
"Mama akan mendukung kamu untuk membuat hati Ameera luluh. Jangan lupa mengimbangi usaha dengan do'a. Pasrahkan semua hasil akhirnya pada Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan memanjatkan do'a sebanyak-banyaknya."
"Kalau niat kita baik, tidak mungkin Allah tidak memberikan kita jalan," imbuh Safa menyemangati Farhan.
Mereka menguraikan pelukannya. Farhan mengusap air mata di pipi Safa dengan ibu jarinya.
"Ma, jangan menangis. Kenapa harus menangis?" tanya Farhan sambil terkekeh pelan.
"Mama hanya tidak menyangka kalau kisah cintamu sangat tragis seperti ini, Farhan. Mama pasti akan selalu mendukung jalanmu selama itu masih dalam kebaikan," ucap Safa lagi sambil menepuk pundak anaknya perlahan.
"Terima kasih karena sudah mau mengerti, Ma. Tapi, Farhan minta, Mama jangan menceritakan masalah ini pada Papa, ya?" pintanya dengan wajah memelas.
"Tidak akan, Nak. Semoga kamu juga berhasil meluluhkan hati permaisurimu," seloroh Safa.
"Kalau begitu, Farhan kembali menemui Ameera, ya, Ma? Kasihan dia menunggu sendirian," pamit Farhan.
Setelah mendapat anggukan dari Ibunya, Farhan turun dari mobil dan kembali ke ruangan tempat Ayahnya dirawat.
"Assalamualaikum," ucap Farhan sambil mendorong pintu.
"Waalaikumsalam, Mas!" jawab Ameera yang terlihat masih menyimpan senyum di bibirnya.
"Papa? Sudah siuman?" tanya Farhan dan segera menghampiri Kenzo.
"Sudah, Mas. Papa baru saja siuman." Ameera menjawab.
"Mama kamu mana, Farhan? Tadi kata Ameera kamu menemui Mama?" tanya Kenzo yang celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya.
"Mama pulang, Pa."
"Papa juga mau pulang saja. Tidak nyaman di sini," ucapnya.
"Pa, tunggu tubuh Papa benar-benar sembuh dulu baru kita pulang, ya?" bujuk Farhan yang tak diindahkan oleh Kenzo.
"Tidak mau. Papa mau pulang sekarang, Farhan. Bosan sekali di sini," tukas Kenzo.
"Ya sudah. Sebentar, ya, Pa. Farhan panggil Dokter dulu."
Kenzo hanya menjawabnya dengan anggukan.
Saat para suster dan Dokter sedang sibuk memeriksa keadaan terkini Kenzo, Ameera mendekati suaminya dan berbisik, "Mas, tadi Mama bicara apa?" tanya Ameera.
Farhan terlihat kikuk, dia benar-benar bingung dengan jawaban apa yang harus dikatakannya. Membuat Ameera tanpa ada celah untuk curiga sedikitpun.
"Hanya seputar masalah perusahaan saja. Kan hari ini ada acara tahunan perusahaan. Jadi, Mama bertanya tentang acara itu," ucap Farhan tanpa melihat wajah Ameera. Takut membuat Ameera curiga dan kebohongannya akan terbuka.
Ameera hanya mengerucutkan bibirnya sambil manggut-manggut. Kemudian perhatiannya kembali fokus melihat ke arah Kenzo yang masih di periksa oleh beberapa orang Dokter yang sedang bertugas.
Farhan menarik nafas lega karena Ameera tak terlihat curiga sama sekali.
Setelah memeriksakan secara detail kondisi Kenzo, sang Dokter mengizinkan Kenzo untuk pulang.
"Tuan, Anda sudah boleh pulang. Setelah pulang dari sini, harap perhatikan asupan makanan Anda. Tidak diperbolehkan makan makanan pedas, jangan sampai telat makan dan jangan terlalu banyak minum minuman yang mengandung cafein," saran sang Dokter.
__ADS_1
"Kalau yang mengandung alkohol, apakah boleh, Dok?" pungkas Kenzo membuat para Dokter itu tersenyum kikuk.
"Se-sebaiknya jangan, Tuan. Karena itu akan lebih membahayakan tubuh," sahutnya dengan senyuman yang terkesan terpaksa.
"Huh...!" Kenzo menghela nafas panjang. "Orang berumur itu sungguh menyusahkan! Ini tidak boleh, itu tidak bisa." mulutnya kembali mengucapkan keluhan dengan tangan yang bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan.
"Nanti bisa langsung menebus obat di apotek kami, ya, Tuan," ucap salah satu Suster pada Farhan.
"Ya," Farhan hanya menjawab seadanya saja.
"Kalau begitu kami permisi," pamit para Dokter dan suster itu.
Sebelum mereka benar-benar undur diri, mereka menyempatkan untuk menunduk tanda hormat pada atasan. Setelah itu, barulah mereka berjalan keluar dengan beriringan.
Farhan menuntun Kenzo berjalan menuju mobil. Dari belakang, Ameera mengikuti langkah mereka sambil terus memperhatikan punggung tegap suaminya.
Bibirnya terus-menerus menyunggingkan senyuman kecil saat menatap punggung suaminya. Pikirannya mulai berkelana entah kemana.
"Mas Farhan sangat gagah. Baik hati dan sangat patuh pada orang tuanya," gumam Ameera.
Senyuman senyuman kecil terus terpatri di bibirnya. Sungguh, sudah beberapa hari ini dia terus lupa akan Dion yang seakan telah terkubur dalam hatinya. Mungkin juga, cintanya untuk laki-laki itu pun mulai layu.
"Meera?" panggil Farhan mengejutkan Ameera.
"Ha? Iya, Mas?" sahut Ameera terkejut.
"Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Farhan.
Pertanyaan Farhan membuat Ameera salah tingkah.
"Ya sudah, ayo kita pulang sekarang. Papa sudah menunggu di dalam mobil," ujar Farhan.
"Untung Mas Farhan tidak bertanya lebih jauh. Kalau tidak, bisa-bisa aku mati kutu di hadapannya," gumamnya sepelan mungkin.
...*****...
Mereka tiba di kediaman Safa dan Kenzo. Terlihat Safa dan Niken sudah menunggu di ambang pintu.
Ameera membantu mertuanya turun dan menuntun Kenzo yang masih susah berjalan karena lemas yang masih menderanya.
"Meera, kamu temani Farhan istirahat saja, ya? Kalian pasti sangat lelah. Biar Mama yang temani Papa," ucap Safa.
"Baik, Ma. Tapi, jika membutuhkan bantuan bisa langsung panggil Ameera, ya, Ma."
Safa mengangguk disertai dengan senyuman.
Safa menatap punggung Ameera yang tertutup hijabnya. Seiring dengan bayangan Ameera yang mulai menghilang, Safa juga bermonolog dalam hatinya.
Ya Allah, semoga anakku dapat meluluhkan hati menantuku ini. Jujur, aku sangat menyayanginya. Entah bagaimana nasib anakku ke depannya jika tak bisa meneruskan ikatan pernikahan mereka.
Ameera berhenti tepat di ruang tamu yang luas. Dia melihat ke sana-sini karena tidak tahu di mana letak kamar Farhan. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, matanya masih sibuk mengawasi setiap ruangan disekitarnya.
"Di mana kamar Mas Farhan?" gumam Ameera.
__ADS_1
"Nona Ameera?" sapa seorang wanita paruh baya berseragam pelayan.
"Ya?" sahut Ameera yang terjingkat kaget.
"Mari saya antarkan ke kamar Tuan muda Farhan," ajak wanita paruh baya itu sopan.
"Ya, mari!" buru-buru Ameera mengiyakan.
Wanita paruh baya itu berjalan di depan Ameera. Masuk ke dalam lift dan menekan angka tiga.
TING!
Pintu lift terbuka, wanita itu kembali berjalan di depan menuntun Ameera menuju kamar suaminya.
"Ini adalah kamar Tuan muda, Nona."
"Terima kasih," ucap Ameera.
Selepas perginya ART tadi, Ameera barulah mengetuk pintu kamar Farhan.
TOKK!
TOKK!
TOKK!
"Masuk!" sahut orang dari dalam.
CEKLEK!
Pintu perlahan terbuka, Ameera menyembulkan kepalanya ke dalam berusaha melihat suasana kamar yang terlihat sepi.
"Assalamualaikum, Mas?" ucap Ameera sembari mencari-cari keberadaan Farhan.
"Mas di sini, Meera!" jawab Farhan yang sedang berdiri di dekat pintu.
"Astaghfirullah! Mas, kamu di sini?"
"Kenapa? Kamu seperti baru melihat jin kafir yang teramat jelek saja!" tukas Farhan.
Wajah Ameera merona dan terasa panas. "Bu-bukan begitu, Mas."
"Hum?" Farhan bertanya dengan deheman sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Ka-kamu tidak pakai baju, Mas?" Ameera bertanya dengan bibir bergetar.
"Iya, Mas mau mand--"
Belum sempat Farhan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ada yang mendobrak pintu dengan kuat. Ameera yang berdiri di belakang pintu, spontan langsung terdorong memeluk tubuh polos Farhan yang hanya terlilit handuk.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️