Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Hari lamaran


__ADS_3

"Huh! Ameera, Ameera, percaya dirimu tinggi sekali. Lihat, bahkan Farhan tak mau memegang lenganmu. Hanya menarik bajumu seperti anak kucing," decaknya sebal karena ditinggal begitu saja oleh Ameera dan Farhan.


********


Hari ini adalah hari lamaran Ameera. Ameera sudah sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna nude yang kemarin dipilihnya. Dengan makeup Flawless, kecantikan alami Ameera kian semakin terpancar.


Meskipun semua dipersiapkan oleh keluarga Farhan, tapi semuanya tetap sesuai dengan selera dan kesukaan Ameera.


Seperti warna-warna dekor, semua mengikuti warna favorit Ameera. Warna putih yang dipadukan dengan cokelat, cream dan pink soft.


Safa juga tidak membantah atau menolak keinginan anaknya untuk menyenangkan calon istrinya itu. Karena menurutnya, acara seperti ini hanya terjadi sekali seumur hidup dan akan dikenang seumur hidup. Jadi, apapun permintaan Farhan, dia akan mengatur sesuai dengan request yang punya acara.


"Semuanya sangat indah," ucap Ameera tersenyum senang sembari melihat ke sekelilingnya. "Mas Farhan tidak pernah lupa dengan apapun yang selalu menjadi kesukaanku," gumamnya.


"Kak, kamu sangat cantik hari ini. Lisa tahu, kebaya yang kamu kenakan ini, harganya sangat mahal, loh!" pujinya sambil memeluk Ameera hangat. Ya, dia turut berbahagia untuk Ameera.


"Terima kasih, Lisa," jawab Ameera tersenyum indah. Senyuman yang sangat menawan itu, dapat menyambar ke semua orang.


"Benar kata Alisa. Kamu sangat cantik, Nak." ucap Farhan yang sudah berada di ambang pintu. Farhan juga mengenakan baju seragam dengan Alisa. Dan itu juga disiapkan oleh keluarga Farhan.


"Terima kasih, Yah. Ayah juga terlihat sangat gagah dan keren." Ameera memuji Ayahnya. Kini dia bangkit dan berjalan memeluk ayahnya. Memberikan banyak ucapan terima kasih pada laki-laki itu.


"Keluarga Farhan jam berapa datangnya, Meera?" tanya Arman.


"Agak sorean, Yah. Masih menunggu Kak Fahri pulang kerja," jawab Ameera sambil menggenggam tangan Ayahnya. Dia merasa gugup. Meskipun ini bukanlah kali pertama untuknya, dan benih-benih cinta juga belum tumbuh di hatinya, tapi kegugupan itu tetap menyinggahi hatinya.


Arman mengangguk, dia tidak melepaskan genggaman tangan Ameera. Karena dia tahu, Ameera sedang gugup. Jadi, sebisa mungkin dia membantu Ameera untuk menetralkan kegugupan Ameera, semakin cepat berkurang maka akan semakin baik.


"Assalamu'alaikum." ucap seseorang dari luar yang mereka sudah tahu itu siapa.


"Mas Dion juga datang, Kak?" tanya Alisa dengan kening mengerut.


"Katanya iya, Lis. Boleh, kan tolong kamu jamu sebentar," pinta Alisa. Karena dia, masih belum mau menemui siapapun sebelum calon suaminya datang nanti.


Dengan rasa malas, Alisa membuka pintu rumahnya lebar-lebar agar Dion bisa masuk.

__ADS_1


"Kenapa kamu?" tanya Dion. Dia sudah berharap-harap kalau Ameera lah yang akan membukakan pintu untuknya sambil menunjukkan senyum termanisnya.


"Kak Ameera yang memintaku," sahutnya malas. Sejak Alisa tahu bagaimana perlakuan Wenda terhadap Kakaknya, dan bagaimana perlakuan Dion pada Ameera. Dia jadi kurang suka melihat Dion. Dia ingin memusuhi Dion dan Ibunya, tapi sungguh itu tidak boleh dilakukan.


"Sekarang, Ameera mana?" tanya Dion sambil celingak-celinguk ke dalam rumah.


"Masih di kamar. Mas Dion mau masuk tidak?" tanya Alisa dengan ketus.


"Ya, aku akan menghampiri Ameera." tanpa meminta izin, dia langsung berjalan ke arah kamar Ameera.


"Eits ... tunggu! Tidak boleh sembarangan masuk dong Mas Dion!" pekik Alisa sangat kesal.


"Aku hanya mau melihat Ameera sebentar saja," ucapnya.


"Itu yang paling tidak dibolehkan."


"Kenapa?" tanya Dion tak mengerti.


"Sebelum keluarga Mas Farhan datang, tidak ada yang boleh menemui kak Ameera selain keluarganya. Jadi, orang pertama yang boleh melihat Kak Ameera hanyalah Mas Farhan," ucapnya berbohong.


"Mantan, Mas." Alisa diam sebentar sebelum dia melanjutkan ucapannya, "Mantan keluarganya!" cetusnya.


Dengan terpaksa, dia duduk di ruang tamu yang sudah dihias sedemikian rupa. Dion melihat sekelilingnya, sangat berbeda dengan dirinya dulu. Mereka menikah dengan sangat sederhana. Tidak ada decor dan pesta pernikahan mewah. Tidak ada kebaya khusus. Untuk hari spesialnya, Ameera memesan sendiri kebaya untuk dirinya dan Dion menggunakan tabungannya sendiri.


Karena Wenda tak mengizinkannya. Dion sangat ingat dengan ucapan Ibunya pada Ameera saat itu.


"Jangan buang-buang uang anakku untuk kesenanganmu sendiri. Tidak perlu pakai kebaya bagus, dan tidak perlu ada pesta pernikahan meskipun sederhana. Karena aku sendiri pun tidak akan datang dihari pernikahan kalian!" ucapnya dengan penuh kebencian.


Dion berusaha menyangkal Ibunya, tapi lagi-lagi Ameera menahan lengan bajunya agar tak membangkang terhadap Ibunya. Sudah seperti itu, dengan bodohnya dia masih mendengarkan setiap hasutan-hasutan yang diucapkan Ibunya sampai dia harus kehilangan orang yang disayanginya.


"Bagaimana dengan kali ini, apakah Ibu Farhan mau menerima Ameera dan datang ke sini untuk mendukung hubungan mereka? Apakah keluarga Farhan juga akan datang? Aku harap tidak. Agar mereka bisa segera bercerai, dan Ameera bisa segera kembali padaku." gumamnya penuh harap.


Saat Dion masih termenung, dia dikagetkan dengan kedatangan beberapa buah mobil buah. Satu persatu mobil mewah itu mulai masuk ke pekarangan rumah Ameera yang halamannya lumayan luas.


"Apakah itu keluarga Farhan? Ramai sekali?" ucap Dion lirih. Dia melihat satu persatu mobil yang sudah berjejer rapi dihalaman rumah mantan istrinya itu. "Sepertinya, mobil mewah semua," gumamnya lagi. Meskipun banyak mob mewah, ada satu buah mobil yang sangat menarik perhatian Dion. Dia terus saja memperhatikan mobil itu. Dan berapa terkejutnya dia, ternyata pengemudi mobil itu adalah Farhan.

__ADS_1


"Mungkin dia meminjam milik keluarganya," ucap Dion menenangkan diri. Tidak menerima fakta kalau Farhan akan lebih kaya dan lebih unggul dari dirinya.


"Assalamu'alaikum," ucap Safa memberi salam.


"Waalaikumsalam."


"Waalaikumsalam," sahut Alisa dan Arman bersamaan.


Safa langsung masuk dan memeluk Alisa, dan Kenzo langsung memeluk Arman yang duduk di kursi roda, sebagai mantan tetangga dan calon besannya kelak. Mereka berpeluk ria seperti sedang melepaskan kerinduan akan kampung yang pernah menyambut mereka untuk tinggal dulu.


Di sana juga ada orang-orang tua kampung yang akan mendampingi acara lamaran ini, seperti lamaran biasa pada umumnya.


Dion melihat itu semua dengan gusar, teka-tekinya tentang keluarga Farhan yang tak akan menyukai Ameera, kini sudah terbukti salah. Semua terbantahkan dengan saksi kedua matanya sendiri.


Namun, setiap harapannya dipatahkan dengan fakta yang ada, dia kembali disemangati dengan rasa cinta Ameera yang menurutnya tak akan pernah surut untuknya. Setelah mereka menikah, dia berencana akan sering-sering mengunjungi Ameera agar wanita itu selalu ingat padanya, dan rasa cinta di hati Ameera untuknya pun tak akan tergantikan oleh siapapun. Jadi, mereka bisa cepat rujuk kembali. Karena, lagi-lagi dia mengingatkan pada dirinyalah sendiri, pernikahan Ameera dan Farhan, semata-mata dilakukan untuknya agar Ameera bisa kembali lagi ke pelukannya.


Setelah berbincang-bincang dan memakan kudapan yang telah tersedia, kini waktunya telah tiba.


"Bagaimana kalau acara semat cincin kita lakukan sekarang?" usul seorang yang dituakan di kampung itu.


"Saya setuju," jawab mereka kompak.


"Ameera di mana?"


"Sebentar, Pak. Saya akan panggilkan Kak Ameera dulu," sahut Alisa dan dijawab dengan anggukan oleh mereka.


Alisa masuk ke kamar Ameera, terlihat Ameera sedang duduk di depan cermin sambil menggenggam tangannya yang sudah basah. Itu terjadi karena dia sedang gugup.


Itu termasuk salah satu kebiasaan Ameera, jika sesuatu telah terjadi padanya, atau kegugupan sedang melandanya, telapak tangan dan telapak kakinya akan langsung basah karena air yang mengucur keluar dari pori-pori.


"Kak, semua sudah menunggu. Ayo, kita keluar sekarang," ajak Alisa memegang lengan Ameera.


"Kakak gugup, Lis." Ameera tersenyum kaku setelah mengatakan itu.


Dukung karya ini dengan berikan rate 5. Berikan like, komentar, gift dan vote.

__ADS_1


terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2