Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Jangan Insecure!


__ADS_3

"Jika kau menginginkan seorang istri yang sempurna, itu tidak akan ada! Bagaimana bisa kau menginginkan orang terus berbuat baik padamu, tapi kau tak bisa menghargai seseorang? Aku hanya mencintaimu, Mas. Aku tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan."


...*****...


Sepanjang perjalanan, Ameera hanya diam sambil menatap ke arah jalanan yang tampak padat dengan pengendara yang berlalu lalang.


Dia hanya diam, memalingkan wajahnya ke kiri, seperti sedang sibuk memperhatikan mobil-mobil yang saling memberi klakson saat jalannya terhalangi.


Farhan yang duduk di sampingnya terus memperhatikan gerak-gerik istrinya yang terlihat termenung namun penuh beban pikiran.


Entah apa yang membebaninya, Farhan pun tidak pernah tahu pasti. Sebab Ameera tak pernah mau membuka mulutnya untuk sekedar berbagi keluh kesah padanya, sang suami.


Namun, dia juga tak ingin memaksa. Setiap orang punya privasi tersendiri, dan itulah yang selalu dijaga oleh Farhan. Dia tidak ingin memaksakan kehendak dan membuat Ameera merasa risih padanya. Dia hanya ingin Ameera selalu merasa nyaman saat di sampingnya. Itu sudah lebih dari cukup untuknya.


"Meera, apa ada tambahan oleh-oleh yang mau dibeli untuk Ayah?" tanya Farhan menyadarkan Ameera dari lautan pikirannya yang tak bisa ditebak.


"Tidak ada, Mas. Kita langsung pulang saja," jawabnya sambil memberikan sedikit senyum simpul. Lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan? Apakah dia sedang memikirkan hubungan Dion dengan wanita tadi? Apakah dia cemburu pada mereka?


Farhan menghela nafas panjang, namun belum membuat Ameera mau menoleh.


"Sepertinya, jalanan itu lebih indah dibandingkan dengan melihat ke sini, ya?" ucap Farhan memancing.


Ameera menoleh, menatap wajah Farhan dan tersenyum.


"Bukan seperti itu, Mas. Rasanya, melihat kesibukan orang-orang itu bisa memanjakan mata. Membuat Meera terus menatapnya tanpa bosan," jawabnya jujur, namun masih sedikit melenceng dengan apa yang sebenarnya ada di pikirannya.


Farhan tersenyum. Dia menatap wajah Ameera dan berkata, "Kamu menatapnya dengan perasaan senang. Mereka melakukannya dengan perasaan lelah. Karena bekerja itu kadang tak semenyenangkan seperti yang kita lihat," ujar Farhan, seperti sedang menjabarkan dirinya sendiri.


"Tapi kan tetap harus bersyukur, Mas. Masih diberi nikmat oleh Allah SWT untuk bisa bekerja. Diberi rezeki berupa pekerjaan itu sendiri. Dan diberi kesehatan saat melakukan pekerjaan. Namun, jika terlalu memforsir tenaga untuk bekerja, mungkin semua nikmat itu akan hilang. Karena tenaga manusia sudah ada batasannya masing-masing," seru Ameera.


Kamu tidak tahu, suamimu ini termasuk orang yang memforsir seluruh tenaganya untuk pekerjaan.


Ameera terdiam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Mas, Mbak Risa cantik, ya? Mandiri lagi, dia terlihat sangat sempurna sebagai wanita karir." tiba-tiba Ameera mengucapkan kata itu. Kata-kata yang sangat menggambarkan isi hatinya saat ini.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Farhan dengan dahi mengkerut.


"Meera hanya sedang mengutarakan pendapat saja, Mas." jawabannya tak membuat Farhan langsung percaya.


"Meera, kamu sedang cemburu?" pertanyaan Farhan langsung menusuk hati Ameera. Membuat wanita itu merasa terkejut namun tetap merasa enggan untuk menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Tidak, Mas. Meera hanya kagum pada sosok wanita berkarir," bantahnya.


Pantas saja Bu Wenda sangat menyukai Mbak Risa. Jika dibandingkan denganku memang sangatlah jauh. Mbak Risa seorang wanita karir, sangat pantas jika disandingkan dengan Mas Dion.


Melihat wajah Ameera murung, Farhan berdecak tidak senang. Istrinya itu bagaikan bunga yang selalu mekar, namun tiba-tiba mendadak layu karena ulah kumbang jalanan.


Dia sang pemilik bunga, merasa tidak senang. Ingin membuang kumbang itu, namun belum menemukan celah yang tepat.


Karena bunga indah itu masih membutuhkan sang kumbang untuk melakukan penyerbukan yang dapat menguntungkan si bunga, memang hubungan simbiosis mutualisme. Namun, madu manis yang di peroleh oleh si kumbang, membuat kumbang selalu mendatangi si bunga.


Memicu kecemburuan dari sang pemilik kembang yang sebenarnya.


"Kagumlah pada dirimu sendiri, Meera. Yang bisa melewati semuanya dengan ketegaran hati. Mas yakin, saat kamu merasa kagum pada orang lain, mungkin saja di luaran sana juga banyak orang yang lebih kagum padamu," ucap Farhan menyemangati Istrinya.


Farhan senang melihat wajah murung Ameera tadi berubah menjadi senyuman. Dia sendiri tahu pasti, kenapa Ameera merasa kagum pada Risa. Tentu saja alasan terkuatnya adalah karena Dion.


"Terima kasih, Mas. Kamu benar, tidak seharusnya kita merasa insecure terhadap diri sendiri. Harus tetap merasa bersyukur dengan apa yang kita miliki," jawabnya. Sekarang Ameera terlihat lebih percaya diri.


"Ya, itu baru Ameera Zahra!" seru Farhan membuat senyuman Ameera tambah melebar.


...*****...


Setelah sampai di rumah, Ameera dan Farhan langsung masuk ke dalam kamar mereka. Karena kekuatan mereka benar-benar sudah terkuras habis saat di perjalanan tadi. Jadi, di tubuh mereka sekarang hanya tinggal kelelahan saja. Membuat mereka membutuhkan istirahat ekstra.


Setelah membersihkan tubuh mereka dengan saling bergantian mandi, mereka merebahkan tubuh di atas ranjang. Tidak butuh waktu lama, mata mereka yang sudah sayu pun langsung terpejam lelap.


"Lisa, bangunkan Farhan dan Ameera. Sepertinya mereka belum bangun. Sudah waktunya untuk shalat subuh," titah Arman pada Alisa.

__ADS_1


"Sepertinya mereka sangat kelelahan," ujarnya sambil berjalan menuju kamar Ameera.


TOKK!


TOKK!


TOKK!


"Kak Meera, ayo bangun. Sudah waktunya untuk shalat subuh," ucap Alisa sedikit meninggikan intonasi suaranya agar dapat terdengar oleh Ameera yang sedang terlelap.


"Iya, ini Kakak sudah bangun, Lis!" balas Ameera dengan sedikit keras juga.


"Ya sudah, Lisa tinggal ya. Jangan tidur lagi, Kak!" pekiknya lalu meninggalkan kamar Kakaknya dan melakukan kewajibannya juga.


Ameera membangunkan Farhan, setelah itu mereka shalat berjamaah.


"Mas, Kalau mau lanjut tidur tidak apa-apa. Nanti Meera bangunin. Meera mau bantu Lisa buat sarapan dulu ya di dapur," tuturnya.


"Iya, Mas lanjut tidur ya. Nanti jangan lupa bangunin Mas," pesannya pada Ameera dan dijawab dengan anggukan kepala.


"Kak, ada oleh-oleh tidak?" seloroh Lisa sambil mengaduk olahan sarapan yang sedang dimasaknya.


"Ada. Nanti Kakak kasih, ya? Sekalian titip untuk ustadzah Nisa juga."


"Iya, Kak."


"Kak, kata Ayah Kakak mau pindah?" tanyanya lagi.


"Iya, Lis. Kamu tinggal berdua sama Ayah tidak apa-apa, kan?" tanya Ameera. Dari wajahnya tersirat kesedihan karena harus berpisah dengan keluarganya.


"Kakak tidak percaya sama Alisa?" gurau Alisa namun ditanggapi serius oleh Ameera.


"Bukan begitu, Lisa. Kakak hanya merasa sedih karena harus berjauhan dengan kalian," jawabnya dengan kepala tertunduk.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya ya...

__ADS_1


Berikan juga rate 5


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2