ameera belum sepenuhnya sadar bahwa perasaannya kini telah berganti pelabuhan.


...*****...

__ADS_1


Jam telah menunjukkan pukul delapan malam, dirinya dan Ameera sudah selesai mengisi perut untuk bekal malam ini. Mereka sedang bersantai-santai di depan Tivi dengan duduk saling dekat dan saling merangkul.


Kelakuan manjanya masih berlanjut hingga sekarang, dan bahkan sikap manjanya merambat pada semua orang yang berada di rumah ini.


Ameera memeluk lengan Farhan, meletakkan kepalanya di lengan kekar suaminya. Sambil menonton Tivi, tangan Farhan mengelus-elus kepala istrinya yang tertutup hijab.


Aku penasaran, apakah Mas Farhan akan merasa risih dengan sikapku seperti ini? Aku akui, belakangan ini aku memang sangat manja padanya. Namun, aku tidak tahan untuk menahannya.


"Meera, kamu tidur?" tanya Farhan, membuat Ameera terkejut dan langsung mengangkat kepalanya.


Tanpa sengaja bibir mereka beradu dengan mata yang sama-sama terbelalak karena kaget. Kondisi itu tak luput dari pandangan Sari, yang sedang meletakkan piring buah-buahan yang telah dikupas kulitnya untuk Ameera.


Sambil menahan senyum, Sari kembali ke belakang sembari memeluk nampannya.


"Maaf, Meera. Mas tidak senga--"


" Untuk apa minta maaf, Mas? Untuk sepasang suami istri, bukankah itu sebuah kewajaran?" celetuk Ameera dengan wajah tak bersalah.


"A-apa?" tanya Farhan dengan suara rendah.


"Kenapa, Mas? Benar, kan? Itu sebuah kewajaran, bahkan kita halal untuk melakukan sesuatu yang lebih intim dari ini," tukas Ameera, kemudian mengambil mangkuk buah tanpa merasa aneh sama sekali.


"Ah? Iya," Farhan menjawab sambil tersenyum kikuk.


Kelihatannya, sekarang Ameera sudah seperti terbiasa mengatakan hal-hal vulgar seperti itu, padahal selama mengenal istrinya itu, baru kali ini Ameera berani mengatakannya. Bahkan dengan wajah tak malu? Sedangkan Farhan, wajahnya sudah memerah seperti tomat matang siap panen. Matanya terus awas memperhatikan gerak-gerik istrinya.


Apa lagi sekarang? Kenapa Ameera berubah sampai sejauh ini? Jika memang hormon kehamilan atau tanda-tanda menstruasi, apakah setiap wanita yang sedang hamil dan kedatangan tamu bulanan juga akan tidak tahu malu seperti ini?


"Mas, kenapa termenung? Suapi Meera!" pintanya manja namun memerintah.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih untuk dukungan nya❤️❤️❤️❤️


__ADS_2