
"Mas?" Ameera kembali memanggil untuk yang kesekian kalinya, tangannya menyentuh bahu Farhan. "Kamu kenapa? Memikirkan apa sampai termenung begitu?"
"Tidak apa-apa, Meera. Ayo kita makan malam!" ajak Farhan yang langsung memegang tangan istrinya. Tak mempedulikan wajah istrinya yang masih dihantui rasa penasaran.
TING!
Pintu lift terbuka, masih dengan menggenggam tangan Istrinya, Farhan membawa istrinya ke ruang makan rumah mereka.
"Om Farhan...!" teriak Lisa, gadis kecil itu langsung berlari ketika melihat sosok Farhan yang baru datang bersama dengan Ameera.
Farhan berjongkok guna mensejajarkan tingginya dengan keponakannya itu, tak lupa dia merentangkan tangannya agar gadis kecil bertubuh gempal itu bisa berhambur ke dalam pelukannya. Itulah ritual lama mereka.
"Tante, Lisa juga sangat merindukanmu. Ayo cium Lisa!" pintanya pada Ameera tanpa rasa segan sedikitpun.
Ameera tersenyum, dengan senang hati dia maju dan mengecup pipi gembul gadis kecil yang sedang berada di gendongan suaminya. yang kini juga sudah menjadi keponakannya.
CUP!
Ameera hanya mengecup pipi sebelah kanan Lisa, tapi entah mengapa wajah gadis itu berubah muram.
"Kenapa?" tanya Ameera sambil mengelus puncak kepala Lisa.
"Kenapa Tante hanya mencium pipi sebelah kananku saja? Sebelah sini belum, sini, sini, dan di sini!" gerutunya sambil menunjukan seluruh bagian wajahnya yang belum dikecup oleh Ameera.
Semua orang di ruang makan tertawa melihat tingkah Lisa yang sudah berani bersikap manja dengan Ameera yang notabene adalah orang yang baru ia lihat.
"Baiklah, baiklah. Ayo sini mendekat. Tante akan mengecup seluruh wajahmu. Jangan minta ampun, ya!" seloroh Ameera dan mulai menciumi wajah gembul itu dengan gemas.
Lisa tertawa terbahak-bahak di gendongan Farhan. Merasa geli dengan sejuta kecupan yang dilayangkan oleh Ameera padanya.
"Hahaha, ampuni Lisa, Tante. Lisa geli ... hentikan!" pintanya sambil terkekeh dan menolak pelan wajah Ameera agar tak terus menerus menghujaninya dengan ciuman.
Ameera menarik wajahnya dari wajah Lisa. Dia juga ikut tertawa karena tingkah gadis kecil itu. "Sudah, kan? Masih ada tempat lain yang ingin diciumi? Kalau masih ada, cepat katakan. Biar Tante segera men--" Ameera belum menuntaskan kalimatnya, Lisa sudah menyela ucapan Ameera.
"Tidak ada. Sudah cukup, Tante. Sekarang ayo kita makan!" ajaknya.
Aku sangat iri pada Lisa. Kenapa Ameera menciumi seluruh wajahnya tapi aku tidak?
"Om, turunkan Lisa. Lisa ingin berjalan di samping Tante Ameera!" pintanya pada Farhan.
Farhan menurunkan keponakannya itu. Tangan Lisa langsung mengaitkan jemari Ameera dan menariknya ke meja makan di mana semua keluarga sudah berkumpul di situ.
__ADS_1
Ameera terlihat sangat bahagia sekali. Semoga rasa cintanya untukku segera menetap di hatinya. Dan kami juga segera dianugerahkan malaikat kecil penyejuk mata.
"Om, kenapa termenung di sana? Cepat ke sini! Kalau tidak, makanannya untuk Lisa semua, ya!" ancam bocah kecil itu membuat semua kembali ketawa.
"Lisa, tidak boleh bicara seperti itu! Tidak sopan terhadap orang yang lebih tua," ujar Niken memperingati Anaknya.
Mata Lisa beralih menatap ke sekelilingnya. Mencoba mencari pembelaan pada orang-orang di sekitarnya. Namun, mereka semua pun ikut tersenyum dan mengangguk.
"Benar yang dikatakan Mama kamu. Kita tidak boleh berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua dari kita," ucap Safa membenarkan.
"Tapi, kan, Lisa hanya ingin bercanda saja Oma!" tuturnya dengan wajah yang sudah mengkerut.
"Jika ingin bercanda tentu boleh. Tapi harus kembali berpikir, apakah itu baik untuk diucapkan atau tidak," ucap Safa menjelaskan kepada cucunya. "Bagaimana, benar tidak Tante Ameera?" Safa melemparkan pertanyaan pada Ameera yang sejak tadi hanya ikut memperhatikan.
Ameera tersenyum, tangannya terulur mengelus rambut panjang Lisa penuh kasih sayang. "Benar sekali. Apa yang Oma dan Mama katakan barusan itu semuanya benar."
"Begitu, ya? Berarti mulai sekarang Lisa harus memikirkan apa yang akan Lisa ucapkan, begitu?" tanya gadis kecil itu lagi.
"Benar. Karena Lisan kita harus selalu terjaga dan harus selalu berucap yang baik-baik," sambung Ameera membuat Lisa mengangguk patuh.
"Ya sudah, sekarang waktunya makan...." ucap Fahri.
"Farhan, kamu menginap, kan di sini?" tanya Kenzo.
"Iya, Pa. Tapi, berhubung Papa sudah sehat, besok Farhan dan Ameera akan langsung kembali ke Indonesia," ucap Farhan membuat wajah Safa dan Kenzo mengkerut tak senang.
"Kenapa seperti itu? Sesekali datang, harusnya kamu lama di sini. Biarkan Mama dan Niken bawa Ameera jalan-jalan terlebih dahulu," sungut Safa kesal dengan keputusan Anaknya.
"Bukan seperti itu, Pa, Ma. Pekerjaan kantor sudah menumpuk. Lain kali, Farhan akan meluangkan banyak waktu agar kalian bisa puas bersama kami," ucap Farhan berusaha menenangkan kedua orang tuanya, namun gagal.
"Lain kali ya lain kali. Sekarang ya sekarang! Bagaimana sih kamu ini?" hardik Safa yang masih kesal.
"Sepertinya kamu menunggu Papa meninggal dunia terlebih dulu ya Farhan baru mau tinggal di sini lebih lama?" ketua Kenzo yang juga merasa tak rela kalau Ameera secepat itu kembali diboyong oleh Farhan.
"Sudahlah, Mama dan Papa saja yang berkunjung ke rumah kita. Tinggal lama di sana, bagaimana?" usul Farhan.
"Kami tidak setuju!" jawab Safa dan Kenzo serempak.
"Ma, Pa, jika nanti pekerjaan Mas Farhan sudah lenggang, kami pasti akan kembali mengunjungi kalian. Ameera juga selalu menunggu kehadiran kalian di rumah kami," tutur Ameera dengan suara lembutnya.
"Kalau begitu baiklah. Jangan lupa untuk kembali mengunjungi kami. Jika ada waktu senggang, kami juga pasti akan datang ke rumah baru kalian," sahut Safa membuat Farhan membulatkan matanya.
__ADS_1
Bukannya tadi aku juga mengatakan hal yang sama? Dan mereka langsung menolak mentah-mentah! Apakah sebenarnya aku ini anak pungut mereka?
Farhan menangis dalam hati sambil menggigit sendok berisi nasi.
...*****...
Disebuah restaurant bintang lima, keluarga Risa dan keluarga Dion baru saja selesai makan malam. Malam itu, Erlin tak terlihat.
Risa terus saja memancarkan senyuman manisnya, membuat kedua orang tuanya bertambah yakin untuk menikahkan Risa dengan Dion.
"Risa, kamu kenapa senyum-senyum terus dari tadi?" goda Ibunya sambil menyenggol lengan anaknya.
"Tidak apa-apa, Ma. Hanya merasa bahagia saja malam ini," jawabnya dengan wajah bersemu merah.
"Dion, pasti kamu juga sangat bahagia kan karena sebentar lagi bisa mempersunting Risa?" tanya Wenda tak mau kalah. Dia juga ingin memperlihatkan pada keluarga Risa kalau Dion sebenarnya sangat mencintai Risa.
"Tidak, biasa saja!" jawabnya ketus.
Jawaban Dion menyita perhatian Risa dan kedua orang tuanya. Wajah mereka yang awalnya bertabur senyum, kini senyuman itu lenyap diterpa angin.
"Apa maksud kamu, Dion?" tanya Ibunya Risa.
"Jangan marah, Jeng. Dion pasti hanya bercanda untuk menutupi kegugupan di hatinya." Wenda cepat-cepat menjawab agar kedua orang tua Risa tak salah paham. "Benar, kan, Dion?" Wenda menyenggol lengan Dion agar laki-laki itu menoleh dan mengangguk.
Dion hanya mengangguk saja, mengikuti saran ibunya. Namun, pandangan matanya masih berpaling menatap ke arah lain. Tak sekalipun melirik ke arah Risa yang sedari tadi terus menerus menatapnya dengan pandangan minat penuh makna.
Aku tahu, kamu memang tidak mencintaiku sama sekali, Mas. Karena Ameera masih terus bertahta di singgasana milikmu. Namun, dengan menjadi istrimu saja sudah membuat aku cukup bahagia. Sebab aku yakin, lambat laun cintamu akan berpaling untukku. Aku akan segera menjadi ratu di hatimu.
Ibunya Risa mendekat ke arah Risa, membisikkan sesuatu pada wanita itu.
"Risa, sepertinya Dion sama sekali tak menyukaimu. Menurut Ibu, kita batalkan saja rencana pernikahan kalian. Ibu tidak mau ke depannya kamu hidup menderita," ucap Ibunya Risa.
Wenda mendengar bisikan Ibunya Risa. Dia menjadi gelisah dan berulang kali melirik ke arah Dion yang masih saja cuek dengan keadaan.
Dasar anak sialan! Dia sudah berjanji untuk bersikap baik. Lalu, sekarang sikap macam apa yang sedang diperlihatkan olehnya? Bisa-bisa Risa gagal menjadi menantuku!
Dukung karya ini dengan berikan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1