
"Mbak Risa?" panggil Ameera menerka.
Wanita berbaju syar'i dan berhijab panjang itu berjalan menghampiri Ameera dan Safa yang masih berdiri di tempatnya.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil tersenyum kepada kedua wanita itu.
"Waalaikumsalam," jawab Safa dan Ameera serempak.
"Ameera, bisakah kita bicara?" tanyanya.
"Boleh, ayo kita ke taman samping, Mbak!" ajak Ameera.
"Ma, Ameera mau menemani Mbak Risa sebentar, ya?" izinnya.
Safa mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju taman samping, sepanjang jalan Risa terus memperhatikan Ameera dari atas ke bawah.
Mereka duduk di sebuah ayunan, mata Risa terlihat berkaca-kaca. Dia menengadahkan kepalanya menatap langit pagi.
"Kamu tidak bertanya, kenapa penampilanku berbeda?" tanya Risa sambil tertawa miris.
Ameera menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak berhak mempertanyakan keputusan orang lain," jawabnya.
"Kamu memang berbeda, Ameera. Entah aku bisa menyamakan diriku denganmu atau tidak, namun aku sangat ingin akan hal itu,"
"Aku sedang menirumu, Ameera. Agar suamiku, Mas Dion bersedia untuk mencintaiku!" lanjutnya.
"Sebenarnya aku sangat malu untuk membuka aib rumah tanggaku, namun aku hanya ingin melegakan hatiku saja dan menanyakan beberapa hal agar Mas Dion bisa mencintaiku seperti mencintaimu," ujarnya lemah.
"Mbak, jika kamu mau menceritakannya padaku, aku akan mendengarkan. Jika kamu tidak mau, aku juga tidak bisa memaksakan menceritakan masalah pribadi kepada orang baru sepertiku memang bukanlah pilihan yang mudah," ucap Ameera.
"Kemarin, Mas Dion kembali ke rumah dalam keadaan murka. Setelah aku mengetahui alasan pastinya, itu semua karena perasaanmu telah beralih pada suamimu," ucap Risa.
"Walaupun hatiku berdarah, tapi aku tidak mempermasalahkannya, mungkin hanya masalah waktu saja. Ini pilihanku sendiri, jadi aku menjalaninya dengan tegar, bukankah begitu, Ameera?" tanya Risa, setetes air mata lirih di pipinya.
Ameera tak bereaksi, dia bingung harus menanggapi Risa seperti apa.
"Ameera, apakah kamu mau mengajarkan banyak hal tentang agama padaku? Akui … ingin menjadi sepertimu dan mengejar cinta suamiku," tukas Risa sambil menggigit bibir bawahnya.
"Mbak, apapun alasanmu itu adalah hakmu, aku akan mengajarimu sesuai dengan permintaanmu," ucap Ameera.
"Terima kasih, Ameera. Kamu memang wanita yang sangat baik." Rasa terima kasih itu teramat sangat diucapkan oleh Risa.
Mereka berbincang-bincang sejenak sebelum Risa berpamitan untuk pulang.
*****
Malam harinya, Ameera, Farhan, dan Safa sedang berada di meja makan.
"Ameera, Farhan, besok Mama harus pulang," seru Safa mengalihkan perhatian Ameera dan Farhan padanya.
"Pulang? Kenapa cepat sekali, Ma?" tanya Ameera, ada ketidakrelaan dalam suaranya.
"Tetangga Mama di sana mengadakan acara jalan-jalan, Mama juga sudah membicarakannya pada Papa," ujarnya.
Farhan melirik pada istrinya, wajah sedih dan tidak rela itu jelas terlukis di sana.
"Sayang, jangan bersedih. Lain kali Mama pasti akan kembali berkunjung," bujuk Farhan.
"Meera menanti saat itu, Ma. Sering-seringlah berkunjung kemari, ya!" rengeknya manja.
__ADS_1
"Tentu, Sayang!" sahut Safa.
Perhatian Safa beralih pada Farhan, "Farhan, apakah kamu sudah memperkenalkan Ameera pada karyawan kantor kita?" tanyanya serius.
"Belum, Ma!" jawabnya.
"Segeralah perkenalkan istrimu ini, agar mereka mengetahui siapa Nyonya mereka!" tandas Safa.
"Tidak perlu seperti itu, Ma. Ameera sudah cukup nyaman seperti ini," sanggah Ameera.
"Ameera, memperkenalkanmu pada karyawan kantor itu sangat penting. Agar kelak mereka mengenalimu dan mengantisipasi jika ada wanita yang tiba-tiba datang dan menggoda Farhan." sengaja Safa berkata seperti itu agar Ameera mau diperkenalkan pada para petinggi perusahaan.
"Baiklah, Ma," jawabnya yang akhirnya berubah pikiran. "Mas, kapan kita akan pergi?"
"Bagaimana kalau besok?" usul Farhan.
*****
Di kantor, pagi-pagi sekali para karyawan diminta untuk berkumpul dan menyambut kedatangan Presdir dan Istrinya. Kedatangan mendadak itu membuat suasana menjadi riuh dan tegang. Dion yang sudah rapi dengan setelan jas semi formalnya sudah berdiri dalam barisan rapi yang siap untuk menyambut hangat datangnya presdir mereka.
"Nanti aku harus bersikap sebaik mungkin, tidak boleh membuat kesalahan sekecil apapun. Aku harus berusaha menarik perhatian sang Presdir agar aku lebih cepat naik jabatan!" tekadnya, semua rencana sudah disusun dalam pikirannya.
"Bersiaplah, Pak Presdir dan Istrinya sudah tiba!" bisik seseorang namun terdengar pada seluruh karyawan.
Mereka semua menunduk, hanya ujung sepatu pantofel sang Presdir yang terlihat.
"Selamat pagi, Pak!" sapa salah satu manajer utama.
"Hum!" jawabnya sekenanya.
"Pagi, Nyonya!" sapanya pada seorang wanita yang berdiri menggandeng lengan Suaminya.
Dion terkecoh, merasa sangat mengenal suara dari dua orang yang tengah disambutnya.
Apakah benar mereka? Kuharap ini tidak nyata!
Perlahan-lahan Dion mengangkat kepalanya dan melihat pada dua orang yang sedang berjalan menuju padanya. Seketika matanya terbelalak dan jantungnya berdegup kencang.
"Ameera?!" suara panggilan Dion menggema.
Sontak, langkah kaki mereka terhenti dan semua beralih melihat pada mereka.
"Dion?" ucap Ameera lirih tanpa suara.
Dion berjalan cepat, dia langsung menggenggam tangan Ameera.
"Ameera, kenapa kamu berada di sini?" tanyanya menggebu-gebu.
Semua mata menatap heran pada mereka, istri Presdir mereka mengapa bisa seakrab itu dengan Dion. Begitulah yang terlintas di kepala mereka.
"Menyingkirlah dari hadapan istriku!" teriak Farhan, wajahnya memerah karena murka. Dia menolak tubuh Dion hingga terhuyung ke belakang.
"Farhan! Apa hakmu mendorongku? Untuk apa kau datang kesini? Kami sedang menunggu kedatangan Presdir kami dan istrinya, kenapa dengan tidak tahu malunya kau berjalan di atas karpet merah miliknya? Jangan membuat lelucon!" cibir Dion. Kemarahannya menghilangkan akal sehatnya, jika Farhan dan Ameera berjalan di sana, berarti merekalah yang sedang mereka tunggu.
"Dion! Kenapa kau meneriaki Presdir? Di mana sopan santunmu?" teriak seorang manajer utama mengagetkan Dion.
"Pak, dia si miskin ini mana mungkin menjadi Presdir kita perusahaan ternama dan paling terkenal! Jangan mengada-ada dan ikut berakting bersama mereka!" cetus Dion yang sepertinya masih berniat menyangkal.
"Dion! Berbicaralah yang sopan pada Pak Farhan!"
Farhan mengangkat tangannya, meminta sang manager untuk diam.
__ADS_1
"Kenapa? Apakah aku yang miskin dimatamu ini tidak berhak untuk menjadi bosmu?" tanya Farhan menyeringai.
"Seberapa kuat kau menyangkal, sekuat apapun kau menampar dirimu untuk menyadarkan diri, apa yang ada di depan matamu saat ini, adalah kejadian yang nyata!" imbuhnya.
"Jangan suka menilai rendah orang lain. Sekarang, kau bekerja di perusahaan orang yang pernah kamu rendahkan!" Farhan mencibir balik.
"Tapi, sebentar lagi kau bukan lagi karyawanku!"
"A-apa? Kenapa?" tanya Dion gugup.
"Fan, jelaskan kenapa dia dipecat dari perusahanku secara tidak hormat dan beritahukan alasan kenapa aku memasukkannya ke daftar hitam!"
"Dion, kau sudah sering melalaikan pekerjaanmu, pekerjaanmu banyak yang tidak beres dan tidak selesai tepat waktu. Kau sering meninggalkan kantor dijam kerja, sering tidak hadir tanpa alasan dan sekarang kau terbukti menggelapkan dana perusahaan sebesar 5 triliun!" ungkap Fang, manajer utama.
"Ti-tidak! Semua itu tidak benar!" sangkalnya.
"Semua bukti-bukti dan rekaman cctv sudah terkumpul untuk menjadi bukti. Kau tidak bisa mengelak lagi!" tegas Fang.
"Aku tidak mau dipecat!" mohonnya memelas.
Dia berlutut di hadapan Farhan dan Ameera dengan bersimbah air mata seraya memohon untuk tidak dipecat.
"Farhan, aku tahu aku salah, kumohon untuk tidak memecatku…." pintanya memelas.
Dion sering tidak menyiapkan pekerjaannya karena dia sibuk memikirkan Ameera. Kenapa dia sering bolos karena dia sibuk menemui Ameera. Kenapa dia menggelapkan uang perusahaan segitu besarnya, itu semua untuk memenuhi kebutuhan royal dan boros Ibunya.
"Satpam, seret dia keluar!" titah Fang.
"Tidak, jangan usir aku…." teriaknya marah.
Para satpam menyeret Dion yang sedangs meronta-ronta minta untuk dilepaskan.
"Mas…." panggil Ameera, tangannya yang digenggam Farhan sudah banjir dengan keringat dingin.
Farhan tahu istrinya tidak nyaman, jadi dia memutuskan untuk membawa istrinya pergi dari sana.
"Urus sisanya! Aku tidak mau ada kesalahan apapun!" titah Farhan.
Dia membawa Ameera menuju lift, di dalam lift dia menciumi punggung tangan Ameera.
"Meera, maaf atas kejadian tadi. Kamu pasti syok, kan?" ujar Farhan lembut.
"Tidak, Mas."
"Maafkan Mas, ya? Seharusnya Mas bisa menjagamu dengan lebih baik lagi, Mas sudah mengikat janji suci denganmu atas nama Allah. Mas berjanji akan menjagamu dan calon anak kita dengan sebaik-baiknya sampai kapanpun," janjinya dan mencium kening istrinya.
"Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik, Mas!"
*****
Mampir yuk ke cerita teman author yang lain.
...******...
Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mampir dan membaca novelku yang masih banyak kekurangannya ini. Maaf jika karya-karyaku masih banyak kekurangannya. Maaf karena selama ini belum update dikarenakan sibuk dengan Reallife 🙏
Mampir dinovel baruku Pretend Marriage (pura-pura menikah) dan yang lainnya juga.
Terima kasih saya ucapkan sekali lagi, maaf kalau novel ini tidak sebagus ekpektasi kalian, sesungguhnya sebuah kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT ❤️❤️❤️
__ADS_1