
"Ja--jadi, kamu Bos di perusahaan besar ini, Mas?" tanya Ameera kembali memastikan. Sebelum Farhan sendiri yang memberi jawaban, terlalu sukar untuknya mempercayai meskipun kejadian tadi berlangsung di depan mata kepalanya.
Farhan mengangguk. "Ya. Ini perusahaan hasil jerih payahku, Meera. Aku juga tidak pernah menduga jika aku bisa mendirikan perusahaan sebesar ini dan menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang. Sungguh, nikmat Allah sangat banyak. Janji Allah tidak pernah salah. Buktinya, sekarang aku sudah memilikimu, bonus calon anak kita yang sedang tumbuh," ujar Farhan sambil mengusap perut datar istrinya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Spontan, Ameera langsung menepis tangan suaminya yang tadinya masih mengusap perutnya. Farhan terkejut akan hal itu hingga dia bertanya, "Kenapa, Sayang?"
Ameera gugup, wajahnya seketika memerah, merona. "A--aku malu, Mas!" ujarnya tanpa menatap wajah Farhan. Bayang-bayang masa lalu yang tidak mengenakkan masih bergelantungan di benaknya. Membuat Ameera reflek melakukan sesuatu yang terkadang bisa menyinggung perasaan pasangannya.
"Malu?" Farhan menanyai dengan dahi yang mengerut dalam.
Ameera hanya mengangguk.
"Ini perusahaanmu, Mas. Aku takut karyawanmu membicarakanmu di belakang," lirih Ameera lagi.
"Seperti katamu, ini perusahaanku. Kita juga tidak berbuat sesuatu yang melanggar." tanpa permisi, Farhan menggengam tangan Ameera dan membawa istrinya itu masuk ke dalam ruangannya.
Ameera terpaku untuk waktu yang lama. Sejurus kemudian, senyum manis terukir di wajahnya. Dia sangat senang memiliki suami seperti Farhan yang memperlakukannya sangat baik.
"Kamu duduk di sini dulu, ya. Mau makan apa? Aku akan meminta OG untuk membawakan," tanya Farhan.
"Aku mau camilan buah saja," jawab Ameera.
"Baik. Tunggu sebentar."
Ameera duduk di sofa sembari memakan buah. Tatapannya selalu mengarah pada Ga, suaminya. Memandangi lekat lelaki itu, diam-diam memuji ketampanannya yang luar biasa. Yang mampu membuat Ameera tersipu dan melupakan sosok Dion. Membelenggu Ameera dalam pelukan cintanya.
__ADS_1
Sungguh, Ameera sangat bersyukur bisa menikah dengan seorang pria yang sangat menghargainya sebagai seorang istri.
"Kenapa memandangiku terus menerus?" tanya Farhan tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.
"A--apa?" Ameera gelagapan. Langsung buang muka ke arah lain. Seketika, dia tersenyum kikuk karena ketahuan Farhan.
"Apa kamu menginginkan sesuatu, Sayang?" tanya Farhan lagi. "Katakan saja," imbuhnya lagi. Farhan berpikir, Arumi membutuhkan sesuatu tapi takut untuk mengatakannya, takut mengganggu pekerjaannya.
"Aku tidak membutuhkan apa pun lagi. Hanya membutuhkan kamu selalu di sampingku saja," ucap Ameera, kemudian membungkam mulutnya sendiri.
"Kamu ... kamu sejak kapan pintar menggoda orang begitu?" Farhan tersenyum samar. Tetapi, pria itu tidak bisa menyamarkan wajahnya yang merah merona.
"Belajar darimu!" celetuk Ameera. "Sejak tadi aku hanya memandangi ketampanan suamiku. Dalam hati selalu berucap, 'Masya Allah!' hanya itu saja," terang Ameera semakin giat menggoda suaminya.
"Lanjutkan pekerjaanmu, Mas. Setelah selesai, temani aku makan siang," pinta Ameera.
***
Dion masih belum pergi dari perusahaan. Sejak tadi pria itu termangu, mencoba menunggu Ameera keluar. Sekali lagi Dion ingin mencoba menggoyahkan perasaan Ameera.
"Kalau dia mau menerimaku lagi, sebagai kekasihnya juga tidak apa-apa. Permintaanku, aku hanya mau dia membujuk Farhan untuk membiarkan aku kembali bekerja di sini. Tetapi, jika dia bersedia rujuk lagi denganku, itu lebih bagus!" ucapnya berulang kali.
Dua jam sudah Dion menunggu. Namun, tampaknya dia harus dikecewakan takdir karena Ameera tidak kunjung keluar.
Perutnya terasa mulai melilit, lapar.
"Aku pulang saja dulu, lah. Lagipula, jika mau menemui Ameera juga gampang, tinggal hubungi dia saja," cetus Dion, sangat percaya diri kalau Ameera masih mau bertemu dengannya.
__ADS_1
Dion menyetop taksi yang kebetulan melintas. Meskipun sedikit takut jika dicecar oleh Wenda. Tetapi, saat ini dia tidak memiliki tujuan lain selain rumah.
"Assalamua'laikum," ucap Dion. Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Namun, ketika dia hendak berjalan ke dapur untuk mengambil minum, terdengar suara keributan dari arah dapur.
"Kamu ini yang bisa apa, sih, Risa? Ini tidak bisa, itu juga tidak bisa. Dasar bodoh! Kalau seperti ini, bagaimana kamu bisa membuat Dion jatuh cinta sama kamu? Ameera bisa semua, tidak seperti kamu, goreng ikan saja sampai hangus seperti ini!" omel Wenda, berkacak pinggang di depan menantunya yang sedang tertunduk.
"Maaf, Bu, a--aku memang tidak pernah memasak. Tetapi, aku memang bersungguh-sungguh mau belajar. Maukah Ibu mengajariku?" ujarnya pelan.
"Apa katamu?" bentakan Wenda memekakkan telinga. Mengejutkan Risa dan juga Dion yang sejak tadi memperhatikan keduanya di ambang pintu. Tidak ada niat untuk membela, atau pun sekedar menengahi. Dion hanya mematung memperhatikan.
"Mengajarimu? Risa! Lihatlah! Bagaimana aku bisa memasak dengan kuku baru ini? Kalau terpaksa aku yang turun tangan, apa gunanya kamu, ha? Dasar tidak berguna sialan!" umpat Wenda.
Risa semakin menundukkan kepalanya. Raut wajahnya sudah tidak bisa digambarkan lagi. Ingin sekali dia kembali membela diri, tetapi pembelajarannya hanya akan membuat suasana semakin runyam.
"Maafkan Risa, Bu!" ucapnya lirih.
"Minta maaf terus! Kamu pikir, dengan kata-kata maafmu itu, makanan ini bisa tersaji sendiri? Tapi, tidak apa-apa, sih. Itu artinya kamu tau diri," cibir Wenda lagi, menunjuk-nunjuk wajah Risa.
"Bu?" panggil Dion. Sontak, Risa langsung menghapus air matanya dan langsung tersenyum.
"Mas?" Risa hendak memeluk Dion. Namun, dirinya tercekat ketika Dion melewatinya begitu saja tanpa melirik Risa sedikit pun.
"Sikapnya masih sangat dingin. Entah bagaimana aku menghangatkan kepribadian dinginnya itu."
"Dion, kenapa kamu pulang cepat sekali? Lihatlah! Istri kamu ini tidak becus. Masak saja sampai gosong, cih!" Wenda berdecih. Semakin memperdalam luka yang sudah tergores berulang kali.
"A--aku dipecat, Bu!" ucap Dion, kini dia yang tertunduk.
__ADS_1
*Bersambung*