Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Pernikahan


__ADS_3

Usai Zaniah


menjelaskan semuanya pada sang suami dan sahabatnya, kini mereka sepakat untuk


melangsungkan pernikahan akhir pekan. Dimana Firhan akan libur dari


pekerjaannya tanpa perlu meminta izin dari kantor. Meski masalah mendapatkan


jalan keluar, sayangnya Zaniah bukan tenang. Justru ada perasaan sakit yang


berusaha ia tahan saat ini.


Mencoba


untuk terlihat baik-baik saja, nyatanya tak mampi ia sembunyikan. Lillia Zeni


mau pun Firhan tahu bagaimana hati wanita yang tengah duduk di samping Firhan


itu.


"Sebaiknya


kita pulang." Firhan merasa enggan berlama-lama saat ini di rumah calon


istri keduanya.


"Zen,


kami pulang dulu. Besok aku akan datang membawakan susu dan keperluan makanan


lainnya untukmu. Kamu tidak perlu bekerja lagi yah, jaga janin itu. Aku janji


akan merawatnya dengan cinta kami bersama." Zaniah tersenyum lemah tanpa


tenaga menatap sang sahabat.


Lillia Zeni


menunduk, ia sungguh tidak ingin melakukan ini. Ia sadar bagaimana hancurnya


hati wanita jika melihat suaminya menikah dengan wanita lain. Terlebih ia


sebagai sahabatnya Zaniah.


"Zan,


apa tidak sebaiknya ini di batalkan? Sungguh aku tidak bisa melakukan ini. Kau


sahabatku, dan aku tidak mungkin bisa melukai sahabatku sendiri." tutur Lillia


Zeni menatap dalam sang sahabat.


Zaniah


tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia ingin egois kali ini saja,

__ADS_1


ia ingin mempertahankan keputusannya. Menurut Zaniah ini adalah jalan yang baik


tanpa resiko. Di mana ia bisa membantu sang sahabat, dan menyelamatkan


pernikahannya dari Sela Agnes, mantan sang suami.


"Tidak.


Kita harus tetap lanjutkan ini, Zen. Aku sudah bulat akan keputusanku ini.


Tolonglah aku, Zen." lirih Zaniah berusaha meyakinkan sang sahabat.


Keduanya


terus saling tawar menawar tanpa lepas dari pandangan Firhan. Frihan yang hanya


diam melihat bagaimana sang istri dan sahabatnya begitu saling ingin


melindungi, Firhan yakin semuanya akan baik-baik saja kedepannya.


"Ayo,


Sayang." tuturnya menggandeng tangan sang istri.


Zaniah


melangkah meninggalkan rumah sederhana itu bersama sang suami, sementara Lillia


ZeniĀ  hanya berdiri menatap kepergian keduanya dari halaman rumah yang


tidak begitu luas.


Usai


kursi sederhana. Ia menunduk menatap perutnya sembari mengusapnya pelan.


"Sayang,


apakah benar keputusan ibu menyerahkan kamu pada mereka? Mereka adalah orang


yang baik. Tapi, ibu takut masuk dalam kehidupan mereka dan menjadi masalah


kedepannya. Apa yang harus ibu lakukan? aunty Zani orang yang baik. Mereka


pasti akan sangat menyayangi kamu, Nak." tutur Lillia Zeni tanpa tahan


meneteskan air mata saat itu.


Siang itu


merasa waktu masih cukup banyak, Lillia Zeni bertekad untuk membuat kue dan


menjualnya. Yah itulah kegemaran wanita hamil ini. Ia selalu tidak pernah


menyia-nyiakan waktu untuk bersantai saja. Semua akan ia gunakan mencari

__ADS_1


rupiah. Baginya hidup seorang diri membuatnya tak bisa lagi bermalas-malasan


meski sedetik pun.


Apa pun


kemampuan yang ia miliki akan di jadikan mata pencaharian.


"Suasana


mendung, sepertinya nggak akan laku kalau jualan minuman. Semoga kue dadar


gulung ini laris meski cuma sempat buat sedikit saja." tuturnya


bersemangat mengemasi kue hasil buatannya beberapa menit lalu.


Jalanan yang


sedikit mendung siang itu membuatnya sedikit tenang dalam melewati perjalanan


dengan langkah yang cepat. Teriakan akan ia suarakan saat sampai di tempat yang


tampak ramai.


***


Tanpa terasa


waktu kini telah tiba di akhir pekan. Di mana kesepakatan akan di langsungkan


hari ini. Semua berkas sudah di siapkan. Meski hanya menikah sementara, tak


membuat Zaniah egois. Ia tetap akan menghargai sang sahabat dengan memberikan


izin menikah resmi. Bukan pernikahan siri seperti pada umumnya yang terjadi di


luar sana.


Selendang


putih transparan menjadi penyatu dua kepala milik Firhan dan Lillia Zeni saat


ini, di bawa sana jabatan tangan Firhan pada penghulu pun akhirnya di akhiri


dengan seruan kata sah dari saksi.


Sungguh


Zaniah merasakan dadanya sangat sakit, bahkan untuk menangis ia tak kuasa.


Sebab ia sendiri sadar ini semua atas permintaan darinya.


Ia menunduk


tanpa berniat menatap sang suami yang duduk bersanding dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Sungguh ini bukanlah hal yang ia inginkan, namun takdir membuatnya harus


memutuskan hal gila ini yang bahkan tak pernah sekali pun terpikirkan olehnya.


__ADS_2