
Dia bukanlah wanita bodoh yang bisa ditipu oleh perasaannya sendiri, sudah dipastikan kalau dia tak lagi mencintai Dion. Tak ada sedikitpun rasa yang tersimpan untuk sang mantan.
"Aku sudah memastikan semuanya, dan hari ini aku akan mengatakan keputusanku padamu," ucap Ameera.
Dion mengernyit bingung dengan ucapan Ameera yang tiba-tiba. "Keputusan apa?" tanya Dion yang seolah lupa.
Ameera tersenyum miring menatap Dion kemudian berkata, "kamu lupa? Bukankah hari inilah yang paling kamu tunggu?"
Dion pun tersenyum simpul, tangannya merambat dan menggenggam tangan Ameera yang terletak di atas meja.
"Sudahlah, tidak perlu mengatakan apapun. Aku sudah tahu apa keputusanmu. Jadi, kapan kamu akan menggugat Farhan? Hari ini juga atau besok? Aku akan membiayai semuanya," seru Dion dengan senyuman yang tak henti-hentinya terlukis di wajahnya.
Ameera menarik tangannya dari genggaman Dion, membuat senyuman Dion kian menyurut. Jantungnya pun berdetak cepat, merasakan ada sesuatu yang tak diinginkannya akan segera terjadi.
"Dion, aku memang berkata akan menentukan pilihanku. Tapi, belum tentu aku memilihmu, 'kan?" ujar Ameera dengan wajah datar dan suara dinginnya.
Tubuh Dion bergetar, "Jadi, maksudmu, kamu akan memilih Farhan?" tanya Dion hati-hati. Takut dengan jawaban Ameera.
"Ya, aku memilih Farhan untuk menjadi suamiku. Karena, aku sudah sepenuhnya menyadari perasaan diantara kita telah tuntas sejak kamu menjatuhkan talak padaku!" ucap Ameera tegas yang memang sudah memantapkan hatinya.
"Tidak! Itu tidaklah benar, Ameera! Meskipun mungkin perasaanmu terhadapku telah terhapus, tapi bagaimana mungkin kamu bisa mencintai Farhan dalam waktu secepat ini?" sergah Dion dengan wajah merah padam.
"Dan lagi, dia menikahimu hanya karena ingin membantumu agar bisa kembali padaku, jangan terlalu berharap besar dengan hubungan tanpa rasa kalian!" imbuh Dion, namun Ameera tak bergeming.
"Biarkanlah itu menjadi urusan kami berdua. Yang perlu kau tahu, urusan kira sudah selesai!" Ameera sudah mengambil tasnya dan akan pergi, namun tangannya dicekal oleh Dion.
Ameera menatap pria di hadapannya tajam, sama sekali tak suka dengan sikap lancang yang ditunjukan Dion.
"Duduklah, Ameera! Jika kau masih belum berbicara dengan jelas, aku tidak akan pernah menganggap ucapanmu saat ini serius!" seru Dion.
"Apa lagi yang harus aku katakan padamu? Bukankah semuanya sudah kuperjelas?" sahut Ameera jengah.
"Aku tidak akan pernah percaya kalau hatimu kini telah berganti pelabuhan," sindir Dion.
"Kenapa? Sudah enam bulan kita berpisah, bukankah itu hal yang wajar? Lagipula, aku mencintai suamiku. Bahkan ada sebagian orang yang selalu menyatakan cintanya padaku, tapi dalam waktu itu juga malah menikah dengan wanita lain. Apakah itu juga hanya kepura-puraan!" Ameera menyindir balik.
Dion terkejut, wajah paniknya tak bisa disembunyikan dari Ameera.
__ADS_1
"A-apa yang kau katakan? Jangan menuduhku yang tidak-tidak!" tampik Dion.
"Oh? Hanya Allah SWT dan dirimu lah yang mengetahui kenyataan yang ada," tandas Ameera.
"Dion, kuperjelas sekali lagi. Diantara kita sudah tak tersisa apapun. Seutas benang yang pernah mengikat kita, telah kau putuskan! Jadi, kamu sendiri yang lebih tahu, siapa yang lebih awal mengakhiri ikatan suci diantara kita. Dan kini, aku telah diikat dengan tali yang lebih kokoh oleh orang lain, bahkan perasaanku ikut menyatu di dalamnya. Sekarang, hatiku seutuhnya milik suamiku!" ucap Ameera tegas.
Dion menatap lekat mata Ameera, berusaha mencari sesuatu di dalamnya. Namun, dia tetap tidak menemukan apapun yang bisa meyakinkannya kalau Ameera sedang bercanda.
"Ameera, aku yakin saat ini kau hanya sedang goyah dengan kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh Farhan saja."
"Dion, aku bukan sedang goyah, tapi memang sudah berpindah hati. Allah sudah menggariskan takdir kita masing-masing," ucap Ameera.
"Kenapa Allah tidak adil padaku? Aku selalu berdo'a padanya agar kau bisa kembali ke dalam pelukanku. Tapi, kenapa kenyataannya sangat berbeda seperti ini?" ucapnya kesal.
"Do'amu terlalu kuat, sampai aku tak lagi merasakan hal yang biasa kusebut cinta. Dan perlu kukatakan padamu, bukan pernikahan kami yang akan mempersatukan kau dan aku. Namun, talak darimu lah yang telah mempersatukan aku dengannya. Lain kali, berhati-hatilah dengan ucapanmu sendiri," pungkas Ameera dan langsung beranjak pergi dari sana.
Dion menatap kepergian Ameera tajam, tangannya mengepal erat.
"Kau milikku, Ameera! Memang sudah seharusnya kau tetap berada dalam pelukanku. Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang seharusnya aku miliki! Tunggu aku membuangmu, baru ada yang boleh mengutip bekasmu!" gumam Dion penuh ambisi.
Setelah Ameera pergi, Dion juga memutuskan pulang ke rumah. Dalam perjalanan pikirannya terus bercabang jauh. Berkali-kali dia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk Ameera, namun wanita itu malah memilih meninggalkannya seperti ini.
Sesampainya di halaman rumah, Dion mengambil langkah besar dan masuk ke rumahnya. Berulang kali meneriaki nama Risa, wanita yang baru dua hari ini sudah sah menjadi istrinya.
"Risa! Di mana kamu?" teriaknya seperti orang kerasukan.
"Risa!" teriaknya lebih kencang lagi. Suara teriakannya menggelegar seisi rumah.
"Di mana wanita bajingan itu?!" Dion mengepalkan tangannya geram.
"Risa! Temui aku!" Dion lagi-lagi hanya bisa meneriaki nama Risa.
"Mas, ada apa?" tanya Risa yang baru muncul dari arah dapur, bahkan Appron pun belum terlepas dari tubuhnya.
"Kamu butuh apa, Mas? Aku sedang membuat ku--"
"Ikut aku!" sela Dion dan langsung menarik tangan Risa dan menyeretnya ke kamar.
__ADS_1
Di dalam kamar, Dion menghempaskan tubuh Risa hingga tubuh wanita itu membentur tembok.
"Aww, sakit!" pekiknya sembari memegangi lengannya yang mungkin sudah lebam.
Dion tak memperdulikan keluhan Risa. Dia menutup pintu dengan membanting membuat Risa lagi-lagi terlonjak kaget.
"Mas, ada ap--"
Dion mencengkram kuat dagu Risa sampai wanita itu mengeluh kesakitan dan tak bisa menyelesaikan ucapannya.
"Sakit, Mas! Kamu kenapa?" Risa mengeluh dengan suara tak jelas. Air mata mulai menitik dari sudut matanya.
"Kenapa? Dasar wanita ular! Apa yang sudah kamu katakan pada Ameera, ha?" seru Dion dengan suara rendah. Tangannya terus mencengkram dagu Risa.
"Sss-sakit, Mas!" ucap Risa dengan isakan tangis. Rahangnya seakan mau hancur karena kuatnya cengkraman Dion.
"Jawab!" hardik Dion berteriak, membuat Risa memejamkan matanya.
"A-aku ti-tidak mengerti apa yang ka-kamu katakan, Mas! Bahkan aku ti-dak pernah bertemu den-gan Ameera," jawabnya terbata-bata.
"Bohong!" Dion menghempaskan Risa ke arah ranjang hingga tubuhnya terpental.
"Kau mengadu padanya kalau kita sudah menikah, kan?" hardik Dion.
Risa menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah mengatakan apapun padanya. Bahkan, aku tak pernah lagi bertemu dengannya!" banyak Risa.
Dion melangkah cepat dan....
Plak!
Tangannya menampar pipi Risa hingga meninggalkan bekas lebam biru di sana.
Setelah ditampar, Dion kembali mencengkram dagu Risa.
"Lagi-lagi kau berbohong! Kau tahu, karena ulahmu dia membatalkan rencana rujuk kami!" bentak Dion menatap Risa nyalang.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih karena sudah mau mampir ❤️❤️❤️