
Usai Zaniah
menjelaskan semuanya pada sang suami dan sahabatnya, kini mereka sepakat untuk
melangsungkan pernikahan akhir pekan. Dimana Firhan akan libur dari
pekerjaannya tanpa perlu meminta izin dari kantor. Meski masalah mendapatkan
jalan keluar, sayangnya Zaniah bukan tenang. Justru ada perasaan sakit yang
berusaha ia tahan saat ini.
Mencoba
untuk terlihat baik-baik saja, nyatanya tak mampi ia sembunyikan. Lillia Zeni
mau pun Firhan tahu bagaimana hati wanita yang tengah duduk di samping Firhan
itu.
"Sebaiknya
kita pulang." Firhan merasa enggan berlama-lama saat ini di rumah calon
istri keduanya.
"Zen,
kami pulang dulu. Besok aku akan datang membawakan susu dan keperluan makanan
lainnya untukmu. Kamu tidak perlu bekerja lagi yah, jaga janin itu. Aku janji
akan merawatnya dengan cinta kami bersama." Zaniah tersenyum lemah tanpa
tenaga menatap sang sahabat.
Lillia Zeni
menunduk, ia sungguh tidak ingin melakukan ini. Ia sadar bagaimana hancurnya
hati wanita jika melihat suaminya menikah dengan wanita lain. Terlebih ia
sebagai sahabatnya Zaniah.
"Zan,
apa tidak sebaiknya ini di batalkan? Sungguh aku tidak bisa melakukan ini. Kau
sahabatku, dan aku tidak mungkin bisa melukai sahabatku sendiri." tutur Lillia
Zeni menatap dalam sang sahabat.
Zaniah
tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia ingin egois kali ini saja,
__ADS_1
ia ingin mempertahankan keputusannya. Menurut Zaniah ini adalah jalan yang baik
tanpa resiko. Di mana ia bisa membantu sang sahabat, dan menyelamatkan
pernikahannya dari Sela Agnes, mantan sang suami.
"Tidak.
Kita harus tetap lanjutkan ini, Zen. Aku sudah bulat akan keputusanku ini.
Tolonglah aku, Zen." lirih Zaniah berusaha meyakinkan sang sahabat.
Keduanya
terus saling tawar menawar tanpa lepas dari pandangan Firhan. Frihan yang hanya
diam melihat bagaimana sang istri dan sahabatnya begitu saling ingin
melindungi, Firhan yakin semuanya akan baik-baik saja kedepannya.
"Ayo,
Sayang." tuturnya menggandeng tangan sang istri.
Zaniah
melangkah meninggalkan rumah sederhana itu bersama sang suami, sementara Lillia
ZeniĀ hanya berdiri menatap kepergian keduanya dari halaman rumah yang
tidak begitu luas.
Usai
kursi sederhana. Ia menunduk menatap perutnya sembari mengusapnya pelan.
"Sayang,
apakah benar keputusan ibu menyerahkan kamu pada mereka? Mereka adalah orang
yang baik. Tapi, ibu takut masuk dalam kehidupan mereka dan menjadi masalah
kedepannya. Apa yang harus ibu lakukan? aunty Zani orang yang baik. Mereka
pasti akan sangat menyayangi kamu, Nak." tutur Lillia Zeni tanpa tahan
meneteskan air mata saat itu.
Siang itu
merasa waktu masih cukup banyak, Lillia Zeni bertekad untuk membuat kue dan
menjualnya. Yah itulah kegemaran wanita hamil ini. Ia selalu tidak pernah
menyia-nyiakan waktu untuk bersantai saja. Semua akan ia gunakan mencari
__ADS_1
rupiah. Baginya hidup seorang diri membuatnya tak bisa lagi bermalas-malasan
meski sedetik pun.
Apa pun
kemampuan yang ia miliki akan di jadikan mata pencaharian.
"Suasana
mendung, sepertinya nggak akan laku kalau jualan minuman. Semoga kue dadar
gulung ini laris meski cuma sempat buat sedikit saja." tuturnya
bersemangat mengemasi kue hasil buatannya beberapa menit lalu.
Jalanan yang
sedikit mendung siang itu membuatnya sedikit tenang dalam melewati perjalanan
dengan langkah yang cepat. Teriakan akan ia suarakan saat sampai di tempat yang
tampak ramai.
***
Tanpa terasa
waktu kini telah tiba di akhir pekan. Di mana kesepakatan akan di langsungkan
hari ini. Semua berkas sudah di siapkan. Meski hanya menikah sementara, tak
membuat Zaniah egois. Ia tetap akan menghargai sang sahabat dengan memberikan
izin menikah resmi. Bukan pernikahan siri seperti pada umumnya yang terjadi di
luar sana.
Selendang
putih transparan menjadi penyatu dua kepala milik Firhan dan Lillia Zeni saat
ini, di bawa sana jabatan tangan Firhan pada penghulu pun akhirnya di akhiri
dengan seruan kata sah dari saksi.
Sungguh
Zaniah merasakan dadanya sangat sakit, bahkan untuk menangis ia tak kuasa.
Sebab ia sendiri sadar ini semua atas permintaan darinya.
Ia menunduk
tanpa berniat menatap sang suami yang duduk bersanding dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Sungguh ini bukanlah hal yang ia inginkan, namun takdir membuatnya harus
memutuskan hal gila ini yang bahkan tak pernah sekali pun terpikirkan olehnya.