
"Ka-kamu tidak pakai baju, Mas?" Ameera bertanya dengan bibir bergetar.
"Iya, Mas mau mand--"
Belum sempat Farhan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ada yang mendobrak pintu dengan kuat. Ameera yang berdiri di belakang pintu, spontan langsung terdorong memeluk tubuh polos Farhan yang hanya terlilit handuk.
Seketika tubuh mereka berdua oleng dan jatuh ke lantai dengan posisi Ameera menindih tubuh Farhan.
Ameera membulatkan matanya karena merasa bagian sensitifnya menyentuh benda kenyal yang ia yakini kalau itu adalah teripang laut milik Farhan.
Ameera segera merebahkan tubuhnya ke samping agar tak mengenai lagi benda kenyal itu.
"Ahhh...!" Ameera berteriak kencang saat tubuhnya terbentur lantai.
Dan dari kejauhan terdengar suara Fahri yang meneriaki nama Anaknya. "Lisa, jangan sembarangan masuk ke kamar orang lain!" pekik Fahri dari arah belakang.
"Tapi, Yah. Lisa hanya ingin bertemu dengan Om Farhan dan Tante Ameera," balas anak kecil itu dengan wajah polosnya yang menyedihkan.
Kini Lisa berdiri di ambang pintu, meskipun pintu itu sudah terbuka sedikit tapi dia belum kunjung masuk karena tidak melihat siapapun di dalam.
Padahal, orang yang dicarinya berada di belakang pintu.
Fahri menghela nafas panjang. "Mereka sedang istirahat, Sayang. Nanti malam mereka akan menemui kita," ucap Fahri memberikan pengertian pada anaknya.
"Tapi, Yah...?"
"Sudah, jangan ganggu mereka, ya? Nanti malam kalau mereka tidak menemui kita, baru kita datang lagi ke sini, bagaimana?" usul Fahri membuat bocah kecil itu mengangguk setuju dengan rencana sang Ayah.
Fahri melepaskan tangan anaknya dari handle pintu yang dipegang Lisa. Walaupun dengan perasaan tak ikhlas, namun Lisa terpaksa menurut dan mengekor di belakang Ayahnya.
"Sudah, Lisa sudah pergi," ucap Farhan. Farhan memegang lengan Ameera dan menariknya berdiri sambil menahan tawa sebab melihat Ameera yang menutup wajahnya dengan dengan sebelah tangannya.
Ameera tak kunjung menurunkan tangan yang menutupi seluruh wajahnya itu. Farhan memajukan wajahnya lebih dekat pada wajah Ameera, membuat wanita itu tiba-tiba memundurkan kepalanya.
Farhan tersenyum simpul, dia kembali melakukan tujuan awalnya yaitu menutup pintu.
CEKLEK!
"Meera, kamu sudah bisa menurunkan tanganmu. Sudah tidak ada siapapun lagi di sini selain kita berdua," bisik Farhan.
Ameera tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masih menutupi seluruh wajahnya.
__ADS_1
Farhan menarik tangan Ameera dan menurunkannya ke bawah. Mata Ameera dan Farhan sempat bertatapan beberapa saat, setelah itu Ameera kembali memejamkan matanya karena melihat handuk yang dikenakan Farhan sudah melorot.
"Kenapa?" tanya Farhan sengaja menggoda istrinya itu.
"Mas ... malu!" pekik Ameera.
"Malu? Kenapa? Bukankah kamu sudah pernah melihat ... semuanya?" tutur Farhan membuat mata wanita itu semakin erat terpejam.
Farhan semakin gencar menggodanya.
"Jangan malu. Ayo, buka matamu sekarang!" pinta Farhan dengan berbisik.
"Mas...!" Ameera kembali menaikan tenor suaranya.
"Hahahaha!" Farhan tertawa terbahak-bahak.
"Kamu malu kenapa? Mas pakai celana boxer, Meera!" ucap Farhan dan kembali tertawa kencang.
Mendengar suara tawa Farhan yang menggelegar seisi kamar, Ameera merasa jengkel. Dia memelototi Farhan sambil mendorong tubuh suaminya hingga terhuyung ke belakang.
Yang tak Ameera ketahui, tangannya sudah nakal mendorong Farhan dan tangannya menempel tepat di bukit kembar kempis milik Farhan. Membuat teripang laut suaminya itu tiba-tiba bangun tegak.
"Ameera, kamu sudah membangunkan sesuatu," ucap Farhan dengan wajah serius.
"Mas...?" panggil Ameera pelan.
"Ka-kalau kamu menginginkannya, ayo kita lakukan," ujar Ameera dengan wajah tersipu tak menentu dan salah tingkah.
"Kamu juga menginginkannya?" tanya Farhan menyelidik dan menggoda.
"Ka-kamu jangan salah paham. Meera hanya menuruti keinginan kamu, Mas." Ameera langsung menjawab ucapan suaminya dengan cepat karena tak ingin Suaminya salah paham dan mengira dirinya genit.
"Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh." (HR Muslim). imbuh Ameera berucap.
"Ya, Mas memang sedang menginginkannya. Jika kamu memang bersedia, Mas sangat senang mendengarnya," seru Farhan mengatakan yang sebenarnya.
"Alhamdulillah. Sesungguhnya, Ridha suami itu adalah Ridha Allah SWT. Dan Ridhamu juga kunci surga untuk Meera, Mas."
Farhan sudah mulai melangkah maju ke arah Ameera. Namun, satu kata dari Ameera langsung menghentikan langkah kaki Farhan.
"Mas, kamu mau melakukannya sekarang?" tanya Ameera.
__ADS_1
Farhan mengangguk.
"Tidak mengizinkan Ameera mandi terlebih dahulu?" tanya Ameera lagi.
Farhan tercengir kuda. Dia mengangguk lagi.
Setelah melakukan ritual mandi, tibalah saatnya mereka melakukan ritual mereka sendiri.
Farhan sengaja tidak memakai baju agar memudahkan Ameera menjamah tubuhnya. Dengan hanya berbalut handuk tipis berwarna putih, Farhan mulai mendekati Ameera.
"Mas, Meera malu. Tidak dimatikan saja lampunya?" seru Ameera.
"Ya sudah, sebentar, ya?" Farhan yang sudah setengah naik ke atas tubuh Istrinya terpaksa kembali turun dan mematikan lampu.
Seketika ruangan menjadi sepi dan gelap.
Farhan memulai aksinya dengan mencium kening istrinya, lalu turun dan mengecup setiap inci bagian leher istrinya. Setiap sentuhan yang diberikan oleh Farhan, membuat tubuh Ameera menegang hebat. Tubuhnya bergetar seperti sedang disengat oleh listrik.
"Hum ... Mas Farhan...." Suara rintihan Ameera begitu mendayu-dayu di telinga Farhan. Dia juga sangat senang, sebab dikala sedang seperti ini Ameera menyebut namanya.
"Ya? Kenapa?" tanya Farhan dengan berbisik telah di telinga Ameera dengan sedikit meniup agar tubuh Ameera lebih meremang.
Saat Farhan mulai menjilati pucuk bukitnya, tubuh Ameera kembali menggelinjang hebat.
"Mas ... jangan di sana ... geli." Ameera kembali merintih. Membuat semangat Farhan tambah menggebu-gebu, dan naffssu nya juga semakin terpancing.
Farhan senang dengan suara rintihan dan ******* yang keluar dari mulut Ameera karena ulahnya. Dia semakin gencar membuat mulut Ameera semakin nyaring meneriaki namanya.
Puas bermain-main di bagian atas, Farhan pun berpindah ke bagian bawah. Dia membuka handuknya dan terpampang lah senjata Laras panjang miliknya yang sudah bangun tegap dan siap untuk segera bertempur beberapa ronde.
Farhan mulai mengarahkan senjata Laras panjangnya dan membidik target. Dia pun mulai memasukkan miliknya ke dalam liang nikmat Ameera. Meskipun berada dalam kegelapan, namun dia tidak salah dalam membidik targetnya. Farhan mulai memompanya dan menggoyang-goyangkan pinggulnya sampai akhirnya dia ingin keluar dan menyemburkan banyak kecebong ke dalam kolam surgawi Ameera.
"Kamu sudah, Sayang?" tanya Farhan.
Ameera hanya menggelengkan kepalanya, terlalu malu untuk menjawab dengan kata-kata. Meski dalam cahaya temaram, Farhan dapat melihat gelengan Istrinya.
"Ya sudah, kita akan kembali bertempur. Mengantarkan kamu ke puncak," bisik Farhan dengan suara parau.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan rate 5 juga ya guys ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungan yang sudah kalian berikan untuk karya recehku ini ❤️❤️❤️❤️