
Dan..
Cup...
Farhan mengecup bibir Ameera sekilas. Dengan wajah memerah dan bibir yang masih gemetaran, Farhan menatap wajah Ameera yang masih tercenung. Sampai akhirnya Ameera terkejut dengan suara Farhan.
"Meera, Mas pergi sekarang," ucapnya.
"I-iya, Mas. Hati-hati," sahut Ameera gagap sambil melambaikan tangannya mengiringi langkah suaminya.
Setelah tubuh Farhan hilang dari pandangan mata Ameera, wanita itu kembali menutup pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Membereskan meja makan dan dapurnya.
Setelah selesai mengerjakan itu semua, Ameera menuju balkon kamarnya. Melihat pemandangan pagi disekitarnya yang sangat menyenangkan matanya. Ameera menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih sangat asri meskipun dia berada di ibukota.
Nada dering ponsel Ameera berbunyi, dia melihatnya dan tertera nama Dion di layar benda pipihnya.
Ameera menjawab panggilan itu, takut kalau ada sesuatu yang penting.
"Assalamu'alaikum, ada apa, Mas?" tanya Ameera membuka percakapan.
"Tidak ada, Aku hanya merindukanmu saja," jawab Dion yang tersenyum setelah mendengar suara Ameera.
"Maaf, Mas. Aku sedang sibuk. Jadi, kututup dulu, ya?" alibi Ameera yang mulai menjaga batasan. Mulai menarik garis antara dirinya dan laki-laki lain.
"Ameera, jangan tutup dulu telponnya. Aku masih ingin bicara denganmu dan mendengar suaramu," ucap Dion cepat menyanggah Ameera yang mau memutuskan sambungan telepon mereka.
"Tapi aku masih banyak pekerjaan, Mas."
"Ya sudah, Aku ke rumah kamu ya? Biar aku juga bisa sekalian melihat kamu tanpa mengganggu pekerjaanmu," ujar Dion serius.
"Aku sedang tidak ada di rumah," ucapnya.
"Lalu, di mana?" tanya Dion.
"Skotlandia bersama Mas Farhan," jawab Ameera.
"Skotlandia?" tanya Dion lagi memastikan. "Yang benar saja kamu Ameera. Untuk apa kamu di sana? Bulan madu?" tambahnya lagi.
"Mungkin saja," Ameera hanya menjawab sekenanya.
"Ameera, kenapa sekarang kamu sudah berubah? Kamu tidak lagi seperti Ameera yang kukenal dulu," ucap Dion begitu frustasi.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Kita memang harus menjaga batasan. Sekarang aku telah menjadi istri dari Mas Farhan," tutur Ameera. Entah bagaimana suasana hatinya sekarang uring-uringan tidak jelas.
"Ameera, kamu tidak lupa kan apa tujuan awalmu menikah dengan dia? Agar bisa kembali padaku!" ucap Dion menuntut.
"Sekarang kalian sudah menikah, lakukan lah malam pertama kalian. Setelah itu, bercerailah darinya dan kembali padaku. Aku di sini masih menunggumu, Ameera. Aku masih sangat mencintaimu, aku sangat menyesal dengan yang pernah kulakukan padamu," keluh Dion meringis.
Ada keresahan dalam hati dan pikirannya, takut Ameera, wanita pujaannya tak bisa menepati janji awalnya. Keresahan dalam hatinya seakan menjadi-jadi tatkala melihat sikap Ameera yang mulai berubah padanya, menjauh dari sisinya dan seperti mulai memeluk harapan baru.
Ameera memejamkan matanya, menghirup banyak-banyak oksigen yang tersedia disekitarnya. "Assalamu'alaikum," ucap Ameera dan langsung mengakhiri sambungan telepon mereka secara sepihak.
"Ameera, halo Ameera, kenapa kamu tidak bicara?" Dion melihat ponselnya, ternyata sambungan telepon mereka sudah diputus begitu saja oleh Ameera.
"Sial!" Dion membanting ponselnya di meja kerjanya, hingga menyita banyak perhatian teman-teman kantornya. Namun, Dion sama sekali tak menggubrisnya tatapan tajam mereka yang merasa terganggu itu, dia hanya fokus memikirkan Ameera.
"Dion, kau mau ke mana?" tanya temannya saat melihat Dion sudah beranjak dari kursi kerjanya.
"Bukan urusanmu!" balas Dion dengan wajah kesal.
"Selesaikan dulu pekerjaanmu, lusa kita ada rapat dengan atasan!" pekik teman Dion. Tapi dia tak memperdulikannya, dia berjalan lurus tanpa mempedulikan siapa pun.
"Lihatlah, semenjak menjadi manager dia sangat sombong. Akhir-akhir ini pekerjaannya juga tidak pernah bagus. Aku heran, bagaimana bisa dia berhasil menduduki jabatan penting itu?" cibir teman-temannya yang kesal dengan sikap Dion yang sering semena-mena.
TIN TIN
"Assalamu'alaikum, Ameera?" ucap Dion dari balik pintu yang tertutup rapat.
Pintu terbuka, terlihat wajah jutek Alisa menyambut kedatangan Dion, membuat Dion mengerutkan dahinya sambil celingak-celinguk ke dalam seperti sedang mencari sesuatu.
"Waalaikumsalam, ada apa?"' ketus Alisa.
"Di mana Ameera?" tanya Dion yang kini telah menatap Alisa.
"Kak Ameera pergi ke Scotlandia!" sahut Alisa malas.
"Yang benar saja?" tanya Dion dengan raut wajah tak percaya.
"Kalau tidak percaya ya sudah. Mas Dion pulang saja sana, aku capek mau tidur!" seru Alisa sambil menarik handle pintu dan mau menutupnya. Tapi langsung dicegah oleh Dion.
"Sebentar! Kapan Ameera pulang?" tanyanya lagi.
"Aku tidak tahu. Lagi pula, kenapa sih Mas Dion ini masih saja suka ngurusin urusannya Kak Meera? Kak Meera sudah menikah dengan Mas Farhan, jangan ganggu istri orang dong!" cetus Alisa sengit.
__ADS_1
"Ckck!" Dion berdecak kesal. "Dia memang sudah menjadi istri Farhan. Tapi, dia adalah calon istriku, karena sebentar lagi mereka akan bercerai dan Ameera akan kembali menjadi istriku!" ucapnya.
"Memangnya Mas Dion yakin? Kak Ameera masih mau balikan sama kamu?" cibir Alisa.
"Yakin, kami kan masih saling mencintai," jawabnya.
"Memangnya yakin, kalau Kak Ameera tidak akan jatuh cinta pada suaminya yang sekarang? Kalau aku sih tidak yakin. Apalagi, Mas Farhan itu baik sekali pada Kak Meera," cerocos Alisa agar Dion segera pergi dari sana.
Dion tampak tercenung mendengar penuturan Alisa. Dia seperti sedang memikirkan setiap ucapan-ucapan Alisa.
"Sudahlah, lebih baik lepaskan saja Kak Ameera. Biarkan dia bahagia bersama Mas Farhan. Bukankah ada orang yang mengatakan, kalau cinta itu tidak harus memiliki!" imbuhnya lagi menyindir.
"Tidak. Aku tetap akan menagih janji mereka. Karena pada dasarnya, Ameera memang lah milikku dan terlahir menjadi jodohku!" kekeh Dion kemudian meninggalkan Alisa yang melihat kepergian Dion dengan cibirannya.
"Dasar keras kepala! Terserah kamu saja."
Kini Dion sudah berada di dalam mobilnya, dia mengepalkan tangan karena perkataan Alisa tadi. Itulah ketakutan dalam dirinya. Namun, jika itu sampai terjadi, mana mungkin dia akan berdiam diri.
"Aku tidak akan membiarkan itu terwujud. Ameera hanyalah milikku, jadi hanya boleh untukku!" kecamnya kesal.
**********
Di lain tempat, Ameera baru saja selesai memasak makan malam. Dia membuat makanan kesukaan Farhan. Setelah semuanya selesai, dia mandi untuk membersihkan dirinya.
Ameera duduk di depan cermin hiasnya, menyisir rambutnya perlahan sambil sesekali melirik ke arah jam dinding yang seakan begitu cepat berputar.
Agar tak terlalu bosan menunggu, Ameera menghidupkan tivi, namun malah dirinya diserang kantuk.
"Hah...." Ameera menguap. "Ngantuk sekali," ujarnya sambil menutup mulut. Dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ia duduki. Berniat mengistirahatkan dirinya sebentar sambil menunggu kepulangan suaminya.
"Assalamu'alaikum," ucap Farhan setelah masuk ke dalam rumah. Dia melihat Tivi yang masih menyala, dan matanya juga menangkap sosok Ameera yang sedang tertidur.
"Apakah dia menungguku, kenapa bisa tidur di sini?" gumamnya.
Sebelum mengangkat Istrinya ke kamar, Farhan minum terlebih dahulu. Saat dia di dapur, dia kembali melihat beberapa jenis makanan kesukaannya yang sudah dingin tanpa tertutup tudung saji.
"Sepertinya dia memang benar-benar menungguku," ucap Farhan lirih.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya ya.
Berikan juga rate 5 ya Shay....
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️