Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Merasai


__ADS_3

Apa lagi sekarang? Kenapa Ameera berubah sampai sejauh ini? Jika memang hormon kehamilan atau tanda-tanda menstruasi, apakah setiap wanita yang sedang hamil dan kedatangan tamu bulanan juga akan tidak tahu malu seperti ini?


"Mas, kenapa termenung? Suapi Meera!" pintanya manja namun memerintah.


Farhan menurut, dia mengambil alih mangkuk buah dari tangan Ameera. Menusuk buah dengan garpu dan menyuapkan untuk Ameera.


Ameera memperhatikan Farhan yang sangat telaten dan sabar saat menyuapinya. Meskipun mungkin diantara mereka belum ada ikatan sebuah cinta, namun perlakuan Farhan yang seperti ini cukup mendebarkan jantungnya.


Sepertinya aku sudah bisa memastikan tentang perasaanku sendiri. Aku memang sudah jatuh cinta padanya. Jika Mas Farhan memang belum mencintaiku, biarlah aku yang duluan mencintainya dan mencari keridhaan Allah SWT.


Saat suapan itu masih dilayangkan oleh Farhan, Ameera menolak garpu buah yang sedikit lagi masuk ke dalam mulutnya. "Sudah, Mas. Meera sudah kenyang," ucapnya.


Untuk memastikan perasaanku pada Mas Dion, sepertinya aku harus menemuinya secara langsung. Namun, karena setengah perasaanku telah aku bagi, mungkin perasaanku untuknya telah memudar.


"Mas, ayo kita tidur!" ajak Ameera yang sudah mengaitkan jemari mereka.


Farhan masih diam terpaku, dalam dua hari ini dia sangat sering dibuat syok dengan tingkah-tingkah Ameera yang tidak seperti biasanya.


"Kamu sudah mengantuk?" tanya Farhan dengan menautkan alisnya.


Ameera menganggukkan kepalanya, "Shalat isya dulu, kan, Mas? Setelah itu baru kita tidur," ujar Ameera.


"Baiklah," jawab Farhan yang terlihat pasrah.


Saat Farhan dan Ameera sudah berdiri dan akan melangkah menaiki anak tangga, tiba-tiba telepon rumah mereka berbunyi.


Farhan melangkah cepat dan langsung menjawabnya, "Halo?" sapa Farhan.


Ameera berdiri di samping Farhan, dia ikut menempelkan telinganya di telepon itu juga.


"Farhan, entah sudah berapa kali Mama menghubungi ponselmu dan Ameera, tapi tidak ada satupun dari kalian yang menjawab panggilan itu!" cecar Safa dengan nada yang terlihat sangat kesal.


"Benarkah?"


"Lalu, kamu menganggap Mama sedang berbohong?" bentak Safa lebih keras.

__ADS_1


"Bukan begitu, Ma. Ponsel Farhan dan Ameera berada di dalam kamar, dan kami sedang menonton Tivi di bawah," ucap Farhan menjelaskan.


"Sudahlah, Mama hanya ingin memberitahukan kalau lusa Papa akan berangkat ke Paris. Fahri, Niken dan Lisa sedang berlibur di Jerman. Jadi, apa boleh kalau Mama mengungsi ke rumah kamu?" tanya Safa dengan nada merendah.


"Untuk apa Mama minta izin seperti itu? Datang saja, Ma! Ameera juga pasti akan senang kalau ada Mama di sini," sahut Farhan, Safa langsung tersenyum mendengar ucapan Anaknya.


Setelah berbincang sebentar, Farhan meletakkan teleponnya ke tempat semula, bertanda kalau sambungan panggilan telah berakhir.


"Ada apa, Mas? Meera sudah menempelkan telinga ke situ, tapi tetap saja tidak mendengarkan apa-apa. Suara Mama terlalu kecil," tanya Ameera penuh penasaran, wajahnya penuh tanda tanya.


"Kecil?" Farhan mengulangi kata itu dengan alis terangkat. "Lusa Mama akan menginap di sini untuk beberapa hari, karena Papa akan pergi ke Jerman. Papa juga akan ikut mengantar dan menginap satu hari di sini, setelah itu baru pergi," jelas Farhan.


Garis bibir Ameera langsung melengkung membentuk senyuman. Dia spontan memeluk Farhan. Farhan juga ikut tersenyum, merasa senang karena Ameera dapat menerima kehadiran Ibunya di rumah mereka.


"Lusa, Mas?" tanya Ameera lagi mendongakkan wajahnya.


"Iya, Meera," jawab Farhan. Ingin sekali ia mengecup puncak kepala istrinya, namun sayang keberaniannya tak sebesar itu.


"Ya sudah, ayo kita masuk, Mas." ajak Ameera.


...*****...


Farhan dan Ameera sedang berada di meja makan, seperti rutinitas biasanya. Mereka masih menyuapi makanannya masing-masing ke dalam perut dan turun ke perut.


"Meera, hari ini kamu ada kegiatan lain? Mau jalan-jalan lagi?" tanya Farhan, dia membersihkan mulutnya dengan tissue.


Ameera tak langsung menjawab, dia tampak seperti sedang berpikir. Dan setelah itu, dia langsung menganggukkan kepalanya berulang.


"Ada, Mas. Hari ini rencananya Meera mau berjalan-jalan di sekitaran mall, sekalian membelikan beberapa perlengkapan dapur agar besok bisa masak bersama dengan Mama," ucap Ameera merinci kegiatan yang telah direncanakannya hari ini. Namun, ada satu rencana yang tidak ia katakan.


Sambilan bertemu dengan Mas Dion dan memastikan perasaanku yang sebenarnya sudah sampai ke tahap apa padanya. Jika memang rasa cinta yang kupunya telah memudar, maka aku akan segera mengakhiri ini semua.


"Ya sudah." Farhan mengeluarkan kartu ATMnya dan memberikannya pada Ameera. "Belanjakan apa saja yang kamu mau, itu milik kamu. Jika masih kurang, langsung hubungi Mas," ucap Farhan.


Ameera tersenyum, hatinya menghangat karena dia merasa sangat dihargai oleh Suaminya.

__ADS_1


Ameera kembali mencium tangan Farhan, setelah laki-laki itu pergi, dia masuk ke dalam rumah.


Jarum jam sudah menunjuk ke pukul sebelas, Ameera langsung bersiap-siap untuk pergi ke mall. Dia sudah menghubungi Dion dan mengajak pria itu untuk bertemu. Dengan senang hati Dion menerima ajakan Ameera.


"Mang, ayo antarkan Meera ke pusat perbelanjaan di jalan seruni, ya!" pinta Ameera yang hanya mendapatkan anggukan dari sang supir.


Sesampainya Ameera di parkiran, dia berpesan pada Mang Kardi. "Mang, kalau mau menunggu di sini boleh. Kalau mau pulang atau jalan-jalan dulu juga boleh. Yang penting, saat Ameera telepon nanti Mang Kardi segera datang, ya?" tukasnya.


"Baik, Nyonya."


Ameera turun dari mobil, dia mulai mencari keberadaan cafe tempat dia dan Dion membuat janji temu. Cafe itu berada di lantai satu dan cafe itu adalah tempat favorit dirinya dan Dion saat sebelum menikah dulu. Karena sudah lama tidak bertemu, Ameera sedikit lupa dengan letaknya.


"Ameera!?" panggil Dion saat Ameera telah berada di pintu masuk. Dia melambaikan tangannya dengan senyuman yang begitu mengembang sempurna.


Berkebalikan dengan wajah Ameera, wajah wanita itu tampak datar, tak menampakkan barang seutas pun senyuman yang berarti untuk Dion. Laki-laki itu menyadarinya, namun tak terlalu memperdulikan raut wajah Ameera, Ameera mau mengajaknya bertemu secara pribadi seperti ini sudah membuatnya senang.


Ameera duduk di kursi di hadapan Dion, dia terus menatap wajah Dion tanpa kedip namun tetap bungkam. Sikap Ameera yang seperti itu membuat Dion salah tingkah.


"Ameera, kenapa di situ? Sini!" Dion menepuk-nepuk kursi di sampingnya. "Bukannya dulu kamu selalu mengambil tempat di sampingku?" ujar Dion lagi.


Ameera hanya diam, tujuannya datang bukanlah untuk bernostalgia dengan sang mantan. Melainkan untuk memastikan perasaannya sendiri, karena dia tak ingin salah ambil langkah nantinya.


Ameera diam karena dia sedang merasai, apakah debaran jantungnya sekuat dulu saat dia bertemu dengan Dion? Apakah hatinya akan berbunga seperti dulu saat dia melihat Dion tersenyum? Apakah dirinya akan tersipu seperti dulu saat berada di samping Dion?


Dan kini Ameera tahu jawabannya, semuanya sudah tak lagi sama. Semua rasa itu, debaran jantung yang kuat, hatinya berbunga saat melihat dia tersenyum, tersipu malu saat berada di sampingnya, rasa itu sudah tak ada lagi. Bisa dikatakan hatinya sudah mati rasa untuk Dion. Namun, saat dia berada di samping Farhan, semua rasa itu kembali muncul.


Dia bukanlah wanita bodoh yang bisa ditipu oleh perasaannya sendiri, sudah dipastikan kalau dia tak lagi mencintai Dion. Tak ada sedikitpun rasa yang tersimpan untuk sang mantan.


"Aku sudah memastikan semuanya, dan hari ini aku akan mengatakan keputusanku padamu," ucap Ameera.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys agar karyaku ini semakin berkembang.


Terima kasih karena sudah berkenan untuk mampir ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2