Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Tidak Sengaja Bertemu


__ADS_3

"Oh? Aku dengar dari Dion, kalian menikah hanya sementara, kan? Hanya untuk membuat dia kembali pada Dion!" ucapnya sambil menyunggingkan senyum smirk sambil menunjuk Ameera.


"Mbak Erlin, bertabayyun lah. Karena tidak semua 'katanya' akan sesuai dengan 'faktanya'." Ameera menjawab dengan menekankan setiap kata-katanya.


"Memangnya bukan seperti itu? Aku sangat yakin, ucapan Dion tidak salah. Dia tidak akan berbohong," kekeh Erlin. Matanya menatap Ameera tajam, sambil tersenyum mengejek. Menandakan kalau Ameera bukanlah apa-apa untuknya.


"Meera, Mas sudah lapar. Ayo kita pulang sekarang." Farhan mengeratkan genggaman jemari mereka di depan Erlin, dan berlalu dari sana tanpa pamit.


"Mas, kamu jangan ambil hati dengan ucapan Erlin, ya?" ucap Ameera sembari memperhatikan raut wajah Farhan yang terlihat datar.


"Untuk apa mendengarkan ucapan tak berdasar seperti itu. Namun, apa yang dikatakannya juga kan ada benarnya," jawab Farhan yang tetap menambahkan senyuman di setiap ucapannya.


"Ameera, kamu sedang apa di sini?" tanya seorang wanita yang datang menghampiri Ameera dan Farhan.


"Mbak Risa?" tanya Ameera memastikan ingatannya. Jujur saja, dia masih lupa-lupa ingat dengan orang-orang yang baru ditemui belakangan ini.


"Iya aku Risa," sahutnya ramah. Tersenyum menampakkan sederet giginya dan lesung pipi yang dalam.


"Kamu sedang apa di sini?" tanyanya lagi.


"Kami baru tiba di Indonesia, Mbak."


"Dan ini, siapa?" tanya Risa yang terus bertanya. Tapi Ameera tetap menjawabnya dengan ramah.


"Dia Suamiku, Mbak." jawaban Ameera membuat Farhan mengulas senyuman tipis, sangat tipis. Hingga hanya dirinya sendiri lah yang bisa merasakan senyuman itu.


Risa hanya mengangguk, dia terus mengamati wajah Farhan yang tertutup kacamata. Dia merasa tidak asing dengan wajah Farhan, namun Risa tidak bisa memastikan apakah Farhan adalah orang yang dikenalinya atau bukan karena kacamata hitam masih setia bertengger di batang hidungnya.


"Mbak Risa menjemput siapa di sini?" tanya Ameera basa-basi.


"Tidak ada. Aku dan Erlin baru pulang dari perjalanan jauh juga, sama seperti kamu. Ada urusan bisnis," sahutnya sambil tersenyum.


Ameera hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu, kami pulang duluan ya, Mbak?" izin Ameera. Merasa tidak sopan jika meninggalkan Risa begitu saja.


"Ya baiklah. Aku juga sedang menunggu jemputan," jawabnya. Matanya menelisik ke arah mobil-mobil yang baru berdatangan, seperti sedang mencari sesuatu.


"Ah itu dia!" seru Risa dengan senyuman lega saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenali oleh mereka mulai memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Pengemudi mobil itu membuka mobilnya dan melihat ke arah Risa, Ameera dan Farhan dengan mata membulat.


Ameera? Dia sudah pulang?


Dion ingin menyembunyikan dirinya. Tapi dia sadar, mereka semua sudah menyadari kehadirannya. Dia tidak mau dicap sebagai pengecut, jadi dia datang ke arah mereka dengan wajah yang sudah dinetralkan.


"Mas, kenapa lama sekali?" tanya Risa tapi tak dipedulikan oleh Dion. Dia malah sibuk menatap Ameera yang menurutnya semakin cantik.


"Ameera, kamu sudah pulang?" tanya Dion terkesan kikuk.


Ameera hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ibu yang memintaku menjemput Risa. Aku sudah menolak tapi Ibu terus saja memaksa." tanpa ada yang meminta, Dion langsung menjelaskan. Berharap Ameera tak salah paham padanya.


"Kamu jangan salah paham ya!" tuturnya lagi.


Ameera kembali mengangguk dan tersenyum.


"Memangnya kenapa, Mas? Ibu kamu benar kok. Tidak ada salahnya menjemput calon istri sendiri, kan?" sahut Ameera membuat mata Dion terbelalak.


"Calon istri? Tidak! Bagaimana mungkin. Itu tidak benar, Ameera!" cepat-cepat Dion menggelengkan kepalanya, tangannya pun ikut menyilang menyangkal ungkapan Ameera.


Melihat Dion yang membantah semua itu, wajah Risa terlihat murung. Senyuman yang sedari tadi mengembang langsung lenyap karena telah tergantikan dengan rasa kecewa. Dan Ameera menyadari itu.


"Meera, ayo kita pulang sekarang!" ajak Farhan lagi, tak mau berlama-lama berada di sana.


"Ayo, Mas!" Ameera mengangguk, tangan mereka yang saling menggenggam membuat Dion mendengus kesal.


Saat Ameera dan Farhan sudah berbalik, Dion menghalangi jalan mereka dengan menarik pergelangan tangan Ameera. Membuat Ameera dan Farhan sontak berbalik.


"Ameera, dengarkan dulu penjelasanku!" tukas Dion.


Ameera menghempaskan tangan Dion yang memegangi lengannya.


"Mas, jangan sembarangan!" ucap Ameera dengan wajah datar.


"Kenapa aku tidak boleh menyentuh tanganmu? Sedangkan dia, bisa dengan bebas menyentuhmu, menggenggammu?"


Ameera mengerutkan keningnya. Merasa heran, kenapa bisa-bisanya Dion mempertanyakan yang tak seharusnya.

__ADS_1


"Bukankah jawabannya sudah jelas? Karena dia suamiku, Mas Dion! Pasangan halalku."


"Tapi dia hanya-"


"Ayo kita pulang sekarang, Mas! Ayah sudah menunggu kita." Ameera langsung menarik tangan Farhan dan masuk ke dalam mobil yang sedari tadi sudah menunggu mereka.


Dion mau mengejar Ameera lagi, namun tangan Risa mencekal lengan Dion.


"Mas, jangan kejar lagi. Dia akan bertambah marah nanti," ujar Risa.


Dion menghempaskan tangan Risa dengan kasar, menatap wajah Risa berang.


"Ini semua karenamu! Aku tahu, pasti kau yang telah mengatakan yang tidak-tidak padanya, kan? Hingga dia tahu status hubungan kita?" teriak Dion di depan wajah Risa.


"Aku tidak memberitahunya, Mas. Ibumu yang memberitahukan hal itu padanya!" jawab Risa.


"Ahhh...." Dion berteriak mengusap kepalanya kasar, merasa pusing dengan keadaan yang dihadapinya. "Kenapa kau masih saja keras kepala mau menikah denganku, Risa? Sedangkan kau tahu hatiku hanya untuk Ameera! Tidakkah kau takut akan tersakiti dengan hubungan tak sehat ini?"


"Lalu, kenapa kau masih mencintai mantan istrimu itu, Mas? Sedangkan kau tahu dia sudah menjadi milik orang lain?" balas Risa. Dia tak menjawab pertanyaan Dion, tapi malah kembali melemparkan pertanyaan yang membuat Dion bertambah pusing.


"Itu tidak sama, Risa! Aku tidak mencintaimu. Tapi aku dan Ameera saling mencintai."


"Dari mana kau tahu kalau kalian saling mencintai? Apakah kau yakin kalau hatinya masih berlabuh dan mengharapkan dirimu?" pekik Risa dengan air mata yang sudah menggenang.


Banyak pasang mata yang memperhatikan perdebatan mereka. Namun maupun Risa ataupun Dion tak ada yang mau mengakhiri perdebatan mereka.


"Inilah alasanku tidak bisa menyukaimu. Kau terlalu keras kepala dan mandiri. Kau selalu menjawab setiap ucapanku. Kau tidak mau mendengarkanku dan belajar mengalah! Kau hanya tahu cara untuk menyamakan derajat dirimu dan aku. Seharusnya kau diam saat aku berucap!" ucap Dion.


"Sangat berbeda dengan Ameera yang hanya diam saat suaminya mengatakan sesuatu, hanya menurut saat aku memberinya perintah. Menuruti semua keinginanku, tidak pernah membangkang dan berdebat denganku, suaminya. Apakah kau bisa belajar menjadi dia?"


"Kau tidak akan bisa, Risa!" dengus Dion.


"Berhenti untuk menyamakan aku dan dia, Mas. Aku akui, dia memang spesial, namun setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan semua itu Allah SWT yang memberikannya."


"Aku bisa menghormatimu, bisa menunduk padamu, bisa menurutimu saat kamu menjadi suamiku. Asalkan kamu juga bisa melakukan hal yang sama pada istrimu kelak, Mas."


"Jika kau menginginkan seorang istri yang sempurna, itu tidak akan ada! Bagaimana bisa kau menginginkan orang terus berbuat baik padamu, tapi kau tak bisa menghargai seseorang? Aku hanya mencintaimu, Mas. Aku tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan."


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya

__ADS_1


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️


Terima kasih


__ADS_2