
"Bagus jika wanita itu mendengar ucapanku tadi. Aku sama sekali tidak peduli dengannya. Yang penting Risa berhasil menjadi menantuku, itu saja! Aku memang membutuhkan seorang menantu yang cocok disandingkan dengan Dion yang seorang manager dan tentunya harus bisa aku banggakan pada dunia," gerutu Wenda.
Wenda berjalan ke arah ruang tamunya. Dia menjatuhkan bokongnya me sofa empuk miliknya dengan santai.
Pikirannya berkelana, sudah mulai membayangkan hidup enak saat Risa telah sah menjadi menantunya nanti.
"Risa orangnya sangat baik, pasti dia akan sering membelikan aku barang-barang mewah," ucapnya sambil berkhayal tak waras.
"Akhirnya aku mendapatkan menantu yang sesuai dengan keinginanku sendiri. Terserah Dion menyukainya atau tidak. Yang penting, Risa akan menjadi menantuku!" ucapnya lagi yang masih terus menyunggingkan senyum puas.
Berisiknya suara sepatu membentur lantai yang dikenakan oleh Dion membuyarkan gambaran-gambaran indah yang sedari tadi menari-nari di atas kepala Wenda. Membuat wanita itu mendengus kesal. Tapi, sejurus kemudian, senyuman bangga langsung terbit di wajahnya.
Memperhatikan penampilan anaknya dari atas sampai ke bawah. Lalu berdiri dengan riang dan menepuk-nepuk pelan pundak Dion. "Kamu lihat, dirimu memang sangat keren dan tampan. Memang sangat pantas bersanding dengan Risa yang sangat cantik. Apalagi, kalian sama-sama orang besar," ucapnya memberikan pujian yang teramat berlebihan pada anak yang selalu dia banggakan itu.
"Bukan dengan wanita itu, sangat tidak pantas!" cibirnya pada Ameera. Entah mengapa, Ameera selalu rendah di mata Wenda yang selalu mementingkan stastus dan kasta. Bahkan, saking hinanya Ameera bagi Wenda, wanita itu tak sudi menyebutkan nama Ameera.
Dion berdecak kesal mendengar ucapan terakhir Ibunya. "Bu, tolong jangan berbicara sesuatu yang menyakiti telingaku!" tegur Dion.
Dengan rasa tak bersalah, Wenda membela diri. "Memangnya kata-kata Ibu yang mana yang telah menusuk telingamu?" sungut Wenda.
"Jangan menghina Ameera lagi, Bu. Ibu ingatkan syarat apa yang telah kita buat?" lagi-lagi Dion mengeluarkan ancaman yang membuat Ibunya mati kutu dan tak punya jawaban untuk membantah ucapan Anaknya itu.
"Ya, ya! Ibu tidak akan mengulanginya lagi!" jawabnya tak rela.
Risa memang sudah mencintai Dion sejak lama. Sejak Dion belum mengenal Ameera, wanita itu sudah memendam rasa pada laki-laki yang sangat sempurna di matanya itu. Tak ayal, dia sering menunjukan perasaannya secara tersembunyi pada Dion yang tak pernah peka.
Karena di mata Dion hanya ada Ameera, gadis sederhana yang telah merenggut hatinya. Rasa penasaran selalu menghantui Dion, membuat laki-laki itu ingin segera menjadikan Ameera sebagai miliknya.
Namun perbedaan derajat yang selalu dinomor satukan oleh Wenda, membuat rencana baik Dion menjadi terhambat. Terlebih, Wenda tahu tentang perasaan Risa yang selalu mendamba penuh harap pada anaknya.
Dengan segala cara dia membuat Ameera dan Dion terpisah meskipun telah mengikat janji pada sang Rabb. Dan kini, setelah gencar memupuk rencananya itu, niatnya telah berbunga dan sebentar lagi akan memberikan hasil buah yang manis. Keberhasilan sudah ada di depan mata, tinggal digapai.
Jadi, segala macam syarat yang diajukan Dion, langsung ia setujui tanpa pikir panjang.
Sekarang, buah manis tinggal ia petik, ia sedang mencari tangga untuk menggapai buah manis yang selama ini selalu ia idam-idamkan.
Sekarang mereka sudah berada di mobil. Dion menyetir mobilnya dengan santai membelah jalanan kota sambil menikmati pemandangan malam. Matanya menatap ke depan namun pikirannya terbang jauh memikirkan istri orang di seberang sana.
Pikirannya sedang berperang, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika pernikahan Farhan dan Ameera tidak segera diakhiri. Dia takut Ameera akan berpindah hati. Sekarang saja, Ameera sudah mulai tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Apakah sebenarnya Ameera sudah mencintai Farhan, tapi dia belum yakin? Atau dia belum menyadari perasaannya sama sekali? Jika benar seperti itu, bukankah aku harus segera menghentikan hubungan ini sebelum berjalan terlalu jauh dan perasaan mereka akan semakin dalam?
Dion kesal dan frustasi, dia memukul setirnya membuat Wenda terjingkat kaget.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Wenda kesal.
"Tidak ada. Maaf, Bu!" ucap Dion tak mengakui.
"Nanti di depan keluarganya Risa, kamu jangan sampai salah bicara. Jangan sampai membuat mereka mengurangi poinnya terhadap kamu. Kamu harus terlihat sangat mencintai Risa, mengerti?" kecam Wenda yang sudah memberikan peringatan di awal.
"Mengerti, itu juga kalau aku bisa melakukannya. Aku tidak janji," jawab Dion kembali mematahkan semangat Wenda.
"Makanya berusaha dong, Dion! Sesekali kamu juga harus menuruti keinginan Ibumu ini," tandas Wenda.
"Aku sudah sering menuruti keinginan Ibu. Memangnya, saat aku menceraikan Ameera, itu permintaan siapa?" sindir Dion yang masih kesal dengan ucapan-ucapan Farhan yang terus saja mengganggu pikirannya.
"Untuk apa kamu masih mengungkit urusan lalu. Nanti, kan Ameera juga akan kembali padamu. Bahkan, kamu mendapatkan bonus istri cantik dan kaya seperti Risa!" bujuk Wenda agar Dion tak membatalkan rencana merek. Bisa gawat kalau itu sampai terjadi. Bisa-bisa mimpinya untuk menjadi orang kaya semuanya lenyap saat itu juga.
"Iya, iya. Nanti aku akan berusaha, Bu. Lagi pula kan hanya makan malam biasa. Untuk apa terlalu berlebihan seperti itu," cetus Dion yang belum mengerti keadaan yang sebenarnya.
"Ah, iya. Ibu lupa memberitahukan padamu. Sebenarnya malam ini kita bukan hanya sekedar makan malam sebagai perkenalan dengan keluarga Risa," tutur Wenda sedikit gugup.
"Malam ini kita bertemu sekalian membicarakan tanggal pernikahan kamu dan Risa!" jawab Wenda mengungkapkan yang sebenarnya.
Mata Dion membulat karena kaget. Dia benar-benar tidak tahu dengan rencana yang ini.
"Bu, apa maksudnya ini? Kenapa lagi-lagi Ibu mengambil keputusan seenaknya saja?" pekik Dion mengeram marah.
"Memangnya kenapa? Sekarang dan nanti bukannya sama saja? Kamu dan Risa akan tetap menikah?" tangkas Wenda.
"Tentu berbeda, Bu. Aku masih harus memperjuangkan perasaanku dengan Ameera!" bantah Dion.
"Kenapa harus pusing, sih, Dion? Kamu, kan, bisa menjatuhkan dua burung dalam satu tembakan," usul Wenda.
Dion terdiam sesaat. Mungkin otaknya masih berpikir.
"Tapi, bagaimana jika Risa tahu masalah ini?" tanya Dion dengan suara pelan.
"Kenapa harus takut? Jika dia tahu setelah kalian menikah nanti, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa selain menerima dengan lapang dada, kan? Risa dan Ameera itu tipe perempuan yang sama, sama-sama lembut dan penurut. Jadi, selama mereka masih sangat mencintai kamu, manfaatkan rasa cinta itu sebaik-baiknya!" tandas Wenda memberikan saran yang sangat brilian untuk Anaknya.
__ADS_1
Dion masih saja terdiam, melihat itu Wenda masih saja merasa tidak puas.
"Agama kita juga tidak melarang poligami, kan? Selama kamu bisa berbuat adil pada keduanya, mereka pasti akan diam saja. Apa lagi, ini masih Risa dan Ameera. Dalam agama kita saja diperbolehkan mempunyai empat orang istri. Jadi, tidak perlu memusingkan masalah ini. Mereka pasti akan mengerti!" imbuhnya berharap Dion akan bisa menurut dengan ucapannya seperti biasanya.
"Tapi, Bu...."
"Apa lagi? Kamu mau membatalkan pernikahan kamu dan Risa? Kamu tega sama Ibu, Dion?" tanya Wenda dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Senjata pamungkasnya untuk meluluhkan hati Anaknya.
"Aku ini Ibumu. Tapi kenapa kamu tidak pernah menurut dan membuat Ibu senang sekali saja?" tuntut Wenda kembali memojokkan Dion.
"Baiklah, Bu. Apa yang Ibu katakan juga benar."
Wenda tersenyum puas, karena sekali lagi dia berhasil membuat Dion menuruti keinginannya.
...*****...
Ameera dan Farhan baru selesai melaksanakan shalat Magrib. Seperti biasa pula, Ameera akan menyalami tangan suaminya.
TOKK
TOKK
TOKK
Terdengar suara ketukan pintu, dengan masih memakai mukenanya Ameera beranjak membuka pintu.
"Nona, Nyonya meminta Anda dan Tuan muda segera turun. Semuanya sudah menunggu di meja makan," ucap seorang ART.
"Baiklah. Sampaikan pada Mama sebentar lagi saya akan turun," sahut Ameera.
"Baik, Nona."
Sang ART pamit dan undur diri.
Ameera kembali masuk dan melepaskan mukenanya. Dia berulang kali memanggil-manggil Farhan namun tak ada sahutan sama sekali.
"Mas?" Ameera kembali memanggil untuk yang kesekian kalinya, tangannya menyentuh bahu Farhan. "Kamu kenapa? Memikirkan apa sampai termenung begitu?"
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate limanya ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungan yang telah kalian berikan untuk karya ini❤️❤️❤️