
"Ah iya!" Farhan kembali menyuapi. "Lalu, ini dapat dari mana?"
"Pegawainya membuatkan pesanan lain untuk Meera, karena Ameera tadi memperlihatkan wajah memelas dan kasihan. Tidak lupa juga menelan saliva berulang kali!" aku Ameera sambil terkekeh pelan.
Farhan melanjutkan kegiatannya menyuapi Ameera, matanya terus awas mengamati setiap gerak-gerik Istrinya itu. Setiap potongan kecil cake coklat yang masuk ke dalam mulut Ameera, wanita itu terasa sangat bahagia. Senyuman terus saja merekah dari bibirnya.
"Kamu sangat suka dengan cake ini?" tanya Farhan kembali memastikan.
Ameera mengangguk, "Ya, Mas. Kamu tidak mau mencobanya?" tanya Ameera.
"Tidak. Setahu Mas dulu kita sama-sama tidak menyukai sesuatu yang terlalu manis, kan? Lalu, kenapa sekarang kamu malah berbeda?"
Farhan masih tak habis pikir. Benaknya terus menimbulkan banyak tanda tanya yang tak mungkin dia dapati jawabannya.
"Entahlah, Mas. Akhir-akhir ini perut bagian bawah Meera juga sering kram," keluh Ameera sembari memegangi perutnya. Baru kali ini juga Ameera begitu terbuka padanya perihal seperti itu.
"Yang mana?" tanya Farhan khawatir, dia ikut memegangi perut Ameera.
"Yang ini, Mas. Sering kram...." imbuh Ameera.
"A-apakah ka-mu sudah menstru-a-asi?" tanya Farhan gugup. Tangannya ikut bergetar karena pertanyaannya yang dirasa tak tahu malu.
"Belum, Mas." Ameera menjawab singkat sambil menggeleng.
"Apakah belum tiba tanggalnya?" tanya Farhan lagi dengan suara yang lebih rendah.
"Hampir tiba. Tapi, biasanya walupun kram, tapi tidak sesakit ini. Kalau ini, kadang terasa sakit sekali, terkadang juga tidak sama sekali," ucap Ameera.
"Apakah kita perlu ke Dokter untuk mendapatkan perawatan?"
"Tidak perlu, Mas. Ini hanya masalah sepele saja. Tidak perlu dibesar-besarkan." Ameera berusaha menolak sehalus mungkin.
"Jadi, biasanya bagaimana cara kamu menghilangkan rasa kram itu? Jangan menyepelekan rasa sakit, Meera! Meskipun kita sudah terbiasa merasakannya, jika rasa sakit itu semakin bertambah, kita tidak bisa membiarkannya," tukas Farhan.
Ameera mengangguk, menyetujui ucapan suaminya. "Biasanya Meera minum obat pelancar haid dan bisa mengatasi rasa kram itu," ujarnya.
"Ya sudah, minta Bi Asih untuk membuatkan obat pelancar seperti biasanya."
__ADS_1
Farhan hendak memanggil asisten rumah tangganya itu, namun langsung ditahan oleh Ameera.
"Tidak perlu, Mas!" pekik Ameera memegangi lengan Farhan.
"Kenapa lagi? Kamu mau menahan sakit itu sampai berapa lama lagi?" tanya Farhan mendengus panjang.
Entahlah, namun timbul banyak keraguan setiap aku berencana meminum obat pelancar itu. Biarlah untuk sementara waktu ini aku mengikuti kata hatiku. Jika memang ini merupakan sesuatu yang serius atau bukan, semoga Allah SWT segera memperlihatkannya.
"Besok Meera akan membuatnya sendiri, Mas. Karena Meera punya resep tersendiri yang diberikan oleh Almarhumah Ibu dulu," tangkas Ameera.
Farhan kembali menghela nafas, dia mengelus hijab istrinya. Kini kekhawatirannya berkurang sedikit. "Sudah larut, ayo kita masuk!" ajak Farhan.
"Ayo!" jawab Ameera bersemangat.
Saat kaki mereka baru menginjak satu anak tangga, suara Farhan menghentikan langkah mereka. " Meera, Mas baru teringat, masih ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan. Kamu masuk duluan saja nanti Mas akan menyusul masuk," ujarnya pada Ameera.
"Baiklah." Ameera tak menolak karena dirinya sudah sangat ingin masuk ke alam mimpi.
Setelah berada di dalam kamar, Ameera masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan dirinya dan mengambil wudhu. Kemudian melaksanakan shalat Isya. Setelah selesai, Ameera tak berlama-lama duduk di sajadahnya. Tak melakukan kegiatan rutinnya yaitu berdzikir dan mengaji walau hanya beberapa baris.
Di ruangan kerjanya, Farhan hanya duduk di sofa. Menyandarkan punggungnya dan beberapa kali menghela nafas panjang tak beraturan.
"Kenapa semuanya terasa digantung seperti ini? Semua pertanyaan, tak satupun aja jawabannya," gumamnya lagi sambil memijat pelipisnya.
Farhan membuka komputer yang biasa ia gunakan untuk bekerja. Mencoba mencari solusi atas permasalahannya dengan penjabaran yang luas.
Mulai mencari tahu penyebab kram perut yang dikeluhkan oleh Ameera, sikapnya yang kerap berubah-ubah, dan selera makanan yang berubah drastis.
Dan disepanjang mata Farhan membaca jawaban dari hasil pencariannya, kesimpulannya hanya satu.
"Disebabkan oleh hormon yang berubah karena akan terjadinya menstruasi atau hamil muda?" Bahkan Farhan semakin bingung dengan hasil yang dia dapatkan.
"Ini bukanlah jawaban yang bagus. Malah lebih mempersulit dan menambah teka-teki yang semakin membingungkan!" decak Farhan seraya menyugar rambutnya.
"Jadi, kira-kira kapan waktu yang baik untuk melakukan check kehamilan?" gumamnya lagi bertanya-tanya.
Farhan kembali mencari, mengetik ini dan itu untuk mencari jawaban yang membuatnya merasa puas. Namun, satupun tak ia temui.
__ADS_1
"Harus menunggu tanggal menstruasi yang biasanya agar hasilnya bisa lebih pasti?" pikirannya kembali kacau. Dia mengacak-acak rambutnya kesal.
"Sudahlah. Sepertinya aku memang harus menunggu saat Allah SWT sendiri yang menunjukkannya. Mungkin ini memang belum waktunya," ujarnya mendengus pasrah.
Farhan kembali ke kamarnya, saat ia membuka pintu, terlihat Ameera yang sudah tertidur lelap sembari mendengkur halus.
Farhan menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya. Kemudian menyusul istrinya ke alam mimpi.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Hari ini cuaca tak begitu cerah, langit gelap membuat hawa dingin lebih mendominasi. Cuaca yang seperti itu membuat Ameera menjadi semakin malas. Sejak selesai shalat subuh dia terus-menerus menarik selimut hingga ke lehernya.
Dan lagi, dia juga menyeret suaminya untuk ikut tidur bersamanya. Memeluk tubuh Farhan erat agar tak berusaha melarikan diri dan pergi bekerja.
"Mas, hari ini jangan bekerja, ya? Temani Meera saja, ya?!" pintanya memohon dan memelas dengan wajah tak karuan, membuat Farhan serba salah.
"Tapi, Meera...."
"Kan...?" Ameera melepas pelukannya dari Farhan dan menjauhkan dirinya, mengerucutkan bibir dan membuang muka ke arah lain, "kamu memang selalu lebih mementingkan pekerjaan dari pada istrimu, kan? Meera kecewa, Mas!" hardiknya membuat Farhan bertambah salah tingkah.
Sejak kapan dia se-melankolis ini?
"Baiklah, ayo tidur lagi." Farhan berusaha membujuk.
Ameera terdiam, dia seperti sedang merasakan sesuatu. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat dia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah luar. Namun, saat dia baru mau membuka pintu, suara Farhan menghentikannya. "Meera, mau ke mana?" tanya laki-laki itu yang sejak tadi sudah terheran-heran dengan sikap Ameera.
"Ke bawah, Mas. Cari pembalut." Ameera menjawab sekenanya.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️
Maaf beberapa hari tidak update karena masih kurang sehat😁
__ADS_1