Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
BERTEMU


__ADS_3

"Ma, Ameera sudah datang." ucap Farhan pada Ibunya. Dan keluarganya yang lain, ikut melihat ke arah mereka.


"Assalamu'alaikum." ucap Ameera pada semua orang yang berada di sana. Dia muncul dari balik tubuh Farhan.


Ameera menaburkan senyum termanisnya pada semua orang yang berada di sana. Yang paling pertama ia lihat adalah Safa, ibu Farhan.


"Ameera?" panggil Safa dan langsung memeluk Ameera dengan hangat.


"Nyo-nyonya, Safa?" Ameera membalas pelukan Safa dengan hangat pula.


"Kenapa Nyonya? Panggil Mama! Sama seperti Farhan dan yang lainnya." pungkas Safa pada Ameera.


Apakah Nyonya Safa sudah tahu mengenai masalah pernikahan kami? Atau dia belum tahu sama sekali.


Meskipun masih merasa asing dengan panggilan itu, Ameera tetap tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh keluarga Farhan.


"Ehem!" Farhan berdehem, membuat orang-orang yang awalnya menatap Ameera, kini beralih menatapnya.


"Kenalkan, ini calon Istriku. Kami akan menikah bulan depan!" ucapnya memberitahukan anggota keluarganya.


"Selamat, Ameera!" ucap seorang laki-laki yang menghampirinya sambil menggendong seorang anak perempuan bertubuh gempal.


Ameera tidak menyahut dan juga tidak menanggapi apapun. Dia mengerutkan keningnya karena merasa mengenal orang di depannya ini. Namun, masih belum bisa mengingat dengan jelas, siapa sebenarnya laki-laki itu.


"Kamu tidak mengenaliku? Aku Fahri, Kakak Farhan!" ucapnya memperkenalkan diri.


"Kak Fahri? Maaf, aku tidak mengenalimu tadi." barulah Ameera tersenyum seraya mengangguk, merespon ucapan selamat dari Fahri.


"Tidak apa-apa. Wajar saja kalau kamu tidak mengenaliku. Terakhir kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, sebelum keluarga kami pindah ke Singapore." jelasnya memaklumi. "Meninggalkan bocah laki-laki yang bersikeras tak ingin ikut, karena tidak mau meninggalkan sahabatnya di sini. Takut sahabatnya itu akan bersedih karena tak mempunyai sahabat baik lagi," imbuhnya menggoda Farhan.


Ameera hanya tersenyum, karena dia tahu persis siapa yang dimaksud oleh Fahri. Sedangkan yang dimaksud, hanya diam dengan wajah memerah menahan malu.


"Ini Anakku, namanya Lisa."


"Namanya sama seperti Adikku." tutur Ameera sambil tersenyum dan memegang pipi Lisa, calon keponakannya.


PLAKK


Tangan Ameera ditepis oleh Niken, Istri Fahri. Ameera hanya melihat, tak menyahut apapun. Niken, melihat Ameera dengan tatapan tak suka.


"Jangan sembarangan memegang. Tanganmu belum tentu bersih!" ketus Niken yang melihat Ameera dari atas ke bawah.


"Niken, kenapa kamu berbicara seperti itu pada Ameera?" tegur Fahri yang kurang suka dengan sikap tak sopan Istrinya.

__ADS_1


"Mas, kamu kan juga melihatnya barusan. Kenapa kamu masih menyalahkan aku? Kalau tangannya kotor dan membuat Lisa sakit, bagaimana?" cecar Niken, tidak terima suaminya membela orang lain.


"Maafkan saya, Mbak Niken." Ameera memilih mengalah agar semuanya terselesaikan dengan baik.


"Hum!" Niken mengambil Lisa dari Fahri, kemudian melengos pergi begitu saja.


"Sudah-sudah." Safa menepuk punggung Ameera pelan. "Niken itu orangnya baik, dia hanya susah dekat dengan orang yang baru dikenalinya. Sebenarnya, dia orang yang hangat."


"Iya, Ma." Ameera mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita mulai makan." ajak Kenzo, Papa Farhan.


Mereka semua pun mulai duduk teratur dan menikmati makanan prasmanan yang tersedia. Dengan cekatan, Ameera mengambilkan makanan untuk Farhan. Dan aksinya itu, dipuji oleh keluarga Farhan yang senang melihat Ameera.


"Ameera, kamu sangat layak menjadi seorang istri." ucap mereka memuji-muji.


"Benar sekali. Untuk orang yang belum pengalaman, itu sudah merupakan hal yang sangat bagus." sambung mereka.


Wajah Ameera mendadak muram, namun dia tetap menyelipkan senyuman di bibirnya.


Disela-sela waktu makan, Safa membuka suaranya.


"Ameera, Minggu depan, keluarga besar kami akan datang ke rumahmu. Melamar kamu untuk anak kami, Farhan." terang Safa.


"Ma...."


"Ma, tapikan Farhan sudah katakan pada kalian, Ameera baru saja bercerai. Dan dia butuh waktu selama masa iddahnya. Kita harus menunggu." pungkas Farhan yang tetap merasa tidak setuju dengan ide orang tuanya.


"Cerai? Berarti Ameera adalah seorang janda?" sambar salah satu keluarga Farhan.


Dan mereka pun mulai mencibir Ameera, menatap aneh Ameera karena di usianya yang masih terbilang muda, sudah menjadi janda. Dan bisik saling berbisik mengumpat pun mulai terjadi.


"Aku yakin, pasti dia wanita nakal. Mantan suaminya sudah tidak tahan dengan sikapnya, jadi menceraikannya." cibir mereka sambil melihat Ameera dengan tatapan merendahkan.


"Ya, aku yakin. Dia sengaja menggoda Farhan karena tahu kalau Farhan orang terpandang. Kita sudah tahu kelakuan-kelakuan janda. Apalagi yang masih muda, sudah hafal di luar kepala." umpat mereka dengan geram.


Telinga Ameera terasa panas, semua tuduhan-tuduhan tak benar dilontarkan mereka kepadanya. Hanya dia seorang janda, mereka berani mengumpatnya dengan omong kosong yang mereka bicarakan. Bisa dikatakan, mereka pun baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Lalu, atas dasar apa mereka berhak menghakiminya? Bahkan, Ameera sangat yakin, mereka tidak tahu alasan pasti, kenapa dia dan Dion bisa bercerai.


Ameera berdiri, membuat semua orang terkejut. Tapi, sejurus kemudian banyak yang menyunggingkan senyum jahat padanya. Ameera merasa, semua ini perlu diluruskan. Meskipun dia tak berniat menjelaskan. Yang penting, orang tua Farhan percaya padanya saja, itu sudah lebih dari cukup untuk dirinya.


"Maaf semuanya. Saya memang seorang janda." Ameera mengakui. "Namun, tidak semua janda itu sama dengan yang kalian pikirkan. Alasan orang bisa berada di posisi ini juga berbeda-beda. Saya yakin, banyak wanita yang tak menginginkan posisi ini. Jadi saya harap, jangan sama ratakan setiap orang. Niat orang berbeda-beda. Hanya Allah yang berhak menilai setiap hamba-Nya." pungkas Ameera mengakhiri.


Lalu, dia menoleh ke arah Safa dan Kenzo yang sedari tadi menatapnya.

__ADS_1


"Maafkan Ameera karena bersikap tidak sopan, Ma. Tapi, hanya ini yang bisa Ameera lakukan. Dan, Ameera berharap, Mama dan Papa mau bersabar untuk menunggu Ameera. Karena kalian juga pasti tahu, seorang wanita yang masih berada dalam masa iddahnya, tidak boleh dilamar oleh laki-laki lain," ucap Ameera.


"Ameera pamit, Ma. Ameera dan Alisa sudah terlalu lama meninggalkan Ayah seorang diri," Ameera menyalami Safa dan Kenzo. Sebelum benar-benar keluar, dia tetap berpamitan pada semua orang yang masih berada di sana. Orang-orang itu tertunduk malu dengan spekulasinya sendiri.


"Ma, Pa! Farhan mau antarkan Ameera dulu." izinnya pada kedua orang tuanya dan langsung berlari keluar mengejar Ameera.


"Ameera!" panggil Farhan agar Ameera tak semakin berjalan menjauh.


Ameera dan Alisa menoleh, dia melihat Farhan yang sudah bercucuran keringat karena mengejarnya.


"Cepat sekali. Apakah kamu menggunakan jurus kaki seribu?"


"Hahaha, tidak, Mas. Aku memang sudah terbiasa berjalan cepat," sahut Ameera.


"Ada apa, Mas?" tanyanya yang masih heran, kenapa Farhan mengejarnya.


"Ayo aku antarkan pulang," ajaknya


"Kami naik taxi saja," tolaknya halus. Ameera pikir, Farhan hanya sesekali bertemu dengan keluarganya. Jangan sampai tak bisa berkumpul karena mengantarnya pulang.


"Aku antarkan saja. Kalau kamu mau memberikan tips untukku juga tidak apa-apa. Anggap saja aku taxi," selorohnya.


Ameera hanya terkekeh pelan menanggapi. Dia mengikuti Farhan dan naik di mobil laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya.


"Ameera, maafkan ucapan keluargaku tadi, ya. Yang telah membuatmu tersinggung." Farhan merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya kurang suka dengan seseorang yang terlalu menghakimi orang. Padahal, yang mereka tuduhkan itu belum tentu benar. Dan bisa saja, menyakiti hati seseorang yang mendengarnya," jawab Ameera menjelaskan.


"Kamu benar. Aku sepenuhnya mendukungmu. Apapun yang kamu lakukan, selalu berada dalam dukunganku."


"Aku juga bukannya manusia tanpa kesalahan, Mas. Kita tidak bisa mengukur dosa orang lain," timpalnya.


Karena perjalanan mereka di selingi dengan percakapan, jadi tak terasa mereka sudah sampai di rumah.


Alisa sudah masuk terlebih dahulu. Saat Ameera mau masuk. Farhan kembali memanggilnya.


"Ameera, ini untukmu." Farhan memberikan sebuah paper bag.


Ameera mengambil benda di dalamnya, melihat dan memasukannya kembali.


"Selimut? Untuk apa?"


"Sekarang sedang musim dingin. Jadi, pakailah selimut itu agar kamu selalu hangat dan tidak masuk angin. Anggap saja ... selimut itu aku."

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣


Thank you ❤️❤️❤️


__ADS_2