
"Kamu pasti sedang sibuk memikirkan siapa yang sering menyebut nama FA Company, kan? Sehingga kamu merasa familiar dengan nama itu," gumam Farhan
Dan benar saja, sambil berjalan pikiran Ameera masih saja sibuk berkelana entah ke mana. Sampai sekarang pun dia masih menerka-nerka dan mengingat-ingat siapa seseorang itu yang juga bekerja di FA Company.
...********...
Pagi-pagi, setelah Ameera dan Farhan melakukan shalat subuh berjamaah. Ameera turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang suami.
Terlihat Bi asih dan beberapa orang wanita muda sedang sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk sang Tuan rumah.
Melihat kedatangan Ameera, mereka menunduk hormat.
"Nyonya, apakah ada yang Anda butuhkan?" tanya Bi Asih.
"Tidak ada, Bi. Saya hanya mau membantu kalian untuk membuat sarapan," jawab Ameera membuat mata Bi asih terbelalak.
"Tapi, Nyonya. Kamilah yang bertugas untuk membuat sarapan untuk Anda dan Tuan," ucap Bi Asih.
"Tidak apa-apa jika saya ikut membantu bukan?" tanya Ameera.
"Hem...." Bi Asih terlihat ragu. Dia seperti sedang menimbang-nimbang dalam memberi keputusan. Takut kalau keputusan yang dia putuskan adalah hal yang salah dan membuat Farhan murka.
"Tenang saja. Mas Farhan tidak akan marah. Dia sudah mengizinkan saya untuk membantu kalian di dapur," selanya membuat wajah Bi Asih pias. Wanita itu tampak kikuk dan tersenyum simpul karena isi pikirannya dengan mudah diketahui oleh sang Nyonya mudanya.
"Kalau begitu, baiklah Nya."
Bi Asih menyerahkan sebuah Apron berwarna merah muda dan bergambar koki wanita berhijab yang sedang mengedipkan sebelah matanya pada Ameera.
Awalnya Ameera mengatakan ingin membantu. Namun, pada kenyataannya dialah yang memegang kendali.
"Bi, makanan apa yang sedang kita buat?" tanya Ameera.
"Soto daging, Nya." Ni Asih menjawab.
Ameera mulai meneruskan memotong sayuran yang akan dijadikan bahan pelengkap untuk membuat soto. Dia terlihat sangat lihai dalam mengambil dan mengolah setiap bahan yang ada di tangannya.
Sekarang, Ameera lah yang terlihat seperti seperti juru masak di rumah itu. Bi Asih dan beberapa wanita muda yang ikut membantunya tadi seperti tiada bagi Ameera. Semuanya dia kerjakan sendiri. Mereka sampai salah tingkah.
Namun, mereka masih setia berdiri di samping Ameera. Jika Ameera membutuhkan sesuatu, mereka bisa dengan cepat mengambilkan apa yang dibutuhkan. Tapi, sepertinya itu hanya menurut mereka saja. Karena sekarang Ameera lah yang sedang menguasai dapur dan menyingkirkan juru masak yang sebenarnya.
"Bi Asih, Nyonya Muda terlihat sangat terampil dan lihai, ya? Aku sampai ternganga dibuatnya. Seperti orang yang sudah terbiasa melakukan hal seperti itu," bisik Maya salah satu wanita yang membantu Bi Asih.
"Benar, aku sangat kagum dengan kemampuannya. Rasanya, aku ingin menjadi juri, mencicipi dan memberikan nilai padanya," tambah Susi temannya.
"Sssttt! Jangan membicarakan Tuan rumah di belakangnya. Itu sama saja dengan menggosip!" bentak Ni Asih dengan berbisik. Namun matanya masih belum berpindah dari Ameera.
__ADS_1
Sebenarnya, dia turut membenarkan apa yang dikatakan oleh para wanita-wanita muda di sampingnya itu.
Dan beberapa saat kemudian, semuanya pun selesai.
"Selesai!" pekik Ameera senang.
"Sudah selesai, Nyonya?" tanya Bi Asih menyahut dari belakang.
"Ahh? Kalian masih berdiri di sini? Saya kira kalian sudah bubar barisan," ucapnya becanda.
"Belum, Nyonya. Sedari tadi kami berdiri di sini menunggu perintah Anda untuk membantu. Tapi ternyata, Anda yang menguasai dapur," jawab Susi.
Mendengar pernyataan Susi, wajah Ameera berubah tak enak. "Begitu, ya? Maafkan saya ya. Saya keasikan sendiri sampai melupakan kalian tadi," ucapnya tulus.
Bi Asih menyenggol lengan Susi, membuat wanita itu tersadar dan menutup mulutnya sendiri.
"Maaf, Nyonya. Bukan seperti itu maksud saya." Susi segera memohon maaf pada Ameera.
"Kami tidak berani, Nyonya. Takut ada yang Anda butuhkan tapi kami tidak ada," jelasnya lagi.
"Ah tidak apa-apa, lupakanlah. Lain kali, saya tidak akan melupakan kalian untuk minta bantuan," serunya sambil terkekeh kecil. "Ya sudah, sajikan semuanya di meja makan, ya! Saya akan memanggil Mas Farhan untuk sarapan bersama," imbuhnya.
Ameera melepaskan Apron yang dikenakannya. Dia berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Terlihat Farhan yang sudah selesai memakai seragam jas semi formalnya dan duduk di sofa sambil main game di gadgetnya.
"Mas, kenapa belum memakai dasi?" tanya Ameera yang ikut mendudukan bokongnya di samping suaminya.
"Menunggu kamu," jawabnya santai. "Tanpa tangan kamu, dasi ini tidak akan bisa terpasang, Meera."
Ameera tersenyum geli mendengar pengakuan Farhan yang dinilai manja.
"Benarkah?" tanya Ameera pura-pura.
"Ya. Karena sekarang kamu sudah di sini, pasangkan dasinya," titah Farhan. Dia menyerahkan dasi bermotif polkadot ke tangan Ameera.
Dengan senang hati Ameera langsung mengikat dasi itu di kerah baju suaminya. Selama Ameera memasangkan dasi untuknya, Farhan terus menatap wajah Ameera lekat. Ada kegembiraan saat mereka sedang bersama seperti ini. Tapi, kegelisahan menyusup sukmanya saat mengingat tujuan dari pernikahan mereka.
"Sudah selesai, Mas." Ameera mengangkat tangannya dan menggantung di udara.
"Ayo sarapan!" ajak Farhan dan mendapat anggukan dari Ameera.
Mereka sarapan bersama, dengan khidmat tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Selesai sarapan, Farhan menghapus sisa makanan di sudut bibirnya.
"Meera, jika kamu merasa bosan di rumah, kamu bisa minta Mang Kardi untuk mengantar kamu ke manapun," ujar Farhan.
__ADS_1
"Iya, Mas. Jika nanti Meera mau pergi, Meera akan menghubungi Mas Farhan," jawabnya.
"Ya sudah, kalau begitu Mas pergi, ya?"
Ameera hanya mengangguk.
"Assalamualaikum," ucap Farhan.
Ameera meraih tangan suaminya dan mencium punggung telapak tangan sang kekasih halal.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas." Ameera melambaikan tangannya. Entah kenapa, hari ini perasaan bahagia bertubi-tubi menusuk jantungnya. Membuat senyuman tak lekang dari wajahnya yang terlihat selalu bersinar.
Ameera kembali ke kamarnya, dia ingin menyusuri kamarnya terlebih dahulu agar dapat lebih mengenal kamarnya yang luas itu. Tujuan pertamanya adalah Walk-in closet.
Baru saja kakinya ingin beranjak ke tempat tujuan. Gawai miliknya berbunyi, mengganggunya untuk kembali melangkah.
Ameera melihat nama Dion tertera di layar ponselnya, namun Ameera mengabaikannya.
Setelah panggilan itu terputus, Ameera kembali ingin melangkah, tapi kembali diurungkan karena ponselnya kembali berdering. Dan masih nama yang sama yang tertera di layar benda pipih itu.
Dengan malas, Ameera menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, ada apa, Mas?" tanyanya yang seolah langsung menuju inti masalah tanpa mau berbasa-basi.
"Waalaikumsalam, Ameera kenapa kamu tidak pernah menghubungiku lagi?" jawab Dion yang malah balik tanya.
"Lalu, apakah ada masalah dengan itu?"
"Kenapa pertanyaanmu sangat ketus, Ameera?" tanya Dion dengan nada suara yang terdengar tak senang.
"Biasa saja, Mas." jawaban Ameera seakan sedang memancing amarah Dion. Darahnya memang sudah mendidih namun ditahan sebisa mungkin olehnya.
"Ameera, kenapa akhir-akhir ini kau acuh tak acuh padaku? Tidak pernah lagi menghubungiku. Bahkan, saat aku menghubungimu saja, kau terlihat sangat enggan untuk menjawabnya. Kenapa? Apakah kau sudah jatuh cinta pada Farhan? Suami muhallilmu itu?" cecar Dion tersungut-sungut.
Ameera tercenung. Selama ini dia memang bersikap seperti itu pada Dion. Ameera merasa seperti semakin malas dengan kehadiran Dion.
Dan itu semua terjadi karena adanya Farhan. Setiap sedang bersama dengan Farhan, dia pasti akan melupakan kenangan-kenangannya bersama Dion.
Memang Farhan lah yang telah membuat Ameera melupakan tentang Dion. Farhan membuatnya merasa nyaman dan aman.
Lalu, apakah kenyamanan ini bisa disebut dengan cinta? Apakah Farhan pelan-pelan telah mengaburkan dan meragukan perasaan Ameera pada Dion dan perlahan-lahan masuk mengantikan sosok Dion?
Apakah aku memang sudah mencintai Mas Farhan?
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan dari kalian semua ❤️❤️❤️