
"Insya Allah, Kak. Allah telah memudahkan segala urusanku. Tidak mungkin aku melupakan Tuhan ku." jawabnya dan memeluk Kakaknya senang
******
☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Hari ini, adalah hari pertemuan antara Ameera dan keluarga Farhan. Awalnya, Farhan mengatakan hanya ada orang tuanya, tapi ternyata keluarga besarnya juga ikut untuk melihat Ameera.
"Alisa, apa mungkin, Mas Farhan sudah mengatakan kalau kami akan menikah, ya? Makanya keluarga besarnya juga ikut menemui Kakak?" tanya Ameera dengan tatapan gamang.
"Kenapa kalau Mas Farhan sudah mengabari keluarganya? Bukannya bagus, Kak?" jawab Alisa menghentikan aktifitas yang dilakukannya.
Ameera menunduk, dia tak bisa mengatakan kegundahan hatinya sekarang. Alisa juga tidak tahu apa yang dikhawatirkan oleh Kakaknya itu, karena Ameera enggan untuk berbagi keluh kesah dengan orang lain.
Bukan maksud untuk menyembunyikan atau tidak percaya dengan orang lain, tapi dia hanya tidak mau, keluhannya menjadi beban untuk orang lain.
"Kakak hanya takut, kalau keluarga Mas Farhan tidak dapat menerima Kakak, Lis." ucapnya lirih.
"Astagfirullah, Kak. Kakak kan tahu, Nyonya Safa sangat baik pada kita." Alisa dibuat geleng-geleng dengan pemikiran aneh Ameera.
"Itu dulu, karena Kakak dan Mas Farhan berteman, dan kita juga bertetangga. Tapi sekarang, Kakak menyapa mereka sebagai calon menantunya. Ditambah, Kakak seorang janda, apa mereka bisa menerima?" adunya mengungkapkan rasa gelisahnya.
"Kak, kenapa kamu pesimis? Kita pasrahkan saja semuanya pada Allah. Kita sebagai Mahkluk-Nya, hanya bisa berdoa dan berusaha sebaik mungkin."
Ameera sudah berusaha. Tapi, bayangan-bayangan tentang kilatan masa lalu, kembali membuatnya ragu. Padahal, ia sendiri tahu, tak semua orang akan bersikap sama.
Ameera mengangguk, dia tersenyum dan menyetujui ucapan Adiknya. Ameera segera memasukan cake cokelat buatannya ke dalam paper bag.
"Lis, pesan taxi sekarang." titah Ameera sambil mencuci piring-piring kotor yang tadi dia gunakan untuk buat cake.
"Bukan dijemput oleh Mas Farhan?" tanya Alisa.
"Barusan Mas Farhan mengabari Kakak. Katanya dia tidak bisa menjemput kita karena dia sibuk menjemput keluarga besarnya di bandara. Jadi, kita tidak punya pilihan lain selain naik taxi, kan?" seru Ameera sambil tertawa.
"Benar juga. Aku pesankan sekarang, Kak." Alisa mengotak-atik ponselnya beberapa saat dan menaruhnya kembali.
*******
Mereka sudah berada dalam perjalanan, menuju sebuah cafe bintang lima, tempat mereka janjian untuk bertemu. Selama perjalanan, jantung Ameera tak henti-hentinya berdegup kencang dan tangannya berkeringat dingin. Namun, dia mengalihkan dengan berdzikir agar suasana hatinya tidak terlalu diselimuti rasa gelisah.
"Nona, kita sudah sampai." ucap sang supir taxi, memberhentikan taxinya di depan sebuah cafe yang besar dan mewah.
__ADS_1
"Kak, memang ini tempatnya?" tanya Alisa yang begitu takjub dengan keindahan cafe yang berada di depan mereka.
"Memang ini tempatnya. Sesuai maps." sahut supir taxi tadi.
Ameera dan Alisa turun, namun belum pun mereka melangkahkan kakinya, seseorang meneriaki nama Ameera dari kejauhan. Ameera menoleh, terlihat Wenda yang sedang berjalan bersama seorang gadis cantik di belakangnya.
"Ameera, untuk apa kau datang ke sini? Mau menggait orang yang lebih kaya?" sindir Wenda yang sangat benci pada Ameera.
"Kak, siapa dia?" tanya Alisa berbisik pada Ameera. Jelas Alisa tak mengenal Wenda, karena pada saat pernikahan Ameera dan Dion, Wenda tidak bersedia hadir.
"Dia Ibunya Mas Dion." jawab Ameera.
"Saya ada janji Bu di sini." jawab Ameera apa adanya.
"Cih, janji dengan siapa? Dion? Atau pria tua lain yang lebih kaya dari Dion?!" hardik Wenda. Setiap kali bertemu dengan Ameera, tak pernah manis mulutnya.
"Ini yang kemarin Ibu ceritakan? Kelihatan materialistisnya. Aku heran, kenapa Kak Risa malah baik sama dia." ujar Elin, Adik Risa.
"Hey, jangan berkata seperti itu untuk Kakakku." balas Alisa mengepalkan tangannya.
"Maaf, Bu. Saat sudah harus masuk." pamit Ameera.
"Oh, pria tua kaya itu sudah menghubungi kamu ya? Masuklah, nanti aku katakan pada Dion kalau kamu sudah menemukan penggantinya." celetuk Wenda tersenyum miring.
"Kamu sepakat bercerai karena sudah menemukan pria yang lebih kaya, kan?" hardiknya lagi.
"Jika saya menikah dengan seseorang, memandang hartanya, saya tidak akan mau menikah dengan Mas Dion, yang hartanya cuma sedikit. Harta itu titipan Allah, Bu. Kita tidak berhak menyombongkannya." balas Ameera dengan suara lembutnya.
"Ameera! Dasar wanita tidak tahu diri kamu ya! Sudah beruntung Dion mau menikahi kamu. Tapi kamu malah menghina dia?" maki Wenda berang.
"Ayo, Alisa. Jika kita masih berada di sini, Mas Farhan akan lama menunggu." Ameera menarik lengan adiknya, membawa dia pergi dari sana. Tapi, tangan Ameera malah dicekal oleh Erlin.
"Mau ke mana kamu? Urusan kita belum selesai!" sanggah Erlin melotot ke arah Ameera.
"Mbak, tolong lepaskan. Saya tidak ingin ada masalah dengan siapapun." tegurnya.
"Berani kamu, ya!"
"Ameera!" panggil Farhan yang keluar.
Melihat Ameera berada di antara Wenda dan wanita **** yang tak dikenalinya, mencekal tangan Ameera, Farhan langsung menarik lengan baju Ameera ke sisinya. Membuat tangan Erlin terlepas dari lengan Ameera.
__ADS_1
"Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Farhan lembut.
"Maaf, Mas. Aku masih ada sedikit urusan." jawabnya.
Sial! Tampan sekali dia. Tapi, kenapa malah berdiri di pihak wanita sok suci ini sih! Aku harus segera menunjukkan pesonaku.
"Ehem?" Erlin berdehem.
"Perkenalkan, saya Erlin, adik Kak Risa." Erlin mengulurkan tangannya namun tidak disambut oleh Farhan.
"Siapa dia, Meera?" tanya Farhan tanpa melihat Erlin sedikitpun.
"Tidak tahu, Mas."
"Dan Risa, siapa dia? Apakah temanmu?" tanyanya lagi.
"Aku juga tidak tahu, Mas." jawab Ameera lagi sambil menaikan bahunya.
"Kalau kamu tidak mengenal mereka, kenapa masih di sini? Ayo masuk sekarang. Keluargaku sudah menunggumu." ujar Farhan lembut.
"Memang Masnya tidak tahu, kalau si Ameera ini janda?" sanggah Erlin yang masih merasa tidak terima melihat kedekatan Ameera dan Farhan yang dianggap sebagai pria idamannya dan harus menjadi Suaminya kelak.
Farhan tak menjawab apa-apa, dia hanya melihat tak suka ke arah Erlin yang bersikap tak sopan karena menyela ucapan orang lain.
"Mas, dia itu janda loh. Mantan menantu Ibu ibu. Saat jadi menantunya, wanita ini selalu bersikap kurang ajar." adunya pada Farhan, membuat Ameera berkerut kening.
"Maaf, Mbak. Kita tidak saling mengenal. Jadi, tolong jaga ucapan Anda pada orang lain." ketus Ameera yang tidak suka namanya di jelekkan begitu oleh orang lain yang jelas tak dikenalinya.
"Tapi, yang dikatakan Erlin benar loh. Dia tidak berbohong." sambung Wenda.
Oh, namanya Erlin, aku sudah mengingatnya! batin Ameera. Jika bertemu dengan wanita itu, dia tidak akan menggubrisnya lagi.
"Sudahlah, ayo kita masuk sekarang." ajak Ameera menggandeng lengan Alisa.
Mereka masuk ke dalam, cafe itu ternyata sudah dibooking oleh keluarga Farhan karena keluarga mereka ramai dan agar lebih leluasa untuk mengobrol.
"Ayo, Ibu ada di sana. Kamu pasti merindukan Ibuku, kan?"
"Hum!" jawab Ameera yang masih terbesit rasa ragu dalam hatinya.
"Kenapa berdiri di sini? Ayo kita ke sana sekarang."
__ADS_1
Ameera mengangguk, dia mengikuti langkah Farhan. Tubuhnya tertutup oleh tubuh Farhan yang gagah dan tinggi.
"Ma, Ameera sudah datang." ucap Farhan pada Ibunya. Dan keluarganya yang lain, ikut melihat ke arah mereka.