
"Meera tidak tahu, Mas!" jawabnya sambil berlalu, tak ingin mengecewakan suaminya.
Ameera menyerahkan benda kecil itu pada Dokter Eka. Bagaimanapun hasilnya, biarkan Dokter itu yang membacakan hasilnya. Jika mendengar, tak akan semengecewakan melihat.
"Bu Ameera, bagaimana perasaannya?" tanya Dokter Eka berusaha merilekskan ketegangan antara mereka semua.
"B-baik," jawabnya singkat.
Dokter Eka beralih pada benda pipih yang diserahkan Ameera barusan. Dia melihat, namun tak ada siapapun yang bisa menebak raut wajah datarnya itu.
"Selamat, Bu Ameera, Pak Farhan, kalian akan segera memiliki bayi mungil di tengah-tengah kalian," ucap Dokter Eka.
Semua orang membulatkan matanya kemudian menoleh pada orang terdekat dengan senyuman yang mengembang. Saling memeluk menularkan rasa kebahagiaan yang sangat kentara.
Ameera masih melompong, Farhan juga terdiam kaku di tempatnya.
"Maaf, Dok, apakah Anda salah melihat?" seru Farhan.
"A-apa? Ba-bagaimana mung-kin?" ucap Ameera terbata-bata. Dia ingin sekali ikut berbahagia atas kabar baik yang selama ini ia tunggu, namun dirinya sendiri menghentikan kebahagiaan itu menguasai diri agar jika sang Dokter salah, kekecewaannya tak terlalu terasa.
Dokter Eka melihat sekali lagi pada testpack tadi.
"Saya tidak salah, di sini memang garis dua?" tukasnya.
"Tapi, sa-saya sedang datang bulan, Dok!" seru Ameera.
"Apakah sekarang masih berangsur-angsur banyak?" tanya Dokter Eka.
"Sekarang tidak ada noda di pembalut yang saya gunakan. Hanya saja tadi pagi ada di ****** ***** yang saya gunakan," ujar Ameera.
"Itu bukanlah darah menstruasi, Bu Ameera. Melainkan darah Implantasi,"
terang Dokter Eka.
"Implantasi?" Ameera sungguh tak mengerti dengan yang diucapkan Dokter Eka.
"Flek atau bercak darah sebagai tanda saat hamil biasa juga disebut sebagai pendarahan implantasi. Kondisi ini terjadi ketika telur yang dibuahi menempel pada lapisan rahim Anda. Pembuahan akan bergerak jalan menuju rahim dan menyebabkan gesekan pada dinding rahim. Atau, ciri-ciri awal kehamilan."
Buaian kebahagiaan mulai merasuki Farhan, dia langsung berjalan cepat menuju istrinya dan memeluk wanita itu di hadapan orang banyak. Ameera masih tak berkutik, masih sangat banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya dan harus diajukan.
"Saya juga mengalami kram, Dok!"
__ADS_1
"Terkadang wanita yang mengalami pendarahan implantasi juga bisa merasakan kram di perut yang menyerupai kram saat menstruasi.
Namun, ciri kram antara perdarahan implantasi dan menstruasi sedikit berbeda. Kram yang disebabkan oleh pendarahan implantasi biasanya berlangsung lebih cepat dan singkat dibandingkan kram saat menstruasi," jelas Dokter Eka.
Dokter Eka memberikan testpack itu pada Ameera.
"Samar?" ucap Ameera pelan.
"Memang masih samar, Bu Ameera bisa melakukan testpack ulang seminggu setelah ini."
"Tapi, ini apakah sudah kemungkinan hamil, Dok?"
"Sudah. Biarpun samar, bisa diartikan sebagai tanda kehamilan. Testpacknya masih samar karena kadar hormon hCG yang dihasilkan tubuh masih sangat rendah sehingga belum terdeteksi semua," terang Dokter Eka.
Ameera dan Farhan saling berpelukan, mereka menangis haru saling menumpahkan air mata. Tidak menduga hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk mereka berdua.
Dimulai dari pernyataan cinta keduanya yang akhirnya saling terbuka, dan kehadiran calon buah hati yang akan semakin menghangatkan suasana rumah mereka, semakin mengeratkan hubungan mereka.
Saat suasana sedang mengharu biru, tiba-tiba Arman dan Kenzo saling bertos ria.
"Rencana kita berhasil!" seru Kenzo girang.
Sontak, dua manusia yang sedang saling berpelukan itu langsung menoleh ke arah suara.
"Sebenarnya ini rencana kami berdua," ujar Arman.
"Papa sudah tahu dengan keadaan pernikahan kamu dan Ameera. Tapi, Papa hanya diam sambil memperhatikan diam-diam. Kalian sudah saling jatuh cinta, tapi masih enggan untuk terbuka dan mengatakan yang sebenarnya. Jadi, Papa dan Ayah mertuamu sepakat menyusun rencana,"
"Awalnya kami bingung bagaimana rencana ini harus dijalankan. Tapi, berkat bantuan Dion dan wanita itu, akhirnya rencana kami sukses!" seru Kenzo yang tak henti-hentinya tertawa senang.
"Ja-jadi, kalian memanfaatkan kami?" sergah Erlin murka.
"Bukan memanfaatkan, lebih tepatnya kalian yang memberikan ide ini. Terima kasih untuk bantuan kalian berdua," terang Kenzo.
Erlin kehabisan kata-kata, dia menggemeretakkan giginya dan mengepalkan tangannya kemudian berlalu dari sana. Dion mengekor, meski sebelumnya menatap Ameera sejenak kemudian dia ikut keluar bersama Erlin.
****
Pagi mulai datang, cahaya membias terang menembus gorden kamar dan menyilaukan mata.
Ameera yang setelah shalat subuh kembali tidur karena rasa kantuk yang menyerangnya, kini wanita itu masih bergelut dalam selimutnya.
__ADS_1
"Pagi, Sayang! Pagi, anak Abi!" pagi-pagi Farhan menyapa Ameera dan calon anak mereka, tangannya mengelus-elus perut datar Ameera halus.
"Mas, maaf karena Meera telat bangun," ujar Ameera.
"Tidak apa-apa, wajar bagi Ibu hamil jika merasa kantuk yang tak tertahankan. Kalau masih mengantuk, tidur saja lagi," ucap Farhan.
Ameera menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau, Mas. Kamu harus berangkat bekerja, kan? Meera harus menyiapkan semua keperluan kamu. Mama juga ada di sini, Meera tidak mau bermalas-malasan," jelasnya.
"Sayang, apa yang kamu khawatirkan? Mana pasti akan mengerti kondisi kamu sekarang ini."
"Mas, Meera tahu Mama baik. Tapi, Meera tidak mau memanfaatkan kebaikannya itu. Mandilah, Mas. Meera akan segera menyiapkan keperluanmu," ucap Ameera.
Setelah menyatakan cinta kemarin, hubungan diantara mereka berdua semakin dekat dan menghangat. Pilar tinggi yang membentengi hati mereka telah hancur dan tergantikan dengan singgasana hati yang baru.
*****
"Kamu baik-baik di rumah!" ucap Farhan, mencium kening istrinya dan masuk ke dalam mobilnya.
"Ada Mama di rumah kamu juga tidak percaya, Farhan?" goda Safa pura-pura merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ma, Mas Farhan hanya bercanda," terang Ameera.
"Mama juga bercanda, Sayang," sahut Safa sambil memeluk pinggang menantunya.
"Pergilah, nanti kamu telat!" usir Safa karena sejak tadi mobil Farhan tidak jalan.
"Aku ingin mengambil cuti…." rengeknya.
"Pergilah, Mas. Meera menunggumu di rumah. Nanti kita Video call, ya!?" tukas Ameera agar Farhan segera pergi. Dia merasa apa yang dikatakan Mama Mertuanya ada benarnya.
Farhan mengangguk, mobil yang ditumpanginya mulai melaju meninggalkan kediamannya.
Saat Ameera dan Safa hendak masuk ke dalam rumah, ada sebuah mobil berwarna putih yang masuk ke pekarangan mereka, menyita perhatian dua wanita beda usia itu.
"Siapa, Ma?" tanya Ameera, matanya masih menyorot mobil yang tak dikenalnya.
"Mama juga tidak tahu. Bukan teman kamu?" Safa sama tidak tahunya dengan Ameera.
Sang pemilik mobil keluar, seorang wanita muslimah keluar dari mobilnya membuat Ameera terkejut sekaligus takjub dan senang.
__ADS_1
"Mbak Risa?" panggil Ameera menerka.