Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Dukungan Safa


__ADS_3

"Kalau kau tidak bersedia mengatakan apapun sekarang, kau bisa pergi!" Safa kembali mengusir Erlin. "Kami masih banyak urusan," imbuhnya lagi.


"Apakah Tante tahu, sebenarnya Farhan adalah suami Muhallil untuk Ameera?" ucap Erlin membuat Safa mengerutkan keningnya lebih dalam lagi. "Pernikahan mereka hanya sebuah kesepakatan agar Ameera dapat kembali kepada mantan suaminya, Dion?" lanjutnya membuat Safa dan Niken sama-sama membelalakkan matanya.


Mereka sama-sama saling melempar pandangan terkejut. Tentu saja Erlin sangat senang melihat reaksi tanggapan dari ucapannya.


Ternyata memang aku orang pertama yang mengatakan rahasia besar ini pada mereka. Kuharap, setelah ini pernikahan Farhan dan Ameera akan hancur. Dan aku punya kesempatan untuk mendekati Farhan. Apalagi, setelah aku mengatakan rahasia besar ini pada mereka. Mereka pasti akan berterima kasih padaku dan langsung setuju kalau aku yang menjadi istri Farhan selanjutnya.


Erlin mulai bersorak-sorai dalam hatinya. Terlebih saat dia melihat wajah Safa dan Niken yang membuatnya bertambah senang.


"Terima kasih untuk informasi tak pentingmu itu," ucap Niken membuat Erlin menatap Niken dengan wajah tak mengerti. "Sekarang, kau bisa pergi dari sini!" Niken mengusir Erlin sambil sedikit menolak tubuh wanita itu.


"Kenapa kalian mengusirku? Seharusnya kalian berterima kasih padaku. Jika bukan karena aku, kalian tidak akan pernah tahu informasi penting seperti ini," pekiknya merasa tak terima.


Niken menghembuskan nafas kasar dan panjang. Dia menatap wajah Erlin lekat. Menatap wanita itu dari atas ke bawah. Membuat Erlin merasa risih dengan tatapan itu.


"Kenapa kau menatapku dengan tatapan tak suka itu? Berterima kasihlah padaku," hardik Erlin dengan wajah sombong.


"Kenapa aku harus tidak suka padamu? Bahkan kita tidak saling mengenal!" sahut Niken dengan wajah datarnya.


"Kalau begitu, berterima kasihlah padaku!" berulang kali Erlin menagih ucapan terima kasih yang mereka tunggu-tunggu.


"Tutuplah aib saudaramu, maka Allah akan menutup aibmu di hari kiamat kelak!" pungkas Niken membuat Erlin menganga.


"Tapi, kalian bukan--"


"Sudahlah, Ma. Jika dia tidak mau pergi. Maka kitalah yang pergi dari sini! Tiada habisnya jika berbicara dengan orang seperti dia!" sela Niken.


Niken memegang lengan Safa dan menuntunnya pergi dari sana. Meninggalkan Erlin yang masih menatap punggung Niken dan Safa yang perlahan hilang di balik orang-orang yang sibuk berlalu lalang.


Dia menghentak-hentakkan kakinya karena sangat kesal dengan sikap Niken yang menurutnya tak tahu terima kasih.


"Aku tidak akan menyerah! Apa yang aku inginkan, harus menjadi milikku. Apapun yang menghalangi jalanku, akan aku singkirkan sesegera mungkin!" gumamnya bertekad kuat sambil mengepalkan tangannya.


Saat Erlin masih dalam kekesalannya, ponselnya berdering.


Ternyata, Risa yang menghubunginya.


"Erlin, di mana kamu?" tanya Risa dari seberang telepon.


"Kenapa, Kak?" tanya Erlin.


"Supir kita bilang kamu meminta mengikuti seseorang? Siapa itu?" tanya Risa.

__ADS_1


"Dasar pengadu!" umpatnya yang tak terdengar oleh Risa.


"Ameera dan Farhan," jawabnya.


"Erlin, kamu tahu, kan? Sebentar lagi kita ada pertemuan penting. Kenapa kamu malah keluyuran tidak jelas seperti itu?" tanya Risa yang terdengar kesal.


"Iya, sekarang aku langsung menuju ke sana," jawabnya malas.


Niken masih menuntun Safa menuju ke mobil. Safa hanya diam saja, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Dia hanya menghela nafas panjang, seperti banyak beban pikiran yang sedang menerjangnya.


"Ma, jangan pikirkan ucapan wanita itu lagi. Mungkin dia sengaja mengatakan hal seperti itu agar kita membenci Ameera," tutur Niken berusaha membuat Mertuanya tak dikuasai kecemasan berlebihan.


"Mama mengerti, Niken. Tapi, tidak akan ada api jika tak ada asap, kan?" sambar Safa dan kembali menghela nafas panjangnya.


"Niken mengerti, Ma. Tapi, apa tidak lebih baik kita bertanya dulu pada Farhan dan mendengarkan penjelasannya?" usul Niken.


Mereka pun masuk ke dalam mobil.


"Pak, kita ke masjid terdekat!" titah Safa.


"Ma, shalat di rumah saja."


"Mama mau menemui Ustadz dan meminta pendapat tentang hukum pernikahan Muhallil ini, Niken. Mama tidak mau Farhan salah melangkah dan melukai perasaan Ameera," ucap Safa membuat Niken hanya bisa mengangguk dan terdiam tanpa mau menjawab apapun lagi.


"Kak Niken, mana Mama?" tanya Farhan saat Niken telah masuk ke dalam ruangan tempat di mana Kenzo dirawat.


"Farhan, Mama menunggumu di mobil. Ada yang ingin Mama bicarakan," ucap Niken menjawab pertanyaan Farhan tadi.


Setelah mengatakan itu dan mendapat anggukan dari Farhan, Niken kembali ke luar dan entah pergi ke mana.


"Meera, kamu tunggu di sini, ya? Mas mau menemui Mama sebentar," ucap Farhan sembari mengelus kepala istrinya.


"Iya, Mas, tidak apa-apa. Meera akan menunggu di sini sambil menjaga Papa," jawab Ameera.


Farhan keluar dari ruangan, celingak-celinguk mencari mobil milik keluarganya yang terparkir di parkiran khusus. Setelah menemukannya, dia langsung masuk ke dalam mobil dan menemui sang Ibu.


"Ma, ada apa? Kenapa berbicara di sini? Sepertinya sangat rahasia sekali?" seloroh Farhan yang tak langsung ditanggapi oleh Safa.


Menangkap ada yang aneh dengan gelagat sang Mama. Farhan mengerutkan keningnya lalu menaikan sebelah alisnya.


"Ma? Ada apa?" tanya Farhan lagi.


"Farhan, kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari Mama dan Papa?" tanya Safa yang langsung ke intinya, tanpa ada basa-basi.

__ADS_1


Wajah Safa terlihat sedih. Entah karena kecewa atau kenapa, Farhan pun belum tahu apa maksud ucapan Safa.


"Sembunyikan apa, Ma?" tanya Farhan meminta penjelasan lebih.


"Apakah benar, kamu hanya menjadi suami Muhallil Ameera? Kamu menikahi Ameera hanya agar dia bisa kembali pada mantan suaminya?" tanya Safa membuat wajah Farhan berubah pias.


Perubahan wajah Farhan yang dapat ditangkap oleh Safa, sudah menjadi jawaban untuk Safa sendiri. Namun, dia tetap mau mendengar penjelasan langsung dari mulut Farhan. Apakah itu semua benar? Dan, apa alasannya?


"Ma, bisakah Farhan menjelaskan semuanya? Maukah Mama mendengarkannya?" tanya Farhan sambil menggenggam tangan Safa.


Safa mengangguk. Dia mengakan, "Mama siap mendengarkan semua penjelasan kamu, Farhan."


"Ma, semua yang Mama katakan tadi memang adanya benarnya dan ada yang salah." Farhan mengaku, membuat Safa menitikkan air matanya. Masih memberikan kesempatan pada putranya untuk menjelaskan.


"Namun, Mama juga harus tahu, Farhan melakukan itu karena Farhan mencintai Ameera, Ma!" kekeh Farhan yang semakin erat menggenggam tangan Ibunya.


"Farhan, Mama sudah bertanya pada ustad mengenai hukum pernikahan kamu ini. Dan hukumnya haram, Nak."


"Farhan tahu, Ma. Namun, hukumnya menjadi haram jika Farhan dan Ameera memang meniatkan pernikahan ini hanya untuk membuat Ameera kembali pada Dion. Namun, niat kami menikah bukanlah untuk itu, Ma. Kami menikah memang karena ingin menjalani kehidupan rumah tangga bersama, tidak ada niat menyimpang atau mengikat sebuah perjanjian apapun," ucap Farhan menjelaskan.


"Tidak ada perjanjian?" tanya Safa kembali memastikan.


Farhan menggeleng, "Tidak ada ikatan perjanjian apapun diantara kami, Ma."


"Namun, Farhan menyerahkan semua keputusan akhir pada Ameera. Jika dia tetap merasa tidak nyaman dengan ikatan pernikahan kami, Ameera boleh memutuskan hubungan ini kapanpun dia mau," lanjutnya.


"Berarti, Ameera belum mencintai kamu?" tanya Safa lagi.


Farhan kembali menggelengkan kepalanya, "Belum, Ma. Farhan akan tetap berusaha membuat Ameera mencintai Farhan dan merasa nyaman dengan pernikahan kami. Namun, kita tidak tahu bagaimana akhirnya nanti. Farhan hanya bisa menyerahkan semuanya pada Allah SWT," jawabnya.


"Allah SWT lah yang maha membolak-balikkan hati seseorang."


"Farhan, jangan pernah memaksa Ameera. Jika dia tidak bisa mencintaimu sampai akhir nanti dan memintamu untuk melepaskan dirinya, maka turutilah keinginannya itu. Namun untuk sekarang, sayangilah dia layaknya seorang istri. Perlakukan dia sebaik-baik mungkin sebagaimana Rasulullah mencintai Aisyah," tutur Safa.


Safa menarik Farhan ke dalam pelukannya. Dia baru tahu kalau percintaan anaknya begitu menyedihkan. Namun, di balik itu semu tentu ada alasan tertentu yang tersimpan rapi di hati Farhan.


"Mama akan mendukung kamu untuk membuat hati Ameera luluh. Jangan lupa mengimbangi usaha dengan do'a. Pasrahkan semua hasil akhirnya pada Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan memanjatkan do'a sebanyak-banyaknya."


"Kalau niat kita baik, tidak mungkin Allah tidak memberikan kita jalan," imbuh Safa menyemangati Farhan.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan dari kalian semua ❤️❤️❤️


__ADS_2