
Kebahagiaan terpancar dari dua keluarga yang berbeda namun saling keterikatan. Hari dimana Lillia tengah fokus membesarkan buah hatinya bersama sang suami dulu. Tak ada keluhan yang wanita itu lontarkan selama membesarkan si buah hati.
Namun, di hari ke tiga puluh sang anak lahir, Lillia harus menelan pil pahit atas kepergian sang nenek yang begitu tulus menyayanginya.
Air mata Lillia berjatuhan tanpa henti memandangi tanah yang bertabur bunga di atasnya. Tangannya menggendong si kecil Annalise Calia dan tangan satunya mengusap nisan Nenek Tika.
“Nenek sudah tenang di sana. Tapi rasanya Zeni sulit merelakan kepergian Nenek. Tidak ada lagi orang yang perduli dengan Zeni selain nenek.” Ia tertunduk meneteskan air mata.
Sungguh sakit kehilangan orang yang terdekat. Namun, mengingat usia Nenek Tika memang sudah sangat tua, tentu Lillia Zeni kembali menyadarkan diri untuk tidak egois.
***
Beberapa bulan kemudian di keluarga Firhan, semua begitu bahagia mengetahui Zaniah tengah melahirkan.
Wuri dan sang suami dengan antusias menunggu proses operasi di dalam.
“Kasihan Niah, Pah. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan cucu kita dan juga Zaniah?” Wuri menatap sang suami dengan penuh rasa khawatir.
__ADS_1
Papah Dika hanya bisa menggeleng dan mengusap punggung sang istri yang saat ini ia peluk. “Mamah jangan khawatir yah? Zaniah dan cucu kita akan baik-baik saja. Semua akan selamat dan sehat.” Pria paruh baya itu bicara setenang mungkin. Tanpa ada yang tahu jika sebenarnya ia pun sangat mencemaskan sang menantu dan cucu.
Tak lama kemudian sepasang suami istri juga turut hadir di depan ruang operasi itu.
“Bagaimana dengan anak kami?” Penny mendekati sang besan. Raut wajahnya begitu cemas.
“Niah sedang di operasi di dalam.” jawab Wuri.
“Tapi Firhan ada di dalam kan?” Penny kembali bertanya. Setidaknya ada seseorang yang menemani anaknya di ruang operasi.
Namun, kepala Wuri tampak menggeleng.
Mereka sangat kaget mendengar sang anak melahirkan tanpa di dampingi sang suami.
“Bagaimana bisa? Zaniah tengah berjuang…”
“Kami tahu, tapi kelahiran Zaniah di luar prediksi. Dia melahirkan prematur itu sebabnya Firhan tidak bisa hadir. Kami semua tidak tahu jika secepat ini persalinan akan di lakukan.” Wuri panjang lebar menjelaskan hingga memberi tahu jika pihak rumah sakit juga tak mengijinkan anggota keluarga masuk.
__ADS_1
Kecemasan yang bertubi-tubi berusaha mereka tutupi dengan doa untuk Zaniah.
Tanpa mereka tahu jika di dalam Zaniah tengah melakukan rencana jahatnya untuk berpura-pura melahirkan.
“Ini uang untuk kalian semua. Saya tidak mau tahu kejadian ini jangan pernah terungkap oleh siapa pun.” Ancamnya pada beberapa anggota medis yang sudah berhasil Zaniah kuasai.
Semua patuh tanpa melawan.
Zaniah sendiri berakting seolah tengah habis berjuang melahirkan seorang anak. Ia baring dengan wajah lemas dan pucat yang sudah di rencanakan. Begitu pun dengan bayi yang sudah berhasil ia beli.
Semua memang sangat berjalan mulus. Dan Firhan tak ada di sisinya untuk menyaksikan semua ini. Sumpah demi apa pun, perjalanan Zaniah lancar tanpa hambatan.
“Mama akan beri kamu nama Danny Elton. Kamu adalah anak dari Zaniah Lou dan Firhan Ghifary. Kamu penerus keluarga Fernando, sayang.” Senyum licik terpancar di wajah Zaniah kala mengingat semua perjuangannya selama kurang lebih tujuh bulan.
Yah, Danny Elton lahir secara prematur dimana Zaniah mengambil waktu saat sang suami tak berada di negara ini.
***
__ADS_1
Tamat
Kisah ini akan berlanjut dengan judul “Pejuang Restu” Dimana kisah tentang anak-anak Zaniah dan Lillia yang tumbuh dewasa dan semua kisah masa lalu kedua sahabat ini akan terbongkar. Silahkan baca di novel baru yah. Mohon maaf beberapa waktu sempat slow update sebab kami sedang berduka. Namun, mengingat tanggung jawab pada novel saya. Terpaksa saya harus tetap kuat kembali menjalankan kegiatan tanpa bapak lagi yang memberi semangat.