Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
RAHASIA DION


__ADS_3

"Kamu sudah, Sayang?" tanya Farhan.


Ameera hanya menggelengkan kepalanya, terlalu malu untuk menjawab dengan kata-kata. Meski dalam cahaya temaram, Farhan dapat melihat gelengan Istrinya.


"Ya sudah, kita akan kembali bertempur. Mengantarkan kamu ke puncak," bisik Farhan dengan suara parau.


Tanpa aba-aba, Farhan kembali memompa pinggulnya, memacu adrenalin menjadi semakin panas dan tegang. Membuat wanita yang berada di bawahnya menjadi semakin tak terkendali lagi.


Semakin Farhan mempercepat gerakannya, semakin pula Ameera mengeluarkan suara-suara erotis yang menenggelamkan Farhan dalam permainan yang tak ingin ia selesaikan itu.


"Ahh, Mas ... sedikit lagi!" bisik Ameera. Sebenarnya ingin sekali ia berteriak saat merasakan permainan surga dunia itu, namun dia terlalu malu untuk sekedar berteriak. Takut kalau sampai ada orang lain yang mendengar suara-suara memalukan itu.


Farhan semakin mempercepat ritme permainannya sampai Ameera sedikit menolak tubuhnya dan Ameera pun menggelinjang hebat. Menandakan kalau ia telah sampai pada puncaknya.


Farhan mengulas senyum, lalu mengecup kening Ameera. Dia beranjak bangun dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Ameera. Kemudian menghidupkan lampu. Terlihat Ameera sudah masuk ke dalam selimut, bahkan seujung rambutnya pun tak terlihat.


"Meera, mau kamu atau Mas duluan yang mandi?" tanya Farhan yang tengah duduk di sudut ranjang.


"Sebentar lagi sudah mau Maghrib, kalau tidak mandi sekarang bisa-bisa waktu Maghrib kita terlewatkan," imbuh Farhan.


"Meera duluan yang mandi, Mas." Ameera perlahan-lahan membuka selimutnya dan menyembulkan kepalanya keluar. Melihat Farhan dan terkekeh pelan.


Dia melilitkan selimut pada tubuh polosnya kemudian beranjak dan menuju kamar mandi.


Farhan memperhatikan gerak-gerik istrinya sampai wanita itu hilang di balik pintu.


DRRRT DRRRT DRRTT


Ponsel Ameera yang berada dalam tasnya bergetar. Farhan langsung mengambil ponsel istrinya untuk melihat siapa yang menghubungi Ameera. Takut kalau ada sesuatu yang penting namun terlewatkan begitu saja.


"Dion?" gumam Farhan sambil menaikan sebelah alisnya.


Farhan menggeser icon berwarna hijau guna untuk menjawab panggilan itu. Belum sempat Farhan mengucapkan salam, suara Dion yang memekakkan gendang telinga sudah menyembur keluar, Farhan langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Meera, kamu di mana? Ayo kita bertemu sekarang! Ada yang ingin aku berikan untukmu. Aku baru selesai dari acara kantor," ucapnya tanpa jeda.


"Apa begini caramu saat menghubungi istri orang lain? Ckck!" ejek Farhan membuat Dion seketika bungkam.

__ADS_1


"Farhan? Kenapa kau yang menjawab teleponku? Di mana Ameera?" tanya Dion yang langsung mengubah intonasi suaranya. Jika terlihat oleh pandangan mata, raut wajahnya pun mungkin telah berubah datar.


"Tanpa ucapan salam, langsung berteriak-teriak seperti orang hutan. Tidak punya etika!" Farhan kembali mengolok-olok Dion membuat Pria itu jengkel.


"Diam, kau! Aku tidak butuh pendapatmu. Di mana Ameera? Berikan ponselnya pada Ameera!" pekik Dion.


"Kau tidak takut, lama-lama Ameera akan merasa muak dengan sikap angkuhmu itu?" tanya Farhan yang mengandung banyak hinaan di dalamnya.


"Bukankah hal yang wajar jika aku bersikap sombong padamu yang hanya seorang pengangguran belaka? Harusnya kau yang merasa khawatir, bagaimana jika Ameera merasa bosan dengan masa depan surammu itu?"


"Bagaimana kalau aku membuat Ameera jatuh cinta padaku, suaminya?" seloroh Farhan sengaja.


"Terserah kau saja! Kau hanya bisa bercakap besar tanpa ada bukti nyata! Kau lihat, bahkan sampai sekarang pun Ameera masih mencintaiku!" ucap Dion congkak.


Farhan hanya diam saja, tak berniat menjawab ucapan Dion yang menurutnya benar.


"Sudahlah, Han. Lebih baik kau sadar diri sedari sekarang. Sebelum kau jatuh hati pada Ameera. Menurutku, lebih baik kau ceraikan dia sekarang juga, akhiri semuanya di sini!" saran Dion yang sama sekali tak bisa diterima oleh Farhan.


Farhan tersenyum miring, tentu dia kesal dengan penuturan Dion.


Bahkan aku sudah mencintai Ameera sebelum kau menemukannya, Dion!


"Dalam kitabnya yakni Al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair, Imam Al Haitsami menyebutkan jika dosa besar yang ke-257 dan 258 adalah merusak seorang wanita agar terpisah dari suaminya dan merusak seorang suami agar terpisah dari istrinya. Beliau juga mengkategorikan perbuatan dosa ini menjadi dosa yang besar."


"Hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam juga menjadi alasannya, menafikan pelaku perbuatan merusak ini dari bagian umat beliau, dan ini terhitung sebagai ancaman berat. Juga para ulama’ sebelumnya, secara sharîh (jelas) mengkategorikannya sebagai dosa besar dalam Islam. (lihat Al-Zawâjir juz 2, hal. 577)." terang Farhan membuat Dion ternganga.


"Kau sedang menceramahiku?" tanya Dion mendengus marah.


"Jika kau menganggapnya seperti itu juga tidak apa-apa," jawab Farhan enteng.


"Kau! Dasar tidak tahu di--"


Belum sempat Dion meyelesaikan ucapannya, ada yang meneriaki namanya dari arah belakang. "Dion!" dan suara teriakan itu terdengar jelas di telinga Farhan.


"Bu? Kenapa masuk kemari?" tanya Dion yang tak menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Kau masih bertanya? Dengan siapa kau bicara? Kau lihat, sudah jam berapa ini? Kita sudah hampir telat untuk bertemu dengan keluarga Risa, Dion!" pekik Wenda tak sabaran.

__ADS_1


"Bu, menunggulah di luar. Sebentar lagi aku akan menghampirimu," pinta Dion.


"Tidak! Aku tidak akan keluar sebelum kau ikut denganku sekarang!" tolak Wenda tegas.


"Bu...."


"Kau sedang bicara dengan siapa itu? Apakah itu Ameera? Berikan ponselnya padaku!" Dion terhenyak, dia lupa mematikan sambungan teleponnya tadi. Pasti Farhan sudah mendengar semuanya.


Dion buru-buru memeriksa ponselnya, dan dia segera menghela nafas lega saat melihat sambungan teleponnya sudah terputus.


"Kuharap dia tidak mendengar apapun!" gumam Dion.


Kini dia beralih menatap Ibunya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Bu, apakah Ibu tidak bisa menunggu di luar? Aku harus bersiap sekarang!" ujar Dion.


"Tadi kau juga mengatakan itu. Tapi pada kenyataannya kau malah berbicara dengan Ameera!" sungut Wenda kesal.


"Ibu masih ingat, kan, kenapa aku mau bertemu dengan keluarga Risa? Ibu tidak akan pernah lupa, kan?" seru Dion menekankan setiap kata-katanya.


Wenda menghela nafas pasrah. Dia memang sudah mengikat sebuah janji dengan Dion agar anak itu bersedia bertemu dengan keluarga Risa untuk menentukan tanggal pernikahan.


"Tentu Ibu ingat. Setelah kau menikahi Risa secara resmi, kau masih bisa menikahi Ameera secara siri. Tidak diperbolehkan untuk memberitahukan Ameera dan keluarga Risa mengenai hal ini. Itu, kan?" Wenda menjabarkan isi perjanjian yang telah mereka sepakati.


"Ya. Barusan aku sedang menghubungi Ameera. Jika Ibu berbicara seperti itu tadi, bukankah itu artinya Ibu sedang memberitahukannya secara tidak langsung?" ucap Dion yang masih geram pada Ibunya.


Untung saja tadi Farhan yang menjawab panggilanku. Aku juga berharap Farhan tidak akan mendengar ucapanku.


"Sudahlah. Ibu, kan tidak sengaja." Wenda membela diri.


"Ya sudah, tunggulah di luar. Sebentar lagi aku akan menemui Ibu di luar," tukas Dion.


"Baiklah,baiklah. Jangan lama!" kecam Wenda.


"Bagus jika wanita itu mendengar ucapanku tadi. Aku sama sekali tidak peduli dengannya. Yang penting Risa berhasil menjadi menantuku, itu saja! Aku memang membutuhkan seorang menantu yang cocok disandingkan dengan Dion yang seorang manager dan tentunya harus bisa aku banggakan pada dunia," gerutu Wenda.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️


Terima kasih atas semua dukungan yang sudah kalian berikan untuk karya recehku ini ❤️❤️❤️


__ADS_2