Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Lillia Syok


__ADS_3

Mendengar pengakuan dari pria yang sangat ia benci dan tak di sangka, Lillia meneteskan air mata tak percaya. Secepat kilat ia berlari meninggalkan sosok Panji yang tersenyum puas melihat keterkejutan wanita cantik di depan sana. Untuk saat ini ia hanya berniat memberi tahu dan membiarkan Lillia menyadari jika ia adalah wanita yang sangat kotor sebab telah di sentuh pria seperti Panji.


Pria yang merupakan kekasih ibu tirinya sendiri. Sungguh sangat menjijikkan Lillia membayangkan itu semua. Tak perduli lagi dengan perutnya yang membuncit, Lillia berlari sekencang mungkin menutup pintu rumah dengan tergesa-gesa. Di dalam rumah ia terus memuntahkan isi perutnya entah lantaran stress atau jijik dengan apa yang baru ia dengar.


Berulan kali Lillia menggelengkan kepala kala membayangkan bagaimana Panji berkata jujur padanya. Semakin menangis semakin mengingat ekspresi Panji barusan.


"Tidak. Ini tidak benar. Ini anakku, ini bukan anaknya. Tidaaak!!" Ia berteriak sekencang mungkin hingga tanpa sadar Lillia tidak sadarkan diri. Ia terbaring lemas di depan pintu rumah yang tertutup.


Di tempat yang berbeda Zaniah baru saja tiba di rumah. Suasana hening, Firhan yang baru saja pulang harus di sambut dengan wajah dingin sang istri. Namun, ia sadar semua bukanlah salah Zaniah. Ada dirinya yang juga turut andil dalam membuat kesalahan.

__ADS_1


"Dari mana?" tanya Firhan melihat sang istri membawa kunci mobil di tangannya.


Bukannya menjawab, Zaniah justru berlalu pergi meninggalkan sang suami. Bukan takut lagi akan kehilangan sang suami, namun Zaniah lebih berpikir jika Firhan dan dirinya selama ini telah di bohongi oleh Lillia. Dan ia berniat untuk diam sementara waktu sebelum semuanya ia cari tahu.


Masuk ke dalam kamar mencari nomor kontak seseorang yang sudah lama ia simpan di ponselnya. Mengirim pesan singkat yang isinya hanya dirinya yang tahu. Dan detik berikutnya ia tersenyum smirk penuh rencana.


Sedang Firhan yang melihat sikap acuh sang istri merasa aneh, namun ia harus buru-buru untuk mandi dan pergi ke rumah Lillia. Tak ada lagi layanan seperti biasa yang Zaniah lakukan saat sang suami hendak berganti pakaian.


Hening Firhan tak mendapatkan jawaban, ia kembali menarik napas dalam. Butuh kesabaran menghadapi istri yang tengah marah dengan tingkah suami memang. Tak ada satu pun wanita yang rela jika suaminya bersentuhan dengan wanita lain.

__ADS_1


Pelan Firhan pun mendekat usai mengganti bajunya dengan yang bersih, aroma segar sehabis mandi tercium begitu jelas pada indera penciuman Firhan. Satu kecupan pria itu berikan di kening sang istri yang sama sekali tidak merespon.


"Aku harus pergi melihat Lillia dulu. Secepatnya aku akan pulang. Maafkan aku." usai berkata seperti itu Firhan keluar dari kamar tanpa perduli bagaimana Zaniah terkekeh licik. Ia meledek jalan hidupnya bersama sang suami saat ini.


Sungguh tak pernah ia bayangkan jika pernikahan mereka akan seperti ini hancurnya. Semula semua baik-baik saja meski ada saja pertengkaran kecil yang sering terjadi. Namun, semua tidak sesakit ini rasanya. Hingga ia pun terkekeh tanpa bisa menahan lagi.


Kurang lebih dua puluh menit melewati perjalanan yang lumayan lenggang akhirnya Firhan tiba dengan mobil kesayangannya di depan halaman rumah sang istri. Seperti biasa tatapannya terfokus seketika dengan pintu rumah yang tertutup rapat. Lillia memang lebih memilih menutup pintu rumah jika tidak berada di depan rumah. Tinggal sendirian membuatnya harus was-was dari kejahatan orang yang tidak ia duga.


"Lia! Lillia!" Panggil Firhan beberapa kali namun tak mendapatkan respon apa pun dari dalam.

__ADS_1


Keadaan rumah sangat sunyi tak terdengar adanya pergerakan. Pintu benar-benar rapat dan ia yakini jika dari dalam terkunci sebab tangannya beberapa kali memutar handle pintu nyatanya masih tertutup. Tak ada akses yang ia punya saat ini dan ingin mendobrak rasanya terlalu berlebihan.


"Hah tunggu dulu. Semoga dia tidak apa-apa atau jangan-jangan solat?" gumamnya bertanya sendiri.


__ADS_2