Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Pulang


__ADS_3

"Mas, apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ameera.


"Tidak ada." Farhan menjawab tanpa melihat lawan bicaranya sedikitpun. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga ia lebih memilih diam.


"Jujur saja, Mas. Apakah Mas Dion kembali meminta kamu untuk segera menceraikan Meera?" pertanyaan Ameera membuat Farhan terkejut, namun dia menutupi semua rasa keterkejutannya itu dan tetap berada dalam mode diamnya.


Melihat Farhan masih diam dan tidak mau menjelaskan apapun, Ameera menghela nafas pelan.


"Mas...?" panggil Ameera lagi. Kali ini dia memegang lengan Farhan agar laki-laki itu mau menoleh padanya.


Tangan Farhan yang disentuh Ameera berpindah memegang puncak kepala istrinya yang ditutupi jilbab itu. Dia mengelus-elus kepala istrinya sambil mengeluarkan senyuman manisnya seperti biasa. Namun, dia masih tidak mengatakan apa-apa.


Setelah beberapa kali mengelus kepala Ameera, Farhan kembali menyetir dan hanya fokus melihat ke depan tanpa menoleh lagi ke arah Ameera yang masih terus menatapnya.


"Mas, kenapa kamu diam seperti ini?" tanya Ameera lagi, dia hanya ingin mendapatkan kejelasan, bukan di diamkan seperti ini.


Farhan diam, tidak menjawab apapun.


Ameera yang kesal mematikan musik yang sedang menyala, dan hal itu menarik perhatian Farhan.


"Mas, kenapa kamu seperti ini? Apa yang sudah dikatakan oleh Mas Dion?" tanya Ameera lagi dengan menatap wajah Farhan lekat.


"Apakah ini semua salahku?"


"Apakah ini semua salah nasibku yang terlalu sial, Mas? Hingga aku diceraikan oleh suamiku dan menikah dengan sahabatku sendiri. Meski tanpa cinta, aku harus menjalaninya. Apakah ini semua kesalahanku?" Ameera bertubi-tubi melayangkan keluh kesahnya, air matanya sudah menganak di pelupuk mata. Siap untuk segera terjun bebas.


"Tapi Meera juga tidak menginginkan hal seperti ini, Mas. Allah SWT yang sudah menggariskan takdir hidupku seperti ini. Aku hanya manusia lemah, Mas. Tidak mampu melawan kuasanya," ucap Ameera dan air mata yang tadinya menganak, kini sudah menerobos bendungan pertahanannya.


"Aku juga ingin hidup bahagia dengan orang yang aku cintai, Mas. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih mencintai Mas Dion, setelah apa yang dia lakukan, entah kenapa cintaku masih tertuju untuknya, aku tidak tahu!" Ameera meluapkan semua isi hatinya, meluapkan semua keluhan yang selama ini telah ia pendam dalam-dalam.


"Mas Farhan, jika kamu merasa menyesal dengan pernikahan kita, maka tinggalkan saja aku."


DEG!


DEG!


DEG!


Mendengar ucapan Ameera yang terakhir, jantung Farhan berpacu sangat cepat. Luruh seketika peluhnya, seketika dia menekan rem dan mobil itu berhasil berhenti mendadak.


Membuat Ameera terkejut dan tubuhnya terhuyung ke depan. Setelah mobil itu benar-benar berhenti, Farhan langsung menarik tubuh Ameera ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Lalu, apakah kamu tidak pernah mencoba untuk mencintaiku barang sedikitpun? Apakah setelah aku melakukan semuanya, kamu masih tetap mencintai Dion? Inilah yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku.


"Meera, maafkan Mas. Mas hanya merasa kelelahan sampai tidak sadar sudah mendiamkan kamu seperti tadi."

__ADS_1


Ameera mencoba mengurai pelukan mereka, namun Farhan malah memeluk tubuh istrinya itu semakin kuat.


"Maafkan aku jika kamu menganggap aku ini egois, Mas. Namun, aku tidak bisa membohongi dirimu dan diriku sendiri dengan berpura-pura mencintaimu. Itu hanya akan menyakiti perasaan kita berdua," jelas Ameera.


Farhan mengangguk dan kembali mengutarakan kata maaf.


Dia ingin mengatakan cinta pada Ameera, tapi mulutnya seolah membeku. Kata cinta itu tak terucap sesuai harapan, keberaniannya belum cukup. Ketakutannya mulai kembali mengudara.


Dia takut Ameera akan merasa terbebani dengan pernyataan cintanya. Merasa kalut dengan perasaan Farhan dan akhirnya menghindarinya dan menjauhinya. Dan Farhan pun tak mendapatkan kesempatan untuk membuat hati Ameera takhluk dan mereka tetap mempertahankan pernikahan mereka.


"Ya sudah, kita sekarang pulang ya!"


Ameera mengangguk, Farhan kembali melajukan mobilnya.


...********...


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Pagi ini, Farhan dan Ameera sedang sarapan, dan sebentar lagi mereka akan berkemas. Hari ini tepas seminggu mereka berada di Skotlandia dan sudah tiba waktunya untuk pulang.


Setelah sarapan, Ameera masuk ke kamarnya dan mengemasi barang-barang mereka. Memasukan semuanya ke dalam koper.


"Sudah selesai semuanya, Meera?" tanya Farhan sambil mengancingkan kemejanya.


"Sudah, Mas. Mas juga sudah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, kan?"


Farhan melihat jam yang terlilit di pergelangan tangannya.


"Meera, waktunya sudah hampir tiba. Ayo kita berangkat sekarang ke bandara."


Ameera ikut mengangguk. Namun, saat tiba di depan pintu, Ameera masih melihat ke dalam seperti sedang mengamati isi ruangan itu.


"Kenapa masih berdiam di situ? Ayo kita bergegas sekarang," ucap Farhan menyadarkan Ameera.


Ameera tersenyum kikuk, ternyata Farhan mendapatinya sedang melihat ruangan itu seakan tak ingin berpisah.


"Meera hanya tidak menyangka waktu akan berlalu secepat ini, Mas. Secepat ini kita harus meninggalkan tempat ini," ucapnya yang masih saja menelisik setiap sudut ruangan yang seminggu ini telah ia tinggali.


"Kenapa? Kamu tidak mau kembali ke Indonesia?" tanya Farhan.


"Bukan, hanya saja ... Meera sudah merasa nyaman dengan tempat ini," sahutnya beralih tatap melihat Farhan.


"Nanti jika ada waktu senggang kita akan mengunjungi tempat ini lagi. Jikalau bisa, kita akan datang bersama keluarga besar kita. Termasuk anak cucu kita nanti," ujar Farhan sambil menatap wajah Ameera.


"Ya sudah. Ayo sekarang kita ke bandara, Mas."

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri koridor hotel. Berjalan beriringan sambil saling menggenggam tangan. Membuat orang bersorak iri dengan keharmonisan yang terlihat.


Tapi sekali lagi, kemanisan di luar, tidak dapat menjamin kalau keseluruhannya juga akan ikut terasa manis.


Selama di pesawat, Ameera hanya memilih memejamkan matanya.


Hampir seharian mereka berada di perjalanan. Akhirnya mereka tiba di tanah kelahiran mereka. Bumi Pertiwi yang sangat asri dan kekayaan alamnya melimpah ruah.


"Ayah sudah tahu kita kembali hari ini?" tanya Farhan sambil menyeret koper mereka. Dengan kaus santai yang digunakannya, membuat penampilannya semakin terlihat mempesona. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya pun membuat wajah tampannya semakin menjadi-jadi. Membuat para wanita yang di lewatinya tak cukup melirik sekali.


Namun, meskipun dilirik oleh banyak wanita, yang bisa menggetarkan hatinya hanyalah Ameera, sang kekasih halal.


"Sudah, Mas. Ayah menunggu kita di rumah," jawab Ameera sambil sesekali melirik ke arah Farhan yang penuh pesona.


"Farhan...!" teriak seseorang memanggil nama Farhan. Tetapi yang melihat ke arah suara bukan hanya Farhan seorang. Ameera pun ikut melihat ke arah suara karena merasa hafal dengan suara itu.


Seorang wanita berlari menghampiri Farhan dan Ameera yang termangu di tempat mereka berdiri.


"Saat bertemu denganmu, kamu sering memakai jas semi formal. Sekarang memiliki keberuntungan bisa melihat kamu memakai kaus seperti ini. Kamu sangat tampan Farhan," puji Erlin dengan menebar senyuman termanis miliknya.


Farhan hanya diam, bahkan kacamata hitamnya masih setia bertengger di batang hidungnya.


"Farhan, kau tidak mengingatku? Aku Erlin. Kita sering bertemu," seru Erlin memperkenalkan dirinya namun Farhan tak menerima uluran tangan Erlin, membuat wanita itu segera menarik kembali tangannya sambil tersenyum kikuk.


Kini Erlin melihat ke sebelah kanannya, terlihat Ameera yang ikut menatapnya juga.


"Kau kenapa bisa bersamanya? Kalian habis dari mana? Berhijab tapi bepergian berdua bersama laki-laki! Sungguh, tak pantas hijab itu melekat di kepalamu!" cibir Erlin sambil menyibakkan rambut panjangnya yang tergerai.


"Kami baru pulang dari Scotlandia, Mbak!" jawab Ameera tetap menyuguhkan senyuman.


"Farhan, kenapa kau tidak mengajakku saja," Erlin merengek manja menggoyang-goyangkan lengan Farhan.


"Maaf, Mbak. Jangan sembarangan sentuh seorang laki-laki."


"Kenapa? Memangnya hanya dirimu saja yang bisa?" sungut Erlin.


"Memangnya salah jika suami istri bepergian?" cetus Ameera membuat Erlin bungkam.


Sial sial sial! Dia sudah berada lima langkah di depanku! Tapi, memangnya kenapa jika dia suamimu. Kalian hanya pasangan sementara.


"Oh? Aku dengar dari Dion, kalian menikah hanya sementara, kan? Hanya untuk membuat dia kembali pada Dion!" ucapnya sambil menyunggingkan senyum smirk.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys...

__ADS_1


Terima kasih untuk setiap dukungan yang telah kalian berikan. Dukungan kalian sangat berharga untuk author ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2