Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
Kalah


__ADS_3

"Lagi-lagi kau berbohong! kau tahu, karena ulahmu dia membatalkan rencana rujuk kami!" bentak dion menatap risa nyalang.


Pandangan mata Risa yang awalnya menuntut penjelasan, seketika berubah sayu kala mendengar alasan Dion yang begitu menggores hatinya.


"Mas, kamu memukulku tanpa sebab ... hanya karena i-ni?" tanya Risa dengan suara parau menahan tangis.


Dion melepaskan dagu Risa, matanya masih menatap Risa dengan buas, "hanya karena ini katamu? Kau tahu, Ameera lebih penting darimu! Jadi, jika dia tidak mau kembali padaku karena ucapanmu, itu semua salahmu!" bentak Dion.


Air mata Risa menetes, namun dia tak berniat menghapusnya. Dia memejamkan matanya, merasakan hatinya yang semakin berdarah akibat ulah suaminya.


Jelas-jelas akulah istrimu yang sekarang. Tapi, kenapa kamu bisa memperlakukan aku seperti orang lain hanya karena sebuah alasan yang sama sekali tidak aku lakukan?


"Mas, tapi aku tidak mengatakan apapu--"


"Cukup! Diam! Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulutmu itu! Jika sekali lagi kau berani mengadu sesuatu pada Ameera yang membuatnya membenciku, aku pastikan kita akan segera berakhir!" ucap Dion mengancam.


Kemudian meninggalkan Risa yang masih diam terpaku di tempatnya dengan sejuta air mata yang mulai berderai deras.


BAM!


Dion membanting pintu. Tetapi, suara keras itu tak bisa mengalihkan tatapan Risa pada Dion yang merasa tak percaya dengan sikapnya yang semena-mena.


"Bukankah aku telah menjadi istrimu. Tapi, kenapa kamu masih mengharapkan dia? Dia yang sama sekali tak lagi mencintaimu dan sudah bahagia bersama orang lain?" gumam Risa, air matanya tak dapat lagi dibendung.


Sesak sekali dadanya saat mengingat perlakuan Dion padanya barusan.


...*****...

__ADS_1


Setelah menemui Dion, Ameera sudah merasa sedikit lega. Ada kebahagiaan tersendiri saat dia mengingat cintanya pada Farhan telah tumbuh, namun senyumnya memudar saat dia teringat perkataan Dion.


Bagaimana jika Mas Farhan tak mencintaiku? Apakah aku harus mundur, dan membiarkannya begitu saja. Atau, aku harus berusaha mengejar cintaku?


Sambil berjalan dalam keramaian, Ameera terus saja termenung. pikirannya terus terbang melayang-layang mengudara entah ke benua mana.


"Haiss. Sudahlah, lebih baik nanti aku pikirkan lagi. Lebih baik membeli kebutuhan untuk besok," ujar Ameera.


Ameera membelokkan dirinya ke dalam supermarket yang berada di depan matanya. Dia membeli banyak daging sapi dan berbagai macam aneka seafood.


"Aku ingin belajar membuat bakso kesukaan Mas Farhan dari Mama," gumamnya sambil memasukkan aneka daging-dagingan ke dalam troli.


"Ameera!" panggil seseorang dari arah samping.


"Mbak Erlin, ada apa?" tanya Ameera memasang sikap dingin. Dia meneruskan kegiatannya mulai berjalan meninggalkan Erlin dan memilih aneka sayur-sayuran pula.


"Maaf, Mbak. Saya buru-buru harus segera menyelesaikan ini. Suami saya sebentar lagi sudah akan pulang. Jika Mbak Erlin menyapa, saya kan sudah balik menyapa tadi," jawab Ameera yang masih memilih macam-macam sayuran hijau.


Erlin menggemeretakkan giginya, mengepal erat tangannya. "Kau sangat bangga karena bisa menikah dengan Farhan?" cibir Erlin dengan senyuman miring.


"Kau terlihat sangat kasihan, Ameera!" imbuh Erlin yang mulai melipat kedua tangannya.


"Tentu saja. Pernikahan kami direstui oleh kedua orang tua dan diridhai oleh Allah SWT. Kenapa aku harus merasa kasihan? Yang harus dikasihani itu, bukannya orang yang cintanya tak terbalas?" balas Ameera.


"Hey, kau sedang mengatai aku? Jangan kurang ajar, ya!" bentak Erlin geram.


"Memangnya saya ada menyebut nama Mbak Erlin saat saya berbicara barusan?" tanya Ameera yang mulai mengalihkan perhatiannya pada Erlin.

__ADS_1


"Tidak, tapi kau memang sedang menyindirku!* kekeh Erlin membela diri.


"Itu namanya fitnah, Mbak. Karena saya memang tidak melakukan itu." jawaban yang dilontarkan oleh Ameera lagi-lagi membuat Erlin sangat kesal.


"Kau memang sangat kasihan. Aku penasaran bagaimana reaksi Ibu mertuamu nanti saat bertemu denganmu," ujar Erlin dengan senyuman miring yang sangat jelas tercetak di wajahnya.


"Apakah akan sangat membencimu, atau malah akan menangis memohon padamu untuk mencintai anaknya?" imbuh Erlin membuat Ameera semakin tak mengerti.


"Maksud Mbak Erlin apa?"


"Kamu pikir kalau kedua orang tuanya Farhan mengetahui kalau anaknya hanya kamu manfaatkan agar kamu bisa kembali dengan Dion, bagaimana reaksinya? Dan kamu tenang saja, aku sudah memberitahukan Ibunya dan Niken!" ucap Erlin. Setelah hari itu, Erlin langsung mencari tahu tentang keluarga Farhan. Jadi, sekarang dia sudah tidak kebingungan lagi.


"A-apa?" tanya Ameera tergagap.


"Kenapa? kamu takut? Hahaha!" Erlin tertawa kencang.


"Sudahlah Ameera. Lebih baik kamu menyerahkan Farhan padaku, cintaku lebih tulus dan lebih besar darimu!" ucap Erlin sambil menyibakkan rambutnya.


Ameera tersenyum, dia memajukan trolinya hingga ujung roda troli mengenai ujung sepatu Erlin.


"Tapi kau salah Mbak Erlin. Kau sudah kalah jauh dariku! Aku dan Mas Farhan sudah bahagia dan saling mencintai. Selamat ... atas kekalahanmu!"


Setelah mengatakan ucapan yang telak menusuk jantung Erlin, Ameera kembali menyeret trolinya dan kembali memilih barang-barang lain yang dia perlukan.


Berikan like komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5

__ADS_1


Terima kasih kak ❤️❤️❤️


__ADS_2