
"Sepertinya, sudah waktunya, aku menerima kedatangan keluarga Mas Farhan kapanpun. Tapi, apa aku perlu mengabarinya?" Ameera dilanda kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di dalam kepalanya.
"Lebih baik, aku menunggu waktu yang tepat saja. Tidak perlu terlalu buru-buru." gumamnya lagi. Ameera kembali masuk ke kamarnya dan langsung mengistirahatkan tubuhnya.
Meskipun dia sedang kedatangan tamu bulanan, dia tetap bangun seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk semua orang dan melaksanakan aktivitas seperti biasa.
Kebetulan, hari ini adalah weekend. Jadi, dia tidak pergi ke TPA, Kate hari ini tidak ada jadwalnya mengajar. Alisa juga libur bekerja.
"Yah, jam berapa Ayah pulang tadi malam?" tanya Ameera sambil mengaduk sarapannya.
"Mungkin jam sepuluh. Ayah juga tidak terlalu memperhatikan," jawab Arman sambil menyeruput kopinya. Begitulah ia, selalu meminum kopi sebelum sarapan.
"Sarapan sudah selesai. Ayo kita sarapan bersama."
"Panggil Alisa. Sehabis shalat subuh dia malah tidur lagi," titah Arman.
Ameera mengangguk, dia mengetuk pintu kamar Alisa, tapi tak kunjung di bukanya. Kebetulan kamarnya tidak dikunci, jadi dia langsung masuk saja.
Terlihat Alisa memang masih tergelung dalam selimut dan terdengar mendengkur pelan.
Ameera memandangi Alisa sambil tersenyum.
"Pasti dia merasa kelelahan." Ameera duduk diam sisi ranjang Alisa dan menepuk-nepuk lengannya pelan.
"Lisa, Ayo bangun. Kita sarapan dulu," ucap Ameera.
Hanya sekali dibangunkan, Alisa langsung tersadar dari mimpi nyenyaknya. Dia duduk dengan pandangan sayu melihat ke depan.
"Jam berapa sekarang, Kak?" tanya Alisa sambil menguap.
"Jam tujuh. Bergegaslah mandi, kita makan bersama," ajak Ameera lagi.
"Lisa masih sangat mengantuk, Kak."
"Setelah subuh jangan tidur, jika kamu memang merasa sangat mengantuk, usahakan tidur jangan pada posisi berbaring, tetapi dalam posisi duduk dan berdzikir,"
"Banyak terjadi serangan jantung di pagi hari. Tidur setelah subuh juga membuat bodoh. Rezeki juga berkurang, karena malaikat pada waktu itu sedang bagi-bagi rezeki, tetapi kita malah tidur, ya tidak dapat kan?" imbuhnya.
Menurut dr. Zaidul Akbar bahaya tidur setelah subuh, diantaranya menyebabkan serangan jantung, kebodohan otak, dan mengurangi rezeki.
Ia menganjurkan di waktu subuh untuk selalu memperbanyak bersedekah dan berdzikir.
"Iya, Lisa usahakan tidak akan tidur sehabis subuh lagi. Tadi rasanya sangat mengantuk, Kak. Tidak dapat ditahan," ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya sudah, segera mandi agar kamu segar. Kasihan Ayah menunggu sendiri."
__ADS_1
"Tunggu Lisa ya, kak? Jangan makan tanpa Lisa." Alisa langsung lari kocar-kacir ke kamar mandi, dia melewati Ayahnya yang terlihat masih duduk sambil berpangku tangan.
*****
"Ayah mau tambah lagi?" tanya Alisa yang melihat piring ayahnya telah habis.
"Ayah sudah kenyang. Kalian yang harus makan banyak. Biar tenaga kalian kuat."
"Ayah juga harus makan yang banyak, jangan hanya mengingatkan kami," tutur Alisa sambil meneguk teh melatinya.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
Pintu rumah Ameera diketuk berkali-kali oleh seseorang yang belum diketahui.
Dengan sigap, Ameera membuka pintu, dan dia dikejutkan dengan pemandangan di depannya.
"Mas Farhan, Mas Dion?" sapa Ameera dengan kening mengkerut.
"Ameera..?" sapa mereka bersamaan.
"Kalian, kenapa pagi-pagi sudah di sini?"
"Ya, kami mau mengajakmu joging," sahut Dion dan diangguki oleh Belle.
"Kenapa?" tanya Dion lagi.
"Masuk dulu, aku buatkan kopi," ujar Ameera dan langsung melangkah ke dapur.
"Siapa Kak Meera?" tanya Alisa yang baru selesai mencuci piring.
"Mas Farhan dan Mas Dion," jawabnya sambil sibuk menakar gula dan kopi.
"Sejak kapan mantan suami dan calon suami begitu kompak?" cetus Alisa saking kagetnya.
"Husstt ... jangan berbicara seperti itu. Kan bagus, mereka tidak bermusuhan."
Ameera membawa nampan yang berisi kopi ke depan, dia mempersilakan mereka minum kopi, dan ikut bercengkrama bersama mereka.
"Meera, kenapa kamu tidak bisa ikut bersama kami?" tanya Farhan yang masih penasaran dengan penolakan Ameera. Dia tahu, Ameera sangat suka segala jenis olahraga, tak terkecuali joging. Jadi, jika sekarang Ameera menolak, itu tak masuk diakal.
"Kak Ameera sedang datang tamu bulanan, Mas. Jadi, dia tidak boleh olahraga terlalu lelah dulu. Apa lagi joging, banyak mengeluarkan cairan tubuh. Bisa dehidrasi," sahut Alisa yang kini duduk di samping Kakaknya.
"Oh begitu..." dua laki-laki itu nampak sama-sama mengangguk.
__ADS_1
Farhan tersenyum senang saat mendengar Ameera telah kedatangan tamu bulanannya. Itu artinya, niat baiknya harus segera diselesaikan.
"Kalau begitu, orang tuaku sudah bisa datang kan, Meera?" tanyanya dengan cengir kuda ala Farhan.
"Boleh, Mas. Tapi ... lebih baik bicara dulu sama Ayah. Jadi, kami bisa mempersiapkan sesuatu yang diperlukan," Ameera langsung menjawabnya, dia tidak lagi memikirkan perasaan Dion yang takut sakit hati.
"Di mana, Pak Arman?" tanya Farhan celingak-celinguk.
"Sepertinya Ayah sedang di kebun menyiram bunga, Mas," jawab Ameera yang memang tidak tahu jelas di mana Ayahnya itu.
Dua orang pria yang duduk berdampingan itu memasang raut wajah yang sangat berbeda. Farhan selalu tersenyum senang, wajahnya secerah matahari karena mendapat kabar baik saat ini. Tapi Dion, wajahnya sangat suram, kelabu. Seperti awan yang siap mendatangkan hujan dan Guntur kapan saja.
Namun, dia kembali memasang wajah setenang mungkin. Dia yakin, diantara Ameera dan Farhan, pasti belum ada cinta yang tumbuh. Jadi, sewaktu-waktu dia bisa meminta Farhan untuk menceraikan Ameera, agar Ameera kembali padanya.
Bukankah, pernikahan Ameera memang untuk itu? Jadi, kenapa dia harus resah. Dia yakin, Farhan memang ikhlas membantunya, jadi tidak perlu ada kekhawatiran yang harus dibesar-besarkan.
Dion kembali tersenyum, perubahan raut wajahnya yang mendadak, membuat Ameera heran.
"Biar Alisa panggilkan, Kak," usul Alisa dan disetujui oleh mereka semua.
"Kau tidak pulang, Dion?" tanya Farhan.
"Tidak, aku menunggu di sini saja. Tidak apa-apa kalau aku mendengar, kan?"
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kau sakit hati saja." cetus Farhan.
"Untuk apa aku sakit hati, kalian menikah kan agar Ameera bisa menikah denganku lagi," jawabnya santai dengan percaya diri yang sangat tinggi.
Saat Ameera dan Farhan ingin menyahuti, Amran sudah keburu datang. Farhan tak lagi menyahutinya, karena menurut Farhan, sekarang berbicara dengan Amran jauh lebih penting.
"Pak...?" sapa Farhan yang langsung bangkit dan menyalami Ayah mertuanya itu.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Arman.
"Begini, Pak. Pak Arman pernah mengatakan, masa iddah seorang wanita yang ditalak tiga oleh suaminya adalah selama datangnya haid di bulan depan," tutur Farhan dan Amran hanya mengangguk saja.
"Jadi, sekarang Ameera telah mendapatkan itu. Dan ... bisakah kalau besok saya membawa keluarga saya menemui Anda untuk meminta Ameera?" tanya Farhan to the point.
Saat Ameera mendengar itu, jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Dia merasa terharu, karena meskipun dia sudah pernah menikah, baru kali ini ada laki-laki yang melamar langsung ke Ayahnya.
"Kalian tidak perlu menyiapkan apapun. Karena Mama sudah menyiapkan semuanya untuk ini," jelas Farhan lagi, tidak mau keluarga calonnya merasa kerepotan.
"Tentu saja boleh. Kalau Ameera setuju, saya tidak akan menolak pinangan untuk anak saya." jawab Arman mantap membuat Farhan sangat puas dan senang. Bisa dipastikan, setelah pulang dari sini, dia pasti akan memeluk siapapun yang dia temui.
Dukung karya ini ya teman-teman...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like, komentar, gift dan vote.
thank you ❤️❤️❤️