
Farhan mengiyakan ucapan Istrinya. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu yang sangat penting.
"Meera, setelah pulang dari Skotlandia, kita pindah rumah ya? Mas sudah menyiapkan rumah sederhana untuk kita," tutur Farhan.
"Pin-pindah rumah? Ke mana, Mas?" tanya Ameera dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"Setelah pulang dari sini, Mas akan mengajak kamu melihat-lihat rumah kita yang baru," ungkapnya.
"Tapi, Mas. Bagaimana dengan Ayah?" akhirnya, apa yang dikhawatirkan oleh Ameera terucap juga. Dia memang sangat mengkhawatirkan Ayahnya, karena sekarang Ayahnya sudah bertambah tua. Dan lagi, Alisa juga sudah mulai bekerja. Jadi, bukankah hal yang wajar jika dia mengkhawatirkan keadaan Ayahnya.
Farhan tersenyum menanggapi kekhawatiran Istrinya. Dia juga sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari. Jadi, saat hari ini tiba, dia tidak lagi pusing karena semua telah ia persiapkan dengan matang.
"Mas sudah menyiapkan pengasuh untuk Ayah. Sesekali kita juga akan menginap di rumah, atau sesekali kita bawa Ayah ke rumah kita yang baru," ucap Farhan.
"Baiklah kalau begitu." khawatir Ameera telah sedikit meredup. Kini dia hanya fokus dengan perjalanan yang belum pernah ia lalui ini. Dia ingin menikmati semua pemandangan yang disuguhkan alam untuk dirinya itu.
Namun, itu hanya rencana Ameera saja. Karena nyatanya, dia malah tertidur dengan sangat nyenyak sepanjang perjalanan. mata dan tubuhnya tidak mendukung rencananya itu.
"Ahhhh ... lelah sekali!" ucap Ameera sambil menguap.
"Orang yang menjemput kita sudah menunggu di depan. Ayo kita ke sana sekarang!" ajak Farhan. Mereka berjalan berdampingan sambil menggenggam tangan satu sama lain seperti sudah terbiasa.
"Ini mobil siapa, Mas?" tanya Ameera menunjuk ke arah mobil yang pintunya sudah terbuka. Awalnya, dia mengira kalau mereka akan naik taxi.
"Mobil perusahaan," jawab Farhan.
Ameera tak lagi banyak bertanya. Dia langsung masuk ke dalam mobil sambil menyandarkan punggungnya. Rasa kantuknya belum hilang sempurna.
"Meera, kita ke supermarket terdekat dulu ya? Kamu masih kuat kan?"
"Kuat dong," jawab Ameera yang berusaha keras menyembunyikan kantuknya.
"Kalau kita tidak ke supermarket sekarang, di penginapan tidak ada bahan-bahan makanan. Besok Mas sudah mulai langsung bekerja agar cepat selesai. Dan tidak ada yang mengantar kamu," papar Farhan sambil menatap wajah Ameera yang terpiaskan cahaya lampu jalan.
"Iya, Mas." Ameera hanya menjawab sekenanya saja. Dia tidak terlalu memperhatikan perkataan Farhan. Dia malah sibuk memperhatikan suasana malam di negeri orang itu, yang baru pertama kali ia lihat. Suasana yang memanjakan matanya, membuat dia berdecak kagum.
"Ayo kita turun, Meera!" ucap Farhan membuat Ameera terkaget dari lamunannya.
"Kita sudah sampai, Mas? Kok cepat sekali sih?" gumamnya sambil memperhatikan sekelilingnya. Banyak gedung-gedung tinggi yang terlihat menembus langit malam gelap.
"Sudah. Ayo, kita masuk sekarang dan beristirahat. Kamu pasti sangat lelah setelah hampir seharian di perjalanan," ujar Farhan.
Ameera mengangguk, membenarkan ucapan suaminya itu. Tubuhnya memang terasa sangat kelelahan, tulang-tulangnya terasa remuk redam. Karena selama seminggu ini dia memang tidak sempat beristirahat dengan cukup, sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Dan satu hari setelah pernikahan, dia langsung diboyong oleh suaminya ke Skotlandia, yang jarak tempuhnya hampir satu harian dari negara asalnya.
__ADS_1
Saat pintu hotel tempat mereka akan tinggal selama seminggu itu terbuka, lagi-lagi Ameera terkesima dengan suasana kamar yang terbilang mewah. Suasananya sangat nyaman, dan jika dia berdiri di balkon, suasana kota itu pasti akan terlihat.
Dia mengedarkan pandangannya, setelah itu dia melihat wajah Suaminya yang terlihat biasa saja. Hanya terlihat guratan kelelahan di sana.
Sebenarnya apa sih pekerjaan Mas Farhan?
"Mas, sebenarnya pekerjaan Mas apa?" tanya Ameera, rasa penasaran tentang pekerjaan sang suami selalu merundungnya.
"Mas hanya menjalankan usaha mandiri saja," jawabnya sambil berjalan menuju ke arah ranjang mereka.
Usaha mandiri? Sampai ke Skotlandia?
Ameera hendak kembali bertanya, namun dia urungkan karena melihat wajah lelah suaminya.
"Mas, Meera siapkan air panas ya?"
"Ya. Mas memang mau berendam air panas, agar lelahnya hilang," sahut Farhan sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Ameera langsung berjalan menuju kamar mandi, menghidupkan air di bathtub. Mencampurkannya dengan aroma terapi yang dijamin bisa menenangkan.
Mereka mandi bergantian. Setelah itu langsung istirahat.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
"Dengan senang hati," jawab Farhan menyerahkan dasi yang dipegangnya pada istrinya.
Ameera mulai memasangkan dasi yang berwarna senada dengan jas yang dikenakan oleh Farhan.
Mata Farhan, tak henti-hentinya mengidentifikasi wajah cantik Istrinya. Mengamati setiap inci wajah Ameera yang membuatnya candu. Dan terakhir, pandangan matanya jatuh pada bibir ranum Ameera yang berwarna merah alami.
Ingin sekali dia ******* dan menyesap bibir itu dalam-dalam. Namun, keberaniannya masih terbatas untuk melakukan hal itu.
"Mas?" panggilan Ameera membuat Farhan gelagapan, takut kalau dia tertangkap basah oleh Ameera sedang menatap bibir wanita itu.
"Hem, ya?" jawab Farhan seperti orang linglung.
"Nanti siang, kamu jangan telat makan, ya. sesibuk apapun kamu, harus tetap ingat untuk jaga kesehatan," ucap Ameera mengingatkan.
"Iya, Meera. Kamu juga jangan lupa untuk makan," balas Farhan.
"Hem." Ameera mengangguk. "Nanti malam, jam berapa kamu pulang, Mas?" tanya Ameera lagi.
"Belum tahu, karena ini hari pertama Mas. Jadi, bisa saja ini hari paling sibuk. Lebih baik kamu tidak usah menunggu Mas pulang," tutur Farhan.
__ADS_1
Ameera mengangguk lagi. Kini dia beranjak mengambilkan tas suaminya itu. Mendorong tubuh suaminya agar duduk, lalu Ameera berjongkok dan memasangkan sepatu Farhan.
"Meera, jangan! Biar Mas sendiri yang pakai," cegah Farhan dengan pikirannya yang kalut.
Ameera mendongak menatap wajah Farhan yang mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Inikan memang tugasku untuk melayanimu," protes Ameera.
"Ta-tapi-"
"Selesai!" sela Ameera dan berdiri lagi.
Farhan melongo, dia tidak sempat menghentikan kegiatan Ameera.
"Ayo, Mas, kita sarapan sekarang," ajak Ameera yang duluan keluar dari kamar.
Setelah Ameera keluar, Farhan pun tersenyum sumringah.
"Tidak salah aku mendambakanmu menjadi istriku, Meera. Karena kamu memang yang terbaik untukku. Semoga pernikahan kita dapat bertahan sampai kita tua."
Farhan pun mengekor Istrinya menuju dapur. Sudah tertata rapi sarapan pagi dan susu hangat di atas meja. Aroma masakan yang dibuat Ameera menyeruduk penciuman Farhan, membuat perutnya berbunyi tanpa tahu malu pada Ameera.
Setelah Farhan duduk di kursi, dengan sigap Ameera mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Makan yang banyak, Mas. Biar kamu kuat bekerja nanti," ujar Ameera sambil membumbui ucapannya dengan senyuman, membuat Farhan mengangguk dengan tersenyum pula.
Setelah selesai makan, Ameera dan Farhan berjalan ke arah pintu, Ameera mengantar suaminya untuk pergi bekerja. Pertama kali untuk Ameera.
Farhan mengulurkan tangannya pada Ameera. Dengan senang hati Ameera menerima tangan Farhan dan mencium punggung tangannya.
Dan..
Cup...
Farhan mengecup bibir Ameera sekilas. Dengan wajah memerah dan bibir yang masih gemetaran, Farhan menatap wajah Ameera yang masih tercenung. Sampai akhirnya Ameera terkejut dengan suara Farhan.
"Meera, Mas pergi sekarang," ucapnya
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys...
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1