Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Bersikap Manja


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak selera untuk makan? Nanti kalau sakit bagaimana?" tutur Farhan.


"Meera bukan tidak selera makan, Mas. Meera lapar, tapi tidak selera untuk makanan yang di depan kita ini saja kok," ucap Ameera menjelaskan.


Farhan yang semulanya sudah memegang sendok, melepaskan benda itu. Tangannya beralih menggenggam tangan Ameera yang berada di atas meja.


"Jadi, kamu mau makan apa? Katakan saja, agar Bi Asih segera membuatkannya untuk kamu," ujar Farhan lembut.


"Bubur ayam saja, Mas."


"Bi Asih, buatkan bubur ayam untuk Ameera," titah Farhan.


"Baik, Tuan."


Bi Asih langsung kembali ke dapur untuk membuatkan makanan yang diinginkan oleh Ameera.


Saat masih menunggu buburnya siap, Ameera terus memperhatikan wajah Farhan yang selalu mampu meneduhkan hatinya.


Ya Allah, apakah aku benar-benar sudah mencintai sahabat yang telah sah menjasi suamiku ini? Jika memang benar begitu adanya, berikan keyakinan padaku secepatnya agar aku bisa mengukuhkan hatiku. Namun, bagaimana dengan perasaannya? Apakah kebaikannya selama ini bisa aku artikan sebagai rasa cinta juga, atau hanya sebatas sahabat semata?


Gundah, perasaan Ameera benar-benar kacau. Baru kali ini hatinya porak-poranda karena perasaannya sendiri. Dan yang menjadi ketakutan terbesarnya sekarang adalah balasan dari rasa cintanya, mungkinkah Farhan juga mulai mencintainya?


"Ma-mas, Meera be-besok izin pergi lagi, ya?" pinta Ameera terbata-bata. Kakinya mulai berkeringat dingin. Entah kenapa, dia sangat gugup sekarang, merasa takut kalau harus membohongi Farhan.


"Ke mana, Sayang?" tanya Farhan lembut sehari mengusap hijab Ameera.


Ke mana? Aku harus beri alasan apa? Tidak mungkin,kan, aku katakan kalau aku besok akan menemui seseorang untuk konsultasi memastikan apakah aku benar-benar sudah mencintaimu atau tidak?


Ameera terus saja bergulat dalam hatinya, Farhan turut memperhatikan Istrinya yang sedang sibuk mencari alasan.


"Meera?" Farhan memanggil, membuat Ameera bertambah gugup.


"Ya, Mas?" Ameera tersentak.


"Kamu kenapa? Demam?" Farhan meletakkan punggung tangannya di dahi Ameera, sontak Ameera memundurkan kepalanya.


"Tidak panas," gumam Farhan, karena tadi sempat tersentuh sedikit.


"Memang tidak panas," jawab Ameera cepat.


"Lalu, kenapa wajahmu ikut memerah?" Farhan mengelus pipi Ameera.


"Tuan, Nyonya, ini buburnya sudah siap," ucap Bi Asih mengacaukan keadaan.


"Terima kasih, Bi Asih!" ucap Ameera begitu senang saat mencium aroma bubur yang begitu menggugah selera di hidungnya.

__ADS_1


"Makanlah!" titah Farhan, tangannya masih mengelus hijab Ameera.


"Mas, suapi Ameera...." pinta Ameera manja.


Farhan terkekeh, dia menganggukkan kepalanya.


"Buka mulut, aakk...."


Farhan mulai menyuapi sesendok demi sesendok bubur untuk Ameera, sampai akhirnya mangkuk berisi bubur itu tak lagi bersisa.


"Terima kasih, Mas!" seru Ameera, tersenyum menampakkan sederet gigi rapinya.


Setelah makan, mereka berdua menjalani rutinitas baru mereka. Farhan akan bekerja sebentar untuk memeriksa email yang masuk dan berkas-berkas laporan yang belum sempat ia selesaikan di kantor.


Dan Ameera mengekor di belakang masuk ke dalam ruang kerja Farhan, asal memilih buku. Pura-pura membaca buku, padahal dia sedang mengintip wajah serius suaminya saat bekerja yang dianggapnya sangat keren.


"Sudah selesai, Mas?" tanya Ameera saat melihat Farhan mulai menutup map-map penting yang tadi dia baca.


"Sudah, ayo kita istirahat!" ajak Farhan.


Farhan dan Ameera sudah bergelung di bawah selimut. Namun, matanya tak mau terpejam. Dia mendekatkan wajahnya pada Farhan, deruan nafas mereka beradu.


"Mas, kamu belum menjawab pertanyaan yang tadi," bisik Ameera. Farhan yang sudah memejamkan matanya membukanya kembali.


"Yang mana?" tanya Farhan menatap istrinya bingung.


"Kamu mau pergi ke manapun boleh, Mas mengizinkannya. Asalkan pulang sebelum Mas pulang ke rumah, tidak menyimpang dari agama dan selalu mengingat, kalau kamu sudah menikah," tutur Farhan membuat Ameera langsung tersenyum.


"Iya, Ameera akan taat pada semua aturan itu," ucapnya.


"Ya sudah, sekarang waktunya tidur." Farhan menarik kepala Ameera dan meletakkan di dadanya. Dentuman jantung Farhan yang begitu kuat ikut menyambar pada Ameera.


Dia memegang jantungnya yang ikut berdetak kuat seirama.


Apakah ini yang dirasakan oleh orang penderita penyakit jantung?


Ameera tersenyum, dia menyusul Farhan, memejamkan matanya dan ikut tenggelam dalam mimpi-mimpi indah yang menjadi bunga tidur.


Pagi ini, Ameera tidak butuh alarm untuk membangunkannya dari tidur nyamannya. Malam tadi tidurnya begitu nyenyak, mungkin karena berada dalam pelukan sang suami.


Selepas membersihkan tubuhnya, dia membangunkan Farhan untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai hamba-Nya.


...*****...


"Mas pergi, kamu hati-hati, ya!" ucap Farhan seraya mengecup kening Ameera. Saling kecup mengecup sudah menjadi kegiatan wajib untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Baik, Mas. Mas juga pulangnya jangan kemalaman. Kalau sudah selesai, langsung pulang ya!" titah Ameera.


Farhan tersenyum dan mengangguk, tapi perasaannya jadi bertanya-tanya dan keheranan dengan sikap Istrinya yang menurutnya mendadak berubah.


Kenapa dalam dua hari ini dia bisa semanja ini? Apakah perasaan cinta sudah mulai menggema di hatinya? Apakah secercah harapan yang selalu aku idamkan akan tertubuh?


Meski mobil sudah melaju meninggalkan kediamannya, Farhan seperti masih enggan untuk berpisah dari istrinya. Dia masih saja melambaikan tangannya sampai bayang-bayang Ameera tak terlihat lagi. Begitu juga dengan Ameera, dia juga selalu melakukan hal yang sama dengan senyuman yang sangat lebar.


Selama dalam perjalanan, Farhan selalu mengingat-ingat sikap Ameera yang dalam dua hari ini terlihat sangat membutuhkannya.


Setelah mobil yang ditumpangi Farhan hilang dari pandangan, Ameera masuk dan bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang sudah ia rencanakan. Dia sangat yakin untuk pergi ke tempat itu dan bertukar pendapat agar dirinya segera mendapatkan kepastian dan agar hatinya menjadi lebih tenang.


"Mang Kardi, ke alamat kumbang nomor dua, ya!" titah Ameera.


"Baik, Nya."


Hanya menempuh waktu tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di depan sebuah tempat praktik psikologi yang cukup terkenal.


"Assalamualaikum," ucap Ameera. Sebelumnya dia sudah membuat janji temu dengan sang dokter yang bernama Mayang.


"Waalaikumsalam," jawab Dokter Mayang. "Nyonya Ameera?" tanya sang Dokter memastikan.


"Iya, saya Ameera Zahra." Ameera menjawab.


"Silahkan duduk," Dokter Mayang mempersilahkan dengan ramah.


Sebelumnya Ameera sering mencari tahu di internet bagaimana cara dia bisa memastikan kalau dia sudah menyukai Farhan. Karena, rasa suka tanpa keyakinan akan berujung patah jika tak segera dikuatkan.


Banyak yang menyarankan untuk menceritakannya pada orang terdekat agar mereka juga ikut berpendapat. Namun, Ameera terlalu malu untuk melakukan hal itu. Banyak juga yang menyarankan untuk berkonsultasi ke psikolog. Karena psikolog bukan hanya untuk orang-orang yang terganggu kesehatan mentalnya. Mereka juga menjadi pendengar yang baik dan akan memberikan saran terbaik pula untuk kita yang sedang menghadapi masalah.


Dan Ameera memutuskan untuk datang konseling ke psikolog. Karena psikolog hanya melakukan tugasnya dan pasti punya cara-cara tersendiri untuk mengatasi masalahnya.


Curhat atau yang biasa dikenal dengan curahan hati dalam istilah psikologi dikenal sebagai ventilasi. Kalau dalam konseling atau psikoterapi, ventilasi ini adalah salah satu sesi untuk mengekspresikan perasaan atau emosi klien dengan bebas.


Dr. Stubits, seorang Psikolog Klinis dari Houston, menganalogikan ventilasi pada manusia kayak pressure cooker. Kalau kamu tak membuka tutupnya secara berkala, uap yang dihasilkan pasti akan terus menumpuk. Sama seperti saat kamu tidak membuka diri untuk bercerita, masalah yang kamu miliki akan terus menumpuk, sampai membuat kamu merasa stres atau tertekan.


Psikolog merupakan seseorang yang memiliki keahlian untuk membantu kamu memahami dan memproses masalah yang sedang kamu hadapi. Mereka juga akan membantu kamu untuk lebih berdaya atas dirimu sendiri dan gak bergantung sama orang lain.


"Jadi, Nyonya Ameera, apakah Anda bersedia berbagi masalah dengan saya?" tanya Mayang.


Ameera mengangguk, "Tentu, saya percaya kalau Anda bisa memberikan solusi yang terbaik."


"Bisakah Anda mulai menceritakan masalah yang sedang Anda hadapi?" tanya Mayang dengan suara lembutnya, bagi Ameera suara itu sangat menenangkan untuknya.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk berikan rating 5 ya guys ❤️❤️❤️


Terima kasih karena sudah berkenan untuk mampir ke karyaku ini ❤️❤️❤️


__ADS_2