
"Kenapa melamun? Mikirin apa, Mas?" tanya Ameera yang ikut mendudukan bokongnya di samping suaminya.
"Mikirin kamu, Meera. Memikirkan hubungan kita," jawab Farhan dengan wajah datar.
"Apa yang Mas Farhan pikirkan tentang hubungan kita?"
"Akan berakhir seperti apa hubungan kita nanti," jawabnya jujur tanpa kesadaran penuh. Hanya mengutarakan apa yang sedang dipikirkannya dan apa yang tengah ia resahkan dalam hati.
Ameera hanya diam. Masih menimbang rasa dan mungkin juga bingung apa yang harus dikatakannya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diutarakan oleh suaminya.
Melihat istrinya hanya terdiam dan terlihat bingung, Farhan langsung memecah suasana hening dengan senyuman manisnya.
"Sudah, jangan kamu pikirkan. Mas hanya becanda saja," ucapnya yang mengakui kalau itu hanya seloroh yang sengaja dia selipkan sebagai makanan penutup mereka setelah sarapan tadi.
"Mas berangkat sekarang, ya? Kamu jangan menunggu Mas lagi. Bisa saja Mas pulang telat seperti semalam," pamit Farhan sambil mengingatkan Ameera. Kemudian dia mengulurkan tangannya seperti biasa.
Ameera langsung menerima uluran tangan suaminya itu dan mengecup punggung tangan Farhan, sang kekasih halal.
Setelah punggung Farhan benar-benar menghilang dari pandangan matanya, Ameera masuk dan menuju dapur.
Dia duduk di kursi meja makan, pandangan matanya tak tentu arah, karena kini pikirannya sedang melayang-layang nun jauh.
"Sepertinya, ucapan Mas Farhan tadi itu berasal dari hatinya. Bukan candaan seperti pengakuannya," ucapnya lirih. Dia benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus dilakukan Ameera. Kalau ditanya apakah dia sudah mencintai suaminya itu, jawabannya tentu saja belum sama sekali.
Bagaimana bisa dia mencintai orang sesingkat itu? Sedangkan dirinya, termasuk orang yang susah untuk jatuh cinta.
Sikapnya selama ini, hanya pemenuhan dan tanda ia berbakti pada suaminya.
"Tidak mungkin aku harus berpura-pura mencintaimu, Mas. Jika kamu tahu itu suatu saat nanti, aku yakin itu hanya akan lebih menyakiti perasaanmu."
Ameera memutuskan menghubungi Ayahnya. Sudah dua hari dia tidak mendengar suara pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Assalamu'alaikum, halo ayah?" sapa Ameera dari balik telepon.
"Waalaikumsalam," jawab Arman.
"Bagaimana kabar Ayah?" tanya Ameera lagi.
Arman terkekeh, baru dua hari mereka tidak bertemu tapi anak sulungnya itu terlihat sangat khawatir padanya. "Hehehe, Ayah baik-baik saja."
"Yah, ada yang ingin Ameera bicarakan."
"Ada apa?" tanya Arman.
"Ameera juga baru diberitahu oleh Mas Farhan. Sepulang kami dari sini, Mas Farhan mengajak Ameera untuk tinggal bersamanya," ujar Ameera yang berbicara secara perlahan-lahan pada Ayahnya.
"Lalu, di mana letak masalahnya?" tanya Arman.
"Hem, tidak ada."
"Ameera, Ayah tahu apa yang sedang kamu khawatirkan, kamu mengkhawatirkan Ayahmu yang sudah tua ini, kan?" ungkap Arman yang diangguki oleh Ameera, namun tak terlihat oleh Arman.
"Meera, ayah mengerti kekhawatiran mu itu. Namun, kamu pasti tahu kan seorang wanita yang sudah menikah wajib ikut kemana pun suaminya pergi," terang Arman.
"Tapi, Yah...." Ameera hendak protes, namun langsung disela oleh Arman.
__ADS_1
"Ameera, ayah hanya ingin kamu berbakti pada suamimu. Ayah tidak apa-apa. Lagipula, di sini juga ada Alisa," tungkas Arman.
"Iya, Yah. Maafkan Meera."
"Iya tidak apa-apa." Karena ada kesibukan lain, Arman lebih dulu memutuskan sambungan telepon mereka.
...*******...
Langit sudah mulai menggelap, sinar matahari juga sudah mulai melayu. Sang mentari pun akan masuk kembali ke persinggahannya. Meninggalkan penduduk bumi, bergantian dengan bulan untuk menyinari bumi.
Ameera sudah memakai Apronnya. Karena dia akan mulai memasak makan malam untuk dirinya sendiri. Karena Farhan sudah berpesan untuk tidak menunggunya.
Bayangan makanan apa yang akan dimasak pun sudah terbayang di kepala Ameera. Dia hanya akan memasak hidangan sederhana saja kali ini.
Saat dia sedang memegang pisau, tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara ketukan pintu dari arah luar. Keningnya pun ikut mengerut, berusaha menerka siapa yang datang disaat senja seperti ini?
Ameera mengintip dari lubang pintu, melihat siapa yang datang dan bertamu. Senyumannya kian merekah kala mengetahui orang yang tadi mengetuk pintu adalah suaminya.
Cepat-cepat dia menekan beberapa digit angka untuk membuka pintu. Dan, memang Farhan yang berdiri dengan senyuman yang disuguhkan, meskipun gurat kelelahan pun sangat jelas tercetak di wajah Farhan.
"Mas, kamu sudah pulang?" pertanyaan konyol terlontar dari bibir manis Ameera.
"Iya," jawab Farhan yang langsung berjalan masuk ke dalam bersama Ameera.
Farhan mengendurkan dasi yang mengikat lehernya, dan duduk sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Dia terlihat sangat kelelahan sekali.
"Mas langsung pulang setelah semua pekerjaan selesai. Agar bisa makan malam bersama kamu," ucapnya membuat hati Ameera menghangat.
Ameera memberikan segelas air putih untuk Farhan dan langsung diteguknya hingga tandas.
"Pekerjaan Mas sudah selesai semua. Besok kamu mau langsung pulang ke Indonesia atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Farhan.
"Meera mau jalan-jalan, Mas. Bolehkah?" tanyanya ragu-ragu.
"Boleh, itukan termasuk daftar pertanyaan Mas tadi."
Merasa senang, Ameera langsung memeluk Farhan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada suaminya itu.
"Ya sudah, Meera lanjut masak ya Mas biar kita tidak telat makan malam bersama," izin Ameera dan Farhan hanya mengangguk.
Farhan memperhatikan wajah Ameera yang terlihat berseri-seri. Dia juga melihat keuletan Ameera dalam memasak, seperti itu adalah sebuah hal mudah untuknya. Aroma-aroma makanan pun menguat di ruangan itu dan mulai menusuk-nusuk indra penciuman Farhan. Membuat perutnya berdendang karena tergoda wewangian makanan yang dibuat Ameera.
Dan tidak membutuhkan waktu lama, semua hidangan pun sudah tersusun rapi di atas meja.
Ameera melihat ke arah sofa yang tadi diduduki oleh Farhan, tapi sudah tidak ada Farhan lagi di sana.
"Saking terlenanya dengan memasak, aku sampai tidak menyadari pergerakan Mas Farhan," ucapnya lirih sambil mencuci piring-piring menumpuk yang tadi digunakannya sebagai wadah.
Sambil mencuci piring, Ameera sambil bersenandung ria karena merasa senang esok dia akan berkeliling.
KRING KRING KRING
Dion kembali menghubungi Ameera, dia melakukan panggilan Vidio. Tapi tak digubris oleh wanita yang masih sibuk mencuci piring itu. Dia hanya memperhatikan gawainya yang sedari tadi berdering sambil bergetar.
Tidak lama, ponsel yang tadi layarnya terlihat hidup, kini telah padam. Dan sepersekian detik kemudian, ponsel itu kembali hidup dengan nada dering yang berbeda pula.
__ADS_1
Ameera hanya mengintip, dan masih nama Dion yang tertera di layar pipih ponselnya.
Ameera membilas tangan yang masih berbusa dan menjawab panggilan Dion yang kesekian kalinya itu.
"Assalamu'alaikum, ada apa, Mas?"
"Ameera, akhirnya kamu mau menjawab panggilanku." Dion terlihat senang, terdengar dari suaranya.
"Iya, ada apa Mas Dion?" tanya Ameera lagi.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Tapi kamu sangat susah untuk dihubungi. Bahkan, panggilan Vidioku saja tidak kamu jawab," ucapnya dengan suara yang terdengar sedih.
"Iya, aku sedang sibuk, Mas. Sekarang pun busa sabun cuci piring masih belum hilang dari tanganku," sahut Ameera apa adanya.
"Ameera, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, bolehkah?"
"Tanyakan saja, Mas."
"Kamu dan Farhan, apakah sudah melakukannya?" tanya Dion.
"Melakukan apa maksud kamu, Mas?" tanya Ameera yang memang tidak mengerti dengan pertanyaan tak jelas Dion.
"Melakukan hubungan suami istri. Sudahkah?" tanyanya lagi seraya menjelaskan maksud pertanyaannya.
Ameera terdiam, tangannya mengepal dan wajahnya ikut memerah.
"Ameera, kenapa kamu tidak menjawabnya?"
"Mas, apakah kamu sadar dengan apa yang barusan kamu ucapkan?" tanya Ameera. Jika saja Dion bisa melihatnya, wajah Ameera benar-benar datar saat ini.
"Tentu saja aku sadar, Ameera. Kenapa kamu masih bertanya? Kalau kalian sudah melakukannya, segeralah bercerai dari Farhan dan kembali padaku!" mohon Dion dengan suara yang terdengar memelas.
"Mas Dion, apakah kamu tidak merasa malu karena sudah menanyakan aib rumah tangga orang lain?" tanya Ameera kesal.
"Aku juga berhak tahu apa saja yang kalian lakukan, Ameera. Kamu itu calon istriku." Dion tetap kekeh dengan pertanyaan.
"Aku harus mandi sekarang, Mas. Assalamu'alaikum!" Ameera memutuskan sambungan telepon mereka sepihak, dia meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar dan melanjutkan cuci piringnya yang sempat tertunda.
Setelah selesai, Ameera langsung menuju ke kamarnya. Dia juga tidak mendapati Farhan di dalam ruangan itu. Dia menanggalkan jilbabnya dan masuk ke dalam kamar mandi, karena pintunya tidak terkunci.
Namun, seketika matanya terbelalak kaget saat melihat tubuh polos Farhan yang sedang terendam dalam bathub. Tubuhnya menegang karena melihat pemandangan yang lebih indah dari alam itu.
"Ma-maaf, Mas. Pintunya tidak dikunci. Meera pikir di dalam tidak ada orang," ucap Ameera tergugu.
Farhan tidak mengatakan apa-apa. Mulutnya diam seperti terkunci.
"Ka-kalau begitu, Meera keluar dulu Mas," Ameera berbalik. Tanpa aba-aba Farhan langsung menarik lengan Ameera hingga wanita itu ikut tercebur ke dalam bathub bersama Farhan dan pakaian yang dikenakannya pun basah semua.
"Mas...?" pekik Ameera, lagi-lagi Farhan tak menjawab apapun. Dia langsung melum*at bibir mungil istrinya dan menyesapnya kuat.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan rate 5 juga ya kak ❤️🥰
Terima kasih atas dukungan yang sudah kalian berikan ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1