Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
SAMA-SAMA TERKESIMA


__ADS_3

"Aku sedang belajar, Mas," jawab Ameera.


"Belajar apa?" tanya Farhan dengan kening berkerut.


"Belajar untuk mencintaimu," jawab Ameera.


Lengkungan pelangi langsung terukir di bibir Farhan yang awalnya cemberutnya. Dia langsung mengajak Ameera untuk masuk ke dalam mobil karena Safa sudah menunggu mereka di sana.


Setelah beberapa saat ban mobil Farhan menyapu jalanan. Mereka tiba di depan sebuah butik khusus yang terlihat sangat mewah. Ameera sampai terus memperhatikan butik itu dari dalam mobil.


"Mas, kenapa ke butik sebesar ini? Lebih baik ke butik yang biasa saja," ujar Ameera yang kini menatap Farhan.


Farhan menanggapi ucapan calon istrinya dengan senyuman hangat.


"Aku suka dengan kesederhanaan kamu, Meera. Tapi, ini butik langganan Mama. Dan Mama yang merekomendasikan butik ini padaku. Tidak mungkin kalau kita menolak pilihannya," tutur Farhan.


"Benar juga. Di mana Mama sekarang, Mas?" tanya Ameera setelah mengangguk.


"Ada di dalam. Ayo, kita masuk bersama," ajak Farhan.


Pintar sekali jawabanmu wahai Farhan. Padahal butik itukan pilihanmu sendiri. Ya memang, itu rekomendasi Mama Safa. Tapi itukan juga atas permintaan dirimu, yang meminta direkomendasikan butik terbaik agar semua yang Ameera kenakan dapat terlihat mewah dan jadi terbaik. Jika Mama Safa tahu kalau namanya dijual oleh anak kesayangannya ini, bagaimana ya tanggapannya?


Ameera mengangguk. Mereka turun bersamaan dan berjalan beriringan. Setiap mata yang memandang mereka, tersirat kekaguman dan rasa iri.


Tak bisa dipungkiri, banyak juga orang-orang yang memuji paras cantik Ameera dan tampannya Farhan. Dan karena mereka masuk ke butik khusus, orang-orang langsung melabeli mereka dengan sebutan pasangan serasi.


"Ameera...?" Safa yang sedang duduk sambil melihat-lihat referensi gaya kebaya kekinian, langsung melihat ke arah pintu saat terdengar suara pintu terbuka. Setelah melihat anak


dan calon menantunya yang datang, dia langsung berjalan menghampiri mereka.


Safa memeluk Ameera dan menciumi pipi Ameera.


"Mama...!" sahut Ameera yang juga membalas pelukan calon ibu mertuanya itu meskipun masih terasa sedikit canggung.


Tapi sebisa mungkin, dia berusaha untuk menyesuaikan diri.


"Ayo sini duduk," ajak Safa yang langsung menuntun calon menantunya.


"Kak Niken?" sapa Ameera yang hanya diangguki oleh Niken.


"Hem ... Lisa, di mana, Kak?" tanya Ameera berusaha untuk basa-basi.

__ADS_1


"Aku tinggal sama Mas Fahri," jawabnya biasa saja.


"Tante, ini calon menantunya?" saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba datanglah seorang pria yang sedikit tercampur dengan aura-aura kewanitaan. Dengan lemah gemulainya, dia menyapa Ameera yang masih duduk di samping Safa.


"Iya, ini Ameera. Calon menantuku," jawab Safa memperkenalkan Ameera pada pria setengah jadi itu.


"Kenalkan, aku Srinta," ucapnya sambil tersenyum. "Sri dan Tama," lanjutnya lagi membuat Ameera membulatkan matanya dan Farhan menahan senyum karena melihat raut wajah terkejut Ameera.


"Sri dan Tama?" tanya Ameera kebingungan.


"Ya, Tama itu nama asliku, dan Sri nama yang kuberikan sendiri. Jadi, aku sengaja menggabungkannya," jawabnya sekenanya.


"Srinta ini pemilik butik ini, Ameera. Dia yang akan membantu kamu memilihkan gaun yang cocok untuk kamu," jelas Safa dan hanya diangguki oleh Ameera.


Memang begitu, kalau Safa yang berkunjung, Pasti Srinta lah yang akan langsung turun tangan melayani Safa. Karena Safa tak mau kalah dirinya di layani oleh yang lain.


"Ayo, kamu bisa pilih dulu yang kamu sukai. Atau, kamu bisa menyebutkan, kamu ingin yang seperti apa. Jadi, buat aku yang bisa memberikan contoh untuk kamu pilih," ucap Srinta dengan gaya kemayunya.


"Hem, aku ingin yang sederhana saja, Mbak," jawab Ameera dengan melambatkan diakhir katanya. Karena jujur saja, dia masih bingung dengan panggilan Srinta. Mau dipanggil Mbak atau Mas.


"Yang sederhana tapi elegan ya?" tanya Srinta lagi.


"Hem!" sahut Ameera mengangguk.


"Sinta...? Sini kamu!" panggilnya.


"Iya, Mbak. Sebentar ya," sahut Sinta dari jauh.


Mbak ya? Untung saja aku tidak salah menyebut.


Ameera terkekeh sendiri dalam hati, merasa lucu kalau sampai dia dimarahi oleh Srinta.


"Ya, Mbak. Ada apa?" tanya Sinta yang kini telah menghampiri Srinta.


"Kamu ambilkan kebaya yang di lantai atas, yang berwarna Sky Blue," titahnya.


Sinta langsung berlari dan mengambil apa yang diperintahkan oleh bosnya itu.


Tidak lama, Sinta menenteng sepasang kebaya dengan warna Sky Blue yang sangat indah dipandang mata.


"Ameera, coba kamu tes diruang ganti. Jika kamu kurang tertarik, kita bisa menggantikan dengan pilihan yang lain," ucap Srinta sambil menyodorkan sepasang kebaya.

__ADS_1


"Kalau baru dilihat seperti ini, aku suka, Mbak. Tapi, aku lebih suka warna yang nude saja," tutur Ameera.


"Oh, ada sih yang warna nude mirip seperti ini," jawabnya, kemudian kembali memerintahkan pegawainya, "Sinta, ambilkan yang warna nude di lantai atas, hanya satu di sana," titahnya.


"Siap!" dengan sangat cekatan Sinta mengambilkan kebaya lain yang diinginkan costumer mereka.


Setelah dirasa cocok, Ameera mencobanya di ruang ganti. Saat baru mengenakannya, dia sudah sangat terkesima dengan dirinya sendiri.


"Wah, kebaya nya sangat bagus," pujinya sambil melihat setiap detail dari kebaya.


Ameera keluar, dan langsung saja, semua pandangan mata tertuju padanya. Farhan, sampai dibuat melongo saat melihat Ameera dalam balutan kebaya cantik itu.


"Ameera, kamu sangat cantik!" pujinya yang masih belum berkedip.


"Bahkan dia belum mengenakan make-up. Dan, bagaimana nanti saat pernikahan kalian? Bisa-bisa kamu ngompol karena tidak tahan dengan kecantikannya Ameera," cetus Safa yang sebenarnya juga ikut terkesima dengan cantiknya calon menantunya itu.


"Pufft...." Ameera berusaha menahan tawanya saat mendengar kelakar calon Ibu mertuanya.


"Ya sudah, sekarang kamu coba punyamu. Muat atau tidak? Tubuhmu kan Banyak ABS nya," seru Srinta dengan malu-malu. Dan Farhan terlihat geli saat mendengar Srinta memuji tubuhnya.


"Ma, kalau begitu, kita pindah saja. Aku geli mendengar pujiannya," rengek Farhan pada Mama Safa sambil bergidik ngeri, dan mereka semua tertawa.


"Jangan dong, yang aku bilang kan memang benar," sahut Srinta yang masih belum menyerah merayu Farhan.


"Tapi, kan. Butik ini kamu yang minta reko...." belum sempat Safa menyelesaikan ucapannya, Farhan langsung menyela ucapan Mamanya.


"Mam ... tolong jaga rahasia kita!" selanya sambil meletakkan jari di bibirnya sebagai tanda meminta Ibunya untuk tak lanjut bicara.


"Sekarang aku coba, tapi janji jangan melanjutkan ucapan yang tadi," ucapnya memberikan penawaran.


"Iya, Ya sudah, langsung ganti sana!" Safa mendorong tubuh Farhan menuju ruang ganti, membuat Farhan hanya pasrah dan mengikuti semua kemauan Ibunya.


Setelah mengganti, Farhan keluar dengan menggunakan baju batik, seragam dengan kebaya yang akan digunakan oleh Ameera. Warnanya juga senada, kombinasi yang sangat pas.


Saat Farhan keluar dari kamar ganti, mata Ameera juga tak berkedip melihat Farhan, calon suaminya itu.


Dia begitu terkesima dengan penampilan Farhan saat memakai pakaian rapi dan formal seperti itu.


"Ameera?" panggil Farhan membuat Ameera tersadar dari terpukaunya.


"Maaf, Mas. Kamu terlihat berbeda saat memakai itu," ucap Ameera.

__ADS_1


Dukung karya ini dengan meninggalkan jejak like, komentar, gift dan vote.


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2