Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Suasana Malam Pengantin


__ADS_3

Maafkan Mas, Meera. Mas hanya tidak mau merusak rasa bahagiamu. Kamu pasti akan sedih kalau Mas mengatakan yang sebenarnya.


Saat mereka sampai di tempat tujuan, sangat banyak orang yang sudah menyambut kedatangan mereka. Seperti menunggu hadirnya orang yang mau menyebarkan uang.


"Pelan-pelan," ucap Farhan sambil menggenggam tangan Ameera, menuntunnya turun dari mobil. Farhan tahu, istrinya itu kesusahan.


"Terima kasih, Mas," sahut Ameera tersenyum.


Ameera tersenyum melihat dekorasi indah di depannya. Sungguh dia sangat takjub dengan itu semua. Meskipun dia sudah menikah dua kali, tapi baru sekali ini dia bersanding di pelaminan. Perasaan bahagianya tak dapat dijumlahkan. Sungguh, dia sangat-sangat bahagia sekali saat ini.


Mereka langsung duduk di bersanding di pelaminan. Semua pasang mata menyorot ke arah mereka. Sinar flash bersahut-sahutan, seolah sedang berlomba-lomba untuk mengabadikan momen indah itu.


Rona kebahagiaan sangat jelas tercetak di wajah Ameera. Begitu juga dengan Farhan, matanya tak lepas menatap Ameera yang terus saja menebar senyuman termanisnya pada tamu-tamu yang datang.


"Selamat ya, Meera. Aku turut bahagia melihat kamu bahagia," ucap ustadzah Nisa sambil menggenggam tangan Ameera.


"Terima kasih, ustadzah," jawab Ameeera.


Ustadzah Nisa pun berlalu, Ameera dan Farhan bergantian menyambut tamu yang hadir dan turut larut dalam suasana bahagia mereka.


Setelah seharian mereka duduk di pelaminan, langit pun mulai menggelap, matahari mulai kembali ke asalnya.


"Mas, sudah mau Maghrib. Ayo kita masuk saja!" ajak Ameera.


"Ayo, biar tamu-tamu di sini mereka yang melayani," timpal Farhan menuruti kemauan Istrinya.


Sebelum masuk, Farhan izin pada Ibunya, jadi jika ada sesuatu, mereka tidak susah mencari.


"Ma, Farhan dan Meera masuk dulu, ya? Kalau Mama dan Papa sudah merasa lelah, pulang duluan saja, tidak apa-apa," ucap Farhan.


"Iya. Kamu pulang atau mulai menginap di sini?" tanya Safa sambil menatap Ameera dan Farhan secara bergantian.


"Hem ... Farhan mulai menginap di sini saja, Ma," jawabnya sambil melirik ke arah Ameera yang masih berdiri di sebelahnya dan mendengar semua percakapan mereka.


"Baiklah, Mama pulang sekarang, ya? Papa sudah sangat kelelahan," ucap Safa sambil menggenggam tangan Kenzo, dan itu juga tidak luput dari perhatian Ameera.


"Jangan lupa buatkan cucu yang banyak untuk Papa dan Mama, supaya Lisa juga ada teman mainnya!" bisik Kenzo dengan mata berbinar.


Mendengar ucapan Papanya yang tidak masuk akal, Farhan langsung menoleh melihat Ameera. Dia menghela nafas lega karena wajah Ameera terlihat biasa saja, seperti tidak mendengar apa-apa. Padahal, dalam hati Ameera, perasaan malu sudah bercampur aduk, dan warna merah muda siap menjadi perona di pipinya.

__ADS_1


"Pa!" Safa mencubit pinggang suaminya, sambil merapatkan giginya. Merasa malu dengan ucapan suaminya.


"Kenapa? Apa yang Papa bilang barusan kan benar, Ma!" ucapnya tanpa ada rasa bersalah.


"Kalau ada yang dengar bagaimana? Papa tidak malu?" pungkas Safa sambil melirik kanan kiri. Takut kalau sampai ada yang mendengar ucapan tak senonoh itu. "Sudahlah, ayo kita minta izin pada Pak Arman. Kita pulang sekarang!"


Selepas perginya Mama Safa dan Papa Kenzo menemui Arman, Farhan dan Ameera langsung masuk ke dalam kamar Ameera yang juga sudah dihiasi sebagaimana rupa kamar pengantin pada umumnya.


Kamar yang didominasi warna putih dan bercampur dengan aroma bunga mawar yang sangat menusuk indra penciuman itu, membuat orang betah berlama-lama berada di dalam.


Penerangan yang dibantu dengan cahaya lilin, membuat suasana menjadi semakin romantis.


"Meera, kamu kenapa? Sakit?" tanya Farhan yang telah meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Ameera guna mengecek suhu tubuh Istrinya itu.


"Tidak, Mas." Ameera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jadi, kenapa?" tanya Farhan lagi dengan mengerutkan dahinya. Kalau memang sedang kurang sehat, kenapa tidak katakan saja, begitu pikirnya.


"Meera tidak apa-apa, Mas," jawabnya. Mengambil tangan Farhan dari dahinya dengan gugup. Sudah sangat lama mereka menjadi sepasang sahabat, tapi baru kali ini Ameera memberanikan diri untuk menyentuh tangan mantan sahabatnya itu yang kini sudah sah menjadi suaminya. Biasanya, mereka hanya saling memegang lengan baju, karena Farhan sudah sangat hafal dengan Ameera yang tidak mau tersentuh dengan laki-laki lain.


Farhan terdiam sebentar, tak membantah sangkalan Ameera. Dia sibuk memperhatikan wajah Ameera yang terlihat menguning karena mengikuti warna cahaya lilin penerang kamar pengantin mereka. Dia mengamati wajah itu lekat seperti sedang memastikan sesuatu.


Jujur saja, wajah Ameera memang sudah merona sejak tadi. Jantungnya berdegup kencang saat melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar yang bernuansa temaram. Kini, mendengar suara Farhan, tubuhnya gemetar, telinganya pun ikut memerah. Ada perasaan was-was di sana. Inilah kali pertama dia berada satu kamar dengan seorang pria.


Dulu, dengan Dion mereka pisah kamar. Dion tidak pernah mau masuk ke kamar Ameera dengan berbagai ribu macam alasan yang diucapkannya.


"Mas, Meera tidak apa-apa. Lebih baik kita membersihkan diri karena sebentar lagi tiba waktu shalat," ucapnya kembali meyakinkan suaminya yang terlihat sedang mengkhawatirkan dirinya.


Farhan mengangguk, dia membenarkan ucapan Istrinya. "Kalau kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja. Jangan sembunyikan apapun. Apa lagi tentang kesehatan!" ucap Farhan yang diangguki Ameera.


Farhan berjalan mendekati tas ranselnya, mau mengambil pakaian gantinya. Mengerti dengan pergerakan suaminya, Ameera buru-buru menghentikan kegiatan suaminya itu.


"Mas, biar Meera saja yang ambilkan," pinta Ameera. Farhan menggeserkan tubuhnya, memberikan ruang untuk Ameera melakukan kewajibannya sebagai Istri.


Entah kenapa, ada rasa senang yang menyelimuti dirinya. Seperti ada banyak tangan yang menggelitiknya, memaksanya untuk menerbitkan senyuman yang sempat ditahannya. Terasa ada ribuan kupu-kupu yang siap menerbangkannya karena perasaan senangnya.


Farhan sudah sering dilayani oleh para pelayannya. Tapi, baru kali ini dia dilayani oleh istrinya, orang yang paling dicintainya selama ini. Membuatnya terus kepikiran tanpa mengenal siang dan malam, sibuk dan senggang. Waktunya habis untuk memikirkan sang pujaan hati.


"Ini, Mas. Tapi, kamar mandinya di luar," ucap Ameera.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mas duluan ya!" Ameera mengangguk.


Setelah Farhan keluar dari kamar, Ameera duduk di pinggiran ranjangnya. Jari-jarinya kembali tergenggam karena merasa cemas. Dua hari ini, perasaan cemas terus menerus menggerayangi dirinya.


Dan malam ini, perasaan itu datang kembali, dia mencemaskan bagaimana malam ini akan mereka lewati.


Setelah Farhan selesai mandi, gantian dengan Ameera. Pas setelah Ameera selesai, azan Maghrib pun berkumandang. Mereka melaksanakan shalat tiga rakaat itu dengan di imami Farhan.


Selepas Shalat, mereka berdoa dengan doa yang mereka panjatkan masing-masing. Hanya mereka yang tahu, doa baik apa yang mereka panjatkan kepada-Nya.


Ameera menyalami tangan suaminya dan Farhan mencium kening istrinya. Sungguh, detak jantung mereka berdetak dengan sangat cepat.


KRING


KRING


KRING


Ponsel Farhan berbunyi. Sebelum menjawab panggilan yang tidak diketahui itu, Farhan sedikit menjauh dari Ameera.


Sayup-sayup Ameera mendengar kalau Farhan harus pergi besok. Mengurusi keperluan pekerjaannya yang sempat terjadi sebuah masalah. Dan dia yang dipaksa untuk langsung turun tangan.


Apakah aku akan ditinggalkan lagi setelah hari pernikahan? Apakah Mas Farhan akan sama seperti Mas Dion?


Setelah beberapa menit, Farhan pun kembali. Dia duduk di samping Istrinya, menggenggam tangan Ameera walaupun dengan sedikit gemetaran.


"Meera, Mas mau bicara," ucap Farhan.


"Ya, Mas?"


"Besok pagi-pagi sekali, Mas harus pergi. Ada pekerjaan yang terkendala dan memaksa Mas sendiri yang harus turun tangan, kamu...."


"Ameera tidak apa-apa, Mas. Jangan khawatirkan Ameera, Ameera akan baik-baik saja di sini," sela Ameera.


Dukung karya ini dengan meninggalkan like, komentar, hadiah, dan vote sebanyak-banyaknya.


Kasih rate 5 juga ya...


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2