
"Ameera?" panggil Farhan membuat Ameera tersadar dari terpukaunya.
"Maaf, Mas. Kamu terlihat berbeda saat memakai itu," ucap Ameera.
Wajah Farhan memerah seperti cat merah no drop anti bocor. Karena wajah Farhan hanya bisa memerah karena Ameera, tidak dengan wanita lain.
"Kalian pasangan yang sangat serasi, ya? Saling memuji dan sama-sama tersipu malu," goda Srinta sambil cengengesan.
"Sudah-sudah, jangan katakan apapun lagi. Nanti dia ngambek lagi," sanggah Safa.
"Jadi bagaimana, apa kalian sudah cocok dengan baju yang ini?" tanya Srinta.
"Kalau aku sudah, Mbak. Tapi, tidak tahu dengan Mas Farhan. Mungkin, Mas Farhan ada komentar tambahan?" Ameera memang sudah sangat suka dengan pakaian yang dipilih ini. Namun dia tidak mau egois dengan memaksakan keinginannya pada Farhan.
"Kalau kamu suka, Mas juga suka yang ini," jawab Farhan.
Setelah semua urusan mereka selesai, Farhan dan Ameera pamit pada Safa dan Niken untuk pulang. Kebetulan hari sudah siang, jadi Farhan mengajak Ameera untuk makan bersama di sebuah restaurant favorit mereka dulu. Hitung-hitung sambil mengenang masa lalu saat mereka masih menjadi sahabat, karena mulai besok mereka sudah merubah status menjadi calon-calonan.
"Meera, kamu lapar? Kita singgah makan dulu, ya?" ucap Farhan saat matanya sudah menangkap keberadaan restaurant favorit mereka dulu.
"Boleh, Mas. Di mana?" tanya Ameera yang belum melihat restaurant itu.
"Di sana," tunjuk Farhan ke arah restaurant. "Kita makan di sana saja ya?" tanya Farhan meminta pendapat.
"Ayo dong! Sudah lama juga tidak makan di sana. Jadi kangen," ucap Ameera sambil tersenyum.
"Kangen makan bareng aku ya, Meera?" tanya Farhan sambil menaik turunkan alisnya yang tebal.
"Bukan, Mas. Kangen rasa masakannya. Masakannya tu enak banget, Mas. Jadi selalu buat kangen." jawaban Ameera membuat senyuman yang terukir indah di bibir Farhan seketika lenyap di telan samudra.
Farhan membelokkan mobilnya ke parkiran restaurant tersebut. Mereka turun dan langsung memesan makanan.
"Selain makanannya enak-enak, di sini juga ada makanan khas Aceh. Aku jadi bisa mengobati rinduku pada kampung halaman," ucapnya setelah menutup buku menu.
"Kamu rindu kampung halamanmu?" tanya Farhan dan diangguki oleh Ameera sebagai jawaban.
"Kalau begitu, bagaimana kalau nanti setelah menikah, kita bulan madu ke sana saja? Hitung-hitung sambil mengobati kerinduan," usul Farhan, Farhan mengatakan itu dengan wajah yang biasa saja. Tapi berbeda dengan Ameera, wajahnya sudah memerah karena malu.
"Hem...." Ameera menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, dia merasa bingung dengan jawaban apa yang pantas diucapkannya.
"Bo-boleh," jawabnya sambil tersenyum kikuk.
Melihat tingkah Ameera yang berbeda dengan tadi, Farhan merasa bersalah sendiri. Dia mengingat-ingat lagi kalimat yang diucapkannya tadi.
__ADS_1
Apakah ada yang salah dengan ucapanku barusan? Kenapa wajahnya menjadi merona seperti itu?
"Meera, kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Farhan terus terang. Dia takut kalau Ameera sampai merasa tersinggung dengan ucapan yang tak disadarinya.
"Tidak apa-apa, Mas," sahut Ameera menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
Aku hanya malu saat kamu mengatakan tentang bulan madu, Mas. jawab Ameera dalam hati yang tentunya tak diketahui Farhan.
Setelah makanan datang, Mereka makan sambil mengobrol hal-hal kecil yang menyenangkan. Itulah kebiasaan mereka, akan bercerita tentang apa saja dan di mana saja.
"Mas, besok keluarga kamu datang jam berapa?" tanya Ameera sambil memasukkan sendok berisi nasi berlauk ikan gulai Aceh ke dalam mulutnya.
"Mungkin sorean sedikit. Karena menunggu Mas Fahri pulang kerja," jawab Farhan.
Ameera hanya membulatkan bibirnya dan mengangguk, dia kembali melanjutkan makannya. Namun, dia merasa seperti sedang ditatap oleh seseorang. Karena merasa merinding, dia langsung melihat ke arah Farhan yang memang sedang menatapnya sambil tersenyum-senyum aneh.
"Kenapa, Mas? Dosa loh kamu lihatin aku terus gitu. Zina mata jatuhnya, hayo...." seru Ameera sambil menyeruput minumannya.
"Aku aneh saja sama kamu," sahut Farhan.
"Aneh? Kenapa?" Ameera mengerutkan keningnya, merasa heran dengan keanehan yang dikatakan oleh Farhan.
"Ya, Aku perhatikan sedari tadi, kok ada yang gak lengkap di diri kamu," ucapnya lagi dengan wajah serius.
"Tapi kamu beda," jawabnya lagi, seolah masih belum mau mengalihkan pembicaraannya.
"Anehnya kenapa?"
"Bidadari kok tidak ada sayapnya, sih?" cetus Farhan masih dengan wajah yang serius.
"Kamu lagi apa, Mas?" tanya Ameera.
"Kan aku lagi makan bareng kamu, Meera," jawab Farhan yang kini gantian mengerutkan keningnya.
"Oh...." jawab Ameera.
Farhan makin mengerutkan keningnya karena dibuat sangat kebingungan oleh teka-teki Ameera. Farhan pikir, Ameera menanyakan seperti itu karena mau membalas rayuannya. Ternyata, benar-benar hanya bertanya saja. Membuatnya semakin gemas.
"Bagaimana kalau besok kita batalkan saja acara lamaran kita?" usul Farhan membuat Ameera tersedak dengan minuman yang sedang disedotnya. Dia langsung mendelik melihat Farhan. Tak mengerti dengan pemikiran laki-laki yang telah lama menjadi sahabatnya itu. Bukannya Farhan sendiri yang mau mengajukan diri untuk mau menikah dengannya. Lalu sekarang, kenapa dia juga yang mau membatalkannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Ameera yang merasa butuh kejelasan.
"Kita besok langsung menikah saja," celetuknya cepat, membuat Ameera menggelengkan kepalanya dan kembali mengubur pikiran-pikiran jelek yang sempat bangun di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Kenapa begitu? Bukankah menjalani setiap langkah-langkah ini juga kemauan Mas Farhan?" tanya Ameera.
"Aku hanya tidak sabar ingin segera memiliki kamu," jawaban Farhan selalu membuat senyuman terbit di wajah cantik Ameera.
Ameera pernah diberitahu oleh Farhan, meskipun ini pernikahan tak seperti biasanya. Farhan tetap ingin menjalani setiap langkah-langkah kecilnya, seperti lamaran, menikah dan bulan madu.
Tentang bagaimana keputusan akhir Ameera nanti, dia akan menyerahkan semua keputusan kembali kepada Ameera.
Setelah selesai makan, Farhan berniat langsung mengantarkan Ameera pulang.
"Ameera!" teriak seorang wanita dengan cukup keras. Seperti pertanda kalau wanita ini mau membuat keributan.
Ameera dan Farhan berbalik karena merasa tak mengenali suara itu.
Terlihat Erlin sedang jalan dengan tergesa-gesa ke arah mereka. Sampai di depan Ameera dan Farhan, Erlin langsung berdirinya di sebelah kiri Farhan.
"Ameera, ngapain kamu di sini?" tanya Erlin dengan tatapan tak suka yang menusuk.
"Makan, Mbak," jawab Ameera sekenanya. Karena dia tahu, wanita yang sedang berdiri diantara mereka, sangat tidak suka padanya.
"Oh, aku pikir kamu bekerja di sini sebagai pelayan cuci piring!" ejeknya.
"Mas Farhan masih sanggup bayar kok, Mbak," jawab Ameera yang selalu diselingi senyuman. Namun, di mata Erlin, itu senyuman menyebalkan yang sengaja diperuntukkan untuknya.
"Cih, dasar wanita miskin belagu!" umpatnya lirih namun masih terdengar oleh Farhan dan Ameera.
"Mbak Erlin ngapain di sini?" tanya Ameera gantian.
"Ya tentu saja aku mau ... makan." sahutnya seperti orang kebingungan.
"Oh, aku kira Mbak kerja sebagai juru parkir restaurant-restaurant mewah. Soalnya, kita ketemu di tempat parkir terus," ucap Ameera yang sebenarnya sedang mengungkapkan kekesalannya.
"Apa maksud kamu, Ameera?"
"Mas, pulang sekarang yuk!" ajak Ameera yang sudah sangat jengah mendengar ucapan-ucapan tak penting Erlin.
Tanpa menjawab, Farhan langsung menarik lengan baju Ameera untuk ikut dengannya. Tadi dia masih menghargai Ameera yang masih berbicara dengan wanita tidak jelas itu. Karena Ameera sudah mengajaknya, dia pun tidak akan menunggu lagi.
"Huh! Ameera, Ameera, percaya dirimu tinggi sekali. Lihat, bahkan Farhan tak mau memegang lenganmu. Hanya menarik bajumu seperti anak kucing," decaknya sebal karena ditinggal begitu saja oleh Ameera dan Farhan.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote ya..
Berikan juga rate 5 ya Shay❤️
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️