
"Insya Allah, Ma. Jika Allah mengizinkan, kami pasti selalu bersama." hanya itu yang bisa dijawab Ameera. Dia tidak mau membuat Safa terlalu banyak dengan hubungannya dan Farhan. Karena, semua takdir itu ditentukan oleh Allah SWT dan masih rahasia-Nya.
**********
Seminggu telah berlalu, persiapan untuk pesta pernikahan juga sudah selesai dipersiapkan semuanya. Awalnya, Ameera hanya minta untuk melakukan akad saja. Tapi lagi-lagi Farhan menolak, Farhan minta untuk mengadakan resepsi walaupun hanya sederhana saja. Karena menurut Farhan, ini adalah kali pertamanya, dan bisa jadi juga ini yang terakhir. Jadi, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu.
Ameera hanya bisa menuruti keinginan calon suaminya itu. Tidak ada kalimat bantahan yang berarti yang keluar dari mulutnya. Dia hanya mengangguk dan menyetujui semuanya. Karena dia tahu, semua yang dilakukan Farhan juga untuk kebaikan mereka bersama.
Mereka sudah melakukan fitting baju pengantin, dan pesta sederhana permintaan Farhan itu diadakan di rumah Ameera. Sebagai tuan rumah, sesekali Ameera hanya perlu membubuhkan tanda tangan sebagai tanda persetujuan untuk persiapan-persiapan yang ada.
Hari ini, mereka akan melangsungkan akad nikah di sebuah masjid. Setelah akad nikah selesai, pesta langsung digelar dikediaman Ameera.
POV Ameera.
Hari ini adalah hari kebahagiaanku, meskipun ini kali kedua aku menikah, namun perasaan haru biru dan bahagia tak dapat dipisahkan dari diriku saat ini. Melihat orang-orang di sekitarku tersenyum padaku dengan hangat, membuat rasa kebahagiaan itu kian bertambah.
Dari kejauhan, aku melihat Mas Farhan, calon suamiku sedang berbincang dan seperti sedang menghafal sesuatu. Dia memegang secarik kertas dengan wajah merah padam yang menahan kegugupan.
Sungguh aku sangat tidak menyangka, hari ini akan tiba padaku. Aku menikah dengan sahabatku. Saat Mas Farhan melamarku saat itu, jujur saja aku sangat terkejut. Aku pikir, itu hanya selorohnya. Tapi ternyata, hari ini dia membuktikan dan membuatku percaya.
"Kak Meera, kenapa termenung sambil senyum-senyum sendiri?" tanya Alisa padaku.
"Tidak ada," jawabku mengelak.
Bagaimana bisa aku tidak menerbitkan senyum, ini adalah hari bahagiaku. Dan di kejauhan, aku juga melihat hadirnya Mas Dion. Aku melihatnya tersenyum kepadaku, namun aku langsung membuang pandangan ke arah lain. Tak ingin membuat orang lain salah paham.
"Sepertinya akan nikah sudah bisa kita mulai," ucap Pak penghulu yang akan menikahkan kami. Mendengar hal itu, kulihat gelagat Mas Farhan yang bertambah resah. Aku yakin, dia sedang diterpa kegugupan.
Ayahku dan Mas Farhan sudah duduk berhadapan, ada sebuah meja yang menghalanginya jarak mereka. Di atas meja itu, ada sebuah mikrofon dan kitab suci Al-Qur'an.
Ayah dan Mas Farhan mulai saling berjabat tangan, dan di sekeliling kami banyak orang yang mulai memasang telinganya untuk mendengar kejelasan pengucapan akad nikah Mas Farhan. Ya, mereka semua siap menjadi saksi.
"Kak, do'akan supaya Mas Farhan bisa menjawabnya," ucap Alisa padaku, dia juga menggenggam tanganku agar aku tak terlalu gugup.
"Assalamu'alaikum, ayo kita sama-sama istighfar," ucap Pak penghulu dengan suara keras.
"Bismillahirrahmanirrahim, Farhan! Saya nikahkan dan kawinkan engkau Farhan Rafeef Syabani bin Kenzo Syabani dengan anak kandung saya Ameera Zahra dengan mahar (isi sendiri ya) Tunai!"
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya putri bapak untuk saya dengan mahar yang telah disebutkan Tunai!" jawab Farhan dengan satu tarikan Nafas.
Kalau ada salah-salah, mohon maaf ya, hehe.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak penghulu pada para saksi yang ikut hadir di sana.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Seiring dengan suara para saksi mengatakan sah bersahut-sahutan, air mata Ameera menetes tanpa izin. Kini dia kembali sah menjadi istri seseorang. Pria yang telah lama dikenalinya, dan menjelma sebagai sahabat baiknya.
"Alhamdulillah," sahut mereka semua. Kemudian penghulu membacakan doa.
"Farhan, bacakan doa setelah ijab kabul," titah penghulu yang baru selesai membacakan doa.
Ameera yang sudah duduk di samping Farhan, dituntun untuk berhadapan dengan suaminya. Tangan kanan Farhan memegang ubun-ubun Ameera, kemudian dia membacakan doa yang telah ia hafalkan kemarin.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.
Setelah membacakan doa untuk istrinya, Farhan mencium kening Ameera, dan Ameera mencium punggung tangan Farhan, laki-laki yang telah sah menjadi suaminya saat ini. Menggantikan posisi Ayahnya sebagai penanggung jawab atas segala urusan dunia dan akhiratnya.
Dan sekarang, kepada suaminya lah ia harus berbakti dan mendengarkan semua ucapan Suaminya. Karena sekarang, syurganya terletak pada Farhan.
Setelah semuanya selesai, mereka semua kembali ke rumah Ameera. Karena Farhan dan Ameera akan duduk bersanding di pelaminan, menyambut hari pertama mereka sebagai suami istri.
"Ameera!" panggil Dion dari belakang.
Farhan yang sedang berjalan sembari menggenggam tangan Ameera, berbalik dan diikuti dengan Ameera.
"Ameera, selamat!" ucap Dion sambil menjulurkan tangannya bersalaman.
"Terima kasih," jawab Farhan sambil menerima uluran tangan Dion.
"Ameera?" panggil Farhan lagi.
__ADS_1
"Ah, ya. Terima kasih, Mas," sahut Ameera tanpa menerima uluran tangan Dion.
Dion tersenyum kikuk, dia lupa kalau Ameera tidak akan mau bersentuhan dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Dan sekarang, Dion bukan Mahramnya, dan Farhan telah sah menjadi suaminya.
Dion memperhatikan tangan Ameera dan Farhan yang saling terkait menggenggam.
"Kalau tidak ada yang ingin dikatakan lagi, kami pergi sekarang, Dion!" ujar Farhan dengan intonasi tak suka karena Dion sibuk memperhatikan Istrinya.
"Farhan, aku ingin berbicara berdua denganmu," pinta Dion.
"Meera menunggumu di sana, Mas." Ameera langsung berjalan menjauhi mereka berdua.
Setelah Ameera menghilang dari pandangan mata mereka berdua, Tak lagi mau berbasa-basi, Dion langsung mengutarakan apa maksudnya.
"Farhan, kuharap jangan lupakan janjimu. Jangan berlama-lama, segeralah untuk menceraikan Ameera!" ucap Dion.
Mendengar ucapan itu, Farhan mengeram marah. Namun dia tidak bisa melupakannya di sana. Tidak mau orang tuanya khawatir.
Baru satu jam yang lalu dia menikahi Ameera, namun sudah diperingatkan oleh orang lain untuk segera menceraikan istrinya itu.
"Maaf, Dion. Aku tidak merasa pernah berucap janji apapun kepadamu. Tapi untuk hal itu, kita bisa menyerahkannya pada Ameera," jawab Farhan kemudian berlalu pergi.
Dion mengepalkan tangannya. Dari matanya, tersirat kemarahan karena jawaban Farhan sama sekali tidak seperti keinginannya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan Ameera mencintaimu, meskipun kau suaminya! Dia harus tetap menjadi milikku selamanya! Aku akan merebutnya darimu dengan cara apapun. Kalau aku tidak bisa memilikinya, tidak satupun orang lain bisa memilikinya termasuk dirimu!" gumamnya.
****
"Ada apa, Mas? Mas Dion bicara apa tadi?" tanya Ameera saat mereka sudah berada dalam mobil dan menuju ke rumah Ameera.
"Tidak ada, Meera. Dia hanya memberitahukan Mas apa saja makanan kesukaanmu," bohong Farhan.
Ameera hanya mengangguk-angguk kepalanya sambil tersenyum. Kebahagiannya masih belum kunjung memudar.
Maafkan Mas, Meera. Mas hanya tidak mau merusak rasa bahagiamu. Kamu pasti akan sedih kalau Mas mengatakan yang sebenarnya.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote. Berikan juga rate 5 ya.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mau mendukung karya recehku ini ❤️❤️❤️