
"Sampai kapan kamu mau seperti ini terus? Papa sudah tahu tentang pernikahan kamu dan Ameera ini. Dan Papa tau dari orang lain. Jujur saja, Papa sangat kecewa terhadap kamu!" hardik Kenzo yang memang terlihat sangat kesal dan memendam amarah.
Farhan tertegun. Dia kembali melihat ke arah Dion dan Erlin yang duduk berdampingan, masih tersenyum samar penuh intrik. Sudah dapat dia pastikan kalau Papanya pasti tahu dari mulut mereka.
Matanya beralih menatap Ameera yang sejak tadi masih diam dan menundukkan kepalanya.
"Farhan!" bentak Kenzo yang telah menaikkan intonasi suaranya. "Jelaskan pada kami semua, apa maksud kalian? Mau mempermainkan orang tua?" Kenzo kembali menghardik, memaksa anaknya untuk segera buka suara.
"Maaf, Pa...." ucap Farhan dengan suara pelan dan bergetar.
"Maaf? Untuk apa? Memangnya apa yang telah kamu lakukan sehingga kamu meminta maaf?" Kenzo kembali menuntut.
Farhan terdiam, dia bingung mau mulai menjelaskan dari mana. Pikirannya sedang berkelana menyusun kata yang pas agar semuanya tetap akan baik-baik saja.
"Farhan, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi," ujar Arman yang kini ikut bicara.
Farhan mendongak, menghela nafas panjang sebelum angkat bicara.
"Memangnya apa yang sudah Papa dengar dari mereka?" tanya Farhan pada Kenzo.
Mendapat pertanyaan seperti itu Kenzo berang, dia berdiri berkacak pinggang. Menatap Farhan dengan tatapan mata api yang menyala-nyala.
"Kamu dan Ameera menikah Muhallil? Hanya agar mantan suaminya itu bisa kembali padanya? Kenapa? Apa karena kamu merasa kasihan pada Ameera? Tapi, kenapa kamu tidak kasihan dengan dirimu sendiri, Farhan? Setelah mereka kembali, bagaimana dengan kamu? Luntang-lantung seperti lutung yang ditinggalkan cinta?" pekik Kenzo yang ikut meluapkan semua emosinya. Genderang telah ditabuh membangkitkan semangatnya.
"Dan apa kamu tahu hukum pernikahan kalian itu haram! Kalian dosa!" imbuh Kenzo yang tak henti-hentinya menyerang Farhan yang sejak tadi masih diam mendengarkan.
Ameera ikut diam, setetes demi setetes air matanya luruh membasahi ujung hijabnya. Peluh ikut membasahi tubuhnya, hanya usapan dan kata-kata tenang dari mulut Alisa yang menemaninya dari rasa ketakutan. Namun, itu semua juga belum mampu membuat dirinya tenang.
__ADS_1
"Pa, bisakah mendengar penjelasan Farhan terlebih dahulu?" seru Farhan memohon.
"Pa, duduklah agar amarah itu mereda. Jika masih belum mereda, maka berbaringlah! Jika amarah itu masih membakar diri, maka lekaslah berwudhu. Kemudian dengarkan penjelasan Farhan," ujar Safa pada Suaminya.
Kenzo membanting dirinya di samping Safa, Safa ikut mengusap-usap punggung suaminya agar emosi pria itu cepat meredam. Kenzo duduk dan mengatur nafasnya berulang kali sambil membaca taawudz. Dan cara itu benar-benar berhasil.
"Kenapa diam? Kamu pasti tidak tahu cara menjelaskannya karena apa yang kami katakan itu benar, kan? Sudahlah Farhan, lebih baik mengaku saja! Lebih baik segera ceraikan Ameera dan kembalikan dia padaku seperti janji awal," sambar Dion berusaha memojokkan Farhan.
Farhan hanya memicingkan matanya, tak memperdulikan ocehan Dion yang menurutnya tak penting. Yang terpenting adalah menjelaskan pada Kenzo.
Melihat Kenzo yang mulai tenang, Farhan mulai menjelaskan.
"Yah, awalnya memang seperti itu. Namun, tujuan kami menikah bukanlah agar Ameera bisa kembali pada mantan suaminya. Dan Farhan bersedia menjadi suami Ameera hanya didasarkan pada satu alasan, Pa."
Farhan terdiam, belum melanjutkan ucapannya. Membuat semua orang menunggu dengan tidak sabaran.
"Karena Farhan memang sangat mencintai Ameera. Dan kalian juga tahu itu!" lanjutnya, sungguh dia tidak menginginkan pengakuan cinta yang terdesak seperti ini.
Ameera mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya tertunduk. Dia membeliakkan matanya menatap Farhan dengan tatapan tak biasa. Hatinya ikut bergemuruh, dan bercampur aduk. Perasaan sedih, senang dan terharu sedang bergelut memperebutkan posisi tertinggi. Namun, seutas senyuman samar terbingkai di bibir Ameera.
Ameera terus memperhatikan wajah Farhan yang tak kunjung menoleh padanya. Tatapan laki-laki itu hanya tertuju ke depan. Padahal, setelah mengatakan hal besar itu, perasaan Farhan berubah menjadi gamang dan penuh ketakutan.
Aku sudah menyatakan perasaanku disaat seperti ini. Bagaimana jika Ameera marah dan tak menerima perasaan ini? Akankah hubungan kami harus berakhir hari ini disituasi yang sama sekali tak pernah aku bayangkan? Tapi, jika itu kehendak-Mu, aku sebagai hamba hanya bisa menerima takdir-Mu dengan ikhlas.
"Kamu mencintai Ameera?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Dion yang tak terima.
Wajah Erlin yang sejak tadi tersenyum beringsut mengetat karena marah, kecewa.
__ADS_1
"Mas, kamu mencintai Ameera?" tanya Erlin yang ikut mengeluarkan suaranya.
Farhan tak menggubris, bahkan tak melirik.
"Aku mencintai dia jauh sebelum Dion datang. Mencintainya dengan segenap jiwa. Aku menikahinya berniat untuk menjalani dan membina rumah tangga bersama Ameera, bukan agar dia kembali pada Dion!" Farhan menjelaskan itu dengan tegas.
"Aku tahu, cintanya yang utuh sudah berlabuh dilain hati dan cinta suci itu takkan terbagi pada dua dermaga. Aku hanya sedang menunggu kemungkinan hatinya bersedia untuk berpindah ke dermagaku. Karena aku yakin Allah SWT akan memberikan yang terbaik sebagai hasil dari kesabaranku!" tandas Farhan.
"Sudah sangat lama ... kenapa kamu tidak mencari penggantiku yang pastinya bisa mencintaimu, Mas?" ucap Ameera dengan suara tertahan.
Farhan membeliak menatap Ameera, tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Merasa, mungkin inilah waktunya untuk mereka mengambil jalan terbaik.
Farhan hanya mampu menggelengkan kepalanya perlahan, tak mampu untuk berucap apapun maupun menyangkal. Semakin dia memaksa mengeluarkan suara, maka air matanya semakin ingin turun. Sebegitunya ia menyayangi istrinya itu.
"Banyak wanita yang datang padamu yang tentunya bisa menggantikan Meera. Namun, kenapa kamu enggan untuk membuka hati dan lebih memilih menetap? Padahal ... kamu tahu cintaku bukanlah untukmu," ujar Ameera dengan kepiluan yang mendalam.
"Itulah cinta, memang sangat bodoh...." Farhan menertawakan dirinya sendiri.
"Sudahlah, untuk apa banyak-banyak drama. Lagi pula tidak ada gunanya kalau kamu yang hanya mencintai Ameera, terlalu lama pasti membuatmu jengah, kan? Aku juga mencintaimu, Mas! Bukalah hatimu untukku. Ameera tak mencintaimu, biarkan dia memilih jalannya sendiri!" tukas Erlin mengajukan dirinya.
Safa menatap tajam ke arah Erlin, dia sangat tidak suka dan memandang rendah wanita yang menyuguhkan dirinya pada pria. Apalagi pada anaknya, sangat memuakkan di matanya.
"Kata siapa? Kata siapa aku tidak mencintai suamiku?" tanya Ameera tegas, terlihat dia sedang tidak main-main.
Berikan dukungan berupa like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih karena sudah bersedia memikirkan memberikan dukungan❤️❤️❤️