Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Cake Coklat


__ADS_3

"Tapi kau salah Mbak Erlin. Kau sudah kalah jauh dariku! Aku dan Mas Farhan sudah bahagia dan saling mencintai. Selamat ... atas kekalahanmu!"


Setelah mengatakan ucapan yang telak menusuk jantung Erlin, Ameera kembali menyeret trolinya dan kembali memilih barang-barang lain yang dia perlukan.


Erlin mematung di tempatnya, mengepalkan tangannya lebih erat. Merasa kesal dengan Ameera, ingin rasanya dia membunuh wanita itu.


"Sepertinya tidak ada gunanya jika aku mengadu pada Ibu mertuamu karena dia sangat menyayangimu. Namun, bagaimana jika aku mengadukan hal ini pada Kenzo? Aku sangat penasaran seperti apa reaksinya nanti?" gumamnya dengan rencana-rencana jahat yang sudah berkeliaran di pikirannya.


Erlin juga ikut pergi, dia keluar dari supermarket itu dengan perasaan senang dan tenang. Merasa Erlin telah pergi, Ameera melihat wanita itu telah menjauh darinya.


Ameera memegangi dadanya yang mulai bergemuruh. Memang sudah sedari tadi ia menahan rasa gamang di hatinya saat Erlin berucap. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut Erlin bagaikan sembilu yang langsung siap menancap ke dalam jantungnya dan menghujaninya dengan banyak tusukan.


Dia juga tidak tahu apa kesalahannya pada wanita itu hingga Erlin kerap mempersulitnya dalam situasi apapun. Apakah karena wanita mencintai suaminya?


Apakah karena dia mencintai Mas Farhan? Sehingga dia ingin menghancurkan hubungan kami? Tidakkah dia terlalu kejam? Namun, jika orang lain bisa berjuang untuk cintanya, kenapa aku tidak? Aku juga harus memperjuangkan perasaanku sampai akhir!


"Berjuang ke tahap akhir, hanya itu yang bisa aku lakukan!" ucap Ameera penuh semangat. "Ambisiku memang terlalu besar," gumamnya lagi menertawakan dirinya sendiri. Tapi rasa semangat yang telah membakarnya telah berkobar.


Ameera memutuskan pulang ke rumahnya. Saat mobil yang dinaikinya melintasi toko cake, tiba-tiba Ameera merasa sangat menginginkannya. Air liurnya seakan menetes saat melihat kue-kue yang pastinya dengan rasa manis terpajang di etalase.


"Mang Kardi, singgah di toko cake itu!" titah Ameera.


Mang Kardi celingak-celinguk mencari toko roti yang dimaksud oleh Ameera. Ameera tertawa melihat tingkah Mang Kardi yang lucu.


"Mang, tokonya sudah lewat. Cepat putar balik!" titahnya lagi.


"Hahahah!" Mang Kardi ikut menertawakan kelinglungannya. "Saya pikir masih di depan, ternyata sudah lewat, toh?!" imbuhnya sambil melirik spion samping bersiap mau memutar balik.


"Sini, Pak!" pekik Ameera menghentikan laju mobil yang sedang melesat.


"Siap, Nyonya!"


"Tunggu sebentar, ya, Pak! Saya tidak lama kok," ujar Ameera.


Mang Kardi hanya menjawab seadanya, dia langsung turun, buru-buru berlari-lari kecil menuju etalase tempat dia melihat sebuah cake cokelat yang begitu menggoda hawanya.


"Loh, di mana?" gumam Ameera karena tak lagi melihat cake yang diinginkannya barusan.


Ameera mencari ke sana-sini, melihat cake yang sangat diinginkannya itu berada di tangan seorang pegawai. Segera dia langsung menghampiri pegawai itu.


"Permisi, saya mau cake yang ini," ujar Ameera.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Sudah ada yang membooking cake ini," jawab sang pegawai.


Ameera tercenung, dia kembali melihat cake coklat itu sambil menelan ludah. Tak terasa tangannya mengelus perut datarnya. Pegawai itu memperhatikan gerak-gerik Ameera, dia merasa iba karena tahu Ameera sangat menginginkannya.


"Nyonya, Anda sedang mengidam? Jika Anda sangat menginginkan cake ini, kita bisa membuatkannya sesuai pesanan Anda. Namun, Anda harus menunggu sebentar, bagaimana?" tawar sang pegawai.


Ameera tersenyum dan menganggukkan kepalanya berulang kali. Ada secercah harapan dan kebahagiaan di dalam hatinya.


"Benarkah?" tanya Ameera memastikan.


"Ya, Nyonya. Namun, untuk membuat cake ini membutuhkan waktu yang lumayan lama. Apakah Anda bersedia untuk menunggu, atau akan kembali besok untuk mengambil?" usul sang pegawai.


Ameera menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya menginginkannya sekarang. Buatkan tiga untuk saya dan saya akan menunggu," jawab Ameera.


Pegawai itu segera berlalu, mengemas pesanan customer lain barulah masuk ke dapur.


Ameera menunggu, dia berulang kali melihat arloji yang mengikat pergelangan tangannya. Sudah beberapa puluh menit berlalu, namun pesanannya belum kunjung selesai.


"Nyonya, pesanan Anda sudah selesai," ucap pegawai membawa tiga box yang berisikan cake pesanan Ameera.


Ameera menerimanya dengan sumringah, menatap lama ke arah box cake yang sangat diinginkannya itu. "Terima kasih," ucapnya.


Setelah membayar, Ameera kembali ke mobil dan memutuskan untuk pulang.


Farhan buru-buru turun dan membukakan pintu mobil untuk Ameera. Wanita itu bergegas turun dan langsung berhambur ke dalam pelukan Farhan.


"Mas, Meera sangat rindu," bisiknya dalam pelukan Farhan.


"Maaf karena Ameera telat pulang," lanjutnya.


"Tidak apa-apa. Memangnya kamu tadi dari mana saja?" tanya Farhan, tangannya mengelus hijab istrinya.


Ameera hendak menjawab, namun Mang Kardi sudah menyela.


"Nyonya, ini mau ditaruh di mana?" tanya Mang Kardi seraya memamerkan tiga box cake yang ada di tangannya.


"Berikan pada Bi Asih saja!" jawab Ameera.


"Apa itu? Seperti cake?" tanya Farhan.


"Iya, Mas. Ayo kita masuk dan mandi!"

__ADS_1


...*****...


Selesai makan malam, mereka memilih untuk menonton Tivi sambil bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan hari ini.


"Mas, kamu tidak berniat membawa Meera ke kantor? Memperkenalkan pada karyawan kamu?" tanya Ameera memancing. Dia memang sangat ingin berkunjung ke kantor suaminya.


"Kamu mau? Kalau kamu mau, setelah besok lusa kita sama-sama pergi ke kantor saja," usul Farhan. Namun, Ameera menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Besok lusa bukannya masih ada Mama di sini, Mas? Meera ingin menghabiskan banyak waktu bersama Mama. Lagipula, Mama ke sini kan ingin bertemu dengan kita, masak iya sih kita meninggalkan Mama sendirian di rumah?" ujar Ameera.


"Benar juga," sahut Farhan setuju. "Lalu, menurut kamu kapan waktu yang pas kita berkunjung ke kantor kecil milik kita?" tanya Farhan meminta pendapat.


"Bagaimana kalau setelah Mama pulang dari sini saja, Mas? Kamu setuju, kan?" usul Ameera, yang menampakkan sederet giginya.


"Bagus. Sesuai saran kamu saja!"


"Nyonya, ini cakenya," ucap Bi Asih, meletakkan sepiring cake coklat yang tadi dibeli oleh Ameera.


"Terima kasih, Bi!" Ameera tersenyum sumringah.


"Cake? Coklat?" Farhan bertanya dengan tatapan penuh tanda tanya pada Ameera.


"Ya, Mas. Ayo, suapi Meera, Mas!" pinta Ameera namun memerintah seperti biasanya.


Meski dengan segudang pertanyaan yang bergelayut di benaknya, Farhan tetap menuruti permintaan Istrinya. Dia mulai mengambil piring cake coklat itu dan mencuil cake itu dengan sendok dan menyuapi istrinya yang sedari tadi sudah membuka mulutnya lebar-lebar.


"Setahu Mas kamu tidak suka dengan apapun yang terlalu manis? Jadi, kenapa sekarang malah makan cake coklat ini?" tanya Farhan sambil menyuapi istrinya.


Ameera hanya tesenyum, menyipitkan matanya lebih dalam. "Entahlah, Mas. Saat tadi tidak sengaja lewat dan tidak sengaja lihat malah tiba-tiba sangat ingin. Malah tadi sebenernya cake yang di etalase itu pesanan orang lain," ujar Ameera.


"Lagi, Mas!" pintanya lagi saat tangan Farhan berdiam karena sibuk mendengar penjelasan istrinya.


"Ah iya!" Farhan kembali menyuapi. "Lalu, ini dapat dari mana?"


"Pegawainya membuatkan pesanan lain untuk Meera, karena Ameera tadi memperlihatkan wajah memelas dan kasihan. Tidak lupa juga menelan saliva berulang kali!" aku Ameera sambil terkekeh pelan.


Maaf kalau updatenya tidak rutin, soalnya saya lagi kurang sehat🙏


Seperti biasa, dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Berikan juga rate 5 ya kak ❤️❤️❤️


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2