
"Kata siapa? Kata siapa aku tidak mencintai suamiku?" tanya Ameera tegas, terlihat dia sedang tidak main-main.
Semua mata langsung tertuju pada Ameera yang sedang berdiri dan menatap Erlin nyalang, terutama Farhan yang sangat terkejut dengan sangkalan Ameera.
"Meera," panggil Farhan lembut. "A-apa maksud kamu? Kamu…?" Farhan tak berani meneruskan ucapannya, takut dia akan salah sangka dan berakhir kecewa untuk yang kesekian kalinya.
"Mas, aku mencintaimu! Meera mencintaimu dengan segenap hatiku. Memang Meera salah karena terlalu lambat sadar dan terlalu lama mengungkapkannya. Namun, itu semua bukan tanpa alasan, Mas. Beberapa hari ini, Meera sedang meyakinka diri, apakah benar hati ini memang sudah berpindah haluan."
"Dan maaf karena baru mengungkapkannya sekarang dan dengan cara seperti ini," imbuh Ameera. Air matanya mulai menetes, begitu malu ia mengungkapkan perasaannya pada sang suami di depan banyak orang. Tapi, ini memang sebuah kegentingan, mempertaruhkan keutuhan jalannya rumah tangga mereka.
"Tidak! Kamu tidak boleh seperti itu, Ameera! Bisa-bisanya kamu melupakan janji kita. Kamu lupa, kenapa kamu bisa menikah dengan Farhan itu karena apa?" sanggah Dion, tak terima dengan keputusan Ameera, dan malah menyatakan cinta pada Farhan.
Ameera mengalihkan perhatiannya, tatapan matanya yang awal teduh berubah berang. Menatap Dion kesal karena berani datang dan menghasut Kenzo untuk mencerai beraikan mereka.
"Dion, kemarin aku sudah menemuimu, kan? Memintamu untuk tidak lagi ikut campur dalam hubunganku dengan Suamiku? Aku sudah tidak punya rasa apapun padamu. Jadi tolonglah, hargai keputusanku," mohon Ameera, suaranya kian melemah.
"Ameera, aku mencintaimu! Bagaimana bisa aku melepaskanmu pada pria lain, itu sangat tidak masuk akal, Meera!" Dion tetap bersikeras menentang.
"Aku dan Mas Farhan menikah atas takdir Allah SWT yang mempersatukan kami dengan cara seperti ini. Sejak awal aku sudah mengatakan, aku menikah dengannya bukan karena ingin kembali padamu," kekeh Ameera.
Seutas senyuman terpatri di bibir Farhan, kehangatan menyusup di dalam jiwanya, sangat senang karena dihargai oleh orang yang dia sayangi selama ini. Akhirnya, pengorbanannya membuahkan hasil yang sangat manis.
"Dion, hargailah apa yang telah kau miliki saat ini. Risa sudah menjadi istrimu, sayangi dia. Jangan sampai kamu menyesal seperti saat kehilanganku dulu," ujar Ameera.
Tiba-tiba perasaan pusing mendera, pandangannya terasa berkunang-kunang dan apa yang ia lihat seperti berputar-putar. Perutnya mulai mual, tak tahan untuk segera memuntahkan semuanya. Namun, semua yang hendak keluar serasa tercekat di tenggorokan.
"Hoeek!" suara itu mengalihkan perhatian mereka semua.
"Ameera, kamu kenapa?" tanya Farhan khawatir, dia bergegas mendekati Ameera yang mulai berdiri tak seimbang.
"Mas, Meera pu-sing," bisiknya sambil sesekali mendesis. Sebelah tangannya berpegangan pada Farhan, dan sebelah lagi menutup mulutnya yang ingin muntah.
"Kamu sakit?" tanya Farhan pelan, sedikit menunduk mensejajarkan tingginya dengan Ameera.
__ADS_1
"Tuan, di sekitar sini ada Dokter praktek, mau saya panggilkan?" sela Bi Jum yang ikut khawatir dengan keadaan Ameera.
"Panggilkan segera, Bi!" sahut Farhan, menaikkan oktaf suaranya karena terserang panik.
Semua orang panik, kecuali Safa yang hanya duduk dan tersenyum samar melihat keadaan Ameera. Dia seolah sudah bisa menerka apa yang sudah terjadi pada menantunya itu. Namun, dia masih mengatupkan bibirnya, enggan untuk bicara. Biarlah itu menjadi kejutan untuk hubungan mereka yang baru dimulai ini.
"Farhan, bawa Ameera ke kamar!" saran Arman, wajahnya tampak cemas, namun dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu.
"Ni Asih, buka kamar tamu!" titah Farhan. Dia menggendong Istrinya ala bridal style, membuat Dion dan Erlin yang sejak tadi memilih diam semakin memanas tak karuan.
Ameera sudah melemah bagaikan orang tak sadarkan diri. Farhan terus mengusap-usap tangan Ameera dan menciumi tangan Istrinya itu.
Ya Allah, kenapa dia? Kami baru akan memulai hubungan baru, jangan ambil dia. Pindahkan saja sakitnya padaku, aku ikhlas menerimanya….
"Assalamualaikum…?" ucap Dokter Eka di depan pintu.
"Waalaikumsalam warahmatullah," sahut mereka semua bersamaan.
"Pak, boleh bergeser sedikit?" izin Dokter Eka sebab Farhan terlalu dekat sehingga terlalu sempit Dokter Eka untuk memeriksa pasiennya.
"Lalu, apakah beberapa hari ini ada sesuatu hal tak biasa yang Ibu rasakan? Misalkan perubahan mood, sering uring-uringan, perubahan selera makan dan yang lainnya?" tanya Dokter Eka, memastikan agar diagnosisnya tak salah.
"Ya, ya, beberapa hari ini perubahan Ameera memang sangat signifikan. Sampai bukan seperti dirinya lagi," seru Farhan.
"Hum … apakah Bu Ameera memakai alat kontrasepsi? Atau Pak Farhan yang menggunakannya?" tanya Dokter Eka lagi.
Keduanya kompak menggelengkan kepalanya, mereka juga sama-sama heran kenapa pertanyaan Dokter Eka mengarah ke sana?
Dokter Eka mengambil sesuatu dari dalam tasnya, kemudian dia memberikan sebuah testpack pada Ameera.
"Sebaiknya Ibu mengetes dulu, ya?" ujar Dokter Eka.
"Tapi, Dok, saya sedang datang bulan. Baru hari ini juga," protes Ameera.
__ADS_1
"Saya akan menjelaskan setelah sudah ada hasil dari testpack tersebut," sahut Dokter Eka.
"Tapi–" Ameera kembali ingin menyela, namun suara suaminya menghentikannya.
"Meera, turuti saja…." pinta Farhan lembut.
Ameera mendongak pada suaminya kemudian tersenyum getir, sejurus kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Dia menolak untuk mengikuti saran Dokter Eka hanya karena takut hasilnya tidak sesuai dan suaminya akan merasa kecewa seperti dirinya pagi ini. Saat dia mendapati dirinya datang bulan, rasa kecewa sebab harapan untuk hamil datang menyeruak dalam hatinya.
Ameera menyeret tubuh lunglainya masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar itu juga ada Erlin dan Dion yang harap-harap cemas semoga kehamilan Ameera tak terjadi.
Erlin menyikut Dion hingga pria itu menoleh padanya. "Berdo'alah agar wanita itu tidak hamil. Jika dia benar-benar hamil, maka kemungkinan kita ke depannya akan semakin kecil," bisik Erlin
"Ya, kau benar!" sahut Dion.
Di dalam kamar mandi, Ameera terkejut saat mendapati pembalutnya kosong tanpa noda.
"Biasanya tidak begini. Tapi, mungkin saja nanti siang mulai banyaknya," gumamnya.
Ameera mulai melakukan sejumlah ritual untuk menggunakan benda kecil bernamakan testpack itu, sembari menunggu perasaannya tak karuan. Jantungnya berdetak seolah ingin melompat keluar dari tubuhnya.
"Hufffg…." Ameera menghembuskan nafas berulang untuk meminimalisir kegugupan yang menderanya.
Dia membaca kembali bungkusan benda kecil itu. "Sudah waktunya untuk mengambilnya," gumamnya.
Ameera mengambil benda kecil itu dengan menengadahkan kepalanya ke atas, enggan untuk melihat hasil yang akan membuatnya kecewa berulang.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, sontak semua orang menoleh padanya yang sedang menggenggam benda kecil itu.
Saat dia melewati suaminya yang tengah menunggu, "Bagaimana hasilnya?" tanya Farhan.
__ADS_1
"Meera tidak tahu, Mas!" jawabnya sambil berlalu, tak ingin mengecewakan suaminya.