
"Tentu saja boleh. Kalau Ameera setuju, saya tidak akan menolak pinangan untuk anak saya." jawab Amran mantap membuat Farhan sangat puas dan senang. Bisa dipastikan, setelah pulang dari sini, dia pasti akan memeluk siapapun yang dia temui.
*********
Setelah perbincangan kemarin, keluarga Farhan menghubungi keluarga Ameera kalau hari lamaran akan diadakan tiga hari lagi. Karena keluarga mereka ingin melakukan persiapan agar acara lamaran anak bungsu mereka bisa dilakukan sesuai keinginan Farhan sendiri.
Keluarga Ameera diminta untuk tidak sibuk, tidak menyiapkan apa-apa, karena semua persiapan akan dilakukan oleh mereka.
Seperti hari ini, dari semalam Ameera sudah dihubungi oleh Farhan, kalau mereka akan melakukan fitting baju untuk acara lamaran mereka.
Ameera merasa terharu, karena saat bersama Dion, tidak ada lamaran, bahkan gaun pengantin pun seadanya saja. Tapi ini, semua dipersiapkan dengan matang, untuk lamaran saja, mereka harus fitting lagi.
Acara lamaran seperti ini, membuat Ameera yang berasal dari kalangan biasa sangat takjub.
Sebenarnya, semua persiapan ini dilakukan oleh Farhan sendiri, orang tuanya hanya ikut membantu. Ameera tidak tahu itu, bahkan pekerjaan calon suaminya juga dia tidak tahu. Dia hanya berpikir, kalau semua ini disiapkan oleh calon mertuanya.
"Ameera, nanti mau aku jemput atau datang bersama Lisa?" tanya Farhan yang pagi-pagi sudah menghubungi Ameera.
"Mas, kamu ini ngebet banget, ya?" Ameera terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri.
"Memangnya kamu tidak?" tanya Farhan tersungut.
"Tidak," jawab Ameera yang terdengar tegas. "Alisa bekerja, Mas. Aku tidak mau mengganggunya," imbuhnya lagi.
"Jadi, nanti mau aku jemput atau bagaimana?"
"Kamu tidak sibuk, Mas? Aku takut mengganggu pekerjaan kamu," kata Ameera yang memang takut mengganggu pekerjaan Farhan.
"Tidak, Ameera. Aku sudah minta izin pada Bosku," jawab Farhan memenangkan Ameera. Dia tahu, Ameera orang yang seperti apa. Dia tak ingin mengganggu orang lain hanya karena keperluan dirinya.
"Aku naik taxi saja, Mas. Kamu bekerja saja. Jangan pikirkan aku," ucapnya yang masih pada pendiriannya sendiri.
"Meera, ini bukan keperluan kamu saja. Tapi, untuk kita." Begitulah Ameera, yang selalu bertahan dengan keras kepalanya.
"Ya sudah, nanti jemput Ameera di TPA ya, Mas? Ameera hari ini harus mengajar dulu." Farhan sangat senang mendengarnya, Karena akhirnya wanita itu mau mengalah.
"Siap. Nanti, kalau sudah selesai mengajar, kamu hubungi Mas, ya? Biar kamu tidak kelamaan menunggu," titah Farhan.
"Ya, Mas. Ya sudah, kalau begitu aku tutup, ya? Assalamu'alaikum," ucap Ameera.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," balas Farhan. Setelah mematikan sambungan teleponnya, Farhan menggenggam ponselnya di dada sambil tersenyum ceria. Tiba-tiba, ada yang menepuk pundaknya, membuat wajah cerianya langsung berubah secepat kilat.
"Farhan, kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Fahri yang sudah berdiri tegak di belakang Adiknya.
"Kak, jangan mengagetkanku. Kalau aku sakit jantung, aku akan mati. Tidak jadi menikahi Ameera!" cetusnya kesal. Fahri dari dulu memang sangat suka mengagetkannya.
"Aku yakin, kamu pasti akan menangis di dalam kubur," celetuk Fahri tepat sasaran.
"Ya. Itu sudah pasti. Makanya jangan mengagetkan aku," ketusnya dengan wajah datar dan dingin.
"Farhan, kenapa kamu tidak jujur saja sih dengan pekerjaanmu?" tanya Fahri yang heran dengan pemikiran Adiknya. Biasanya, orang-orang yang berhasil, akan dengan bangganya memberitahukan pekerjaannya. Tapi, Farhan berbeda. Dia malah lebih suka terlihat sederhana, hingga orang-orang susah untuk mengenalinya atau hanya sekedar untuk menebak pekerjaannya.
"Belum waktunya, Kak," jawab Farhan yang terlihat menghela nafas.
"Memangnya, kapan kamu mau memberitahukannya? Sebentar lagi kalian akan menikah. Jangan sampai dia salah paham dengan pekerjaanmu, dan menganggap kamu telah membohonginya," nasihat Fahri yang di dengar baik oleh Farhan. Tapi, bukan Farhan namanya kalau tidak mencela.
"Kak Fahri, kamu kan tahu sendiri, Ameera ku tidak akan seperti itu!" ucapnya tegas.
"Ameeramu? Bolehkah aku tertawa?"
"Sudahlah. Kau tertawa saja di sini, aku mau melanjutkan persiapan hari bahagiaku, bye!" Farhan mencelos pergi meninggalkan Kakaknya yang masih tertawa geli.
"Sejak kapan si dingin itu bisa berucap lebay begitu? Aku saja yang lebay bergidik ngeri dibuatnya," gerutu Fahri masih tertawa.
"Assalamu'alaikum, halo, Mas?" sapa Ameera dari balik telepon.
"Ya, Meera?" jawab Farhan dengan wajah sumringah.
"Mas, Ameera sudah pulang. Kalau Mas Farhan tidak sibuk, bisa jemput sekarang," ucapnya sambil berjalan ke arah pohon yang rindang.
"Mas jalan sekarang. Kamu tunggu, ya."
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Waalaikumsalam," jawab Farhan.
"Hatiku selalu sejuk setiap berbicara denganmu, Ameera. Kau bisa meneduhkan hatiku," ucapnya sambil tersenyum.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, Farhan langsung menjalankan kuda terbangnya menjemput sang kekasih hati. Membawanya untuk melakukan fitting, melakukan persiapan untuk membentuk mahligai rumah tangga dan membentuk singgasana mereka sendiri.
__ADS_1
"Ameera?" panggil Farhan yang sudah berdiri tegak di samping wanita idamannya.
"Mas Farhan? Cepat sekali?" tanya Ameera heran.
"Iya. Kalau mau bertemu denganmu, jam memang berputar sangat cepat," jawabnya seraya menambahkan senyuman termanisnya.
"Dan kenapa Mas Farhan turun? Kamu kan bisa membunyikan klakson," ujar Ameera.
"Memang benar. Tapi, rasanya tidak pantas kalau seperti itu. Aku ingin menjemputmu langsung dan memayungimu dan berjalan menuju kereta kuda kita," ucapnya sok puitis.
"Apa si Mas Farhan? sejak kapan kamu pintar merayu wanita seperti itu?" kekeh Ameera, rayuan maut yang diucapkan Farhan malah terdengar lucu di telinga Ameera. Karena selama ini, yang Ameera tahu, Farhan adalah tipe orang yang kaku dan cuek.
"Hey, lihatlah. Itu bukannya Ameera? Laki-laki di sampingnya sangat tampan," ucap salah satu warga kampung yang mengenal Ameera.
"Iya benar. Ku dengar, dia akan menikah lagi, agar bisa kembali dengan mantan suaminya," ucap teman di sampingnya yang mulutnya tak bisa dikondisikan.
"Berarti, itu calon suaminya? Wah tampan sekali," puji mereka yang terus-menerus menatap Farhan meski dari kejauhan.
Ameera yang mendengar percakapan orang-orang itu telinganya terasa panas. Tapi dia tak mau ambil pusing dengan ucapan tak penting itu. Dia tak perlu meluruskan sesuatu pada orang lain. Yang penting, keluarga dan orang terdekatnya tak pernah berpikir demikian.
Farhan juga memilih mengikuti Ameera, tak memperdulikan ucapan-ucapan yang dia tahu tak mungkin benar. Karena, mendengarkan dan mempedulikan ucapan-ucapan orang yang kita sendiri kalau itu tidak benar, akan membuat kita kepikiran dan berakhir jatuh sakit.
Dia hanya memandangi Ameera yang wajahnya tampak biasa saja. Tak cemberut sedikitpun.
Apakah dia tidak merasa cemburu karena aku dipuji oleh wanita lain?
"Ya Allah, kenapa dia berbeda?" ucap Farhan tiba-tiba.
"Siapa, Mas?" tanya Ameera yang tak peka sama sekali.
"Kamu." Farhan menunjuk Ameera. "Saat orang lain memujiku dan menyukaiku, kamu malah biasa saja," celetuknya gemas.
"Aku sedang belajar, Mas," jawab Ameera.
"Belajar apa?" tanya Farhan dengan kening berkerut.
"Belajar untuk mencintaimu," jawab Ameera.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar gift dan vote. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👣
__ADS_1
Berikan rate 5 juga
terima kasih ❤️❤️❤️❤️