
Wenda mendengar bisikan Ibunya Risa. Dia menjadi gelisah dan berulang kali melirik ke arah Dion yang masih saja cuek dengan keadaan.
Dasar anak sialan! Dia sudah berjanji untuk bersikap baik. Lalu, sekarang sikap macam apa yang sedang diperlihatkan olehnya? Bisa-bisa Risa gagal menjadi menantuku!
"Tidak apa-apa, Ma. Risa sudah mencintainya. Memang begitulah sikap Mas Dion, terkesan dingin terhadap semua orang. Risa dapat menerima apapun kekurangannya," ucap Risa menerbitkan senyum puas dari wajah Wenda.
"Pesona Dion memang tidak pernah terkalahkan!" gumam Wenda sambil terus memasang senyumannya.
"Apakah kita bisa mulai sekarang untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka?" seru Ayah Risa yang baru buka suara.
"Bisa, bisa! Semakin cepat maka semakin bak!" jawab Wenda menyambar cepat. Bukan Dion atau Risa yang menjawab, namun Wenda lah yang buru-buru menjawabnya dengan wajah memerah.
Melihat keanehan di depannya, Ibu Risa kembali meyakinkan anaknya, tak ingin anaknya terlena sesaat dan jatuh dalam lubang tak berdasar. "Risa, kamu yakin mau melanjutkan pernikahan ini? Ibu rasa ada yang tidak beres dengan keluarga calon suamimu ini," bisik Ibunya yang terlihat jengah melihat sikap Wenda.
Menurutku ini bukanlah sebuah keanehan. Wajar Mas Dion bersikap begitu dingin, karena yang sangat menginginkan pernikahan ini hanyalah aku dan Ibunya.
"Ma, jangan ragukan apapun lagi. Keputusan Risa tetap satu, kami akan menikah," ucap Risa tegas.
Ibunya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia sendiri sedang berperang dengan hatinya. Apakah yang dipikir itu benar adanya, atau hanya pemikirannya saja?
Setelah berdiskusi lebih lanjut, disepakati pernikahan mereka akan dilaksanakan tiga Minggu lagi. Dan semua itu juga atas permintaan Wenda, dia begitu terburu-buru untuk segera menikahkan Dion dengan Risa.
"Jadi, sudah sepakat, ya? Pernikahan mereka akan dilaksanakan tiga Minggu lagi," ucap Ayah Risa mewakilkan pengambilan keputusan.
"Ya," jawab Wenda.
Semua keputusan yang telah diambil, semuanya menurut suara Wenda. Karena sedari tadi Dion hanya diam saja, tak menyuarakan apapun. Bahkan, matanya sangat enggan untuk melirik ke arah Risa yang sedari tadi selalu menatapnya penuh minat.
...*****...
Sudah dua hari Farhan dan Ameera kembali menginjakkan kakinya di tanah air mereka. Meski banyak drama yang harus dijalani saat mereka hendak pulang, namun Ameera tetap memilih ikut Suaminya. Bukan karena ia tidak nyaman tinggal bersama mertuanya. Namun, Farhan tak ada mengeluarkan mandat agar Ameera tetap tinggal, jadi dia tak berani untuk mengajukan diri.
Mereka baru saja selesai makan malam dan sekarang sedang duduk di ruang Tivi.
"Mas?" panggil Ameera, Farhan yang sejak tadi fokus melihat siaran kesukaannya pun menoleh.
"Ya?" sahut Farhan singkat.
"Mas, Meera sudah lama tidak menyambangi ke rumah Ayah. Rencananya besok Meera mau mengunjungi Ayah. Apakah boleh, Mas?" tanya Ameera.
"Tentu saja boleh. Minta Mang Kardi utama mengantar kamu ke sana. Jangan pergi sendirian dengan angkutan umum," ujar Farhan, matanya kembali fokus melihat siaran kesukaannya.
"Terima kasih, Mas!" Ameera menjatuhkan kepalanya di bahu Farhan.
"Sama-sama," balas Farhan sambil mengelus kepala istrinya. "Sampaikan pada Ayah, Mas belum bisa ikut berkunjung. Jika nanti ada waktu senggang, Mas akan ikut kamu pulang ke rumah," tukas Farhan.
"Iya, Ayah pasti mengerti," sahut Ameera.
"Kalau sudah merasa kantuk, kamu langsung masuk dan tidur saja!" ucap Farhan.
__ADS_1
"Mas mau ke mana?"
"Masih ada laporan dari divisi keuangan yang belum Mas periksa. Mungkin agak lama, kamu langsung tidur saja," titah Farhan lagi.
"Tidak mau, Meera mau ikut!" Ameera merengek manja.
"Ikut memeriksa laporan keuangan?"
"Bukan! Meera numpang baca buku saja," jawabnya menjelaskan.
"Baiklah, mari ikut!" ajaknya.
Ameera langsung mengekor di belakang Farhan. Ikut masuk ke ruang kerja Farhan. Farhan mulai duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Ameera masih sibuk memilih-milih buku yang ingin dibacanya.
Setelah mendapatkan buku yang ia mau, Ameera mendaratkan bokongnya di sofa. Meski dia terlihat sedang membaca buku, namun sebenarnya itu hanyalah kedok semata. Dari balik buku yang ia pegang, matanya terus sibuk mencuri-curi pandang melihat Farhan yang sedang fokus mencocokan data laporannya.
"Suamiku terlalu tampan. Setiap melihat wajahnya yang unlimited itu aku langsung Tremor. Untung saja Allah SWT menganugerahkan jantung yang kuat untukku," gumamnya sambil cekikikan tak jelas, dan hal itu turut menyita perhatian Farhan.
Farhan beralih menatap Ameera, tangannya masih memegang map. "Kenapa? Apakah ada yang lucu?" tanya Farhan sembari menyipitkan matanya.
"Ah? Tidak ada, Mas. Buku yang Meera baca ternyata bergenre komedi. Isinya lucu semua," ucapnya berdalih.
"Oh, lanjutkan baca saja. Yang penting kamu senang," ucap Farhan yang tak terlalu memperhatikan Istrinya.
Ameera menahan senyum, bisa-bisanya dia telah mengucapkan kebohongan.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya tugas Farhan pun selesai. Dia meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku sambil menguap lebar. Matanya menangkap pemandangan teduh di depannya. Dia tersenyum kala melihat Ameera yang tertidur di atas sofa sambil memeluk buku.
"Ini buku tentang bisnis, aku sudah berulang kali membaca buku ini tapi tidak ada unsur komedinya!" gumam Farhan sambil membolak-balikkan buku tersebut.
Farhan meletakkan buku tersebut di atas meja, kemudian dia mengendong Istrinya ala bridal style dan berjalan menuju kamar mereka.
Perlahan-lahan dia meletakkan Ameera di atas ranjang. Kemudian Farhan ikut duduk di samping Ameera, mengelus perut datar Ameera perlahan-lahan. Ada sebuah harapan besar yang selalu ia inginkan.
"Semoga kamu bisa segera hamil, Sayang. Agar kita bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga kita," gumam Farhan. Dan do'a itulah yang selalu dia panjatkan. Berharap permintaan sederhananya itu dapat segera dikabulkan oleh sang pencipta.
...****...
Pagi hari datang, hari ini cuaca tak terlalu cerah. Mendung mendera kota itu.
"Kamu jadi mau mengunjungi Ayah?" tanya Farhan.
"Jadi, Mas. Meera sudah menghubungi Ayah. Ayah mengatakan akan menunggu dan menyiapkan banyak makanan kesukaan Meera. Kasihan kalau Meera tidak jadi datang, kan?"
"Ya sudah, kamu hati-hati, ya! Maaf Mas tidak bisa menemani kamu," ucap Farhan.
Setelah kepergian Farhan, Ameera juga ikut bergegas menyiapkan dirinya. Tidak lupa, dia mengirimi pesan terlebih dahulu kepada Ayahnya.
Ameera turun dan menemui mang Kardi untuk meminta mengantarkannya.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan, Ameera melirik ke sebuah restaurant yang menyediakan makanan kesukaan Ayahnya.
"Mang, singgah di restaurant di pertigaan depan, ya!" pinta Ameera.
"Baik, Nyonya!"
Setelah masuk ke restauran yang dimaksud, Ameera langsung memesan tiga porsi makanan kesukaan Ayahnya itu. Dia tidak membeli yang lainnya karena Ayahnya juga memasak banyak makanan di rumah.
"Ameera?!" panggil seseorang yang suaranya sangat dikenal oleh Ameera.
Ameera menoleh, benar dugaannya. Memang Dion yang memanggilnya tadi.
"Mas Dion?" sapa Ameera.
"Kamu sendiri saja?" tanya Dion menatap Ameera dengan penuh senyuman. Perasaannya sangat senang bisa bertemu dengan Ameera.
"Iya," jawab Ameera.
"Di mana Farhan?" tanya Dion lagi.
"Sudah pergi bekerja!" jawab Ameera seadanya.
"Oh, ternyata sudah dapat pekerjaan juga dia," tukas Dion meremehkan.
"Ya," jawab Ameera lagi.
"Mbak, berapa totalnya?" tanya Ameera karena pesanannya sudah siap.
"Totalnya dua ratus delapan puluh ribu."
Ameera mengeluarkan tiga lembar uang seratus. Namun tangannya ditahan oleh Dion.
"Biar aku saja yang bayar, Meera!" ucapnya.
"Tidak perlu, Mas. Aku punya uang!" jawab Ameera yang ternyata menyinggung perasaan Dion.
"Meera, kenapa perubahan kamu sangat drastis? Apa karena kamu sudah mencintai Farhan?" tanya Dion
"Jatuh cinta?" ucap Ameera mengulangi.
"Ya, perubahan sikapmu menunjukan kalau kamu sudah mencintai laki-laki tak berguna itu!
Aku harap itu tidak terjadi karena kamu juga paling tahu kenapa kalian bisa menikah. Dan kamu harus kembali padaku. Jadi, jangan pernah jatuh cinta padanya," celoteh Dion membuat telinga Ameera terasa panas.
"Dion, kuharap kamu bisa lebih menjaga mulutmu untuk tidak mengucapkan hal tidak benar itu berulang kali. Kamu sendiri juga paling tahu aku sangat membenci setiap kali kamu mengatakan itu! Dan kamu selalu mengulangi hal yang sama! Aku jatuh cinta pada suamiku sendiri juga tidak ada urusannya denganmu!" kecam Ameera. Dia membayar tagihan untuk makanannya dan mengambil bungkusan makanan itu dan langsung pergi. Meninggalkan Dion yang diam tercengang di tempat.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️