
Lalu, apakah kenyamanan ini bisa disebut dengan cinta? Apakah Farhan pelan-pelan telah mengaburkan dan meragukan perasaan Ameera pada Dion dan perlahan-lahan masuk mengantikan sosok Dion?
Apakah aku memang sudah mencintai Mas Farhan?
Saat dia masih tenggelam dalam lamunannya, Dion meneriaki nama Ameera berulang kali membuat wanita itu terkejut.
"Ameera, kenapa diam?" tanya Dion yang sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan nada kasarnya.
"Tidak ada, aku hanya--"
Tok
Tok
Tok
Ameera menghentikan ucapannya saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar. Dia menoleh dan meninggalkan ponselnya tergelatak di atas nakas begitu saja tanpa memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu.
"Nyonya?" Bi Jum kembali mengetuk pintu berulang kali.
CEKLEK!
Suara Ameera membuka pintu membuat Bi Jum menghentikan ketukan pintunya.
"Ada apa, Bi?" tanya Ameera.
"Maaf, Nyonya. Saya sudah mengganggu waktu istirahat Anda," ucap Bi Jum.
"Tidak apa-apa, Bi."
"Tuan Farhan meminta saya untuk menyampaikan pesan pada Nyonya kalau Tuan besar sedang sakit. Jadi, Nyonya diminta untuk segera bersiap-siap karena sebentar lagi Tuan Farhan akan pulang dan menjemput Nyonya," ucap Bi Jum.
Tanpa harus dijelaskan ke mana mereka akan pergi, Ameera sudah mengerti kalau Farhan pasti akan membawanya ke rumah mertuanya untuk menjenguk Papa Kenzo.
"Kenapa Mas Farhan tidak menghubungiku secara langsung?" gumam Ameera, namun ternyata masih terdengar oleh Bi Jum.
"Maaf, Nya. Tuan Farhan tadi mengatakan sudah menghubungi ponsel Anda, tapi tidak bisa tersambung," jelas Bi Jum.
Ameera terkejut, dia lupa kalau sedang melakukan panggilan telepon dengan Dion. Pantas saja Farhan tidak bisa menghubunginya.
Ameera melihat ponselnya yang masih tergeletak di tempatnya semula, ternyata Dion sudah memutuskan sambungan telepon mereka sepihak.
Ameera tak memusingkan itu, dia langsung mengemasi barang-barang bawaannya, memasukan pakaian dirinya dan juga milik Farhan ke dalam sebuah koper berukuran sedang.
Setelah membereskan barang-barang yang akan dibawanya, kini Ameera menyiapkan dirinya.
Baru saja kakinya mau melangkah masuk ke kamar mandi, suara ketukan pintu menghentikan langkah kakinya.
Ameera terpaksa mengganti tujuannya, dia membuka pintu kamarnya. Ternyata Farhan sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Mas, kamu sudah pulang? Tapi, Meera belum selesai bersiap-siap," ujar Ameera sambil menyeimbangkan langkah kakinya dan Farhan.
"Tidak apa-apa, kamu mandi saja dulu. Mas akan menunggu di sini," sahutnya.
Ameera mengambil sepasang baju kemeja berlengan panjang dan celana jeans untuk suaminya. Karena Ameera sendiri paling tahu, jika bukan untuk bekerja dan acara-acara formal, Farhan paling tidak suka mengenakan pakaian semi formal seperti itu.
"Mas, pakaian kamu sudah Meera siapkan. Sembari menunggu, Mas bisa langsung mengganti pakaian agar cepat selesai," ucap Ameera sambil berjalan cepat ke arah kamar mandi.
"Ya!" Farhan menjawab dengan sedikit berteriak.
Selepas Ameera mengunci pintu kamar mandi, Farhan masih mematung di tempatnya. Matanya lekat menatap ponsel Ameera yang tergeletak di atas ranjang.
"Siapa yang dia hubungi tadi sampai-sampai aku tidak bisa menghubunginya?" gumam Farhan sambil mengernyitkan alisnya.
Dengan rasa penasaran yang sudah menguasai relung hati dan pikirannya, Farhan mengambil ponsel Ameera, mengecek panggilan masuk maupun keluar di ponsel itu.
Mengetahui kalau orang itu adalah Dion, Farhan hanya tersenyum saja dan meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula.
...******...
Saat ini, Farhan dan Ameera sudah berada di pesawat pribadi milik keluarga Farhan. Mereka terpaksa naik pesawat pribadi karena Safa yang memintanya,lantaran wanita itu ingin anak dan menantunya segera tiba di kediamannya.
"Mas, Papa sakit apa?" tanya Ameera, terlihat dari wajahnya jika ia juga ikut cemas.
"Mas juga tidak tahu, Meera. Namun, Papa punya riwayat lambung yang sudah parah," jawabnya.
Ameera menganggukkan kepalanya, tak ingin lagi banyak tanya. Sebab ia tahu, di balik wajah tenang Farhan, tersimpan banyak kekhawatiran tentang kondisi Kenzo, sang Papa.
"Tidak apa-apa, Mas. Keadaan mendadak seperti ini memang tidak pernah terduga. Yang terpenting sekarang kita mendoakan untuk kesembuhan Papa saja," tangkas Ameera sambil mengelus lengan Farhan.
Mereka akhirnya mendarat di bandara terdekat dengan rumah sakit. Setelah turun dari pesawat pun, mereka langsung disambut oleh orang-orang berpakaian jas hitam dan mengarahkan mereka ke sebuah mobil mewah yang sudah terparkir tak jauh dari jangkauan mereka.
"Bukankah itu Farhan dan Ameera?" gumam seseorang dari dalam mobil juga.
Wanita itu mengerutkan keningnya sambil menyipitkan matanya, kembali memastikan apakah yang dilihatnya itu memang orang yang dikenalnya atau bukan.
"Pak, ikuti mobil di depan!" titahnya pada supir pribadinya juga.
"Tapi, Nona--"
"Cepatlah! Aku tidak memintamu untuk membantah!" bentak wanita itu.
Sang supir langsung melajukan mobilnya mengikuti mobil mewah di depannya. Hanya beberapa saat, mereka tiba di depan sebuah rumah sakit.
"Rumah sakit? Kenapa mereka kemari? Apakah Ameera hamil? Tapi, kenapa harus jauh-jauh ke sini jika ingin memeriksa kandungan wanita itu?" terlalu banyak pertanyaan yang muncul dibenak wanita itu. Namun, tak satupun dapat terjawab.
"Kau tunggu di sini! Aku akan masuk sebentar," titahnya lagi.
"Baik, Nona!" jawab sang supir.
__ADS_1
Dengan rasa penasaran yang telah menggebu, wanita itu mengikuti Farhan dan Ameera yang berjalan menuju ke sebuah ruangan VVIP.
Ada beberapa orang berpakaian hitam yang berjaga di depan pintu kamar ruangan itu. Tanpa harus mencoba, wanita itu sudah tahu kalau dia pasti tidak akan diperbolehkan masuk ke dalam.
Wanita itu ingin membalikkan badan, namun matanya menatap dua orang wanita yang baru saja keluar dari ruangan itu. Merasa mempunyai kesempatan emas, dia memilih menunggu kedua wanita itu berjalan mendekat padanya.
"Nyonya, bisaa kita bicara sebentar?"
Safa dan Niken kompak melihat ke arah suara. Mereka menatap wanita yang sedang berdiri di hadapan mereka dengan tatapan aneh.
"Siapa kamu?" tanya Niken.
"Aku Erlin. Aku ingin bicara dengan kalian berdua. Sebentar saja," pinta Erlin.
"Maaf kami tidak punya waktu," sela Niken
Niken dan Safa sudah mau mengambil langkah, namun ucapan Erlin membuat mereka kembali mengurungkannya.
"Jika kalian tidak mau mendengarkan ucapanku, kalian akan menyesal! Ini menyangkut Farhan dan Ameera!" teriak Erlin. Tidak mempedulikan pandangan orang-orang disekitarnya.
Melihat Safa dan Niken berbalik, Erlin langsung tersenyum penuh kemenangan.
Wajahnya sangat mirip dengan Farhan. Aku yakin, ini memang ibunya Farhan.
"Ikut kami!" ucap Safa ketus.
Safa dan Niken berjalan ke arah taman, di belakangnya ada Erlin yang masih setia mengekor.
"Katakan, apa yang mau kau bicarakan? Jika itu sesuatu yang tidak penting, kau bisa langsung angkat kaki sekarang juga!" tandas Safa.
Erlin terlihat tertekan dengan ucapan Safa. Dia menelan saliva-nya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu sebuah rahasia besar mengenai Farhan dan Ameera! Tapi sebelum itu, bisakah aku tahu siapa Anda?" tanya Erlin sambil menunjuk ke arah Safa.
Masih dengan wajah datarnya, Safa menatap Erlin dari atas ke bawah. Dia terlihat tidak senang dengan kehadiran Erlin. Namun, dia juga penasaran, rahasia apa yang akan disuguhkan oleh orang luar ini.
"Kalau kau tidak bersedia mengatakan apapun sekarang, kau bisa pergi!" Safa kembali mengusir Erlin. "Kami masih banyak urusan," imbuhnya lagi.
"Apakah Tante tahu, sebenarnya Farhan adalah suami Muhallil untuk Ameera?" ucap Erlin membuat Safa mengerutkan keningnya lebih dalam lagi. "Pernikahan mereka hanya sebuah kesepakatan agar Ameera dapat kembali kepada mantan suaminya, Dion?" lanjutnya membuat Safa dan Niken sama-sama membelalakkan matanya.
Maaf karena sudah lama tidak update. Dikarenakan di rumah sedang ada acara🙏
Author punya rekomendasi novel yang bagus juga loh ini. Jangan lupa mampir ya...
Seperti biasa, jangan lupa berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️