
"Kak, semua sudah menunggu. Ayo, kita keluar sekarang," ajak Alisa memegang lengan Ameera.
"Kakak gugup, Lis." Ameera tersenyum kaku setelah mengatakan itu.
"Tidak apa-apa, Kak. Kakak hari ini sangat cantik. Jangan lupa berdo'a, dan serahkan semuanya kepada Allah SWT. Agar semuanya bisa berjalan dengan lancar," ucap Alisa menyemangati Kakaknya.
Ameera mengangguk dan tersenyum. Dia menunduk sebentar, dalam hatinya dia sedang memanjatkan do'a. Agar semua acara yang telah direncanakan dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan yang berarti.
Setelah selesai, Ameera melihat ke arah Alisa, sebagai pertanda bahwa ia sudah siap untuk dibawa ke depan. Mengerti dengan arti tatapan sang Kakak, Alisa memegang lengan Ameera dan membimbing Kakaknya berjalan ke luar. Membawanya duduk di samping Safa, calon Ibu mertuanya.
Ameera menyalami Safa dan beberapa orang yang berada dalam jangkauannya.
Safa tersenyum melihat tingkah anaknya yang tertegun melihat penampilan sempurna Ameera. Dia melongo dan matanya tidak kedip menatap Ameera. Dari wanita itu keluar dari kamarnya, sampai sekarang Ameera sudah duduk, mata elang Farhan masih enggan untuk melepaskan sasarannya itu.
Begitu juga dengan Dion, matanya juga enggan berkedip karena sibuk memandangi keindahan mantan istrinya yang sebentar lagi akan menjadi calon istri orang lain.
Saat Ameera masih bersama dengannya, dia tidak pernah melihat Ameera secantik itu. Gimana mau lihat, diurusin aja kagak, wkwk.
Pesona yang ditebarkan oleh Ameera membuat semua orang takjub. Sekarang dia bagaikan matahari di tengah awan mendung, menjadi pusat perhatian semua orang.
"Hem!" Fahri sengaja berdehem. Membuat dua orang yang matanya nyaris keluar dari sarangnya itu menoleh ke arah lain dengan gurat wajah merona. Entah merasa malu karena ketahuan sibuk memandangi keindahan ciptaan Allah itu, atau memang karena matanya yang sudah mengeluh dan meminta melihat ke arah lain.
"Farhan, ingat ya ... kalau kamu memandanginya seperti tadi, itu masih dosa buat kamu," bisik Fahri.
"Iya, aku tahu," jawab Farhan dengan bisikan juga.
"Farhan, laki-laki itu siapa?" tanya Fahri menunjuk ke arah Dion menggunakan tatapan matanya. "Sedari tadi, dia terus saja memandangi Ameera," timpal Fahri.
__ADS_1
Farhan mengikuti arah pandangan mata Fahri yang ternyata tertuju pada Dion. Memang benar, Dion masih saja menatap Ameera lekat. Membuat perasannya bergemuruh tak terima. Merasa kepemilikannya terancam.
"Dia mantan suami Ameera," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan elangnya pada Dion.
"Oh." Fahri menganggukkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan, "jadi, kamu akan melepaskan Ameera begitu saja?" tanya Fahri sambil membagi arah pandangnya, antara Farhan dan Dion.
"Tidak. Aku akan berusaha untuk membuat Ameera mencintaiku. Tapi, jika Allah SWT belum mengizinkan perasaan cinta Ameera berlabuh di hatiku, aku akan mengembalikan semua keputusan akhir pada Ameera," jawabnya lugas yang tak berniat mengingkari janjinya pada Ameera.
Fahri menepuk bahu Farhan. "Aku yakin kamu mampu," ucapnya.
Fahri tahu segala hal mengenai Farhan. Bagaimana dia mencintai Ameera, sakit hatinya Farhan saat Ameera menikah dengan orang lain dan bagaimana dia memperjuangkan kembali perasaannya yang seolah tak pernah pupus. Masih sekuat batu karang, yang tak akan retak meski dihantam berkali-kali oleh ombak yang semakin lama semakin besar. Perasaan itu sudah tumbuh sedari mereka kecil. Farhan yang terkesan dingin, takut untuk mengungkapkan perasaannya pada Ameera, sahabatnya.
Sampai akhirnya, Ameera dekat dengan orang lain dan menikah dengan orang lain. Membuat perasaan Farhan hancur. Dia sempat ingin melupakan Ameera. Tapi entah mengapa, cintanya tak pernah lekang oleh waktu.
Meskipun Farhan dan Fahri sering bertengkar kecil dan bertentangan pendapat. Namun, disela-sela waktu senggang, mereka akan quality time berdua dan saling menumpahkan keluh kesah masing-masing.
Mereka tetap saling menyayangi, karena menurut mereka, tidak ada yang lebih baik dari pada saudara kandung.
"Ya benar, di sini memang ada sekuntum bunga mawar yang sedang mekar dan harumnya menebar kemana-mana. Duri dan tangkai sudah mengizinkan untuk Nak Farhan memetik bunga mawar kami. Semoga, Nak Farhan dapat menjaga dan merawat bunga itu agar selalu mekar dan memancarkan kesegarannya. Jangan membiarkan bunga itu layu," balas perwakilan keluarga Ameera.
"Kalau begitu, sebagai tanda kami telah meminang bunga mawar ini, kami akan menandainya dengan sebuah cincin. Agar kelak, tak ada lagi kumbang lain yang datang dan memintanya," tutur dari perwakilan keluarga Farhan.
Semua orang mengangguk termasuk Ameera. Dia sedari tadi hanya menundukkan wajahnya karena jantungnya tak henti-hentinya berdebar kencang.
"Silahkan ... Tapi, menurut adat kami, yang memakaikan cincin untuk si wanita, haruslah Ibunya," jelas sang tokoh agama. Sebenarnya, keluarga Safa sudah tahu, karena mereka juga pernah tinggal dalam kawasan ini. Itu dikatakan hanya untuk pemanis bibir saja.
Dalam adat Aceh, biasanya, yang memakaikan cincin kepada si wanita memanglah Ibu dari si laki-laki. Bahkan sebenarnya, si laki-laki tak dibolehkan datang, jika ingin mengadakan sesi foto-foto, biasanya si laki-laki akan datang setelah keluarganya pulang. Barulah ia datang.
__ADS_1
Dan yang memakai cincin hanya si wanita saja, tidak untuk keduanya. Namun, semua kembali lagi, walaupun masih sama-sama Aceh, tapi adat juga akan berbeda-beda. Apalagi, sekarang adat istiadat sudah tercampur dengan kebiasaan modern.
Safa mulai menyematkan cincin di jari manis Ameera. Cincin berlian berwarna merah itu seolah memanjakan mata setiap orang yang melihatnya.
"Alhamdulillah," ucap mereka bersama-sama setelah Safa selesai memakaikan cincin untuk Ameera.
Safa langsung memeluk Ameera dan menciumi pipi Ameera kanan dan kiri. Dia merasa sangat bersyukur karena akan mempunyai menantu yang cantik, baik dan shalihah seperti Ameera.
Namun, dia tidak tahu, alasan awal Ameera mau menerima lamaran Farhan saat itu.
"Sekarang, kita bisa membicarakan tanggal pernikahan mereka."
"Ya, menurut keinginan keluarga kami, pernikahan diadakan seminggu lagi," tutur keluarga Farhan.
Setelah semuanya selesai. Mereka pun berbincang-bincang. Ameera dan Alisa masih duduk bersama dengan Safa dan Niken.
"Mama sangat senang, karena punya menantu seperti kalian. Semoga kalian akur nanti ya," ucap Safa. Tangan sebelah kanannya memegang tangan Niken, dan yang sebelah kiri memegang tangan Ameera.
"Iya, Ma," jawab Ameera seraya tersenyum.
Niken tak menjawab, dia hanya memberikan senyuman sebagai jawabannya.
"Minggu depan, kamu sudah sah menjadi istri Farhan. Semoga kalian bisa rukun dan tetap langgeng sampai maut memisahkan kalian," ujar Safa lagi yang tak henti-hentinya mengucapkan harapan-harapan baik yang tulus dari lubuk hatinya.
"Insya Allah, Ma. Jika Allah mengizinkan, kami pasti selalu bersama." hanya itu yang bisa dijawab Ameera. Dia tidak mau membuat Safa terlalu banyak dengan hubungannya dan Farhan. Karena, semua takdir itu ditentukan oleh Allah SWT dan masih rahasia-Nya.
Dukung terus karya ini dengan tinggalkan jejak like, komentar gift dan vote
__ADS_1
Berikan juga rate 5 ya
Terima kasih❤️❤️❤️