Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Tidak Selera


__ADS_3

"Tidak apa-apa, Kak. Kak Meera, tadi Lisa bertemu dengan Mas Dion. Mas Dion bersama dengan seorang wanita melakukan fitting baju pengantin," jelas Alisa.


"Alisa, apakah yang kamu katakan ini benar? Jangan pernah bercanda soal seperti ini," tanya Ameera tegas.


"Alisa serius, Kak. Untuk apa bercanda. Alisa hanya menyampaikan apa yang Lisa lihat saja," jawab Alisa.


Ameera terdiam sesaat, merasai degup jantungnya yang berdetak sangat kencang. Namun, tak ada sedikitpun rasa sakit hati ataupun kecewa yang terasa karena kabar dari Alisa ini.


"A-apakag kamu me-mengenal wanita itu, Lis?" tanya Ameera terbata-bata, dia masih berusaha menstabilkan jantungnya yang terus berdetak kencang.


"Lisa tidak pernah melihatnya, Kak. Tetapi, Tante Wenda memanggilnya Risa," jawab Alisa membuat mata Ameera membulat, tapi sejurus kemudian dia tersenyum getir.


"Risa? Benarkah nama itu yang kamu dengar?" tanya Ameera.


Alisa kembali mengingat-ingat kejadian tadi siang saat dia masih di butik tempatnya bekerja.


Flashback on


"Alisa, tamu penting kita sudah datang, kamu sudah boleh bersiap-siap," ucap manager butik tersebut.


"Baik, Kak." Alisa menjawab.


"Semuanya kembali bekerja dengan baik, layani tamu kita agar mereka terpuaskan dan akan kembali lagi datang ke sini," ucap manager itu lagi memberikan arahan pada bawahannya.


Terlihat tiga orang wanita berbeda usia mulai berjalan masuk ke dalam butik. Lisa dan sang manager masih menunduk untuk memberikan hormat pada tamu yang dianggap mereka penting.


"Selamat datang Nona Risa dan Tuan Dion," ucap manager itu dengan menebar senyuman ramahnya.


Mendengar nama yang tak asing baginya, Lisa mengangkat kepalanya dan melihat laki-laki di hadapannya. Lisa dan Dion sempat bertukar tatap beberapa saat.


Wajah Dion berubah pias saat melihat Lisa sedang berdiri tegak di hadapannya dan menatapnya.


"Ma, ki-kita pindah butik saja," ucap Dion tiba-tiba membuat semua orang terkejut. Terutama manager butik tersebut.


"Loh, kenapa? Ini butik terbaik yang selalu menjadi langganan kami. Kami juga sudah memilih model di sini, kenapa tiba-tiba harus ganti?" protes Ibunya Risa dengan wajah kesal tak terbendung.


"Maaf, Tuan. Memangnya kami ada melakukan kesalahan apa? Kenapa Tuan tiba-tiba ingin cancel?" tanya manager itu heran. Karena dirinya memang tak merasa telah melakukan kesalahan apapun.


Melihat keadaan yang sudah mulai memanas, Wenda menyenggol lengan Dion dan berbisik, "Dion, apa yang kamu lakukan? Jangan lagi membuat huru-hara yang tidak jelas! Jangan membuat keadaan menjadi kacau!" bisik Wenda sambil merapatkan giginya.


"Tapi, Bu. Ibu lihat sendiri, kan? Di sini ada Lisa adiknya Ameera. Bagaimana kalau dia memberitahu Ameera kalau aku mau menikah?" keluh Dion yang ikut berbisik.


"Lalu kenapa? Ibu sangat yakin dia tidak akan mengadu apapun pada Ameera. Kamu tenang saja," balas Wenda.


"Ini adalah butik pilihan Ibunya Risa. Kalau kamu bertingkah seperti itu, mereka akan curiga dan bisa saja acara pernikahan ini akan dibatalkan. Jadi, bersikap lah sewajarnya, Dion," imbuh Wenda.


Dion menghela nafas, lagi-lagi dia merasa percaya dengan semua yang dikatakan oleh Ibunya kalau itu adalah yang terbaik untuknya.

__ADS_1


"Sekarang bersikaplah dengan baik, jangan membuat orang tua Risa tambah membencimu karena sikapmu itu," ucap Wenda.


Dion hanya mengangguk dengan kikuk.


"Maaf, tadi Dian salah bicara," seru Wenda tersenyum simpul.


Ibunya Risa hanya melihat Wenda dan Dion dengan ujung matanya, dan berdecih tak suka.


"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan," ujar Risa memecah keheningan.


Flashback off


"Iya, karena bukan hanya Tante Wenda saja yang memanggil nama itu, bos Lisa juga memanggilnya Nona Risa!" ucap Lisa menjelaskan.


Ternyata apa yang aku pikirkan memang benar. Tapi, kenapa Mas Dion menikahi Mbak Risa dan mendekatiku secara bersamaan? Apa maksudnya?"


Ameera jadi bertanya-tanya dalam hati.


"Nyonya, kita sudah sampai," ucap Mang Kardi memecah lamunan Ameera.


"Iya, Pak!" jawab Ameera.


"Lis, nanti kita bicarakan lagi, ya. Kakak sudah sampai di rumah dan harus menyiapkan keperluan Mas Farhan terlebih dahulu," ujar Ameera.


"Iya, Kak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," balas Ameera.


Berselang lima menit,


TOK


TOK


TOK


"Assalamualaikum, Meera!" ucap Farhan.


"Waalaikumsalam," sahut Ameera dengan senyum sumringah yang terukir indah.


"Mas, mandi dulu biar cepat kita makan bersama. Rasanya Meera sudah sangat lapar," ujar Ameera yang berjalan mengekori langkah kaki suaminya.


Farhan berbalik, hampir saja wajah mereka beradu kalau Ameera tidak cepat memundurkan langkahnya.


"Siap, Sayang. Sesuai permintaan," jawab Farhan membuat Ameera kembali tersenyum.


...*****...

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri dan menunaikan shalat berjamaah, Farhan dan Ameera turun bersamaan seperti biasanya.


Masih berada di ujung tangga, Ameera menahan nafas karena mencium sesuatu yang beraroma tak sedap di hidungnya. Dan juga begitu menyesakkan pernafasannya.


Bau apa ini? Ameera bermonolog dalam hati.


"Meera, kamu kenapa?" tanya Farhan.


"Ah? Tidak apa-apa, Mas." Ameera menjawab cepat.


Ameera memandang punggung Farhan yang lebih besar di depannya. Tiba-tiba ada sebuah keinginan yang datang dari lubuk hatinya, ingin sekali dia menggapai lengan Farhan dan mengandengnya. Berjalan bersama sambil tertawa ria. Namun, rasa takut juga membuncah di dada Ameera.


"Seandainya aku berani, pasti akan sangat romantis sekali," gumam Ameera.


"Apa benar aku sudah mulai mencintainya? Aku tidak bisa selalu menerka-nerka seperti ini, aku sendiri yang harus segera mencari tahu jawabannya," guna Ameera.


Farhan duduk di tempat biasanya, Ameera mulai mengambilkan nasi beserta lauk untuk suaminya. Namun, dia merasa jijik degan lauk-pauk yang tersedia di depannya. Mencium aromanya saja dia enggan.


Tapi Ameera tak berniat mengatakan apapun.


Setelah mengambilkan makanan untuk Farhan, Ameera langsung duduk di tempatnya.


"Meera, kamu tidak makan?" tanya Farhan menautkan alisnya.


"Tidak, Mas. Mas makan duluan saja," ucap Ameera.


"Kenapa?"


"Ti-tidak berselera, Mas!" jawab Ameera dengan suara pelan. Takut Bi Asih yang masih berada di dekat mereka merasa tersinggung dengan ucapannya.


"Tidak berselera? Kenapa?" tanya Farhan dengan suara menggelegar. Ameera sengaja mengecilkan suaranya, tapi suara Farhan malah sebesar itu.


Ameera membeliakkan matanya, dia melirik ke arah Bi asih yang masih bersikap tenang.


"Alhamdulillah, Bi Asih tidak dengar," gumam Ameera.


"Kenapa kamu tidak selera untuk makan? Nanti kalau sakit bagaimana?" tutur Farhan.


"Meera bukan tidak selera makan, Mas. Meera lapar, tapi tidak selera untuk makanan yang di depan kita ini saja kok," ucap Ameera menjelaskan.


Mampir ke karya salah satu temen Author juga


yuk!



Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️ ❤️❤️


Terima kasih karena sudah berkenan untuk mampir ❤️❤️❤️


__ADS_2